
Bos bucin Davian Raharsya. Kau adalah orang yang paling berjasa dalam hidupku. Tapi, kau juga orang yang selalu membuatku kesal. Seperti saat ini, aku jadi canggung untuk mendekati istriku lagi. Kurasa, besok aku harus minta pertanggung jawabannya. Aku harus minta naik gaji padanya. Kalau sampai dia tak mengabulkan, aku akan mengganggu dia di setiap malamnya. Batin sekretaris Dika.
Sekretaris Dika sangat canggung. Ia meletakan kembali ponsel yang tergeletak di meja dan mulai naik kembali ke ranjangnya. Ia menatap Nadya, terlihat raut kecewa di wajahnya. Sekretaris Dika mencoba duduk dan kembali mendekati Nadya, namun Nadya merasa tak nyaman.
"Nad, maaf." ucap sekretaris Dika.
"Gak apa-apa kok." jawab Nadya.
Arrghh, Bos kampret! Gue jadi gugup lagi kan deketin istri gue sendiri.
"Nad, kalau ngantuk istirahat aja. Gak apa-apa kok," ucapan pasrah keluar dari mulut sekretaris Dika.
Nadya terdiam, ia menatap suaminya dengan tajam, "Oh, baiklah. Mari kita tidur. Ini sudah malam."
Eh, kenapa dia tak menolak? Nad, kamu harusnya menolak untuk tidur lagi. Kenapa kamu malah mengiyakan. Astaga, habislah sudah kesempatan anaconda-ku bertemu dengan sarangnya.
Jawaban Nadya membuat sekretaris Dika tak nyaman. Ia salah, berkata menyuruh Nadya istirahat saja. Ini semua karena rasa canggung yang dialaminya setelah Davian mengganggu malamnya yang mulai panas. Nadya mulai menarik selimutnya, dan berbaring di kasurnya yang empuk. Sekretaris Dika pun turut mengikuti Nadya.
Mereka berdua sama-sama canggung dan malu untuk memulainya kembali. Nadya dan Dika telentang bersama, dalam satu selimut yang sama. Tak ada suara ataupun ucapan selamat malam. Sebenarnya, didalam benak sekretaris Dika, ia tak ingin seperti ini. Ia ingin memulai pergulatan panasnya lagi. Namun, bagaimana memulainya setelah semua kehangatan itu dirusak oleh Davian?
Nadya merasa tak nyaman, ia membalikkan tubuhnya, dan membelakangi sekretaris Dika. Nadya menarik selimut dan mencoba untuk terlelap saja. Sekretaris Dika yang mendapat perlakuan seperti itu, merasa kesal dan semakin tak karuan. Haruskah ia memberanikan diri menjamah Nadya tanpa seizinnya?
Nad, aku tak nyaman. Anaconda-ku sudah meronta-ronta. Kenapa kamu malah membalikan tubuhmu? Bukankah saat awal tadi kamu menawariku? Kenapa sekarang membelakangi aku? Haruskah aku memberanikan diri? Apakah aku salah menyuruhmu istirahat? Nad, aaarrrgghhh. Batin sekretaris Dika.
Anaconda-nya sudah tak tahan lagi. Ia membalikkan tubuh Nadya, dengan sekuat tenaganya hingga Nadya kaget mendapat perlakuan seperti itu dari sekretaris Dika. Biasanya sekretaris Dika bersikap lembut padanya, namun ia tak menyangka sekretaris Dika akan sedikit kasar padanya.
"Bang, Bang Dika, mmhh," Nadya kaget.
Sekretaris Dika menaiki tubuh Nadya. Kini, ia berada di atas tubuh sang istri. Sekretaris Dika melayangkan serangan ciumannya kembali. Ia mencium Nadya dengan sedikit ganas, tak seperti diawal pemanasan. Ia tak bisa menahan rasa itu lagi. Canggung dan gugup hanya membuatnya merasa tak enak dan pasti akan gagal lagi melakukan malam yang panas ini.
__ADS_1
"Nad, maafkan aku. Aku akan menagihnya sekarang. Aku sudah tak tahan, maafkan aku." ucap sekretaris Dika lalu mencium leher Nadya.
"Mmh, Ahh, Bang, geli."
Sekretaris Dika tersenyum senang melihat Nadya terbawa oleh buaiannya. Malam ini, ia pastikan akan memasukkan anaconda-nya menuju sarangnya yang sesungguhnya. Sekretaris Dika mulai menciumi leher dan telinga Nadya, sehingga membuat Nadya menggeliat dan kegelian.
Nadya mendesah tak nyaman, baru kali ini ia mendapat sentuhan seperti ini dari laki-laki, yang beruntung sekali, bahwa laki-laki ini adalah suaminya sendiri. Ia memberikan tubuhnya hanya untuk suaminya, yaitu sekretaris Dika. Sekretaris Dika telah larut dalam gairahnya, ia mulai membuka lagi kancing baju Nadya satu persatu. Nadya merasa gugup dan malu, tapi, lagi-lagi sekretaris Dika mengecup bibirnya, seraya membisikkan sesuatu ke telinga Nadya.
"Jangan takut, sayang. Aku akan melakukannya dengan lembut." ucap sekretaris Dika.
Nadya kini sudah tak memakai pakaian setengah badan. Sekretaris Dika melongo melihat pemandangan di depannya. Ia bak melihat pemandangan gunung yang indah terpampang nyata di hadapannya. Gunung yang akan membuatnya kecanduan. Gunung indah yang menjulang dan membuat sekretaris Dika ingin segera melahapnya.
Sekretaris Dika melahap gunung kembar milik Nadya yang ranum, sambil meremasnya secara bergantian. Hal itu membuat Nadya semakin mendesah penuh kenikmatan. Sekretaris Dika sudah tak tahan lagi. Ia mencoba membuka pakaian bagian bawah Nasya yang masih menempel.
"Bang ..." Nadya takut, ia memegangi celananya.
"Pelan-pelan, Bang." ucap Nadya.
"Of course, Baby," kecupan hangat mendarat di gunung kembar Nadya.
Sekretaris Dika terus melakukan pemanasan ringan pada tubuh Nadya, hingga ia merasa siap akan memasukan anaconda-nya ke sarangnya. Ia membuka seluruh pakaiannya, dan menaiki Nadya lagi. Sekretaris Dika mulai mengarahkan anaconda miliknya. Wajah Nadya terlihat sangat pucat dan gugup, ia takut akan rasa sakit ketika barang yang besar itu masuk ke tempatnya yang sempit.
"Siap ya sayang," sekretaris Dika mulai mengarahkan anaconda-nya pada sarang hangat milik Nadya.
"Aarrggh, Mmphh, Bang Dika, auwh, sakit ..." Nadya meringis kesakitan.
Sekretaris Dika sangat kesulitan memasuki sarang Nadya. Ia tak bisa memaksanya, karena takut Nadya kesakitan. Karena ia berjanji, tak akan menyakiti Nadya. Ia bingung. Mungkinkah ia harus memaksakan anacondanya masuk? Tapi, ia takut Nadya kesakitan.
"Nad, susah ..." ucap sekretaris Dika.
__ADS_1
"Belum aja udah sakit, aku takut." Nadya menutup wajahnya.
"Bagaimana kalau aku menerobos paksa saja? Kasihan anaconda-ku, Nad. Kalau pelan, akan susah. Maaf ya, jika awalnya sakit. Aku pastikan, setelah masuk kandang, dia akan ku ajari untuk pelan dan tenang. Aku janji, anaconda-ku gak akan menggigit kamu. Dia pasti nyaman jika sudah didalam sana." ucap sekretaris Dika.
"Bang, ah, aku takut. Sumpah, aku belum siap."
"Nad, maafkan aku ..."
Serangan itu dilancarkan oleh sekretaris Dika dengan cepatnya. Beberapa kali, sulit sekali untuk menerobos. Hingga ketika semuanya telah basah, anaconda milik sekretaris Dika berhasil menerobos juga dalam sarang Nadya. Sekretaris Dika puas, karena Nadya menjaga kehormatannya hanya untuk dirinya.
Bukti noda merah itu, membuat sekretaris Dika semakin mencintai Nadya. Ia mencium kening Nadya sambil terus melakukan kegiatan panas itu. Sekretaris Dika sudah mulai merasa rileks mengatur ritme pergerakan anacondanya. Nadya memegang sprei dengan sangat kuat, ia sakit, merasa seperti ada sesuatu yang robek didalam tubuhnya.
Mereka larut dalam suasana panas penuh peluh. Permainan itu sangat membuat hasrat mereka berdua semakin berpadu. Walaupun kesakitan, Nadya tetap mencoba rileks demi memuaskan hati sang suami. Hingga suatu ketika, Nadya merasakan dirinya tak kuat menahan sesuatu yang ingin keluar dari sangkarnya.
Nadya menggeliat hebat, ia merasakan sesuatu keluar dari miliknya. Sekretaris Dika puas, ternyata Nadya telah keluar lebih dulu. Ia pun mencoba mempercepat ritme-nya, agar segera mengimbangi Nadya yang mulai kelelahan. Hingga berkali-kali hantaman itu terus sekretaris Dika berikan, ia pun keluar juga dengan menggelinjang hebat disekitar tubuhnya.
"Aaaaah, Nadya ... Beginikah rasanya, sungguh nikmat sekali." sekretaris Dika meracau.
Nadya lemas, ia tak sanggup menjawab. Ia lelah, permainannya begitu lama dan terlalu membuatnya perih. Sekretaris Dika pun membaringkan tubuhnya. Ia lelah, keringat bercucuran di sekujur tubuhnya. Tapi, ia puas telah merasakan kenikmatan itu. Ia mengecup Nadya berkali-kali, dan memeluknya dengan keadaan tubuh yang polos hanya tertutup oleh selimut.
"Nad, terima kasih, telah menjaganya untukku." kecupan hangat mendarat di pipi Nadya.
Mereka pun terkapar lemah, sampai tak kuasa memakai pakaiannya kembali. Mereka terlelap sambil berpelukan, dengan tubuh yang polos dan hanya ditutupi selimut.
*Bersambung*
Suka malam pertama versi siapa? Phyton, Cobra, apa Anaconda?
Yang Davian otor-nya masih belum berpengalaman, jadi cuma sepuluh menit 😆🤣
__ADS_1