
"Apa, Tuan? Disini berisik banget, aku gak bisa denger!" ucap Arini sedikit berteriak
"I love you, Rin." Davian sengaja mengucapkannya pelan-pelan
"Apa sih? Gak kedengeran!“
" I love you, Rin!"
"HAH? Ada Hiu? Dimana? Ngaco aja! Filmnya tentang Princess Elsa, bukan hiu!"
"Serah lu kata dah Rin! Gue gak mau lu tahu, emang sengaja gue ngucapinnya pelan. Biar lu gak denger, apa yang gue bilang."
"Apa sih? Ngomongnya pelan banget!"
"NGGAK, Arini, ENGGAK! Gue nggak ngomong apa-apa!"
"Itu baru kedengeran!"
Davian tetap melanjutkan nonton film tersebut dengan perasaan kesal dan lucu. I love you, kenapa dia menyangka ikan hiu? Apa pendengaran Arini memang sudah rusak? Hanya sound bioskop, Arini bisa menjadi tuli seperti itu.
***
Davian dan Arini telah selesai menonton, mereka segera keluar dari mall tersebut. Waktu masih belum terlalu malam, masih sekitar pukul tujuh lebih. Davian rasanya tak ingin buru-buru pulang.
"Lu mau makan dulu gak?"
"Aku gak laper! Di bioskop aja aku makan terus kok." jawab Arini
"Masa pulang?"
"Ya mau kemana lagi, masa mau disini aja?" timpal Arini
"Ya maksud gue, kita kemana dulu gitu, jangan dulu pulang. Di rumah juga ngapain." jawab Davian
Arini teringat, tiga hari lagi ia akan pergi camping. Ia belum membeli semua kebutuhan untuk dirinya pergi camping.
"Tuan, ada yang ingin aku beli. Boleh?" tanya Arini
"Boleh, lu mau apa?" tanya Davian
"Aku mau beli keperluan untuk camping."
"Camping lagi, camping lagi." keluh Davian
"Katanya Tuan udah ngizinin saya, gimana sih!" Arini sedikit kesal
"Iya, iya. Lu mau beli apa sih?"
"Lihat nanti aja, ayok. Kita ke supermarket." u
ajak Arini semangat
"Cewek kalau belanja, semangat banget! Dia gak tahu apa kalau gue bos nya. Berani banget nyuruh-nyuruh gue. Dia memang istri gue yang cantik." ucap Davian
Lah, kok? Kenapa mulut gue lancang banget bilang dia cantik? Arini, apa lu pake susuk? Kenapa mudah banget gue tergoda sama pembantu kayak lu?
Arini kalap. Karena Davian membolehkannya, dia membeli semua barang-barang sesuka hatinya. Ia tak hanya membeli perlengkapan untuk pergi camping, tapi semua kebutuhan di rumah ia beli. Arini juga tak lupa, membeli kebutuhan untuk di rumah kecilnya.
"Lu belanja, apa mau ngerampok sih?" tanya Davian
"Mumpung ada yang mau bayarin, Tuan!" jawab Arini
"Lah, emangnya siapa yang mau bayarin?" tanya Davian
"Kan Tuan yang mau bayarin! Gimana sih?" Arini kesal
"Kapan gue bilang mau bayarin lu?"
"Haish! Tadi Tuan bilang sama aku, boleh katanya!" Arini cemberut
"Boleh maksud gue, ya boleh aja kalau lu mau belanja. Lu sendiri kan yang bakal bayar." Davian terkekeh
Davian ingin menjahili Arini. Seharian ini, Davian belum melihat kemarahan Arini. Seharian ini, Arini hanya berterima kasih saja padanya. Davian ingin melihat Arini marah, karena menurut Davian, kalau Arini marah kecantikannya bertambah dua kali lipat.
__ADS_1
Arini membanting troli yang berisikan belanjaannya. Ia berjalan pergi meninggalkan Davian. Entah Arini akan pergi kemana, yang jelas ia kesal sekali pada tingkah menyebalkan Davian.
"Hei, sayang. Mau kemana?" Davian mengambil troli tersebut, lalu mengikuti Arini dengan cepat.
Apa-apaan itu? Kenapa keluar kata sayang dari mulut gue yang berharga? Ya Tuhan, Arini benar-benar telah menghipnotis gue! Apa gue salah, kalau mengira Arini menggunakan susuk? Gak mungkin banget kan gue bisa tertarik pada dia secepat itu? Umpat Davian dalam hati.
"Sayang, tunggu aku!"
"Eh salah, Arini, tunggu gue!"
Davian berlari cepat sambil mendorong troli, Ia berlari dengan kencang agar bisa dengan cepat menyusul Arini. Davian tak peduli dengan orang lain yang memperhatikannya, ia hanya tertuju pada istrinya, Arini.
Akhirnya, Davian dapat menyusul Arini. Davian menahan Arini dengan trolinya.
"Apalagi?" Arini masih dengan wajah emosi
"Jangan marah! Gue kan becanda, Rin. Gitu aja marah lu, gak asyik." ucap Arini
"Pikir aja sendiri. Jadi orang kaya emang bisanya cuma merendahkan harga diri orang miskin kayak gue aja!" Arini keceplosan, baru pertama kali ini dia berkata gue pada Davian
"Ya maaf deh, Rin. Bukan maksud gue gitu sama lu! Gue cuma pengen lihat lu marah. Jangan dimasukin ke hati kenapa! Gue pasti bayarin semua ini, jangankan cuma satu troli ini, semua supermarket ini sama isi-isinya bisa gue beli buat elu!" jawab Davian enteng
"Siapa peduli. Udah ah, aku malas. Mau pulang aja! Untuk apa aku disini, aku tidak punya uang."
Davian dengan cepat menghentikan Arini. Dengan sigap, ia menahan tangan Arini, dengan genggamannya yang cukup kuat.
"Udah marahnya, gue cuma becanda, Rin. Maaf ya! Abisnya lu lucu, kalau lagi marah, bikin gue tambah gemes sama lu, Rin." ucap Davian
"Tau ah!"
"Udah, jangan ngambek lagi. Ayo, kita bayar sekarang. Apa ada lagi yang mau lu beli?" tanya Davian lembut
"NGGAK, NGGAK SAMA SEKALI."
"Gile, galak bener ini istri gue."
"Siapa yang istri Tuan?"
"Elu! Siapa lagi?"
"Biarin aja, istri sandiwara. Ntar juga jadi istri sungguhan gue. Iya kan?"
"JANGAN HARAP!"
"Dih, galak bener sih lu."
Davian segera mengeluarkan kartu saktinya untuk membayar belanjaan Arini. Meskipun kesal, Arini senang bisa membeli beberapa belanjaan yang ia inginkan. Arini, tersenyum pada Davian. Ia tak lagi marah, ia memang mudah luluh dan mudah meledak tiba-tiba.
Arini memasukan plastik belanjaannya ke troli lagi, karena belanjaannya terlalu banyak, tak mungkin bisa dijinjing sampai ke mobil. Arini mendorong troli itu perlahan. Davian mengikutinya.
"Sini, biar gue yang bawa." ucap Davian
"Gak apa-apa. Biar saya aja, saya cukup tahu diri kok! Gak mungkin harus Tuan yang membawa." jawab Arini
"Ini bukan soal harga diri lu, tapi harga diri gue. Gue laki-laki, gue yang harus bawa belanjaan lu! Lu wanita, gak boleh bawa berat-berat. Udah, jangan bantah! Sini, gue yang bawa." Davian mengambil alih
"Baiklah, kalau begitu." Arini menyerahkan trolinya pada Davian
Davian dan Arini jalan bersama. Dari jauh, ada seorang wanita yang Davian kenal. Wanita itu adalah Rena, teman dekat Tasya saat mereka satu sekolah.
"Davian!" sapa Rena dari jauh
Wajah Davian kaget melihat Rena, namun ia berusaha bersikap seperti biasa saja, karena ada Arini di sampingnya.
"Eh, Rena!" jawab Davian
"Ciye, Davian! Udah move on dari Tasya nih ceritanya? Kenalin dong! Siapa nih?" Rena melirik Arini
"Mm, ini sodara sepupu gue. Jangan ngaco deh lu!"
"Oh, kirain pacar kamu Dav! Tapi, aku yakin sih, kamu belum bisa move on dari Tasya. Kamu pasti masih sangat mencintainya bukan? Terbukti tuh, dari chat whatsapp yang sering kamu kirim ke dia!" goda Rena
Wajah Arini yang semula manis, berubah sedikit kecut. Ia baru tahu, kalau Davian masih suka mengirim pesan pada wanita lain. Namun, untuk marah pun Arini tak ada hak sepertinya.
__ADS_1
"Apaan sih luN Sembarangan aja kalo ngomong. Jelas-jelas temen lu yang suka hubungin gue. Gue gak pernah chatting dia duluan!"
"Sorry deh, sorry! Kebetulan kita ketemu disini. Kamu kok keluar dari WA Grup sih Dav? Padahal, ada informasi penting loh!"
"Apa itu?"
"Malam minggu nanti, ada acara reuni anak-anak angkatan kita, Dav. Kamu ikut ya? Anak-anak yang lain mengharapkan kedatangan kamu loh." ucap Rena
Malam minggu? Bukannya istri gue pergi camping ya? Sebenarnya, gue males ikut acara reuni-reuni begituan! Tapi, kalau Arini malam minggu gak ada di rumah, gue juga mau ngapain ada di rumah? Gue terbiasa dengan kehadiran Arini. Sehingga, ketika dia pergi, hati gue rasanya hampa. Gue pasti jenuh! Apa gue ikut aja kali ya reuni kali ini? batin Davian
"Malam minggu? Boleh deh! Gue ikut. Dimana tempatnya?" tanya Davian
"Di cafe rose, Dav. Jam tuju malam. Oke, see u next time ya! Jangan lupa, harus tepat waktu."
"Oke, gue ngerti."
"Ya sudah, kalau begitu, aku duluan ya Dav! Bye!" Rena melambaikan tangannya pada Davian dan juga Arini
Dengan kesal, Arini mengambil alih troli yang dipegang Davian. Ia berjalan sangat cepat. Ia kesal pada Davian, yang ternyata masih sering menghubungi Tasya.
"Lu kenapa sih? Kenapa buru-buru banget?"
"Mau Mandi." jawab Arini asal
"Malem-malem gini mandi. Aneh-aneh aja deh lu!"
"Badan ku gerah, panaaaasssssss, ingin segera mandi."
"Lu cemburu ya?"
"Ngapain aku cemburu sama orang kayak Tuan. GAK cemburu, sedikitpun!"
"Kenapa ngambek lagi kalo gitu?"
"Aku aja, ingin pergi camping harus izin dulu sama Tuan! Kenapa ketika Tuan akan pergi reuni langsung mau ikut aja? Kenapa gak minta izin dari aku dulu?"
"Ngapain gue harus izin sama lu, lu kan udah tahu barusan. Lagipula, lu juga akan pergi camping kan? Kita sama-sama gak akan ada di rumah ketika malam minggu."
"Setidaknya, izin dulu sama aku! Hargai aku, sebagai istrimu."
"Eh, sorry. Aku terlalu berlebihan." Arini malu
Davian tersenyum senang, baru kali ini Arini berkata sebagai istrimu pada Davian. Davian sangat tersanjung mendengar ucapan Arini. Arini kini mulai terbawa perasaan ketika sedang bersama Davian.
"Gak apa-apa. Terusin aja lu marah sama gue, gue seneng kok."
"Aneh!"
"Gue seneng, ada yang cemburuin gue. xixixi."
"Siapa yang cemburu? Maaf ya, aku gak cemburu sama sekali."
"Iya-iya, kamu gak cemburu. Tapi, kamu jealous kan? Asik nih, gue d cemburuin istri gue yang galak."
"ENAK AJA KALO NGOMONG! Aku gak GALAK ya! CAMKAN ITU!"
"Maaf tuan puteri, kanda salah padamu." Davian terus menggoda Arini
"Hih, geli gue dengernya." Arini mengucapkan kaan non formal lagi
"Lu udah dua kali bilang gue ya? Cepet, kita pulang! Gue harus kasih pelajaran buat lu malam ini. Biar lu lebih sopan sama gue. Gue bikin nangis lu malem ini."
"Ih, becanda nya gitu banget sih Tuan. Maaf-maaf, aku keceplosan, jangan aneh-aneh ya?" Arini takut
"Tergantung sikap lu malam ini terhadap gue!" Davian meninggalkan Arini
"Haissssssh! Tuan, tunggu aku! Jangan tinggalin akuuuuuu."
*Bersambung*
Ini panjang ya.. Aku ngetik khusus untuk kalian.. Jangan lupa hargai tulisanku dengan like, vote dan komentarnya. Gratis kok, nggak susah ya kan 🤗
Makasih untuk semua pembaca setiaku ya..
__ADS_1
Yang berkenan masuk grup chat aku, gabung yuk.. nanti, kita bisa ngobrol-ngobrol 🤗😘