Terjerat Cinta Sang Pembantu

Terjerat Cinta Sang Pembantu
Frekuensi hubungan


__ADS_3

Tira masih saja canggung berada di apartemen Rangga. Padahal, sudah hampir dua minggu ia tinggal bersama Rangga. Seminggu yang lalu, Rangga pergi ke Swiss, dan Tira hanya berdua bersama Keyza.


Sesekali, Tira datang mengunjungi rumah besar Davian untuk menemui Arini, namun kali ini, Tira tak bisa kemana-mana, Rangga telah berpesan padanya bahwa hari ini Rangga akan pulang, dan Tira harus mempersiapkan kepulangannya.


"Kak Tira, Opah kecil hari ini pulang ya?" tanya Keyza.


"Iya, sayang. Makanya, Kakak tadi pagi ke supermarket membeli semua ini. Sekarang Kakak harus memasaknya." jawab Tira.


"Apa Key boleh membantu Kakak?" tanya Keyza.


"Tentu saja boleh, sayang. Key buka buah di plastik itu ya, nanti taruh di keranjang, biar Kakak cuci buahnya." ucap Tira.


"Baik, Kakak. Laksanakan."


Tira dengan gigih menyiapkan masakannya untuk menyambut kedatangan Rangga. Kali ini memang tak biasa, karena ini baru kali pertama Rangga pulang dari Swiss, dan Tira sungguh tak tahu harus memasak apa, ia pun tak tahu masakan apa yang disukai Rangga. Ia hanya berbekal kemampuan dan internet saja untuk memasak menu hari ini.


Tak lama, bel apartemen Rangga berbunyi, Tira segera membuka pintu apartemen. Ternyata benar dugaannya, Rangga datang. Ia membawa beberapa jinjingan yang isinya seperti oleh-oleh.


"Selamat datang, Tuan." ucap Tira.


"Halo Opa kecil. Akhirnya Opa sudah pulang, Key sangat rindu Opa!" Keyza.


"Opa kecil juga sangat merindukan Keyza, ayo ajak Opa masuk. Opa kecil bawakan sesuatu untuk Keyza." Rangga memangku Keyza yang terlihat bahagia melihatnya.


Tira menutup pintu apartemen. Tira tersenyum, ternyata Rangga bisa menjadi pengganti Arkan, yang telah menyia-nyiakan anak secantik dan sebaik Keyza.


"Tuan, saya sudah menyiapkan makan siang, kalau Tuan Rangga lapar, makanannya sudah siap di meja makan." ucap Tira.


"Tentu saja, aku lapar sekali. Sejak di bandara, aku belum makan apa-apa lagi. Supirku sudah pulang ke rumah Mami." ucap Rangga.


Mereka menuju ruang meja makan. Tira telah menyiapkan beberapa menu masakan. Ia tak ingin mengecewakan Rangga. Jadi, ia memasak banyak menu agar Rangga bisa memilih.


"Key makan ya sama Opah Rangga." ucap Tira.


"Iya, Kak Tira." Tira kembali ke dapur.


"Kamu mau kemana?" tanya Rangga.


"Saya mau cuci piring bekas masak tadi, Tuan." jawabnya.

__ADS_1


"Nanti saja sekalian sama yang ini, ikutlah makan bersama kami." ajak Rangga.


"Tidak usah, Tuan. Saya nanti saja setelah Tuan dan Key selesai makan." Tira menolak dengan halus.


"Aku sudah bilang padamu, jangan menganggap dirimu pembantuku. Ketika aku makan, makanlah bersama. Jangan sungkan, Tira." ucap Rangga.


"Baik, terima kasih, Tuan."


Tira mengalah. Ia kemudian ikut duduk di samping Keyza. Ia mengambilkan nasi untuk Rangga dan juga Keyza. Keyza terlihat sangat bahagia sekali. Tira benar-benar merasa, ia seperti berkeluarga dengan Rangga. Bagaimana tidak? Ia memasakkan nya makanan, menyambut kedatangannya, dan juga makan bersamanya.


Rangga dan Keyza makan dengan lahapnya. Ia menikmati hidangan yang disajikan oleh Tira. Rangga menyukai semua makanan yang dimasak oleh Tira, karena rasanya benar-benar lezat.


"Masakan mu enak, Tira. Terima kasih, telah menyediakan aky makan siang yang lezat." ucap Rangga.


"Sama-sama, Tuan. Semua untuk Tuan dan Keyza. Saya malu, ternyata saya malah ikut-ikutan makan." ucap Tira.


"Gak apa-apa, masa aku makan kamu enggak sih. Sudah kubilang, kamu jangan merasa jadi pembantuku. Kamu juga nyonya rumah disini." tegas Rangga.


"Ba-baik, Tuan. Terima kasih banyak,"


Mereka meneruskan kembali makan siang dengan canda dan tawa. Rasanya, begitu hangat walaupun Tira sedikit canggung jika berbicara dengan Rangga. Tira harus bisa mencoba sesantai mungkin berada di apartemen ini bersama Rangga dan Keyza.


Davian sedang berada di kantor. Namun, ia sedang bersantai karena tak ada pekerjaan mendesak. Hanya acara meeting pukul tiga sore dengan beberapa direksi, dan itu pun nanti. Ia sedang bersantai, ditemani oleh sekretaris Dika yang sejak tadi berada di ruangannya.


"Dik, apa gue pulang dulu ya sekarang?" tanya Davian.


"Nanggung, Bos. Meeting juga beberapa jam lagi, kalau lu pulang, dan bertemu Nona, lu pasti gak mau lagi dateng lagi ke perusahaan." jawab sekretaris Dika.


"Terus gue harus ngapain sekarang! Jenuh gue, Dik. Kalau di rumah kan gue bisa ngerayu dan godain istri gue." jawab Davian.


"Gue saranin, lu jangan pulang. Telepon kek, video call kek. Bos kok pikirannya dangkal amat. Kita hidup di zaman modern, semua teknologi udah menguasai. Mau tatap muka, apa susahnya tinggal buka handphone lu, beres kan? Memang hidup lu sengaja dibuat ribet terus deh Bos!" gerutu sekretaris Dika.


"Dik lu kenapa sih? Semenjak Tira gak ada di rumah, lu jadi sering ngomel-ngomel gak jelas gitu? Kenapa lu jadi kayak emak-emak rempong yang bisanya ngomel dan gerutu aja? Nikah lu makanya! Biar gak sembarangan ngomong. Lu kira, nahan rindi itu enak apa? Seenggaknya, jatuh cinta dulu deh lu, biar tahu, gimana arti seseorang dalam hidup lu!" balas Davian.


"Ah, parah lu parah! Udah lah, males gue Bos kalo bahasannya tentang cinta. Ujung-ujungnya bucin terus kayak elu!" umpat sekretaris Dika.


"Memangnya, apalagi yang akan kita alami ketika jatuh cinta? Bukannya bucin itu melambangkan sebuah cinta? Tanpa bucin, gak akan ada asmara yang indah, Dik. Ah, percuma ngomong sama lu, gak akan nyambung. Gue saranin, lu jatuh cinta, biar lu tahu kayak gimana itu rasanya cinta!" ucap Davian.


"Gue jatuh cinta sama kerjaan gue, dan gue memutuskan untuk fokus pada lo dan kehidupan lo. Apa lo gak lihat Bos, ketulusan cinta gue sama lo dan perusahaan?" ucap sekretaris Dika.

__ADS_1


"Dih, parah. Bergidik bulu kuduk gue, lu cinta sama gue, Dik? Amit-amit deh, gue masih normal ya, Dik! Gue pecat lu kalo lu bener-bener cinta sama gue! Dahlah, gue mau nelepon istri cantik gue, daripada gue ngomong sama lu, malesin banget!" Davian membuka handphonenya.


"Ya elah, Bos perusahaan besar kok pikirannya dangkal sekali. Cinta disini itu beda makna, Bos! Gue juga masih normal kali. Dah ah, gue pergi dulu. Mau pesen makan gue, laper! Pujya Bos gak PEKA!" balas sekretaris Dika.


"Pergi aja sana lu!" balas Davian.


Sekretaris Dika keluar dari ruangan Davian. Davian pun segera menghubungi Arini. Ia ingin tahu, istrinya sedang apa. Merindukan Arini, dan melakukan video call dengannya, akan membuat hati Davian sedikit lebih tenang.


[Halo, sayang. Lagi apa?]


[Eh, halo suamiku. Di kantor kok ngajak video call sih? Emang kamu gak sibuk? Aku lagi lihat-lihat rumah sakit yang bagus, sepertinya aku akan USG, Mas]


[Aku santai, menunggu jadwal rapat, darling. Oh ya? Baiklah, pilih rumah sakit yang benar-benar bagus, ayo kita lakukan USG untuk buah hati kita. Kapan kamu akan pergi? Aku akan jadi Daddy yang siaga untuk buah hati kita!]


[Minggu depan saja, Mas. Kosongkan jadwal mu, nanti kuberi tahu lagi kapan kita akan ke rumah sakit.]


[Baik, sayang. Aku rasanya sudah tak sabar ingin melihat betapa gantengnya bayiku.]


[Kenapa kamu pede sekali bahwa anak kita itu laki-laki? Bagaimana, kalau anak kita itu perempuan?]


[Aku selalu berpesan pada Bibik, menyiapkan makanan kita kaya dengan kandungan kalium dan berkalori tinggi. Menurut studi, makanan yang mengandung kalium dan kalori tinggi, diduga memiliki peluang besar untuk mengandung bayi laki-laki. Jadi, aku optimis sayang.]


[Ya ampun, haruskah kamu se-detail itu, Mas?]


[Bukankah kamu sudah tahu sayang? Kalau aku ini memang orang yang sangat detail dan pintar.] Davian menyeringai.


[Seyakin itukah kamu, Mas?]


[Tentu saja sayang. Dan juga, menurut artikel yang aku baca, semakin sering kita melakukan hubungan suami istri, maka semakin besar peluang untuk mendapatkan anak laki-laki. Tahukah kamu, frekuensi kita dalam melakukannya? Bukankah sangat sering dan lama sekali, sayang?]


[Ya ampun, mulai lagi. Bagaimana kalau ternyata anak kita itu perempuan? Kemungkinan bisa saja terjadi, bukan?]


[Tidak apa-apa. Aku tidak akan kecewa, aku akan menyayangi dan mencintainya walaupun anak kita perempuan. Karena, aku masih punya banyak kesempatan lagi untuk membuat anak laki-laki. Tentu saja, nanti aku akan meningkatkan frekuensi berhubungan kita, sampai kamu melahirkan anak laki-laki.]


[Ya ampun, Mas. Kamu benar-benar ya! Awas saja kalau pulang nanti!]


*Bersambung*


Baca cerita temenku juga yuk, bagus ini❤🤗

__ADS_1



__ADS_2