Terjerat Cinta Sang Pembantu

Terjerat Cinta Sang Pembantu
Jangan GEER!


__ADS_3

"Kita mau kemana?" tanya Arini


"Jalan-jalan aja, di Mall. Kamu mau beli apa, Rin?" tanya Davian


"Aku mau belikan satu set pakaian untuk keluargaku. Apa boleh?" tanya Arini


"Tentu saja, jadi nanti kita pulang ke rumah orang tuamu dulu?" tanya Davian


"Iya, Mas. Apa Mas gak keberatan?" tanya Arini


"Nggak, kok. Dengan senang hati aku akan mengantarmu."


"Makasih, Mas."


Arini tersenyum tulus pada Davian. Ia tahu, Davian memang mencintainya, meskipun Davian tak secara langsung mengatakan bahwa dirinya mencintai Arini. Tapi, dari perlakuan dan ucapannya, jelas sekali terlihat bahwa Arini sangat mencintai Davian.


Davian mengajak Arini pergi ke butik termahal yang ada di Mall tersebut. Arini menolak dan keberatan karena Davian membawanya ke tempat mewah, Arini hanya ingin membeli baku untuk adiknya di tempat biasa.


"Mas, ini pasti mahal. Aku gak mau beli disini."


"Uangku tak akan habis Rin, uangku terlalu banyak, hingga aku sulit untuk menghabiskannya. Aku dengan senang hati, memberikannya pada istriku." jawab Davian


"Mas Davi sombong banget deh!"


"Gak apa-apa sombong, memang itu kenyataan."


"Iya, iya. Terserah Mas saja.


Arini memilih baju yang diinginkannya. Ia tahu, bahwa Davian memang orang kaya kelas tinggi. Davian tak mungkin mau belanja di tempat-tempat murah dan sederhana seperti di pasar tradisional.


Sementara Arini memilih baju untuk keluarganya, Davian juga memilih baju yang cantik untuk Arini. Rasanya, koleksi baju Arini tak ada yang mewah, dan terkesan biasa saja. Maka dari itu, Davian ingin membelikan beberapa banyak baju yang cocok untuk Arini.


"Mas, banyak banget bawa bajunya. Untuk siapa baju sebanyak itu?"


"Kamu!"


"HAH? Aku?" Arini kaget


"Ayo, coba dulu baju dan dress ini. Sepertinya cocok sekali dipakai tubuhmu."


"Mas, ngapain harus dicoba dulu sih? Ribet kan jadinya. Ini bagus kok! Langsung beli aja, biar gak ribet." jawab Arini


"Fitting dulu bajunya, aku ingin melihat, pantas apa tidak bajunya dipakai sama kamu, kalau tidak, biar aku pilih yang lain." ucap Davian


"Mas, ini terlalu berlebihan. Aku gak mau kalau harus dicoba-coba segala!"


"Pelayan, tolong bantu istri saya mencoba gaun maroon ini ya!" ucap Davian


"Baik, Tuan."

__ADS_1


Arini pasrah, ia harus tetap melaksanakan keinginan Davian. Meskipun terkesan ribet dan memakan waktu lama, tetapi Arini tetap menggunakan gaun itu.


Arini keluar dari ruang fitting baju dengan anggun dan kemayu. Davian tak berkedip melihat kecantikan Arini. Arini memang cantik memakai pakaian apapun, karena tubuh Arini sangat proporsional dan juga ideal.


Davian memotret istrinya yang cantik sedang mengenakan dress maroon pilihannya. Lalu, ia mendekati Arini dan mengecup kening Arini dengan lembut didepan semua orang.


"Kamu sangat cantik, sayang." ujar Davian


"Mas, aku malu! Jangan gitu, orang-orang banyak yang melihat kita." jawab Arini


"Biarkan orang berkata apa, yang jelas aku telah larut dalam cinta ini. Kamu benar-benar membuatku jatuh cinta lagi dan lagi." Davian berbisik ditelinga Arini


"Ah, Mas. Geli."


Arini segera mengganti lagi pakaiannya dengan pakaian semula. Davian memesan 35 dress dan gaun untuk Arini.


Arini tercengang. Ia benar-benar shock. Harga satu gaun saja sudah mencapai belasan juta. Lalu, dikalikan dengan 35 baju. Sudah berapa ratus juta uang yang Davian keluarkan hanya untuk membeli pakaian Arini?


Arini membeli beberapa set baju untuk adik dan Ibunya. Arini ingin segera pulang dan memberikannya pada kedua adiknya. Davian pun menyetujuinya. Namun, Arini lapar. Sepertinya Arini ingin makan siang terlebih dahulu, sebelum memutuskan untuk pulang ke rumah Ibunya.


"Mas, aku lapar."


"Mau makan dimana?" tanya Davian


"Aku gak mau makan di resto mahal. Aku mau makan di warteg aja." jawab Arini


"Aku bosen hidup jadi orang kaya. Aku maunya makan di warteg pinggiran aja. Lebih nikmat dan lebih puas, Mas."


"Aku gak biasa makan di tempat seperti itu. Kita ke chinesse food aja deh!" timpal Davian


"Gak mau! Aku gak mau makan makanan mentah. Gak enak, bikin mual, Hoekkkk!!"


"Enak kok, mereka gak mentah sayang. Memang ciri khas makanan jepang atau cina itu kayak gitu."


"Terserah kamu ya, Mas. Pokoknya aku mau makan di warteg aja. Kita makan sendiri-sendiri aja!"


"Eh, kok kamu gitu sih Rin? Iya-iya, aku ngikutin kamu makan di warteg deh!"


"Nah, gitu dong!"


Arini dan Davian berjalan keluar Mall dan mencari warteg di pinggiran jalan. Sudah lama sekali, Arini tak makan nasi rames di warteg. Rasanya, menjadi orang kaya seperti Davian itu menyebalkan sekali.


"Dav, Davian!" terdengar suara wanita menyapa Davian dari belakang


Davian dan Arini menoleh bersamaan. Wanita itu adalah Tasya, wanita yang Davian tolong kemarin saat Tasya dalam bahaya.


"TASYA?" Davian kaget bukan main


Tasya? Siapa itu Tasya? Hmm, mungkinkah? Batin Arini dalam hati.

__ADS_1


"Davian, aku seneng ketemu kamu disini. Oh iya, sekarang aku bekerja di toko kue dekat sini. Terima kasih ya, kamu telah menolongku lepas dari jeratan iblis itu. Berkat kamu, aku bisa memulai hidupku yang baru."


Davian gugup. Arini tak tahu, kalau pada hari itu, ketika Arini akan pergi camping, Davian menolong Tasya hingga menghabiskan uang sampai ratusan juta. Kalau Arini tahu, mungkinkah Arini akan cemburu dan marah besar pada Davian?


"Tasya, kenalkan ini Arini. Dia istriku." Davian mengalihkan pembicaraan


"Oh, iya. Istri kamu kok gak ada yang tahu sih Dav? Apa ini hanya istri settingan saja?" ucapan Tasya membuat Arini kesal


"Arini." Arini menjabat tangan Tasya dengan jijik


"Awalnya memang begitu, tapi kini aku mencintai Arini. Dia adalah istriku yang sesungguhnya." jawab Davian kaku


"Kamu bisa aja ngelesnya Dav! Bilang aja kamu mau panas-panasin aku sama cewek ini, aku gak kesal kok, karena aku tahu, kamu masih berharap padaku."


"Mbak Tasya ini sepertinya kaku ya? Kenapa Mas Davian harus manas-manasin Mbaknya? Mas Davian hanya berkata jujur, mungkin Mbaknya saja yang keGEERan. Jangan terlalu berharap banyak, Mba. Nanti jatoh, sakit!" balas Arini


"Mbak Arini, jangan merasa di atas angin ya. Aku dan Davian ini sudah kenal lama, aku tahu siapa Davian. Tak mungkin dia dengan mudahnya mencintai wanita lain lagi selain aku yang selalu dia tunggu sejak dulu." Tasya merasa hebat


Arini bisa menyimpulkan bahwa wanita ini adalah pujaan hati Davian sejak dulu, tapi wanita ini menolaknya terus-terusan.


"Mbak kenapa terlambat? Kenapa kini, setelah Mas Davian memilih saya, Mbaknya baru hadir kembali? Kenapa gak dari dulu saja terima Mas Davian? Kenapa harus ketika dia sudah bersama saya, Mbaknya kembali lagi, dan merasa seperti sudah memiliki suami saya seutuhnya. Jangan mimpi, Mbak." balas Arini


"Tasya, mohon jaga ucapan mu. Aku sudah bilang padamu saat itu, aku hanya kasihan padamu. Aku tak berharap lebih, karena sekarang aku sudah mempunyai seorang istri, yang harus aku jaga hatinya. Kumohon, hentikan drama-mu itu."


Arini berlalu meninggalkan Tasya dan Davian. Davian menyusul Arini dengan langkah yang cepat. Davian tahu, sepertinya Arini marah besar padanya.


"Sayang, tunggu aku."


Setelah dirasa jauh, dan Tasya sudah tak terlihat lagi, Arini menghentikan langkahnya.


"Apa?"


"Kamu jangan marah, dia hanya bergurau. Jangan pedulikan dia."


Arini menatap Davian serius, dan Arini tahu sikap yang harus ia ambil.


"Aku bisa menilai, dan aku mengerti. Ada hal yang tak aku tahu, dan kamu sembunyikan dariku. Aku tak akan marah padamu, asalkan kamu jujur apa yang telah kamu lakukan sehingga dia berterima kasih terus padamu."


"Aku bisa jelaskan semuanya padamu, Arini. Tapi kamu jangan marah." jelas Davian


"Aku tak akan marah, aku akan mendengarkan dengan seksama. Tinggal aku pandai-pandai bersikap saja, entah aku akan bertindak bagaimana, atau mungkin bisa saja, resikonya kamu harus libur menyentuhku selama seminggu, dua minggu, ataupun sebulan. Kita lihat saja nanti separah apa kondisi kamu dengannya. Semakin menyebalkan, akan semakin sulit bagimu untuk menyentuhku. CAMKAN ITU, MAS!" Arini berlalu meninggalkan Davian lagi


"Hey, sayang! Tunggu dulu, jangan seperti itu, bisa mati gaya pedangku kalau sehari saja tak bertemu dengan sweety-mu itu." Davian berlari mengejar Arini


Di sisi lain, dua orang bertubuh besar dan menyeramkan, beberapa kali memotret Arini dan Davian, mereka membutuhkan informasi mengenai Davian, agar dengan mudahnya menghancurkan seorang Davian Raharsya.


*Bersambung*


Selamat pagi, jangan lupa budayakan LIKE dan KOMENTARnya ya. Agar aku semangat menulis juga 😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2