
Pemakaman pun selesai. Hari hampir sore, mereka semua pulang kembali ke rumah besar Davian. Keyza teramat sedih, Rangga memangku nya, karena Rangga sangat tak tega melihat Keyza menangis sesegukan. Tira dan Rangga selalu siaga jika sesuatu terjadi pada Keyza.
Arini dan Davian melihat adegan itu. Memang, jika dilihat Tira sangat tulus menyayangi dan merawat Keyza, sayangnya ia seperti menutup hati untuk Rangga yang mencoba mendekatinya. Padahal, Keyza sangat nyaman bersama Tira dan Keyza pun sepertinya menyayangi Tira, sama seperti ia menyayangi Ibunya.
"Mas, kasihan sekali Keyza. Kuharap, kamu jangan terus-terusan kesal padanya. Dia tak salah apa-apa." ucap Arini sambil memegang tangan Davian.
"Aku tidak bisa mengontrol diriku. Maafkan aku, aku pun kasihan padanya, namun amarahku selalu saja tak bisa tertahan. Keluargaku memang orang yang sulit. Bisa kamu lihat, apa Kakekku datang ke pemakaman ini? Apa kakekku datang ke rumah kita? Apa kedua orang tuaku memaksakan diri untuk pulang dari luar negeri karena mendengar Melisa meninggal? Tidak kan? Aku dan keluargaku sudah membuang mereka, aku kecewa dan aku kesal. Untungnya, Rangga tak meniru sikap Kakek, dia tetap baik hati mau menolong Keyza. Aku akan menata diriku, agar aku tak menyimpan amarah lagi pada mereka. Aku akan mencoba menyayangi anak itu sebagai keponakanku." ucap Davian.
"Aku tahu, kamu bukan orang yang mudah, kamu dan keluargamu adalah orang-orang yang sulit ditaklukkan. Tapi, mendengar Mas mau mencoba menyayangi Keyza saja, aku sudah sangat senang. Terima kasih, Mas." jawab Arini.
"Mungkin, kepedulian ku tidak terlihat dari caraku memperlakukan dia. Namun, aku tunjukkan pada hal lain. Seperti, aku mengizinkan dia untuk berulang tahun di rumah kita, dan aku membolehkan jasad Ibunya dibawa ke rumahku. Jika melihat sisi positifnya, aku pun peduli padanya, walau tidak secara langsung aku menunjukkan perilaku manis ku pada anak itu." jawab Davian.
"Makasih, Mas. Kamu memang orang yang baik. Aku sangat menyayangimu," Arini menyenderkan kepalanya ke bahu Davian.
"Tentu harus dong sayang, kurang apa aku padamu! Ganteng iya, kaya iya, berkharisma iya, gagah iya, pintar membuat anak pun iya, kurang apalagi aku?" Davian mulai lagi.
"Ya ampun, mulai lagi. Kita ini masih diselimuti duka ya, Mas. Kamu jangan merusak duka mendalam kita saat ini." ucap Arini memperingatkan.
"Habisnya, kamu memancingku, aku ini kan pria tampan yang mudah terpancing!" Davian tersenyum.
"Tapi, aku akui, memang Mas Davi tampan sih! Sayangnya, ada satu kekuranganmu, yang menurut aku enggak banget deh." ucap Arini.
"Kekurangan? Apa kekuranganku? Aku jelas-jelas pria sempurna! Diriku ini, penuh dengan kelebihan dan kharisma. Istriku, apa maksudmu?" Davian tak paham.
"Kekuranganmu adalah, sifat narsis mu yang sudah terlalu overdosis Mas, aku gak kuat kalo Mas Davi udah narsis terus kayak gini. Ya ampun, jabang bayi, amit-amit ya, jangan seperti Daddy-mu, Mommy gak sanggup menghadapinya kalau nanti di rumah ada duo narsis!" pekik Arini.
"Astaga, berani-beraninya kamu bilang amit-amit pada pria sempurna seperti aku! Tanpa kamu berkata amit-amit atau apalah itu, anakku adalah titisan ku! Aku pasti mewarisi kepribadianku yang keren ini. Lihat saja nanti, ketika anak kita sudah lahir, dia pasti mengalahkan pesona-ku." Davian percaya diri.
"Aaaah, sudah sudah! Ingin rasanya aku segera sampai di rumah. Agar aku bisa istirahat. Berbicara denganmu membuat aku ingin segera tidur, Mas." balas Arini.
__ADS_1
"Kok ingin segera tidur sih?" Davian mengernyitkan dahinya.
"Iya, biar obrolannya cepet-cepet selesai, kalau aku tidur kan ocehan mu yang narsis itu bisa selesai. Kan gak mungkin kalau kamu ngomong sendiri?" Arini tertawa.
"Oh begitu ya? Kukira, kalau kau ingin cepat-cepat tidur, kau ingin aku tiduri." Davian menyeringai.
"MAAAAAAAS!!!!!! Arini mencubit lengan Davian.
"Aww, kurang kenceng sayang!" Davian malam membuat Arini tambah kesal.
"Ya ampun, gesrek kamu, Mas!" Arini geleng-geleng kepala.
...🍂🍂🍂...
Malam hari....
Acara tahlil yang dipimpin ustadz setempat pun selesai. Satu persatu, diberikan uang sebagai bentuk terima kasih karena telah mendoakan jenazah Melisa. Semuanya yang mengurus tentu saja Sekretaris Dika, dibantu oleh Pak Parjo dan yang lainnya. Sekretaris Dika sedang sibuk membersihkan bekas tahlil, sementara Rangga berjalan kebelakang halaman rumah.
Ia sendiri. Merenung, duduk menatap kolam renang. Hati dan pikirannya berkecamuk. Ia teringat, akan ucapan terakhir mendiang Melisa saat di rumah sakit. Hatinya begitu tersentuh, karena mengingat kata-kata bahwa Melisa mencintainya. Tak pernah terpikir dalam benak Rangga, bahwa Melisa akan berkata seperti itu, ia merasa jadi orang yang bodoh, ia menyesal tak menganggap Melisa pada saat itu.
Aku merasa sangat menyesal, aku sangat bersalah padamu, Mel. Aku tak menyangka, jika kamu mencintai aku. Kalau saja kamu katakan mencintaiku saat kau masih sehat, mungkin saja aku akan mempertimbangkan semua itu. Aku ingin kamu dan anakmu bahagia. Kini, hanya penyesalan lah yang hinggap di hatiku. Hanya air mata dan kekecewaan yang aku rasakan. Kamu meminta, agar aku menikah dengan Tira? Aku tak bisa, aku tak sanggup mengatakannya pada Tira. Tira bukan wanita yang mencintaiku, dia pasti menolak ku seperti waktu itu. Dia seperti itu hanya karena aku yang menggajinya dan dia bekerja padaku. Aku tak bisa membuat Tira mencintaiku, Mel. Aku bingung, aku harus bagaimana? Batin Rangga.
Rangga tak menyadari, bahwa Davian juga ke halaman belakang dan memperhatikannya. Davian melihat, bahwa Rangga seperti sedang memikirkan sesuatu. Mungkin saja, Rangga sedang teringat ucapan Melisa, mungkin saja. Batin Davian. Tanpa basa-basi, Davian mendekati Rangga, mencoba untuk membantu Rangga.
"Ga, ngapain disini?" sapa Davian.
"Aku sedang ingin sendiri." jawab Rangga.
"Biar aku temani, abang ku yang sedang sedih ini." ucap Davian.
__ADS_1
Rangga hanya tersenyum. Ia tak menjawab sama sekali perkataan Davian. Hatinya sangat hampa, pikirannya melayang kemana-mana, ia memang butuh solusi atas semua pertanyaan dalam pikirannya.
"Aku tahu, apa yang kau pikirkan." ucap Davian.
"Apa kamu mendengar perkataan terakhir Melisa?" tanya Rangga.
"Tentu saja, aku mendengarnya. Aku tahu," ucap Davian.
"Aku bingung, Dav. Aku tak mungkin menyetujui permintaan terakhir Melisa." ucap Rangga.
"Kamu kan belum memberi tahu Tira. Tira tak tahu perihal permintaan Melisa bukan? Kau tanyakan saja dulu pada Tira, siapa tahu sekarang ia mau membuka hatinya untukmu!" saran Davian.
"Tidak, aku tak ingin memberi tahu dia. Kasihan dia, sudah cukup aku membebani dirinya dengan permintaanku untuk menikahinya. Dia cukup keberatan akan hal itu, Dav. Aku tak mau, dia stres memikirkan aku yang selalu berambisi untuk mendapatkannya." jawab Rangga.
"Apa maksudmu? Apa kamu menyerah sekarang?"
"Ya, aku malu terus-menerus membuat Tira untuk menikah denganku. Aku ingin menyerah saja untuk mendapatkan cintanya. Tapi, Keyza membuatku semakin sedih. Dia ingin aku memberikan Ibu baru untuknya. Harus mencari wanita kemana aku ini? Aku tak pandai mendekati wanita." ucap Rangga menutup wajahnya.
"Bang, hanya Tira yang dekat denganmu, hanya Tira yang memahami kamu dan Keyza. Coba saja, katakan dulu pada Tira, semoga saja dia bisa mempertimbangkan dirimu. Toh, Ibu kandungnya sudah tiada, tak ada lagi yang bisa menghalangi Tira. Aku mendukungmu untuk menikahi Tira." jawab davian.
"Aku sudah tak akan memaksanya. Aku tak mau membebani dirinya, Dav. Jangan Tira, biarkan dia tak tahu akan permintaan terakhir Melisa. Aku terlalu malu, jika terus-menerus mengemis cinta padanya. Aku ingin dia bahagia dengan pilihannya, bukan terpaksa." Rangga tak bersemangat.
"Bang, kenapa kau malah menyerah? Mana semangatmu yang kemarin?" Davian tak suka Rangga menyerah.
Rangga tersenyum, "Kalau saja aku tahu Melisa mencintaiku, lebih baik aku nikahi saja dia demi kebahagiaan Keyza, walaupun aku tak bahagia menikah dengannya." ucap Rangga dengan tatapan kosong.
"Bang.... Kenapa begitu?"
*Bersambung*
__ADS_1