
"Selamat siang, Buk!" sapa Arini didepan pintu
rumahnya
"Siang, Nak. Kamu pulang. Ibu sudah merindukanmu." jawab Ibu
Arini memeluk Ibunya dengan penuh cinta. Davian mengikuti Arini dari belakang kemudian menyalami Ibu Arini. Alif dan Mita senang bukan main, mendapati Kakaknya datang ke rumah mungilnya lagi.
Arini membawa semua barang-barang dan makanan yang ia beli. Alif dan Mita berebut mengambil makanan yang dibawakan oleh Arini.
"Sudah di dalam sana. Jangan ribut-ribut disini." ucap Arini
"Baik, Kak Arin. Makasih, atas oleh-olehnya ya!" ucap Alif
Ibu Arini terlihat bahagia mendapati anaknya bahagia. Ibunya senang, Davian benar-benar menjaga Arini, hingga Arini terlihat lebih cantik.
"Bu, Ibu sudah gak jualan keliling lagi kan?" tanya Arini
"Hanya sesekali, Rin. Lagipula, Ibu juga bosan kalau harus diam di rumah terus." ucap Ibu Arini
"Bu, Ibu sudah tua. Apa tak lebih baik, Ibu diam saja di rumah? Kalau Ibu ingin usaha, saya bisa membangun mini market untuk Ibu kelola. Apa Ibu bersedia?" ucap Davian tiba-tiba
"Mas, itu berlebihan." cegah Arini
"Disisa umur Ibu, Ibu harus bahagia. Davian bisa membelikan rumah baru yang lebih nyaman untuk Ibu. Davian juga bisa menyekolahkan Alif dan Mita di sekolah elit. Kalian adalah orang-orang yang berharga untuk Arini, istriku. Aku juga harus membahagiakan kalian. Apa Ibu mau menerimanya? Aku akan memilihkan rumah yang strategis agar Ibu bisa berjualan di rumah. Davian ingin Ibu dan adik-adik bahagia, Bu." ucap Davian tulus
"Nak, Ibu tak perlu kamu berikan semua itu, yang Ibu inginkan hanyalah terus bahagiakan Arini selama-lamanya. Jangan pernah sakiti hati Arini, Ibu tak perlu kebahagiaan materi, yang Ibu harapkan adalah kebahagiaan putri sulung Ibu, yaitu Arini." jawab Ibu Arini
"Tentu saja, Bu. Tujuan Davian menikahi Arini tentu saja untuk membahagiakannya. Davian tak akan menyakiti Arini, dan Arini pasti akan selalu bahagia di samping Davian. Karena itulah, orang-orang terdekat Arini pun harus mendapatkan kebahagiaan sebagaimana mestinya. Davian harap, Ibu tak menolak niat baik Davian untuk memberikan kebahagiaan untuk Ibu dan juga untuk adik-adik." ucap Davian
"Mas, itu terlalu berlebihan. Tak usah, aku gak mau ngerepotin Mas Davi."
"Gak apa-apa sayang. Ibu sudah tua, sudah selayaknya kita membahagiakannya. Kumohon, jangan menolak niat baikku ya." pinta Davian
"Ibu tak perlu, Davian. Ibu sungguh, tidak apa-apa tinggal di rumah ini juga, Ibu sudah bahagia." jelas Ibu
"Gak apa-apa, Bu. Rumah ini jangan dijual, karena rumah ini peninggalan Ayah Arini bukan? Namun, Ibu juga harus hidup enak dan bahagia. Davian akan mencarikan rumah yang nyaman dan tak terlalu besar untuk kalian."
"Mas, terima kasih. Aku benar-benar merepotkan mu." ucap Arini
"Tidak apa-apa sayang, aku bahagia melakukannya."
__ADS_1
Davian memang berencana mengajak keluarga Arini untuk pindah ke tempat yang lebih baik dan lebih nyaman. Davian akan serius menjalani hubungan rumah tangga dengan Arini.
Perbincangan pun selesai, Davian mengajak Arini pulang karena hari sudah sore. Davian akan mengatur kepindahan kedua orang tua Arini sesudah Davian menemukan rumah yang cocok dan pas.
***
"Kok kamu masih cuek sama aku?" tanya Davian yang sedang menonton televisi
"Memangnya kenapa? Memang dari tadi aku lagi kesel kan sama Mas? Terus, aku harus berubah baik lagi gitu setelah Mas mendekati keluargaku, dan akan membelikan rumah untuk mereka? Masalah kita belum selesai ya!" Arini kesal
"Loh, masalah apa sih sayang? Kamu kok malah jadi marah-marah lagi. Baru tadi ku dengar kamu berterima kasih padaku ketika di rumah Ibumu."
"Jadi, itu wanita yang kamu kagumi sejak dulu?" tanya Arini dengan tatapan tajam
"Iya, tapi sekarang aku sudah tak mengaguminya lagi."
"Berarti, dia sangat berkesan untukmu, iya?"
"Tidak juga, karena aku belum pernah pacaran dengannya sekalipun." jawab Davian tegas
"Kamu sangat mencintainya?" tanya Arini
"Dulu." jawab Davian simpel
"Tidak lagi." Davian menatap Arini
"Kenapa?"
"Karena aku sudah mempunya istri yang sangat cantik dan anggun. Aku menyesal, kenapa tak dari dulu kita bertemu."
"Cih, gombal klasik. BASI." timpal Arini
"Aku sudah jujur sayang." Davian mendekati Arini
"Aku akan bertanya serius padamu!" ucap Arini menatap Davian dengan tatapan serius
"Wanita itu tadi berkata terima kasih karena kamu telah menolongnya. Kamu menolong apa padanya?" tanya Arini tiba-tiba
*Aku tak mungkin berkata jujur pada Arini, bahwa aku menolong Tasya dari semua utang-utangnya. Aku takut, Arini tak bisa menerima kejujuran ku, sepertinya aku tak usah berkata yang sejujurnya. Maafkan aku, Arini.
Aku tak bermaksud berbohong, aku hanya tak siap kamu kecewa. Uang ratusan juta, yang kuberikan pada Tasya, kenapa aku harus rela memberikannya pada Tasya? Tapi, aku tak tega kalau Tasya harus terus menjadi budak **** mereka. Sekarang, aku tak mau terlibat lagi dengan Tasya. Aku akan mencintai Arini dengan sepenuh hatiku, seperti dulu aku mencintai Tasya. Batin Davian*
__ADS_1
"Aku menolongnya karena dia tak punya ongkos untuk pulang, hanya itu saja." Davian mencoba untuk tidak gugup
"Benarkah? Apa benar begitu?" Ada raut curiga pada wajah Arini
"Tentu saja, sayang. Apa kamu tak percaya padaku?" tanya Davian
"Aku masih ragu, sepertinya ada sesuatu yang terjadi antara kamu dan dia." sambar Arini
"Tidak, Rin. Aku berani bersumpah. Kamu tak selayaknya marah padaku, aku benar-benar sudah tak ada hubungan lagi dengannya. Aku sudah menghapus rasa cintaku untuknya. Setelah ada kamu, semuanya berubah." jelas Davian
"Bukankah dia cinta pertama bagimu? Dan kamu tak pernah jatuh cinta selain padanya saat itu?" selidik Arini
"Betul, lalu?"
"Berarti dia sangat berarti untukmu, dan dia sangat membekas didalam di hatimu. Tak mudah bagiku, mengambil hatimu, karena aku hanya baru beberapa minggu di rumah ini." ucap Arini
"Kenapa terdengar seperti istriku sedang cemburu padaku? Apa memang kamu sekarang sangat mencintaiku, sampai-sampai aku di cemburui seperti ini? Kenapa hatiku sangat senang ya, mendengar istriku cemburu padaku?"
Davian mencium pipi Arini dengan lembut. Davian benar-benar tak bisa menahannya, karena istrinya terlalu menggemaskan.
"Apa sih maen cium-cium aja!!!"
Davian berbalik menatap Arini. Ia memegang tangan Arini dengan lembut. Sesekali, Davian mengusap-usap tangan Arini yang halus dan putih.
"Sayang, aku tahu, kau cemburu pada Tasya. Perlu aku jelaskan, dulu aku memang mencintai Tasya, tak ada yang lain, tapi dia tak pernah menerimaku, dia selalu mengacuhkan ku. Aku memang lelaki yang sulit jatuh cinta. Namun, sekali aku jatuh cinta, tak akan ada lagi wanita yang bisa mengisi hatiku. Aku akan terpatri pada satu hati dan satu cinta, yaitu KAMU!"
"Tapi, aku mulai takut. Sepertinya cinta pertamamu itu akan mendekatimu lagi. Apakah dia mulai menyesal telah meninggalkanmu?" tanya Arini
"Terserah apapun yang dilakukannya. Kini, aku tak peduli. Aku benar-benar telah menghapus Tasya dari hatiku, kini hatiku telah terisi oleh kamu, Arini. Jangan takut, jangan gundah, aku bukan lelaki yang mudah jatuh cinta. Cintaku sangat sulit untuk didapatkan. Untuk itu, Tasya pun tak akan bisa mengambil cintaku lagi, karena sekali aku sudah membuangnya, selamanya tak akan aku ambil lagi. Sekali aku sudah mencintai, dan cintaku membalasnya, akan ku pertahankan selamanya. Kamu harus menjaga cinta ini, aku sudah memberikannya padamu."
Davian mengecup kening Arini. Arini merasakan tubuhnya bergetar karena ciuman itu. Arini larut dalam buaian Davian.
"Terima kasih, telah membuat hatiku lega karena ucapan mu. Aku percaya padamu, aku tahu, bahwa hatimu tulus dan tak pernah main-main. Aku mencintaimu, Mas Davian."
"Aku pun mencintaimu, Arini."
Davian menjatuhkan Arini perlahan ke kasur empuknya. Davian mulai menciumi Arini dan menggerayangi tubuh mulus Arini. Lalu, Davian.......
Kalian bayangkan aja sendiri 🤣🤣🤣
*Bersambung*
__ADS_1
Halo.. Jangan lupa like, vote dan komen ya 🥰🥰🥰
Aku senang dan terima kasih pada kalian yang bersedia berkomentar, serta memberikan like-nya padaku, aku memperhatikan kalian juga, siapa-siapa saja yang selalu komentar dan setia membaca ceritaku, bahwa kalian tidak hanya membaca, tapi kalian juga menghargai karyaku.. 🥰🥰🥰