
Revand mengangkat ponsel nya.
Revand tersenyum. Masih belum membuka pesan. Hanya terlihat ada pesan masuk dari nomor dokter Isabella.
“Selamat malam juga Revand. Kabar ku baik. Bagaimana dengan mu?” isi balasan pesan dari Isabella.
“Dia ternyata membalas pesan ku, hahahahahha…” ucap Revand bahagia.
“Dan dia bertanya bagaimana kabar ku juga?” Revand tidak berhenti tersenyum sampai gigi nya kelihatan.
“Aku juga baik kabar nya. Apa kau sedang sibuk?” balas Revand.
Pesan sudah terkirim.
“Deg-deg an nunggu balasan nya. Dia akan membalas seperti apa ya?” pria itu menggigit pelan ujung ponsel nya.
TTTINNGGGG….
Bunyi pesan masuk.
“Sudah dibalas.” Revand segera melihat balasan.
“Tidak terlalu sibuk sih. Tapi aku juga masih bekerja.” Balas Isabella.
Revand membaca isi pesan dari Isabella.
“Lalu aku harus membalas apa lagi nih? Dia tidak bertanya balik pada ku.” Ucap Revand.
Revand mengetuk jari telunjuk nya di atas meja kamar nya.
“Apa ya….apa…… aku harus balas apa lagi…mmmmm…” ucap Revand.
Beberapa menit kemudian.
TTINNGG……
Sebuah pesan masuk lagi.
Revand melihat, dan ternyata pesan dari Isabella lagi.
“Dia kirim pesan lagi.” Ucap Revand.
“Apa kamu sedang sibuk juga?” Tanya Isabella dalam pesan nya.
Lagi, Revand tersenyum kembali, bahkan wajah nya berkeringat sangkin senang dan gugup.
“Dia tanya aku sibuk atau tidak?” ucap nya.
“Tidak. Aku tidak sibuk.” Balas Revand.
“Apa kau mau kita makan siang besok?” tanya Isabella membalas pesan.
“Whhaatttt…. Dia…..dia….. ngajak aku makan siang? Besok??” Revand berteriak di dalam kamar nya.
“Bagaimana ini? Aku harus menjawab bagaimana? Mau gak ya? Ya pasti mau, tapi terkesan gampangan gak ya?” Revand berdiri dan mondar-mandir lagi.
TTIINNGGG…..
Pesan masuk lagi.
“Maafkan aku, seperti nya aku tidak jadi makan siang dengan mu, ternyata aku punya jadwal padat besok.” Isi pesan dari Isabella.
“Wwwwwhhaaaaaatttttttt……aaaaaakkkkhhhhhh…..” teriak Revand kesal.
Berdiri mematung, seakan tidak percaya dengan isi pesan yang baru di terima.
“Apa aku salah baca?” tanya nya.
Di baca nya lagi, dan ternyata masih sama.
__ADS_1
Duduk lemas di pinggiran ranjang nya. Seperti kurang semangat.
“Ya, tidak apa-apa. Aku juga sebenar nya besok sangat sibuk sekali. Hanya saja tidak tahu harus mengatakan bagaimana.” Jawab Revand berbohong.
Di lempar nya perlahan ponsel di atas ranjang, dan membaringkan tubuh nya.
“Kenapa rasa nya aku kecewa ya? Ck…. Aaaaakkkhhhhh….” Revand gelisah.
************
“Hahahaha….jadi kalian sudah kenal lama?” tanya Rihana pada Citra sambil tertawa.
“Iya teh. Mereka dulu pernah datang ke Bandung. Mereka bertiga sama-sama pernah macul di sawah, hanya Aa Hendra yang tidak pintar macul nya. Hahahahaha …” tawa Citra.
“Bertiga dengan bos mereka?” tanya Citra.
“Iya.” Jawab Citra.
“Aa gak bisa macul kan karena gak pernah ke sawah neng.” Balas Hendra.
“Lalu kau pikir aku dan tuan Lucifer anak petani yang sudah sering mencangkul?” balas Aris.
“Ya bisa jadi.” Jawab Hendra.
“Tapi kamu pintar masak juga ya. Enak masakan nya. Apa di bantu Hendra juga?” tanya Rihana memuji.
“Aa Hendra mah, minta tolong gilingin cabe aja butuh perdebatan dulu teh. Tapi aku tetap pada mu Aa Hendra.” Citra menunjuk Hendra
yang membalas dengan senyuman.
“Jadi, teteh Rihana juga tinggal di tempat Aa Aris?” tanya Citra.
Rihana dan Aris saling melihat.
“I…iya. Tapi kami tidak melakukan apa-apa sih.” Jawab Rihana gugup.
“Memang nya Rihana mau melakukan apa?” ledek Hendra.
“Ya elah, kenapa kau yang menjawab Ris? Aku tidak menyakiti kekasih mu kan?” ledek Hendra.
“Aa ih… jangan bikin Aa Aris marah donk.” Citra membela Aris.
Hendra terkejut.
********
Steven sudah menyelesaikan beberapa pekerjaan nya. Segera bersiap untuk pulang ke rumah.
Lisna tidak bisa tidur. Beberapa kali keluar masuk kamar mandi karena mual.
Steven mendengar suara isteri nya yang berada di kamar mandi.
“Sayang, kamu muntah lagi?” tanya Stev yang sudah berada di kamar dan menuju kamar mandi di mana Lisna berada.
“Stev, kau sudah pulang?” tanya Lisna.
“Iya, aku baru saja pulang. Apa masih mual?” tanya Steven.
“Iya, tapi sekarang udah tidak apa-apa.” Ucap Lisna yang ingin kembali ke kamar.
“Sini biar aku gendong.” Steven menggendong Lisna yang memang sudah tampak lemas.
“Wajah kamu berkeringat, pakaian mu juga basah begini. Harus di ganti ya pakaian nya.” Steven meletakkan Lisna di atas ranjang.
“Aku akan mengambil pakaian ganti. Kau duduk di sini.” Steven menuju lemari yang tidak jauh dari nya.
“Stev, apa kamu sudah makan?” tanya Lisna.
“Belum.” Jawab nya memilih pakaian.
__ADS_1
“Makan lah. Aku sudah tidak apa-apa lagi kok.” Suruh Lisna.
“Iya, aku akan mengganti pakaian mu dulu ya.” Dia datang dengan membawa daster untuk isteri nya.
“Aku bisa…
“Lisna, biar aku membantu mu. Aku tidak bisa tenang.” Ucap Steven memotong kalimat Lisna.
“Maafkan aku, aku merepotkan mu.” Lisna menundukkan wajah nya.
“Tolong jangan bicara seperti itu. Aku merasa tidak berguna kalau kau tidak mengandalkan ku.” Steven berdiri di samping Lisna.
**********
“Kalau begitu kami pulang dulu ya Citra. Terimakasih atas makan malam nya. Besok-besok, kalian yang datang ke tempat kami ya untuk makan malam.” Ucap Rihana.
“Tentu teteh. Hati-hati di jalan ya.” Citra menjawab dengan senang.
Aris dan Rihana meninggalkan rumah Hendra.
“Wah kalian sangat kompak sekali ya.” Ucap Rihana yang duduk di samping Aris.
“Iya, kami sama-sama yatim piatu dan berasal dari Singapura juga.” Jawab Aris di kursi kemudi.
“Oh ya? Bagaimana kalian bisa bertemu?” tanya Rihana.
Aris kemudian menceritakan bagaimana awal pertemuan mereka.
***********
Lucifer keluar dari kamar, menuju dapur untuk membuat susu khusus ibu hamil. Eva di tahan di dalam kamar. Tidak di ijinkan lama-lama di luar kamar.
Saat dia keluar, dilihat nya Revand duduk seorang diri di sofa. Duduk diam seperti bukan biasa nya.
“Aneh, biasa nya dia selalu ribut kalau melihat ku. Kenapa dia sekarang diam?” gumam Lucifer.
Tidak perduli, di lanjutkan kembali langkah nya.
Di dapur dengan serius dan tenang membuat susu, yang sudah di simpan di lemari dapur. Dengan sekatan dan teliti. Setelah selesai dia bawa ke kamar.
“Lucifer.” Panggil nya pada Lucifer yang akan masuk kekamar.
“Ck….baru juga di omongin, berulah lagi.” Gumam Lucifer.
“Lucifer duduk dulu di sini, ayo kita ngobrol dulu sebentar. Aku sangat kesepian sekali.” Bujuk Revand.
Merasa kasihan, dia menghampiri kakak ipar yang memasang wajah kasihan.
“Ada apa?” tanya Lucifer yang masih memegang gelas susu yang masih panas.
Revand melihat nya dengan jelas.
“Aku senang kau begitu perhatian pada Eva.” Gumam nya.
.
.
.
Shity Sudiarwan (Readers) : “ Evano dan Lucita cocok tuh thor….sepasang langsung dapat nya…wow..
Author : “Aku memang sengaja ingin bikin nama mereka yang masih nyambung dengan Eva dan Lucifer.”
Maya Rizqiana Dewii (Readers) : “ Dari pertama baca ini novel aku udah jatuh cinta sama cerita nya, seru banget.”
Author : “ Terimakasih. Jangan lupa like n Vote nya ya.”
Diana Malik : (Readers) : “ Sumpah thor, di saat banyak masalah pas udah baca novel thor seketika mood w langsung baikkan thor, tq dah nulis novel yang sangat menghibur banget.”
__ADS_1
Author : “ Terimakasih sudah menganggap sebagai penghiburan mu.”