
Sebenar nya Arshinta sudah mulai mengalami kebosanan.
Seluruh ruangan tempat penyekapan sudah hamir semua di jelajahi.
Tubuh nya yang sudah penuh dengan debu dan berminyak.
“Kapan papa kamu datang Shinta? Kenapa lama sekali?” tanya Natha.
“Entah lah. Tapi aku yakin, papa ku pasti datang.” Jawab Arshinta duduk memeluk kaki.
Semakin lama anak-anak yang di culik bertambah saja. Setiap hari jerit tangis dan kesakitan terdengar.
DDDDRRTTTDDD….DDDDRRRTTDDD….DDDRRTDD…
Suara getaran ponsel yang di sembunyikan Arshinta, itu berarti ada panggilan masuk.
Dua orang anak buah bos penculik itu berada di hadapan Natha dan Arshinta. Sambil menempelkan ponsel teman nya di telinga.
“Nomor nya masih aktif, seperti nya ada yang mengambil hp mu.” Ucap teman nya yang sedang mencoba melakukan panggilan.
Suara getaran yang lumayan keras itu terdengar oleh mereka.
Kebetulan letak nya lebih dekat dengan Natha.
Dua orang yang beringas itu langsung tertuju arah di mana Arshinta dan Natha duduk, dan mereka tentu saja sudah menyadari.
Natha, semakin takut. Karena tatapan mereka semakin mengarah pada nya. Seakan-akan Natha lah yang mencuri ponsel itu.
“Mana hp itu?” tanya si empunya ponsel.
“A…apa om, Natha tidak mengerti.” jawab Natha terbata.
“Jangan bertanya lagi. Di mana hp yang kau curi itu?” bertanya lagi dengan suara keras.
Natha melihat Arshinta yang juga melihat nya.
Salah satu dari kedua penculik itu langsung menarik paksa Natha yang ketakutan.
“Mana hp nya bocah sialan…” teriak si pemilik ponsel.
“Aku tidak tahu om.” Jawab Natha dengan rambut yang di tarik.
Semua anak-anak melihat dengan ketakutan karena rekan nya di seret dan di marahi.
“Om, jangan sakiti teman ku..” teriak Arshinta dengan berani.
Teman si pemilik ponsel melihat Arshinta dengan kesal. Dia berjalan menghampiri gadis kecil yang berdiri tanpa takut.
“Kenapa memang nya? Dia itu sudah mencuri ponsel teman om. Jadi om harus kasih dia hukuman.” Jawab pria hitam itu.
“Bukan Natha yang ambil, tapi Shinta sendiyi yang ambil.” Balas Arshinta.
“Apa? Sekarang di mana hp itu? cepat kembalikan. Kalau tidak…….
__ADS_1
“Jangan jahat, nanti Shinta kasih tahu sama om Sado kalau om jahat sama Shinta.” Ancam gadis yang masih berani itu.
“Sebaik nya jangan sampai kita menyakiti gadis kecil ini. Karena bos udah kasih peringatan sama kita. Bos kita menyukai dia.” Bisik teman nya.
“Kalau begitu, mana ponsel om nya. Kan gak baik kalau mencuri barang yang bukan milik sendiri.” Bujuk pria pemilik ponsel.
“Shinta lapayl, Shinta mau makan mie goyeng, sama ais kyim. Nanti Shinta kasih ponsel nya.” Pinta Arshinta.
“Sialan nih bocah, apa sebaik nya kita kasih pelajaran dulu sama bocah nakal ini?” ucap rekan nya yang merasa sudah mulai gerah.
“Jangan, bos tahu apa yang terjadi dengan ‘mainan baru’ nya. Kau lihat anak ini kan tidak takut dengan kita. Sebaik nya kita turutin dulu
apa mau nya.” Jawab rekan nya yang sedikit khawatir.
“Hhhmmmm… baiklah. Tapi apa kita berdua yang pergi? Kau sebaik nya di sini saja. Jaga mereka supaya tidak melakukan hal yang aneh.” Suruh rekan nya yang merasa curiga.
“Baik, aku akan menjaga nya di sini. Cepat lah pergi.”
Salah satu dari mereka akhir nya pergi membeli apa yang di ingin kan Arshinta.
“Nona manis, sini duduk sama om. Ngapain berdiri di sana.” Suruh penculik yang memiliki ponsel.
Arshinta datang dengan pelan.
“Hah… gitu donk.” Arshinta sekarang ada di pangkuan pria itu.
“Om, om punya anak tidak?” tanya Shinta mengangkat wajah dan melihat orang yang memangku nya.
“Pantesan om gak punya hati sama anak-anak kecil.” Ledek Arshinta dengan berani.
Pria itu terkejut.
“Berani sekali anak ini. Aku penasaran seperti apa keluarga nya hingga dia seberani ini. Apa dia tidak tahu kalau perkataan nya bisa
membahayakan nya.” Ucap nya di dalam hati.
“Di mana sih ponsel om di simpan?” tanya om penculik membujuk.
“Om mau tahu di mana?” tanya Arshinta dengan suara pelan.
Pria itu menganggukkan kepala.
“Sini, biar Shinta bisikin.”
Pria itu mendekatkan kepala nya untuk mendengar bisikan dari Shinta.
Natha, Ina, dan anak-anak lain melihat apa yang di lakukan Arshinta.
“Oh ya, jadi kamu simpan di sana ya?” tanya pria yang sedikit percaya.
“Iya, tapi jangan bilang sama om yang galak itu ya. Shinta enggak suka dia, dia jelek dan galak.” Ucap Arshinta.
“Hahahahaha…. Kalau om ini gimana? Galak gak?” tanya pria itu.
__ADS_1
Arshinta menggelengkan kepala nya.
“Sebaik nya aku harus ambil ponsel itu.” ucap pria itu di dalam hati.
“Tapi om, Shinta enggak tahu, apa masih di situ atau enggak. Soal nya ada teman om juga di sana jayan-jayan.” Shinta berbicara sambil
melihat wajah si penculik.
“Oh ya, kalau begitu, Shinta duduk di sini dulu ya, biar om ambil sebentar.” Pinta nya.
“Jangan om, nanti kalau si om galak itu datang gimana?” dengan lugu nya Arshinta berusaha menahan pria itu.
“Dia masih lama. Om cepat akan kembali kesini. Ok..” dan sekarang dia meletakkan Arshinta untuk duduk sendiri.
“Om jangan lama ya, Shinta takut.” Ledek nya.
Arshinta melihat Natha sambil mengedipkan mata.
Pria segera pergi, percaya begitu saja pada celoteh anak kecil.
“Shinta…
“Sssttt….
Arshinta segera mengambil ponsel nya, menghubungi nomor Lucifer dengan cepat.
*******
Sementara itu, rombongan Lucifer sudah mendekati lokasi. Revand, Lucifer dan Vicky, berikut dengan anak buah nya masing-masing.
“Hallo papa…” ucap Arshinta.
Lucifer sengaja mendengar kan suara pertama dari nomor yang menghubungi nya, untuk memastikan siapa yang sedang berbicara dengan nya.
“Shinta. Ada apa nak? Apa kamu baik-baik saja?” tanya Lucifer.
Saat mereka berbicara dalam panggilan telepon, Revand yang ada di samping nya juga ikut melacak lokasi dari jarak suara mereka.
“Papa, sebentayl lagi Shinta enggak bisa bicaya sama papa di hp, kayna oyang nya sudah tahu ponsel nya ada sama Shinta.” Ucap Shinta berbisik.
“Papa udah di mana?” tanya Arshinta.
“Papa sudah ada di……
“Oh…. Jadi ternyata kau membohongi om ya Shinta..” teriak pria yang keluar mencari ponsel tempat yang Shinta katakan.
Pria yang sudah mendengar pembicaraan Arshinta dengan menggunakan ponsel milik nya. Pria itu sekarang sangat marah.
“Papa cepat datang kesini, si om jelek udah mayah-mayah..” teriak Shinta yang masih berbicara dalam panggilan telepon.
Pria itu semakin mempercepat langkah nya. Shinta berusaha menghindar sambil melihat pria itu dengan tenang.
“Shinta kamu lari nak, cari tempat untuk sembunyi….” Lucifer teriak menyuruh Arshinta.
__ADS_1