
“Kamu udah tahu jenis kelamin anak mu Va?” Tanya Revand sambil melihat-lihat sepatu.
“Belum sih. Gak tahu kembar laki-laki, perempuan atau mungkin sepasang.” Eva pun sibuk melihat-lihat.
“Kenapa tidak kita USG saja?” Revand menawarkan bantuan.
“Aku sudah janji harus bersama Adam kak.” Jawab adik nya.
Revand megerti. Kalau sudah berhubungan dengan Lucifer dia tidak mau berdebat, apalagi dengan adik nya.
Eva masih mengelilingi tempat itu, sementara Revand menemani dari belakang sesekali menyentuh barang yang di dagangkan.
“Persiapan untuk kelahiran anak nya ya bu?” Tanya seorang wanita sedikit tua.
“Oh…..iya bu. Nyicil dulu.” Jawab nya saat melihat baju bayi perempuan yang lucu.
“Hamil yang keberapa dan sudah berapa bulan bu?” Tanya ibu itu lagi.
“Hamil nya baru pertama kali, sudah 5 bulan an.” Jawab nya tersenyum.
Revand hanya mengamati tidak jauh dari Eva yang sedang berbicara dengan pembeli lain nya.
Mereka mengobrol bersama.
“Lucu juga, imut dan kecil.” Ucap Revand dalam hati dan tersenyum.
“Nanti kalau isteri ku hamil, aku akan menemani nya belanja seperti ini.” Gumam nya lagi.
“Ehh…. Isteri? Mana? Ngaco…” seketika langsung berubah karakter.
Sekarang dia berada di area sepatu bayi. Revand tidak merasa kelelahan, justru dia sangat senang melihat dagangan yang mini itu. di angkat sepatu kecil, di lihat-lihat sambil tersenyum, lalu di letakkan kembali, begitu
juga dengan pakaian bayi perempuan, di angkat, di lihat dan di letakkan lagi.
Revand melihat sepasang sepatu kain yang imut banget, berwarna biru langit. Segera dia ingin mengambil karena merasa tertarik.
“Eeehh….. maaf.” Ucap seorang wanita.
Ternyata Revand dan wanita itu bersamaan mengambil sepatu yang sudah menarik perhatian mereka.
“Lepaskan. Karena ini sudah duluan saya melihat nya.” Suruh Revand ketus.
“Hah? Tapi tangan saya yang duluan menyentuh sepatu nya, jadi anda yang harus melepaskan.” Wanita itu tidak ingin mengalah.
“Tch…..masih ada yang lain kan?” Tanya Revand lagi.
“Anda saja ambil yang lain nya. Saya sudah menyukai ini.” Wanita itu tetap bertahan.
Revand mendengus. Di lihat dengan tatapan kesal.
__ADS_1
“Apa yang anda lihat? Sudah cukup belum?” wanita itu kesal dan marah.
“Sialan nih perempuan, berani sekali dia bertanya seperti itu. Apa dia tidak tahu siapa aku.” Tanya Revand di dalam hati.
Wanita itu pun memasang tatapan sengit, begitu juga dengan Revand. Di antara mereka tidak ada yang mengalah.
“Permisi, apa ada sepatu yang seperti ini lagi?” Tanya Revand memanggil karyawan toko itu.
“Oh…yang seperti ini ya, sebentar ya pak saya cek dulu.” Karyawan itu pergi dan melihat di bagian nya.
Revand dan wanita itu memasang wajah kesal. Revand yang berdiri gagah memasukkan tangan ke dalam saku celana nya, sedangkan wanita itu berdiri dengan berpangku tangan.
“Ini ada 5 pasang lagi.” Karyawan itu datang dengan membawa sepatu yang sama persis dengan yang mereka rebutkan.
“Tuh… ambil saja yang itu.” suruh Revand.
“Kau saja yang ambil pak, saya lebih suka yang di sana tadi.” Tolak wanita itu keras.
“Tch…… kau jangan keras kepala, ambil……
“Anda yang jangan keras kepala, kan sudah jelas-jelas tangan ku dulu yang menyentuh sepatu itu. Jadi anda harus mengalah. Masa harus berebutan dengan wanita sih.” Kesal nya.
Eva datang dengan membawa bungkusan belanjaan yang sudah di bayar.
“Ada apa?” Tanya Eva memegang lengan Revand.
Wanita itu melihat Eva yang sedang hamil dan merangkul lengan pria yang berdebat dengan nya.
“Sudah, aku lapar kita makan ya.” Ajak Eva manja.
“Iya, aku akan membawa mu ke tempat makanan yang kau suka.”Revand mengusap keringat yang ada di kening Eva.
Mereka berdua pergi, meninggalkan wanita yang masih memperhatikan nya.
“Ternyata isteri nya sedang hamil ya? Dan seperti nya sepatu ini untuk anak nya. Aduh….aku jadi merasa bersalah ini.” Ucap wanita itu yang masih memegang sepatu itu.
************
“Kak, tadi kalian sedang apa? Obrolan nya romantis sekali.” Canda nya.
“Romantis dari mana sih Va? Yang ada menegangkan.” Jawab Revand sewot.
Eva tersenyum melihat reaksi kakak nya.
“Tapi wanita tadi cantik dan dewasa, aku melihat kalian tadi berbicara memperebutkan sepatu.” Ucap Eva.
Eva memang sudah melihat perdebatan mereka, tapi sengaja di biarkan.
“Dia mengambil sepatu bayi yang aku suka, dan dia tidak mau mengalah. Padahal masih ada stok lain yang sama, tetap saja dia tidak mau.” Ucap Revand sambil mengemudikan mobil.
__ADS_1
“Kakak, di mana-mana laki-laki itu yang harus mengalah, apalagi rebutan sepatu gitu.” Jawab Eva santai.
“Yah….gak bisa gitu donk Va, aku sudah melihat sepatu itu duluan.” Revand tidak ingin mengalah.
“Siapa yang memegang duluan?” Tanya Eva yang juga tidak mengalah.
Revand melihat Eva yang sangat menunggu jawaban dari nya.
“Dia. Tapi aku juga sudah memegang ujung sepatu itu.” jawab nya tidak ingin mengalah.
“Hahahahaha…..kakak ku sayang, walaupun kakak dari jarak ratusan meter dan duluan sudah melihat dan tertarik, tidak akan di akui
kepemilikian sebelum tangan kakak yang mengambil nya langsung. Dan wanita tadi
sudah memegang dan menyentuh sepatu itu duluan kan? Aku juga melihat nya kok.”
Eva jadi sewot.
Revand menghela nafas. Tidak ingin berdebat lagi.
Eva melirik nya sambil tersenyum.
“Terimakasih ya kakak, sudah menemani ku membeli keperluan bayi.” Ucap Eva.
“Tidak perlu berterimakasih. Nama nya juga untuk adik nya, wajar sebagai kakak akan melakukan hal yang sama.” Jawab nya juuga tersenyum.
“Tapi kalau seandai nya nanti kakak bertemu dengan wanita itu, berarti kalian berjodoh.” Eva masih membahas wanita yang tadi, membuat Revand mendengus lagi.
*************
“Tuan Lu…Adam, pak polisi yang waktu itu seperti nya kenal dengan anda ya?” Tanya Lisna.
“Iya, kami berteman lama.” Jawab Lucifer.
“Kenal di mana tuan? Coba ceritakan sedikit.” Pinta Lisna.
Lucifer melihat Lisna, dan ternyata semua nya juga menunggu jawaban dari keterangan Lucifer.
“Hendra dan Aris juga mengenal nya. Dulu dia salah satu dari anak buah ku. …..
“Hah…?” mereka terkejut bersamaan.
“Iya, tapi sebenar nya dia ingin menjadi polisi. Waktu itu karena tidak cukup biaya untuk pendidikan dan pelatihan, dia menyerah dan
pasrah. Tapi sebenar nya dia baik, dari perawakan dan cara dia bertindak, sudah
sesuai sebagai polisi.
“Suatu saat, dia menemui ku dan mengajukan mundur dari kelompok. Aku tidak melarang nya, itu hak dia. Dia bilang dia ingin menjadi
__ADS_1
polisi.
“Aku mendukung nya. Lalu dia fokus dengan cita-cita nya dan berhasil menjadi polisi seperti saat ini.” Ucap nya singkat.