
“Apa kau mau makan sesuatu? Biar sekalian aku membeli nya?” Tanya Aris.
“Kebetulan aku ingin berbicara dengan nya, tapi dia sudah menghubungi ku lebih dulu.” Gumam Rihana.
“Hallo, Rihana?” Aris merasa tidak ada jawaban dari Rihana.
“Oohh…mm… begini, apa….apa kau mau aku masak saja di sini? Jadi kau tidak usah membeli makanan, biar aku saja yang masak. Tapi kalau kau tidak mau……..
“Baiklah, aku akan makan masakan mu.” Aris memotong kalimat Rihana yang belum selesai berbicara.
“Apa?” Rihana terkejut dengan jawaban Aris.
“Iya, kenapa? Apa kau membutuhkan sesuatu?” Aris menawarkan bantuan.
“Mmmm…. Tidak. Tadi sebenar nya aku sudah membeli bahan-bahan mentah nya. Kalau begitu aku akan masak dulu, apa ada makanan atau rasa yang tidak kau inginkan?” Tanya Rihana.
“Tidak ada, aku bisa makan apapun, bahkan daging manusia di semur juga aku bisa memakan nya.” Aris menjawab dengan serius.
“Pppfftthh.” Rihana menahan tawa.
“Kalau begitu sampai jumpa nanti.” Rihana mengakhiri panggilan nya.
“Kenapa aku rasa nya senang sekali ya dia mau makan malam dengan ku? Makan masakan ku lagi?” Rihana memeluk ponsel nya.
*************
Lucifer berada di kediaman nya, setelah menyelesaikan semua pekerjaan yang membutuhkan diri nya atau yang tidak bisa di kerjakan pegawai nya, dia akan kembali ke Singapura. Saat ini mengambil waktu untuk
beristirahat. Tidak ada persiapan yang akan di lakukan nya, seperti pakaian atau barang-barang lain nya.
Foto bingkai pernikahan mereka yang berukuran lumayan besar di tempel di dinding di lihat Lucifer. Di foto itu dia tidak tersenyum, sementara Eva tersenyum senang.
“Kenapa waktu itu aku tidak tersenyum ya?” Lucifer bertanya pada diri nya sendiri.
Di lihat nya lagi foto Eva dalam bingkai kecil di atas meja kecil samping tempat tidur mereka.
“Ini adalah isteriku. Sebentar lagi kita akan bertemu kembali.” Ucap nya dengan tersenyum.
Perlahan-lahan sifat dan karakter Lucifer sudah mulai berubah. Tidak ingin lagi berurusan dengan musuh walaupun tidak bisa di hindarkan juga. Yang pasti dia harus siap dan memasang badan untuk menjaga keluarga nya.
Apalagi isteri nya sedang hamil, sebisa mungkin tidak ingin terpancing emosi dan menambah musuh-musuh yang ingin menyerang keluarga nya.
Menuju kamar mandi dan segera membersihkan tubuh nya. Karena besok pagi dia harus berangkat ke Singapura seorang diri.
***********
Rihana sudah selesai masak dan sudah membersihkan diri nya juga. Gugup menunggu kedatangan Aris, si pemilik rumah yang masih dalam perjalanan pulang.
“Kok aku deg-deg an ya?” Rihana memegang dada nya yang terasa.
Hingga suara ketukan di pintu membuat Rihana semakin gugup. Segera dia berlari membuka pintu agar tidak terlalu lama menunggu.
CCEEKLLEEKK…..
__ADS_1
“Aris, kau sudah pulang?” Tanya Rihana yang masih gugup.
“Iya.” Aris yang langsung menuju kamar untuk membersihkan diri.
Rihana segera menutup pintu.
Terdengar suara air dari kamar mandi, menandakan kalau ada yang mandi. Jelas Rihana mendengar. Dia duduk di dapur, sesekali mondar-mandir, melihat-lihat apa ada yang lupa atau apa yang masih belum tersedia.
Aris muncul dengan hanya memakai pakaian biasa. Rambut yang masih basah. Tercium sangat jelas bau sabun dari tubuh nya. Lebih segar.
“Aku pikir kau masih ada di depan. Ternyata sudah ada di sini ya.” Aris membuka percakapan.
“Kalau kau lapar, kau bisa makan lebih dulu.” Tambah nya lagi.
Rihana hanya diam, tidak tahu harus membalas kalimat nya bagaimana.
Aris melihat makanan yang sudah tersedia di atas meja.
“Ini kau semua yang masak?” Tanya Aris seperti tidak percaya.
“Iya, apa kau tidak suka?” Tanya Rihana yang gugup.
“Aku suka kok. Apa kita sudah bisa makan? Aku sangat lapar sekali.” Aris duduk merasa air ludah nya akan jatuh melihat dan mencium bau masakan yang ada di hadapan nya.
“Iya..iya, kau sudah boleh memakan nya.” Rihana menjawab dengan tertawa kecil.
Aris mengambil piring yang sudah ada di atas meja, Rihana mengambil nasi dan meletakkan di atas piring Aris, tanpa di sadari Rihana.
“Ma….maaf kan aku, aku gak sadar. Kau bisa mengganti piring mu.” Rihana merasa tidak enak takut kalau Aris marah karena dia yang meletakkan nasi untuk nya.
“Tidak apa-apa. Santai saja. Kau juga silahkan makan. Kau pasti sudah capek dan lelah memasak nya.” Jawab Aris yang mengambil lauk.
Aris bersikap biasa saja. Mungkin karena dia belum memiliki perasaan apapun pada wanita itu. Tapi Rihana yang merasa gugup dan deg-deg an di hadapan Aris. Membuat nya jadi salah tingkah.
“Masakan mu enak Rihana.” Aris memuji makanan Rihana.
“Uuhhuukkk…..uuhhuukkk….” Rihana yang gugup dan terkejut dengan pujian Aris.
“Ini minum dulu.” Dengan cepat Aris memberikan air minum untuk Rihana.
Rihana menerima dan langsung meminum nya.
“Terimakasih.” Rihana selesai minum dan meletakkan kembali gelas ke atas meja.
“Apa kau sudah biasa memasak?” Tanya Aris.
“Iya. Dari kecil aku suka membantu mama ku masak.” Rihana kembali melanjutkan makan nya.
Aris menganggukkan kepala.
“Nanti kamu tidur di kamar saja, aku di sofa ruang tamu.” Suruh Aris.
“Tapia pa kamu nanti gak kedinginan?” Tanya Rihana.
__ADS_1
“Tidak, aku sudah biasa kok. Sebelum ada kamu, aku malah lebih sering tidur di sofa, kamar lebih sering kosong.” Jawab Aris.
“Oooohhh…” jawab Rihana.
“Jadi beneran aku tidak apa-apa kalau tidur di kamar mu?” Tanya Rihana lagi memastikan.
“Iya, tidak apa-apa kok.” Aris menjawab dengan santai.
“Besok aku akan keluar lebih pagi. Bos ku meminta ku mengantar nya ke bandara.” Ucap Aris.
“Maksud mu pria yang duduk di samping mu waktu di pesawat itu?”Tanya Rihana.
“Iya, dia adalah tuan dan bos ku dengan Hendra juga. Kau masih ingat kan dengan pria cengeng itu?” ledek Aris.
Rihana tersenyum kecil.
“Iya, aku ingat. Dia lucu dan ramah.” Puji Rihana.
Aris melihat Rihana yang memuji rekan nya.
“Tapi dia sudah memiliki tunangan loh. Jadi jangan sampai kau menyukai nya.” Ucap Aris.
Rihana terkejut Aris mengatakan itu. lalu tersenyum sambil menganggukkan kepala.
**************
Malam itu, Lucifer tidak bisa tidur. Perasaan rindu dan tidak sabar lagi ingin bertemu dengan isteri kesayangan nya. Dia hanya duduk, tiduran, bangun lagi, duduk lagi. Tidak ingin mengganggu malam Eva kalau
berbicara di telepon.
Jam 7 pagi Aris sudah berada di depan pintu Lucifer. Dia mengetuk pintu dengan pelan. Tidak lama ternyata Lucifer membuka pintu dan sudah dalam keadaan rapi.
“Tuan, anda sudah rapi?” Tanya Aris.
“Seperti yang kau lihat ini? Cepat antar aku ke bandara sekarang.” Lucifer mengambil ponsel dan dompet lalu di masukkan ke saku celana
nya.
.
.
.
SILAHKAN MAMPIR DI NOVEL TERBARU KU YA. JIKA BERMINAT TINGGALKAN LIKE N VOTE NYA...
TERIMAKASIH..
__ADS_1