
"Maksud nya apa Stev?" tanya Lisna sekali lagi.
Stev tidak langsung menjawab nya. Masih berusaha menahan emosi dan rasa penasaran.
"Aku tidak suka ada kebohongan di antara kita." ucap Stev lagi.
"Kebohongan? kebohongan apa? siapa yang berbohong?" tanya Lisna semakin tidak nyaman.
Stev tidak memberi jawaban. Masih diam dan fokus mengendarai mobil nya.
"Stev, tolong berbicara yang jelas pada ku." tanya Lisna.
"Lisna, seperti nya kau tidak serius dengan rencana pernikahan kita. Mungkin...mungkin kita harus memikirkan nya lagi." jawab Stev.
"Hah?? kenapa? tolong bicara yang jelas. Memikirkan apa nya?" tanya Lisna menahan kesedihan.
"Kau sudah sampai di kantor. Turun lah." suruh Stev.
"Stev? kenapa kau.....
"Turun lah Lis, hari ini jadwal ku sangat banyak." Stev memaksa Lisna untuk turun.
Dengan langkah sedikit lunglai, Lisna turun dari mobil.
Baru saja Lisna menutup pintu, Stev sudah langsung menjalan kan mobil nya tanpa berkata apa-apa.
Sementara Lisna, mata nya berkaca-kaca menahan sedih. Masih berdiri di depan kantor.
Tidak berapa lama Lucifer dan Aris juga baru tiba.
"Selamat pagi Lisna." sapa Aris.
Lisna tidak menyahut. Masih diam dengan tatapan kosong. Lucifer melihat sekilas namun langsung mengabaikan.
"Lis, apa kau tidak masuk ke kantor?" tanya Aris.
Lisna tersadar, dia melihat Aris.
"Hah? pa....pagi Aris." sapa Lisna.
"Ada apa dengan mu?" tanya Aris.
"Tidak. Aku tidak apa-apa." ucap nya memaksakan tersenyum.
Lisna, mengikuti Aris dan Lucifer masuk lift khusus atasan.
"Ada apa dengan mu Lis? tidak biasa nya kau diam?" tanya Aris merasa aneh dengan teman Eva itu.
"Tidak apa-apa Ris, mungkin aku hanya kelelahan saja." jawab Lisna.
"Kalau kau lelah, sebaik nya ambil cuti saja dulu." saran Lucifer.
"Tidak tuan. Saya masih bisa bertahan sampai hari off kerja." jawab Lisna.
****************
"Aduh....kenapa kepala ku rasa nya pusing banget ya. Apa kurang darah?" ucap Eva memegang kepala nya.
"Sebaik nya aku bikin susu hangat dulu." Eva memaksakan diri nya berdiri menuju dapur.
************
"Tuan, ada apa?" tanya Aris melihat Lucifer sempoyongan.
"Hhhhmmmm....entah lah, kepala ku sangat pusing." Aris membantu Lucifer untuk duduk di sofa ruangan nya.
"Tuan, apa saya harus bikin kan kopi?" tanya Aris.
"Tidak, jangan kopi. Tolong buat kan susu hangat, tambahi gula nya." pinta Lucifer masih memegang kepala nya.
"Apa? su.....susu?" Aris seperti tidak percaya dengan permintaan bos nya.
__ADS_1
"Iya, apa ada masalah?" tanya Lucifer melirik tajam Aris.
"Ah...mmm....tidak tuan. Saya akan membuat kan nya." Aris segera keluar dari ruangan.
"Oh ya tuan, susu putih atau cokelat?" tanya Aris.
"Putih. Ingat, harus manis." jawab Lucifer.
"Baik tuan." jawab Aris.
"Aneh, tuan Lucifer minta di bikinin susu, di tambahi gula? mana pernah tuan Lucifer minum susu? apalagi harus manis." gumam Aris di dapur kantor.
"Hhmmm....ada apa dengan ku." gumam Lucifer memijit kening nya.
**************
"Apa maksud perkataan Stev? apa dia mau membatalkan pernikahan? tapi kenapa? apa alasan nya?" gumam Lisna.
"Pagi Lisna." sapa William.
Lisna belum memberi jawaban.
"Lis?" panggil William lagi.
William melambaikan tangan di hadapan Lisna.
"Eh...Willy, ada apa?" Lisna kemudian tersadar.
"Ada apa? aku memanggil mu beberapa kali loh. Apa ada masalah?" tanya William.
"Enggak. Enggak kok." jawab Lisna memaksakan tersenyum.
Aris muncul dengan membawa gelas berisi susu pesanan Lucifer.
"Pagi tuan Aris." sapa William.
"Pagi." jawab Aris.
"Iya, ini untuk tuan Lucifer." jawab Aris.
"Apa? susu untuk tuan Lucifer? bukan kah biasa nya kopi?" tanya William terkejut.
"Iya, aku juga heran. Ya udah aku antarkan dulu." Aris segera menuju ruangan Lucifer.
Melihat Lucifer masih memijit kening nya.
"Tuan, ini susu yang anda minta." ucap Aris.
Lucifer melihat Aris. Dia mengambil dan langsung meminum nya sedikit.
"Aris, ini kurang manis. Apa kau tidak menambahkan gula?" tanya Lucifer kecewa.
"Sudah tuan, sudah dua sendok." jawab Aris.
"Hhmmm....bawa ke sini sekarang tempat gula nya. ini masih kurang." suruh Lucifer.
"Apa??" Aris semakin terkejut.
Lucifer menjadi marah.
"Ba....baik tuan, saya akan mengambil nya.
Aris langsung cepat ke dapur kantor lagi.
**********
"Gula nya masih kurang, tambah lagi ah...biar makin manis." ucap Eva menambahkan gula dalam susu hangat nya.
****************
"Tuan, hari ini anda ada meeting dengan beberapa klien." ucap William.
__ADS_1
"Kau dan Lisna yang melakukan nya." suruh Lucifer.
"Baik tuan." ucap William.
************
"Stev, aku ingin berbicara dengan mu mengenai perkataan mu tadi pagi." Lisna mengirim pesan pada Stev.
Beberapa menit, tidak ada balasan jawaban dari Stev.
Lisna mencoba menghubungi, nomor nya tidak aktif.
"Aneh? tadi waktu kirim WA, masih ceklis dua, kenapa sekarang ceklis satu dan nomor nya gak aktif?" gumam Lisna.
Lisna semakin gelisah. Ada kekhawatiran dalam hati nya.
"Sebaik nya aku harus menemui nya di rumah sakit." gumam Lisna.
"Lisna." panggil William.
"Iya?" jawab Lisna.
"Siang nanti kita ada meeting. Tuan Lucifer menyuruh kita mewakili nya." ucap William.
"Mmmmm......siang ini ya...?" tanya Lisna.
"Iya, kau tahu kan hari ini ada meeting jam 2?" tanya William.
"Baiklah. Aku mengerti." jawab Lisna.
"Oke... sebentar lagi jam istirahat. Jangan lupa makan." suruh William.
"Seperti nya aku tidak bisa menemui nya hari ini." gumam Lisna.
*************
Stev beberapa kali melihat foto dan video yang di kirim kan Julie.
"Ini benar-benar Lisna. Tapi kenapa dia tidak jujur pada ku?" tanya Stev di ruangan nya.
"Aku paling tidak suka di bohongi." ucap nya lagi.
TTOOKK....TOKK...TOK....
"Masuk." suruh Stev.
"Siang Stev." julie masuk dan menyapa Stev.
"Kau? apa yang kau lakukan di sini?" tanya Stev tidak senang.
"Tenang lah, jangan marah begitu." Julie duduk di depan meja Stev.
"Bagaimana? kau sudah melihat video nya kan?" tanya Julie.
"Dari mana kau dapat kan itu?" tanya Stev.
"Club malam. Waktu itu aku heran, kenapa dia bisa berada di situ. Kau tahu? dia berpakaian sangat sexy, dia beberapa kali mencium laki-laki. pokok nya.....
"Cukup!! keluar dari ruangan ku sekarang." suruh Stev.
"Kau marah? apa kau tidak percaya dengan yang aku katakan?" tanya Julie.
"Aku tidak percaya. Sekarang keluar! aku masih punya banyak kerjaan." Stev berbohong.
"Jangan sampai kau menyesal Stev. Suatu saat dia akan meninggalkan mu, segera! " ucap Julie.
Dengan emosi, Julie meninggalkan Stev yang masih berada di dalam ruangan itu.
"Aaakkkhhhh.....siallll......" Stev emosi.
Dia membuka seragam kantor nya dan meninggalkan ruangan.
__ADS_1