SANG BOSS MAFIA JATUH CINTA

SANG BOSS MAFIA JATUH CINTA
EPISODE 188


__ADS_3

"Benar kau mau ikut?" tanya Lucifer meyakinkan lagi.


"Iya." jawab Eva dengan semangat menganggukkan kepala nya.


"Baik lah. Tapi kalau kau takut, kau bisa tinggal di mobil aja." ucap Lucifer.


"Tidak, aku tidak takut. Untuk apa aku takut, kan kau bos nya." ucap Eva dengan senyum lebar.


"Biasa nya aku takut untuk mengakui kalau aku bos." ucap Lucifer pelan sambil menggeleng kan kepala.


"Kau bilang apa sayang?" tanya Eva mendengar suara pelan suami nya.


"Hah? tidak ada kok, ayo kita berangkat." ajak Lucifer mengulurkan tangan nya.


Eva menggenggam tangan suami nya.


************


"Kau sudah sadar nona Novel?" Steven baru masuk ke dalam ruangan Novel untuk memeriksa keadaan nya.


"Kau...kau siapa?" tanya Novel khawatir.


"Kenapa aku ada di sini?" tanya nya lagi.


"Aku dokter Steven. Aku di tugas kan untuk memeriksa kesehatan mu." ucap Steven.


"Memeriksa? apa dia di suruh mengecek organ dalam ku sebelum di keluarkan?" gumam Novel gugup.


"Nona, kenapa kau gemetaran? apa kau merasa tidak nyaman?" tanya Stev, dia merasa tempat Novel bergetar.


"Apa, apa kalian ingin menjual organ dalam ku ya?" tanya Novel memberanikan diri.


"Menjual? maksud nya?" tanya Steven yang kebingungan.


"Katakan saja yang sejujur nya pak, kalau memang saya mau di bunuh, organ-organ saya mau di jual, saya tidak masalah walaupun sebenar nya saya sangat takut. Tapi tolong, selamat kan keluarga saya." ucap Novel gemetar.


Steven semakin tidak mengerti. Masih mencerna apa maksud dari perkataan pasien nya.


"Mungkin kamu masih gugup, masih tidak tenang, sebaiknya kamu istirahat saja dulu ya." ucap Steven.


"Tolong, tuan Lucifer berjanji untuk menyelamatkan keluarga saya, saya mohon." ucap nya lagi dengan menangis.


"Lucifer? apa dia kenal?" gumam Steven.


"Baik, nanti saya akan tanyakan dengan Lucifer ya. Jadi sebaiknya kamu istirahat saja dulu." ucap Steven melangkah keluar.


Meninggalkan Novel yang masih berharap.


"Apa nya yang mau di jual? organ dalam? siapa yang suruh?" gumam Steven di luar pintu.


"Coba aku tanya si Lucifer." gumam nya lagi mengeluarkan Hp milik nya.


"Hallo, ada apa Stev?" Jawab Lucifer menerima panggilan.


"Luci, apa kau berniat ingin menjual organ dalam milik Novelina?" tanya Steven.


"Apa?? siapa yang bilang?" Lucifer ikut kaget.

__ADS_1


"gadis itu sendiri yang ngomong, malah dia memohon agar keluarga nya di selamat kan." ucap Steven.


"Luci, kau tidak sedang kekurangan uang kan? bukan nya kau tidak suka dengan perdagangan yang seperti itu?" tanya Steven meledek.


"Diam Stev. Apa kau percaya aku melakukan itu? mungkin itu kerjaan Aris dan Hendra, kau tahu lah mereka kalau bekerja kebanyakan bercanda." jelas Lucifer.


"Lalu bagaimana dengan keluarga gadis itu?" tanya Stev.


"Kalau sempat aku akan menyelamatkan mereka." ucap Lucifer santai.


"Sebaiknya selamat kan lah Luc, dia tadi sangat memohon begitu." bujuk Steven.


"Mmm....." Lucifer menutup panggilan nya.


" Buset...di matiin?" ucap Stev.


*****************


Di markas....


"Siapa kalian? apa yang kalian lakukan pada ku?" tanya Heriawan setelah penutup mulut nya di lepas kan.


Aris dan Hendra belum berbicara, hanya menatap nya dengan sinis.


"Lepas kan aku.....cepat..." teriak Heri.


BBBRRUUUGGHHHH.......


Aris memukul wajah Heri hingga hidung nya mengeluarkan darah.


"Uuhuukk....uuhhuukk....uuhhuuukkk..." Heri mengatur nafas.


"Tebakan mu.....benar..." jawab Hendra mengacungkan jempol nya.


"Apa yang kalian ingin kan? mau membunuh ku?" teriak Heri.


"Tentu saja. Tapi tidak segampang yang kau pikirkan." ucap Lucifer tiba-tiba berada di belakang Aris dan Hendra.


Lucifer datang dengan Eva yang berada di samping nya. Tentu saja masih saling bergenggaman tangan.


Aris dan Hendra melihat kedatangan bos nya. Mereka sedikit terkejut dengan kehadiran Eva.


"Apa yang di lakukan Eva di sini?" gumam Aris dan Hendra bersamaan.


"Lucifer. Ternyata benar, kau adalah si Lucifer." Heri menatap sinis tanpa ketakutan di wajah nya.


Hendra seperti biasa, dia menyediakan kursi tempat bos nya mengintrogasi musuh nya.


Kursi yang hanya bisa satu orang saja untuk duduk.


Sementara Aris, Eva dan Hendra berdiri di samping Lucifer.


"Kenapa kau membawa ku kesini? kalau kau mau membunuh ku, lakukan dengan cepat." ucap Heri.


BBBRRUUGGHHH.......


Lucifer memukul wajah Heri dengan kaki nya. Membuat tubuh Heri jatuh kebelakang.

__ADS_1


Eva melirik Lucifer, sedikit memejamkan mata.


Lucifer tahu apa yang di pikirkan isteri nya.


"Sayang, kau ikut Hendra ke ruangan ku ya." ucap Lucifer pelan.


Eva menganggukkan kepala nya. Dia mengerti kenapa suami menyuruh nya pergi.


Lucifer memberikan kode pada Hendra. Hendra tahu arti dari kode itu.


"Ayo Eva, ikut aku." ajak Hendra.


Eva mengikuti Hendra, sementara mata Heri mengamati wanita yang menjadi isteri Lucifer.


Lucifer menarik rambut Heri dengan keras, sehingga wajah mereka sangat dekat.


"Katakan pada ku, siapa yang menyuruh mu? apakah si Marvel Lee?" tanya Lucifer.


Heri tidak menjawab, malah membuang ludah di wajah Lucifer.


"Aaaaakkkhhhh...Ban***t...." Lucifer berteriak dengan marah, menendang kembali tubuh Heri dengan sangat keras.


"Itu kenapa dengan Adam?" tanya Eva pada Hendra.


"Tidak apa-apa, biasa lah Va. Tapi tenang saja. Tuan Lucifer tidak akan kalah." ucap Hendra.


Eva masih sedikit khawatir.


"Oh ya, kau mau aku belikan ice cream atau makanan lain nya?" tanya Hendra.


"Gak usah." Eva fokus melihat isi dalam ruangan itu.


Memiliki meja kerja dan sofa. Dinding kaca yang transparan dari dalam tapi tidak terlihat kalau dari luar.


Ada sebuah peti besi, saat Eva membuka, banyak sekali jenis-jenis senjata di dalam nya. Pisau-pisau kecil yang unik namun sangat tajam.


Di ambil nya salah satu dan mengeluarkan pisau dari sarung nya.


"Va, apa kamu tidak terkejut dengan tempat ini?" tanya Hendra yang penasaran.


Eva melihat Hendra yang menunggu jawaban.


"Sedikit sih, hanya saja rasa penasaran ku lebih besar." ucap nya memasangkan sarung pada pisau.


"Kau tahu kan ini tempat apa?" tanya Hendra lagi.


"Tahu." jawab Eva singkat, sambil mengambil jenis pisau lain.


"Di sini, tempat musuh-musuh Lucifer di sandera. Dan kau tidak takut kalau mereka melihat mu?" tanya Hendra.


"Enggak. Aku yakin mereka lebih takut dengan Lucifer. " jawab nya lagi.


"Eh.. ini tempat si Adam saat ini kan?" tunjuk Eva pada layar yang sedang menyala.


"Iya, semua tempat yang ada di sini memiliki CCTV." jawab Hendra.


Eva duduk di hadapan LCD berukuran sedang itu. Menatap dengan serius wajah suami yang sedang mengintrogasi lawan nya.

__ADS_1


Sementara Hendra, menggelengkan kepala melihat betapa tenang nya Eva melihat keadaan itu. Di mana Lucifer sudah mulai memukul tawanan nya.


__ADS_2