Terjerat Cinta Sang Pembantu

Terjerat Cinta Sang Pembantu
Sudah waktunya


__ADS_3

Hari masih gelap. Namun, sekretaris Dika dan Asisten Tira sudah bersiap-siap. Perlengkapan Arini dan asisten Tira telah selesai dibawa ke mobil.


Arini dan Davian masih berada didalam kamarnya. Davian memakaikan mantel tebal untuk Arini. Karena, cuaca di kampung berbeda dengan Jakarta. Arini harus tetap hangat dan nyaman.


"Makasih, Mas." ucap Arini


"Ah, sayang. Kapan lagi aku akan memakaikan mantel seperti ini padamu? Kenapa aku jadi takut sekali berjauhan denganmu?" ucap Davian


"Jangan terlalu dipikirkan, Mas. Ingat saja quotes andalan LDR, jauh di mata namun dekat di hati. Walaupun raga kita jauh, tapi hati kita akan tetap selalu dekat. Bukan begitu?" balas Arini


"Mungkin untaian kata memang terlihat indah, tapi rasanya hatiku berkata, sulit untuk menjalaninya. Semua ini gara-gara si brengs*k Arkan. Aku benar-benar akan menghabisinya dengan cepat. Kalau saja dia tak menyebut nama istriku, mungkin aku tak harus seperti ini. Kenapa harus begini? Arini, aku sedih sekali."


"Mas, jangan sedih. Aku masih untukmu, meskipun sementara ini, aku harus terpisah denganmu. Tenanglah, aku akan tetap menjaga hatiku untukmu."


"Terima kasih, hal itu juga berlaku untukku. Aku akan menjaga hatiku ketika jauh dariku. Kamu tetap di hatiku, dan maafkan aku, jika aku memberi tahu pers bahwa aku masih sendiri. Kamu tak keberatan kan?"


"Tentu tidak, Mas. Aku tahu, hubungan kita pun sampai saat ini hanya sebatas teman dan keluarga saja yang tahu. Aku mengerti, dan aku pun sadar aku siapa. Kalau mereka tahu aku menjadi istrimu, mungkin aku akan dicaci maki oleh orang-orang."


"Oh, tidak. Bukan begitu sayang. Ini belum waktunya. Jika waktunya telah tiba, aku akan membuat resepsi pernikahan kita yang sesungguhnya. Aku sudah merencanakan hal itu, namun rencana itu tertunda karena ancaman Arkan yang membuatku muak." jelas Davian


"Tidak apa-apa, Mas. Aku juga tidak mengharapkannya, kok." Arini tersenyum lembut


"Pokoknya, kamu tunggu saja. Jika saatnya telah tiba, aku berjanji padamu bahwa aku akan mengadakan resepsi pernikahan kita dengan konsep Perfect Wedding. Percayalah padaku, sampai semuanya telah selesai, aku akan memberitahu kamu pada pers dan semua orang."


"Terima kasih, Mas."


"Iya, sayang. Ayo, kita berangkat. Mungkin Dika dan Tira sudah menunggu."


Davian dan Arini turun ke lantai bawah rumahnya. Di sana, sudah ada Mama dan Papa Davian, serta kedua adik kembar Davian. Memang, mereka tahu akan hal ini, namun mereka diharuskan tutup mulut dan melupakan semua yang terjadi.


Tak lain dengan asisten di rumah ini. Semuanya bungkam, tak ada yang berani berbicara, karena keluarga Davian telah memberi kompensasi yang sangat fantastis pada setiap pembantu. Mereka diminta tidak mendengar dan melupakan apa yang baru saja terjadi. Seperti, kepergian Arini hari ini.


"Mama, Papa, Arini berangkat. Jaga kesehatan Mama dan Papa ya, semoga kalian selalu sehat."


"Terima kasih, Arini. Kamu juga, jaga dirimu baik-baik ya. Jangan sampai terluka, Mama gak mau kamu kenapa-napa. Kami mendoakan yang terbaik untukmu."


Mama Davian memeluk Arini dengan hangat.


"Hati-hati, Arini. Jaga diri baik-baik." ucap Papa Davian


"Makasih, Papa." Arini tersenyum


"Kakaaaaaaaak!" Sherly dan Sheldy memeluk Arini bersamaan


"Eh, sayang-sayang Kakak. Jangan sedih, Kak Arini juga jadi sedih, lho!"


"Kakak jangan lama-lama ya di sana, Sherly pasti kangen banget sama Kak Arin." ucap Sherly


"Sheldy juga Kak!"


"Ya sudah, ayo kita antar kakak kalian kedepan." ajak Mama Davian

__ADS_1


Mereka bersama pergi mengantar Arini menuju mobil. Arini melambaikan tangannya sebagai bentuk perpisahan pada keluarga besar Davian. Sedih sekali, seperti mereka akan berpisah selama-lamanya.


***


Perjalanan menghabiskan waktu kurang lebih 12 jam dengan beberapa kali istirahat. Arini terlihat mesra dengan Davian. Tangan Arini melingkar di lengan Davian, ia juga menyenderkan kepalanya pada bahu bidang Davian. Hangat sekali, rasanya.


Ini saat-saat terakhir mereka bisa saling berdekatan, karena nanti Davian dan Arini akan terhalang oleh jarak. Davian harus segera menyelesaikan masalahnya, jika Davian ingin segera bertemu dengan Arini.


Mungkin, jika waktu bisa menjawab, mereka akan tahu kapan semua ini akan selesai, dan kapan semua ini akan terjawab. Namun, waktu adalah misteri, walaupun satu detik kemudian, kita tak pernah tahu apa yang akan terjadi pada diri kita.


Arini terlelap di bahu Davian. Perjalanan sangat jauh, membuat Arini lelah. Tanpa sadar, ia menutup matanya dan terlelap. Davian tak henti-hentinya mengelus rambut Arini. Ia juga mencium kening Arini, sungguh-sungguh hal romantis yang nanti mereka berdua akan rindukan.


Jika setiap hari kerinduan mereka ungkapkan dengan perlakuan, mungkin nanti kerinduan hanya bisa di ungkapkan lewat kata-kata saja. Memang benar, tak ada yang bisa melawan rindu. Rindu adalah kunci kekuatan cinta.


***


12 Jam berlalu. Arini dan Davian telah sampai di kampung. Davian telah memilihkan rumah yang nyaman untuk Arini. Rumahnya tak jauh dari pesisir pantai. Walaupun rumahnya kecil, namun sangat nyaman untuk Arini dan asisten Tira.


"Ini yang akan menjadi rumahmu saat ini." ucap Davian


"Iya, Mas. Terima kasih. Rumahnya sangat nyaman."


"Semoga kamu betah ya sayang. Sabarlah dulu, hingga aku menjemputmu lagi." Davian tersenyum


"Iya, sayang. Aku akan menunggumu."


***


Mereka berjalan sambil berpegangan tangan. Davian berkali-kali menatap Arini. Sebentar lagi, Davian akan meninggalkan Arini. Namun, sebelum itu, Arini ingin mengajak Davian jalan-jalan sebentar di pantai yang indah ini.


Tak lama, Arini menghentikan langkahnya. Ia menatap Davian pekat. Arini tahu, ini adalah kali pertama mereka akan berpisah. Meskipun bisa dibilang pernikahan ini baru seumur jagung, tapi jika melihat sang suami akan pergi meninggalkannya, Arini jadi tak kuasa menahan tangisnya.


"Mas, apa Mas akan pulang sekarang?" tanya Arini


"Mungkin sebentar lagi, setelah sholat Magrib, aku dan Sekretaris Dika akan pulang." jawab Davian


"Mas.."


"Iya Arini-ku?" jawab Davian


"Mas Davian.."


"Apa Arini sayang? Kenapa? Ada apa?"


"Kenapa, jadi aku yang sedih?" tanya Arini


"Jangan sedih, kan kamu sendiri yang bilang sama aku, kalau aku gak boleh sedih. Kamu juga jangan sedih dong sayang." ucap Davian


"Tapi, rasanya ditinggalkan itu sakit. Kenapa aku berat sekali membiarkan Mas pergi? Apa Mas Davian tak bisa, tinggal disini saja bersamaku?" pinta Arini


"Sayang, yang ditinggalkan memang akan sangat menyakitkan. Aku pun begitu, ketika aku di rumah, akan melepas pergi, hatiku sangat sakit, sayang. Kini, kamu yang tinggal, dan aku yang pergi dari sini, kamu sedih kan? Itulah cinta sayang, yang ditinggalkan akan lebih sedih daripada yang meninggalkan. Kini, posisi kita sama." jawab Davian

__ADS_1


"Mas, aku gak bisa jauh dari Mas Davian.." Arini keberatan


"Arini, bukankah ini sudah kita sepakati? Kenapa sekarang jadi kamu yang sedih? Maafkan aku, ini yang terbaik untukmu." ucap Davian


"Kurasa, hatiku sakit membiarkan kamu pergi. Aku kira, rasanya ditinggalkan tak akan sesakit ini. Nyatanya, hatiku benar-benar tak rela melepas kepergian mu. Mas, kenapa cinta kita harus seperti ini?" Arini memeluk Davian


"Sabar ya sayang, ini tak akan lama. Aku akan secepatnya membuat Arkan hancur. Aku tak ingin ada yang menyentuhmu sedikitpun. Aku lebih baik seperti ini, tersiksa dengan rinduku sendiri, asalkan kamu tetap bahagia dan selamat. Walaupun, resikonya kamu harus berjauhan denganku." ucapan Davian membuat air mata Arini tak bisa terbendung lagi


Arini menangis. Mobil sekretaris Dika sudah berada dipinggir pantai. Pertanda, Davian harus segera pergi meninggalkan Arini. Davian dan Arini menoleh mobil tersebut. Menangis lah Arini sejadi-jadinya. Rasanya, tak rela jika harus ditinggalkan Davian.


Arini menangis sesegukan sambil memeluk Davian. Arini menumpahkan rasa sakitnya dengan tangisan. Benar-benar rindu yang harus tersiksa dengan kepergian ini.


"Mas, jangan pergi.."


Davian melepaskan pelukan Arini perlahan, membuat Arini tambah sedih. Davian langsung ******* habis bibir seksi Arini. Davian mencium Arini dengan ciuman yang tak bisa dijabarkan dengan kata-kata.


Ciuman panas penuh akan kerinduan. Davian terus bermain-main dengan lidahnya di bibir Arini. Arini pun membalas ciuman mesra itu. Mereka saling berpagutan. Mereka saling menumpahkan rasa rindu dan kesedihannya lewat ciuman.


Untungnya, hari sudah gelap, tak banyak orang yang berada di sekitar pantai. Arini dan Davian terus saling bermain-main dengan lidahnya. Hingga Arini melepaskan ciuman itu, tak kuasa ingin menangis sejadi-jadinya.


Dengan sigap, Davian segera memeluk Arini lagi. Pelukan yang benar-benar erat, sebagai tanda perpisahan. Pelukan yang membuat mereka merindukan kasih sayang satu sama lain.


Davian pun tak kuasa menitikkan air matanya. Meninggalkan gadis yang baru beberapa minggu menjadi istrinya. Sungguh, pilu hati dan perasaan Davian.


"Arini, I love u.."


"I love u too, Mas.." jawab Arini sambil menggigit bibirnya


"Jaga dirimu untukku. Aku pergi..."


Davian melepaskan pelukannya. Perlahan, Davian melangkah mundur, meninggalkan Arini seorang diri. Davian melambaikan tangannya sebagai tanda perpisahan yang terakhir. Arini? Ah, Arini sudah menangis lagi sejadi-jadinya. Asisten Tira berlari mendekati Arini lalu menenangkannya.


"Mas........." Arini berteriak


Davian hanya tersenyum sambil menyeka air mata yang membasahi pipinya.


"Mas.......... Jangan pergi. Mas, Aku tak bisa jauh darimu.." Arini menangis di pelukan Asisten Tira.


Davian tak ingin Arini tambah menangis akan kepergiannya. Davian segera masuk kedalam mobil, dan menyuruh sekretaris Dika segera berangkat.


Maafkan aku, Arini. Aku bukanlah lelaki yang tega meninggalkanmu. Semua ku lakukan, untuk melindungi mu. Biarkan aku mengorbankan perasaan masing-masing, yang penting kamu aman, dan tetap berada dalam lindungan ku. Batin Davian.


Aku berjanji, sebentar lagi aku akan menyelesaikan semuanya. Aku akan membawamu pulang kembali. Aku akan menjadikanmu Dokter sungguhan disini. Tunggu aku datang kembali, Arini-ku...


*Bersambung**


Selamat malam semuanya..


Setelah membaca, jangan lupa like dan komentarnya ya..


Jujur, cerita ini tuh banyak views tapi pada jadi silent readers.. sedih aku tuh, udah mah bikin cerita lagi part sedih, tapi yang like dan komen sedikit banget.. huaaaaa 😭😭😭😭😭

__ADS_1


__ADS_2