Terjerat Cinta Sang Pembantu

Terjerat Cinta Sang Pembantu
Menanti hari Esok.


__ADS_3

Pagi ini, entah kenapa Papa dan Mama Davian tak mengizinkan Arini untuk menjenguk Davian. Mereka meminta Arini tetap tinggal. Mereka telah menugaskan sekretaris Dika untuk menunggu Davian di rumah sakit.


Arini sedikit heran, asisten Tira pun hari ini meminta izin pada dirinya untuk libur. Akhirnya, Arini hanya bisa berdiam diri di rumah besar itu. Arini bosan, ia memutuskan untuk pergi ke dapur membantu asisten yang lain.


Semua pembantu yang ada di rumah ini, mendadak baik dan sopan pada Arini. Mereka takut dipecat jika berbuat tak sopan pada Arini. Kini, Arini dan pembantu lainnya sudah tak setara lagi. Arini kini naik derajat di rumah itu, menjadi Nona muda di keluarga Raharsya.


"Non, udah. Jangan dibantuin. Biar Bibik aja yang ngerjain." tegas Bik Lilis.


"Gak apa-apa, Bi. Arin juga kesel kalau cuma diem aja." jawab Arini.


"Duh, jangan dong. Sekretaris Dika sudah memberi tahu kami, agar Nona Arini tak boleh ikut campur urusan dapur lagi. Kecuali, untuk membuatkan sarapan Tuan Davian."


"Kenapa dia harus begitu? Aku kan tidak berbuat hal yang aneh-aneh. Kenapa dia malah melarang ku membantu semua asisten disini?" Arini terdiam.


Akhirnya, Arini duduk di meja makan. Ia hanya bisa memperhatikan pembantu lain yang sedang bekerja. Arini tak boleh ikut campur urusan dapur lagi, kecuali jika itu perintah Tuan Davian. Tiba-tiba, asisten pribadi Mama dan Papa Davian memanggil Arini.


"Nona, semua keluarga sedang menunggu Nona di ruang utama. Ada hal serius yang akan dibicarakan. Diharapkan Nona segera bergabung bersama-sama." ucap asisten Wisnu.


"Ada apa sih? Kok aku jadi takut." pikir Arini.


Arini mengikuti langkah asisten Wisnu, yang mengantarnya menuju ruang utama keluarga. Betapa kagetnya Arini, melihat Kakek dan Nenek Davian juga ada di sana.


"Kakek dan Nenek ada disini rupanya." Arini tersenyum.


"Arini, duduklah!" perintah Papa Davian.


Arini duduk dengan wajah kebingungan. Ia tak mengerti dengan apa yang terjadi.


"Ada apa, ini?" Arini bertanya-tanya.

__ADS_1


Kakek Surya menghela nafas panjangnya. Ia mencoba tetap terlihat tenang, meskipun sebenarnya dalam hatinya ada rasa takut juga, akan kemarahan Davian kalau sampai cucunya itu mengetahui hal ini.


"Arini, kamu tahukan, pertemuan dengan investor asing itu berapa hari lagi? Aku sedih, Davian masih belum menunjukkan tanda-tanda kesembuhannya. Apa kamu tahu, kesedihanku? Selain cucuku yang masih terbaring lemah, jika aku batalkan acara dengan seluruh investor asing itu, tentunya akan menghambat laju perekonomian perusahaan, yang tentunya akan berimbas pada keuangan perusahaan juga kestabilan karyawan. Aku sangat bingung, Arini." ucap Kakek Surya.


"Lalu, Kakek menginginkan apa dariku?" tanya Arini tanpa getir sedikitpun.


Kakek Surya sedikit kaget, kenapa Arini se-berani itu.


"Aku tak menginginkan apa-apa darimu. Aku telah memutuskan bahwa yang akan menemui para investor asing adalah Rangga. Tak ada lagi yang bisa aku andalkan. Aku dan Papa mertuamu sudah tak bisa mewakili perusahaan. Semua investor yang datang tentunya harus disambut dengan CEO yang baru. Untuk itu, aku mohon padamu, untuk bersama Rangga mengisi acara pertemuan dengan investor asing tersebut. Mereka semua juga generasi penerus dan kandidat muda seperti kalian. Jadi, aku mohon dengan sangat, kamu mau membantu Kakek, bersanding bersama Rangga di acara pertemuan investor asing tersebut. Kalian hanya cukup terlihat seperti pasangan suami istri saja didepan mereka. Ini hanya sampai acara selesai saja, Arini." Kakek Surya menjelaskan.


Kakek Surya tahu, bahwa Arini tak suka pada Rangga, karena Rangga hampir berbuat tidak senonoh padanya. Namun, apalagi yang bisa ia perbuat kalau Davian masih saja tak sadarkan diri?


"Sepertinya, aku tidak bisa." jawab Arini tiba-tiba.


"Arini, apa maksudmu?" Mama Davian terlihat tak suka dengan penolakan Arini.


"Aku tak mau berhubungan lagi dengan Tuan Rangga, sekalipun suamiku sedang koma saat ini. Jika Tuan Rangga akan menghadiri acara itu, kenapa kalian tak mencari wanita lain saja untuknya? Kenapa harus aku?" Arini tak bisa tinggal diam.


"Maafkan aku Mama, dan Papa. Juga Kakek dan Nenek, bukan aku keras kepala pada kalian. Tapi, tentu saja aku punya alasan menolaknya. Jangan mentang-mentang Mas Davian ku sedang koma di Rumah sakit, Tuan Rangga jadi seenaknya memintaku untuk bersamanya ketika acara nanti. Aku tak mau hati suamiku terluka, aku juga tak mau berhubungan lagi dengan Tuan Rangga. Aku masih takut. Maafkan aku, jika aku lancang. Aku mengerti kondisi ini, tapi aku tak mungkin dengan mudah mau menemani Tuan Rangga menemui investor-investor itu." jelas Arini.


"Arini, apa kamu tahu? Perusahaan ini milik siapa? Perusahaan ini milik Davian. Rangga tak akan mendapatkan apa-apa dari perusahaan ini. Semuanya, kita lakukan hanya untuk Davian. Perusahaan harus tetap berjalan meskipun Davian kini terbaring lemah di Rumah sakit. Aku mohon, bekerja samalah, aku akan memastikan, Rangga tak berbuat macam-macam padamu. Acara tinggal satu minggu lagi, di undur pun jelas tak mungkin. Tapi, kamu lihat kan? Masih belum ada tanda-tanda kesembuhan dari Davian? Bisakah kamu membantu kami, Arini?" Papa Davian merayu Arini.


Arini menatap mereka semua, memang benar adanya, semua ini dilakukan untuk perusahaan. Semua ini untuk Davian. Memang benar, Arini harus membantu Davian. Tapi? Dengan Rangga? Arini sangat membencinya. Arini tak mau lagi berhubungan dengan dia.


"Bagaimana, Arini? Aku mohon, bantu perusahaan Davian. Bekerja samalah dengan Rangga." jelas Kakek Surya.


"Aku tak akan mengiyakan sampai hari-H acara tersebut. Aku akan tetap yakin, bahwa Mas Davian akan sadar sebelum acara itu terjadi. Masih ada waktu sekitar satu minggu lagi, untuk Mas Davian sadar dari koma nya. Aku akan tetap menunggunya dahulu. Kalaupun memang Mas Davian masih belum menunjukkan kesembuhannya, itu berarti ia mengizinkan aku menemani Tuan Rangga di acara perusahaan. Semoga kalian mengerti keputusanku. Semoga kalian paham, terima kasih. Mohon maaf, aku harus kembali ke kamarku."


Arini membungkukkan kepalanya, lalu ia pergi ke kamarnya. Di kamarnya, jantung Arini benar-benar berdebar hebat, ia benar-benar takut dan gugup, ia tak menyangka, bahwa ia bisa melawan keluarga besar Davian.

__ADS_1


***


Satu hari, sebelum hari-H.


Tiga hari yang lalu, Arini tak pulang ke rumah Davian. Arini menginap di rumah Ibunya. Kini, Arini terpaksa pulang, karena keluarga Davian memintanya segera pulang untuk memberitahukan kejelasan acara pertemuan yabg akan berlangsung esok hari.


Hari ini, Rangga berada di rumah besar ini. Arini benar-benar tak ada mood untuk berbicara dengannya. Namun, sepertinya Rangga terus-terusan sengaja mendekati Arini. Hingga pada akhirnya, Rangga bisa juga menemui Arini.


"Jangan menghindar terus. Aku benar-benar minta maaf!" ucap Rangga.


"Saya tidak menghindar. Saya juga sudah memaafkan kesalahan Tuan." jelas Arini.


"Kalau begitu, berbaik hatilah, seperti biasa. Jangan ketus seperti ini. Acaranya besok. Bagaimana kita bisa terlihat sebagai sepasang suami istri kalau kamu saja selalu cuek padaku?" tanya Rangga.


"Maaf, Tuan. Jangan mengambil kesempatan didalam kesempitan. Saya sangat tidak menyukainya."


"Jangan galak-galak, Arini. Aku tak akan berbuat aneh-aneh lagi. Aku sudah malu padamu." jelas Rangga.


"Baguslah kalau Tuan tahu."


***


Di Rumah sakit, sekretaris Dika dengan setia tetap menunggu kesadaran dari Davian. Dika sedih, kesempatan besar hari esok tak akan bisa dilalui oleh Bosnya. Hingga Rangga-lah yang akan memimpin jalannya acara tersebut.


"Bos, kenapa Bos belum sadar juga sih? Aku bener-bener sedih, Bos. Apakah Bos tahu, hari esok adalah hari yang sangat penting untuk Bos? Kenapa Bos masih saja terbaring seperti ini? Apa Bos tahu, hari esok akan bagaimana? Tuan Rangga dan istri Bos yang akan menghadiri acara tersebut. Apa Bos akan membiarkan Tuan Rangga dan Nona Arini begitu saja, Bos?"


Sekretaris Dika menatap Davian yang terbaring lemah dengan tatapan sendu. Ia sedih, ia benar-benar terpuruk melihat semua ini terjadi. Seandainya saja Davian dalam keadaan sehat dan sadar, mungkin saja ia akan sangat bahagia dan semangat menantikan hari esok. Apalagi, di hari esok lah ia seharusnya mengenalkan Arini pada publik.


"BOS, bukankah dirimu akan mengenalkan istrimu pada dunia? Bukankah kau akan memberi tahu mereka, bahwa kau bangga dan bahagia bisa menikahi Nona Arini. Bukankah itu salah satu tujuanmu juga di hari peresmian besok? BOS, BANGUNLAH. AKU MOHON....."

__ADS_1


Sekretaris Dika menutup wajahnya dengan tangannya, ia sedih, benar-benar tak bisa membayangkan hari esok. Ia menangis didepan Davian, hingga sekretaris Dika tak sadar bahwa jari-jemari Davian bergerak.


*Bersambung*


__ADS_2