
...Cinta memang sulit untuk di ungkapkan. Cinta juga memang sulit ditebak apa maunya. Ketika cinta telah datang, siapkah kita menerimanya? Ataukah justru sebaliknya? Cinta yang tak kita sadari, akan mudah berlabuh dan jatuh....
Hari pernikahan sekretaris Dika dan Nadya digelar hari ini. Mereka menikah di sebuah gedung yang disewa sekretaris Dika untuk Nadya. Rumah Nadya terlalu sempit jika untuk melaksanakan acara resepsi pernikahan. Semua bahagia, dan antusias menyambut sepasang pengantin yang terlihat cantik dan tampan.
Dua orang yang berjasa pada kehidupan Davian dan Arini. Terutama, sekretaris Dika. Sekretaris Dika sangat kompeten dalam bekerja. Tak main-main, Davian memberikan uang yang cukup fantastis untuk acara pernikahannya.
Davian sengaja memberi sekretaris Dika segalanya. Ia ingin memberikan rasa terima kasihnya pada sekretaris Dika. Karena selama ini hanya sekretaris Dika yang hebat dan bisa diandalkan. Uang ratusan juta, mobil dan rumah, sengaja Davian berikan pada sekretaris Dika.
Biarkan uang pribadinya tetap miliknya, namun Davian kekeh tetap akan memberikan semuanya untuk sekretaris Dika dihari bahagianya ini. Arini dan Davian memotret Nadya dan sekretaris Dika berkali-kali. Mereka ikut larut dalam kebahagiaan pasangan muda ini.
"Selamat ya, Dik. Akhirnya, ular welang lu bisa dilepas juga!" ucap Davian.
"Eh, sembarangan lu, Bos. Bukan welang. Tapi, anaconda!" tegas sekretaris Dika.
"Hahahah, iya Dik iya. Selamat menikmati malam-malam yang indah dan hangat ya!" goda Davian.
"Hus sana lu, berisik ah. Malu-maluin gue!" sekretaris Dika malu.
Davian kembali lagi ke meja tamu bersama Arini dan Baby Callandra. Rangga dan Tira juga duduk tak jauh dari Davian. Namun, mereka belum terlibat pembicaraan, karena saking banyak sekali tamu dan saudara sekretaris Dika maupun Davian.
"Sayang, rasanya aku ingin Callandra cepat besar!" ucap Arini.
"Kalo Callandra cepat besar, kamu jadi nenek-nenek dong!" Davian terkekeh.
"Gak apa-apa, kalaupun aku jadi nenek-nenek, aku pasti masih tetap cantik!" ucap Arini percaya diri.
Davian tersenyum, "Tentu saja. Kamu pasti selalu cantik walaupun kita sudah tua nanti. Aku tahu, karena saat ini pun wajahmu tak ada yang berubah. Aku heran, kenapa kecantikanmu itu awet sekali. Apa jangan-jangan kamu adalah titisan vampire?" tanya Davian.
Arini tertawa, "Hahaha, iya ya. Vampire kan minum darah. Jadi, dia pasti terlihat awet muda seperti aku. Apa mungkin aku adalah vampire, Mas? Kalau aku vampire, Mas Davian juga pasti jadi vampire, karena aku gigit lehernya. Pantesan aja, Mas Davi juga awet gantengnya!" Arini menggoda Davian.
"Ciye, bisa aja kamu! Aku gak peduli. Mau kamu vampire, mau kamu kuntilanak, mau kamu nenek lampir, aku gak peduli. Yang penting aku tetep cinta sama kamu, dan kamu pun mencintai aku, selamanya ..." Davian memegang tangan Arini.
"Ya ampun, gak enak banget sih Mas. Masa kuntilanak sama nenek lampir dibawa-bawa!" ucap Arini.
"Ah, pokoknya, I love u full deh, aku gak bisa hidup tanpamu, Rin." ucap Davian.
"Mulai deh, gombal." jawab Arini.
"Eh, serius Rin. Kamu itu ibarat colokan listrik tahu enggak!" Davian menyeringai.
"Eh, maksudnya apa? Kok aku disamain sama colokan listrik sih, Mas?" Arini protes.
"Iya, kamu itu ibarat colokan listrik, karena menggetarkan dan sangat aku butuhkan. Eaa eaaa," Davian tertawa.
"Astaga. Ini dinikahan Dika loh! Kok kamu bisa-bisanya gombalin aku sih, Mas!" Arini geleng-geleng kepala.
__ADS_1
"Itu bukan gombal. Tapi kenyataan sayang." Davian tertawa.
Tak lama, Tira dan Rangga menghampiri Arini dan Davian. Mereka duduk bersama.
"Lagi apa sih lu? Kok ketawa-ketawa gak jelas!" protes Rangga.
"Ga, bikin challenge yuk! Kita tantang si Dika buat gombalin Nadya pas tamu undangan udah agak jarang." ajak Davian.
"Gombalin? Yah, cetek itu Dav. Gue juga sekarang udah pinter gombal ini. Kan udah diajarin elu!" Rangga tertawa.
"Masa sih, Bang? Ya udah, coba kamu gombalin Tira!" tegas Arini.
"Oke, siapa takut! Yang, Bapak kamu guru ya?" tanya Rangga pada Tira.
"Bukan!" jawab Tira polos.
"Ra, lu gimana sih! Jawabnya Kok tahu sih, gitu dong!" Davian mengajarkan.
"Ah, iya sorry, aku lupa. Kok tahu sih, yang?" tanya Tira pada Rangga.
"Soalnya kamu terus saja mengajari aku bagaimana cara mencintaimu. Hiyaaaaaaa ..." Rangga tertawa.
"Hahaha, boleh-boleh. Bagus juga Ga. Eh, sekarang giliran kamu dong Rin, gombalin aku." Davian cengengesan.
"Nah, iya tuh. Nanti, setelah kita selesai, kita tantang si Dika buat gombalin Nadya di atas pelaminan. Gimana, gimana?" Rangga turut bicara.
"Iya ih. Aku juga gak bisa." keluh Tira.
"Ayo, pikir dulu. Coba aja kenapa, kita juga harus bahagia di pernikahan si Dika. Ayo, sayang. Kamu pasti bisa." Davian merayu.
Arini berpikir. Ia terdiam, dan merenung bagaimana caranya menggombal yang baik dan tentunya romantis. Tira pun sama, mereka ditantang oleh para suami agar bisa turut menggombali Davian dan juga Rangga.
"Mas, kalau diibaratkan, kamu itu kayak sendok deh!" ucap Arini.
"Kok sendok sih yang?" tanya Davian.
"Karena kamu telah mengaduk-aduk hatiku, Mas!" Arini menutup mulutnya karena malu.
"Astaga, istriku ... Ternyata kamu bisa menggombal juga ya," Davian menepuk tangannya.
"Istriku dong. Ayo, bumil. Kamu juga bisa." Rangga menyemangati Tira.
"Ayo, Ra. Tunjukkan kemampuan menggombalmu!" Arini terkekeh.
"Kalo gak nyambung gak apa-apa ya. Seandainya aku diibaratkan sebagai kiper, mungkin aku adalah kiper paling bodoh, sayang." ucap Tira
__ADS_1
"Loh kok gitu sih? Kamu gak bodoh sayang," Rangga mengelus rambut Tira.
"Aku adalah kiper yang paling bodoh, karena telah membiarkan kamu membobol hatiku." Tira tersipu malu.
"Wiiiiih, Tira jago gombal juga ternyata!" ujar Arini.
"Aduh, meleleh hatiku sayang. Kamu pinter juga gombalin aku." Rangga terkesima.
"Si Rangga lebih parah lagi, Ra. Dia membobol gawangmu, sampe kamu bengkak itu perut nantinya!" Davian mulai omes.
"Astaga, Mas Davi. Selalu aja!" Arini tak habis pikir.
"Eh, ayo kita bilang ke MC. Biar si Dika ngutarain perasaannya ke Nadya. Suruh dia buat gombalin Nadya juga. Kayak yang kita lakukan barusan!" saran Rangga.
"Iya, bener. Ayo, kita ke sana."
Empat bersaudara itu segera naik ke atas pelaminan dan mengajak MC untuk ikut bersama mereka. Mereka membisikkan sesuatu pada sang MC agar sekretaris Dika mau menyatakan perasaannya pada Nadya, sang istri.
"Iya, permintaan dari Bos tercinta nih pengantin harus mengutarakan perasaan satu sama lain. Diakhiri dengan gombalan mautnya ya. Gimana, gimana? Setuju gak nih?" ucap sang MC.
"SETUJUUUUUU ..." jawab semua tamu undangan.
Mc memberikan mic pada sekretaris Dika. Namun dirinya sangat gugup dan bingung harus berkata apa. Ia mencoba menguatkan hatinya, didepan semua saudara dan keluarganya. Bismillah, aku pasti bisa. Batin sekretaris Dika dalam hati.
"Terima kasih pada semua tamu undangan yang telah hadir. Saya disini, saat ini alhamdulillah telah SAH menjadi seorang suami. Suami dari Nadya Alinda Putri. Saya sangat bersyukur bisa mempersunting wanita yang sangat berarti dalam kehidupan saya. Kisah cinta saya dengan Nadya bisa dibilang singkat. Karena apa? Karena saya tidak mau gagal lagi. Saya ingin segera menjalin hubungan ke jenjang yang lebih serius lagi. Dan Nadya, terima kasih telah menerima aku sebagai suamimu. Aku bahagia, bisa menjadi suamimu." sekretaris Dika mengecup kening Nadya.
Semua tepuk tangan sorak membuat sekretaris Dika tersipu malu. Akhirnya, ia memberanikan diri juga menyatakan cintanya secara langsung pada Nadya.
"Sekarang waktunya pengantin pria memberikan rayuan mautnya pada pengantin wanita. Ayo, silahkan." ucap sang MC.
Sekretaris Dika terdiam sejenak, ia malu, tapi ia harus tetap mengutarakan gombalannya agar tamu undangan tak kecewa. Ia tersenyum, san memulai aksinya, "Sayang, Bapak kamu tukang nge-cat tembok ya?" tanya sekretaris Dika.
Refleks Nadya menjawab, "Kok tahu sih Bang?"
"Karena eneng telah mewarnai hari-hari Abang menjadi sangat indah ..." sekretaris Dika tersipu malu.
"Hiyaaaaa ... pinter banget sih." puji sang MC.
Tiba-tiba, Bapak Nadya yang sedang duduk di kursi pelaminan berdiri dan memprotes apa yang di ucapkan sekretaris Dika. Bapak Nadya mengambil mic dari sang MC.
"Dik, Bapak bukan tukang cat. Bapak punya toko sembako di pasar. Kamu salah! Masa sama mertua aja kamu gak tahu sih kerjaan bapak apa!" protes Bapak Nadya.
Astaga. Ini Bapak mertua. Namanya juga gombalan, pasti ngasal. Kenapa dibikin harus sesuai kenyataan coba?
Mereka semua tertawa mendengar ucapan Bapak Nadya yang memang nyeleneh tapi lucu! Semua larut dalam kegembiraan dan canda tawa di acara pernikahan Nadya dan Sekretaris Dika.
__ADS_1
Selamat menempuh hidup baru Dika sanjaya dan Nadya Alinda 🥰🤗
*Bersambung*