
Sore hari Lucifer masih memantau pekerjaan di depan laptop nya. Mereka berada di ruang depan. Eva sedang asik memakan puding sambil duduk santai mengangkat kaki nya di atas sofa dan menonton TV.
Lucifer melihat gelas puding di atas meja sudah banyak, dan hanya Eva yang memakan nya.
"Sayang apa kau tidak takut perut mu ini pecah?" tanya Lucifer duduk di samping Eva.
"Kau sudah menghabiskan lima gelas loh." tunjuk pada gelas kosong.
"Aku sangat menyukai puding. Rasa nya ingin lagi dan lagi." ucap nya masih memakan puding yang ada di tangan nya.
Lucifer membersihkan secuil puding di ujung bibir Eva dengan jempol nya.
"Apa masih ada?" tanya Lucifer.
"Ada, apa kau mau?" tanya Eva.
Lucifer mengangguk.
Eva menurunkan kaki nya, melangkah menuju dapur.
"Ini dia, ada rasa cokelat, vanilla dan susu." tunjuk nya meletakkan di atas meja.
Lucifer mengambil salah satu dan langsung menyendokkan ke dalam mulut nya dengan lahap.
"Apa gigi mu tidak ngilu?" tanya Eva. Dia heran melihat suami nya memakan dengan lahap.
"Enggak. Aku menyukai nya. Mungkin kita akan berlomba siapa yang makan lebih banyak." tantang Lucifer.
"Ahh...tidak, kalau kau mau lagi, habis kan saja. Aku sudah kenyang." ucap Eva.
"Tadi kata nya masih mau lagi. Kenapa sekarang bilang nya kenyang." Lucifer sedikit memaksa.
"Melihat mu makan, aku sudah kenyang. Makan lah." suruh Eva.
"Ya udah kalau gitu. Jangan nangis kalau habis ya." Lucifer melanjutkan makan nya.
Eva menggelengkan kepala.
"Bukan nya kau tidak suka makanan yang manis?" gumam Eva.
30 menit Lucifer menghabiskan enam gelas kecil puding.
"Apa masih ada?" tanya Lucifer.
"Sayang, yang di tangan mu itu udah yang terakhir loh. Kamu baik-baik saja kan? dari dulu tidak suka makan yang manis dan pedas. Hari ini kau aneh." ucap Eva.
Lucifer meletakkan gelas yang sudah habis itu. Membersihkan mulut nya. Di angkat kaki sehingga setengah berbaring di sofa yang berukuran besar.
"Kemari sayang." Lucifer memukul ruang kosong di samping nya untuk Eva.
__ADS_1
Eva datang, Lucifer langsung membawa nya dalam pelukan. Sekarang kepala Eva berada di dada suami nya. Dia bisa mendengar dengan jelas detak jantung suami nya.
"Kau hari ini sangat manja." ucap Eva.
"Manja? tidak salah kan manja dengan isteri sendiri." balas Lucifer membelai kepala Eva.
"Tidak." jawab Eva tersenyum.
Kini mereka berbaring di sofa, beberapa saat tertidur bersama. Tv masih menyala begitu juga laptop milik Lucifer.
****************
Lisna masih belum bisa menghubungi Steven. Di datangi rumah, tidak ada. Ke rumah sakit milik nya, juga tidak ada.
Rasa sedih yang luar biasa menyelimuti hati nya.
"Kemana dia? apa dia baik-baik saja? kemana lagi aku harus mencari nya." gumam Lisna.
*********
Malam hari Lucifer terbangun. Tidak ada Eva di samping nya. Dia terbangun karena merasa lapar.
"Di mana dia?" gumam nya.
Turun dari ranjang, menuju kamar mandi.
"Sayang, apa kau di dalam?" tanya Lucifer sambil mengetuk pintu.
"Sayang? kalau kau tidak menjawab nya aku akan.........Hah? tidak terkunci?" Lucifer yang sedikit mendorong pintu.
Dia masuk, mengecek isteri nya di dalam.
"Tidak ada, di mana dia?" gumam nya lagi.
Keluar dari kamar, baru saja hendak menutup pintu.
PPPRRAAANNNNGGGGG.......
Terdengar suara piring jatuh. Lucifer segera berlari menuju asal suara yang ternyata berasal dari dapur.
Sampai di dapur, gelap, tidak ada cahaya, hanya melihat ada cahaya kecil di samping lemari pendingin nya. Cahaya redup dari ponsel.
"Apa itu?" gumam nya.
Lucifer menyalakan lampu dapur. Dan tampak kepala muncul di bawah, samping lemari pendingin.
"Sayang, apa yang kau lakukan di situ?" tanya Lucifer.
Ternyata Eva sedang asik makan sambil duduk di lantai.
__ADS_1
Eva melemparkan senyuman nya.
"Sini, kenapa duduk di bawah sih. Duduk di sini." suruh Lucifer yang sudah duduk lebih dulu di kursi meja makan.
Eva menuruti nya.Dengan tangan yang masih memegang piring berisi makanan. Lalu duduk di depan suami nya
"Kenapa kau makan sembunyi-sembunyi? tengah malam lagi. Ini udah jam.... dua loh." Lucifer melirik jam dinding di dapur nya.
"Aku lapar. Jadi aku turun cari makanan." Eva masih memasukkan makanan ke mulut nya.
Lucifer hanya tersenyum, mengusap kepala isteri nya.
"Kau bisa membangunkan ku. Aku akan menemani mu." ucap nya lembut.
"Tidak sayang.Kau sudah sangat sibuk sekali. Aku tidak mau terlalu merepotkan mu. Lagi pula ini kan tinggal makan saja, udah tersedia kok." jawab nya dengan tersenyum juga.
Lucifer berdiri, menuju kulkas, di buka nya. Melihat isi di dalam hanya buah-buahan dan kue-kue manis. Di ambil nya beberapa buah dan kue itu lalu duduk bersama dengan isteri nya.
"Kau ingin memakan nya?" tunjuk Eva.
"Yups....aku sebenar nya terbangun karena lapar juga." ucap Lucifer mulai melahap yang di bawa nya.
Begitu banyak cokelat, krim, gula halus di piring mereka berdua. Kompak makan bersama, di ruang dapur. Sesekali Eva tersenyum geli melihat suami nya.
"Sayang, makan nya pelan-pelan. Lihat di bibir mu banyak serpihan makanan nya loh." ucap Eva.
"Aku takut rebutan dengan mu. Dan juga, di bibir mu ada cokelat yang belepotan." balas Lucifer dengan senyum meledek.
Mereka langsung membersihkan mulut nya. Lalu tertawa bersama.
Beberapa menit, semua makanan yang ada di piring nya habis.
"Ayo kita kembali tidur sayang. Aku sangat ngantuk." Lucifer menguap dan mengulurkan tangan nya.
Eva menerima uluran tangan suami nya. Dia juga sudah mengantuk dan beberapa kali menguap.
"Mau aku gendong?" tawar suami nya.
"Enggak usah. Aku masih bisa berjalan kok." Eva menolak pelan.
Akhir nya mereka kembali sambil bergandengan tangan.
Mereka berbaring dan saling berpelukan. Sungguh sangat romantis. Dan mereka sama-sama tidak tahu apa yang terjadi dengan mereka.
****************
"Aku tidak bisa seperti ini. Kalau memang Stev tidak ingin melanjutkan rencana pernikahan, aku akan menerimanya. Walaupun berat yang aku rasakan." gumam Lisna.
"Kenapa kau membuat ku menderita Stev? Kenapa kau datang dan mempermainkan perasaan ku? apa salah ku? kau pergi, tidak tahu kemana." Lisna menangis di dalam kamar.
__ADS_1
"Sebelum nya aku sudah bilang, jangan terburu-buru, tapi kau selalu meyakinkan ku untuk percaya pada mu.Dan sekarang? di mana kau." air mata nya mengalir deras.
Lisna merasa sangat khawatir, takut dan gelisah. Rencana pernikahan sudah berjalan 70%, mulai dari baju pengantin, undangan dan Cattering. Dan sekarang Stev menghindar, menjauh entah kemana. Tidak menjelaskan apa maksud Stev yang sebenar nya.