Terjerat Cinta Sang Pembantu

Terjerat Cinta Sang Pembantu
Calandra series 21


__ADS_3

Selamat membaca...


Sebelum membaca, tekan like dulu ya, makasih...


Keadaan Nisha sudah mulai membaik. Calandra dan Arini masih menunggu Nisha, karena Davian belum menyuruh mereka untuk pergi ke rumah sekretaris Dika. Bik Lilis sudah tiba untuk menunggu Nisha. Tapi, Andra begitu berat untuk meninggalkan Nisha seorang diri. Andra ingin sekali berada disisi Nisha, dan menemaninya.


"Nisha, gimana sekarang? Apa sudah mulai baikan?" tanya Arini.


"Iya, Bu. Nisha udah baikan, makasih banyak udah ngerepotin Ibu. Maafin Nisha juga ya, Andra ..." ucap Nisha.


"Kamu gak salah, Nisha. Kamu istirahat ya, nanti makannya biar disuapin sama Bik Lilis. Ibu sama Andra ada perlu dulu, nanti Ibu pasti kesini lagi." Arini tersenyum pada Nisha.


"Iya, Bu. Terima kasih," Nisha tersenyum.


Tiba-tiba ponsel Arini berbunyi, "Andra, tunggu sebentar. Daddy nelepon, mungkin kita harus segera berangkat."


"Baik, Mom."


Arini berjalan menuju keluar ruangan tempat Nisha di rawat. Andra masih duduk di samping Nisha. Menatap dan memperhatikan gadis polos dan cantik didepannya ini. Kalau saja saat itu Andra tergoda akan Nisha yang terus membelainya, mungkin semuanya akan lebih berantakan dari saat ini.


"Maafkan aku yang telah melukaimu, Nisha ..." ucap Andra.


Nisha tersenyum, dan terbangun dari tidurnya, ia pun menyandar, "Kamu tak perlu minta maaf, aku yang justru berterima kasih padamu, Andra. Kamu begitu menjagaku, dan tak berniat sedikitpun untuk memanfaatkan aku."


"Karena aku sudah berjanji padamu. Selama kamu dalam pandanganku, maka selama itu juga kamu pasti aman denganku. Tapi, aku tetap merasa bersalah, karena telah mendorong tubuhmu, hingga kepalamu terbentur. Maafkan aku, Nish. Kamu pasti kecewa padaku, aku sungguh tak mampu lagi berpikir jernih, hingga aku melukaimu." ucap Andra.


"Iya, aku akui rasa sakitnya masih ada. Tapi, itu lebih baik daripada kamu membalas perbuatan ku yang ... ah maaf, sedikit merayu mu dan memegang tubuhmu. Aku sungguh menyesal, aku begitu malu, maafkan aku. Itu diluar kendaliku, entahlah ... aku masih tak menyangka jika Elang akan berbuat seperti itu padaku. Terima kasih, Andra, kamu telah menjaga dan melindungi ku. Aku tahu, itu pasti pilihan yang sulit untukmu. Maaf, maaaaaaf sekali ..." Nisha terus memohon maaf.


Andra menatap Nisha, ia tersenyum pada gadis itu, "Nish, kamu tak salah. Semua itu diluar kendali mu, bukan? Aku bukanlah lelaki perusak wanita. Aku tak mungkin melakukan itu padamu, sekalipun kamu dalam pengaruh obat seperti itu. Mommy dan Daddy-ku selalu berbicara, jika aku tak boleh mengecewakan yang suatu hari nanti akan jadi istri atau teman hidupku. Aku tak boleh melakukan hal diluar batas, dan aku harus menjaganya, hanya memberikan semua itu pada wanita yang kelak akan jadi istriku."


Nisha mendengarkan, lalu ia menghela nafas, "Pasti beruntung sekali, wanita yang menjadi istrimu nanti, Calandra."


Dan aku berharap itu kamu, Kanisha. Batin Calandra.


"Tentu saja. Wanita yang menjadi istriku, akan ku bahagiakan ia dalam hidupnya, tak akan pernah ku sakiti hatinya sedikitpun." Andra membalas ucapan Nisha.


"Semoga kamu bahagia ya, Andra."


Aku bahagia, karena ada kamu di sisiku, Nish. Egois kah aku? Batin Andra.


"Hal itu juga berlaku untukmu, Nisha. Kuharap, semoga kamu selalu bahagia." Andra tersenyum.


"Terima kasih ..." Nisha tersenyum menatap Calandra.


Arini melihat pemandangan indah itu dari pintu ruangan yang setengah terbuka. Arini tahu, kedekatan yang terjalin antara mereka berdua, semakin menambah chemistry satu sama lain. Arini pun pernah merasakan hal tersebut. Ia juga pernah muda, dan pernah merasakan bagaimana jatuh cinta.


Seiring berjalannya waktu, ia dekat bersama Davian dan setiap hari selalu bersama, tentu saja itu menumbuhkan benih-benih cinta dan rasa peduli antara keduanya. Arini bisa merasakan itu, ketika menatap Nisha dan Calandra. Meskipun terlihat masih malu-malu dan gengsi, tatapan mata penuh harap itu tak bisa berbohong.


"Calandra, ayo berangkat sekarang! Daddy-mu sebentar lagi sampai di kediaman sekretaris Dika." Arini sengaja mengagetkan Nisha dan Andra yang sedang saling menatap.

__ADS_1


"Ah, i-iya, Mom. Nish, jaga dirimu ya, semoga cepat sehat. Aku pergi dulu." ucap Calandra.


"Nisha, kamu sama Bik Lilis dulu ya, kalau kamu butuh bantuan bilang aja sama Bik Lilis, kalau ada sesuatu, telepon aku segera." ucap Arini.


"Baik, Bu. Terima kasih,"


Arini pun segera berangkat bersama Calandra. Hati Calandra sangat was-was dan merasa takut. Ia hafal betul, bagaimana kalau Davian sudah marah. Andra pasrah, karena semuanya berawal dari dirinya. Elang tak mungkin berbuat nekad seperti itu, kalau Andra tak dekat dengan Nisha. Apalagi ketika Elang tahu, bahwa Davian berencana menjodohkan Nisha dan Andra.


Sebuah mobil mewah berwarna hitam sudah terparkir dengan baik di depan rumah sekretaris Dika. Seketika itu pula, wajah Calandra berubah pucat. Itu berarti, Davian sang Daddy telah berada didalam. Dengan langkah gontai, Andra mengikuti Arini dari belakang dan ia sudah pasrah, apa yang akan dilakukan Davian padanya.


Arini dan Andra pun masuk, karena pintu besar rumah itu tak dikunci. Andra melihat, Davian sudah duduk bersama sekretaris Dika, begitu pun Elang dan Nadya, sudah ada didalam. Andra melihat Elang hanya menunduk. Andra dan Elang sama-sama tahu bagaimana menghadapi seorang Davian ketika sedang marah. Tak ada yang berani menatapnya, karena sorot tajam mata Davian benar-benar membuat Andra ataupun Elang sama-sama takut.


"Selamat malam, maaf aku terlambat." ucap Arini yang kemudian menyapa dan memeluk Nadia.


Andra masih berdiri, ia melangkahkan kakinya perlahan-lahan dan melihat Davian, yang segera berdiri mendekatinya. Davian menatap tajam putra sulungnya itu. Davian baru tahu, kalau ternyata Andra pernah mencium Nisha didepan umum, hingga menyebabkan Nisha diusir dari rumah orang tua angkatnya.


PLAKKKKK, sebuah tamparan keras dari Davian mendarat di pipi Calandra. Andra tak menjawab, ia hanya diam saja dan memegangi pipinya. Arini kaget, karena Davian tanpa basa-basi langsung menampar Calandra.


"MAS!" Arini yang sedang memeluk Nadia begitu kaget.


"Bos, cukup!" sekretaris Dika tak menyangka Davian akan menampar anaknya sendiri.


Sekretaris Dika lebih tak enak, karena yang seharusnya mendapat hukuman adalah anaknya sendiri. Namun, sekretaris Dika tak berani memarahi Elang didepan Davian, karena Dika telah memasrahkan Elang pada Davian. Apapun yang akan Davian lakukan pada Elang, Sekretaris Dika tak akan menolak, dan justru akan menyetujuinya, agar menimbulkan efek jera pada Elang. Tetapi, dugaan sekretaris Dika salah besar, ternyata Davian malah menampar anaknya sendiri.


"Diam kalian semua. Ini balasan untuk anak yang tak tahu diri, dan telah menghancurkan kebahagiaan wanita yang bahkan tak ia kenal sebelumnya! Semua ini berawal karena perbuatannya. Tak perlu dibela, Calandra memang salah! Dan anak ini pantas mendapatkan tamparan ku!" Davian emosi.


"Mas, cukup. Selesaikan dengan kepala dingin. Emosi dan amarah tak akan menyelesaikan masalah. Rileks, dan tarik nafas. Ini semua bukan kesalahan Calandra, jangan terlalu menyalahkannya. Hatiku sakit, melihat kamu seperti ini pada anak yang begitu aku cintai." tegas Arini.


Davian menatap Andra, lalu ia pun kembali duduk di kursinya. Arini mengajak Andra untuk duduk bersamanya. Nadia dan sekretaris Dika hanya bisa terdiam karena melihat Davian begitu emosi pada Andra. Mereka amat malu, karena yang seharusnya dihukum seperti itu adalah anak mereka, bukan Calandra.


"Bos, anakmu tak salah. Yang salah adalah Elang, anakku." ucap sekretaris Dika.


Davian menatap Elang, "Elang, kenapa kamu nekad memberikan obat perangsang pada Nadia? Kamu ingin menidurinya?"


Elang mengangkat wajahnya, "Ma-maaf, Pak. Sa-saya, saya khilaf, dan pikiran saya sangat tak jernih. Saya sungguh telah gelap mata. Karena saya kecewa, Pak Davian akan menjodohkan Nisha dan Andra. Bukankah kalian tahu, kalau saya mencintai Nisha?" Elang membela diri.


"Kau! Dengan mudahnya berkata mencintai Nisha! Sedangkan kau sendiri, menduakan dia dengan wanita lain. Kau memutuskan Nisha demi wanita lain. Apa itu yang dinamakan cinta, ha? Gila kau, Elang!" Calandra emosi.


"Andra, hentikan!" tegas Arini.


"Bos, maafkan anakku. Aku pasti menghukum dia dengan sangat berat. Aku mengakui kelalaian ku dalam mengurusnya. Dia terlalu dimanjakan oleh Nadia, dan aku pun kurang memperhatikannya, aku menyadari semua ini. Aku tak menyangka, Elang akan tumbuh seperti ini." ucap Sekretaris Dika.


"Aku tak akan menghukum anakmu, karena itu bukan wewenang ku untuk mengurus dan mendidik anakmu. Aku sangat menyayangkan hal ini terjadi, dan aku kecewa pada anakmu, Dika. Memang, ini berawal karena kesalahan Andra.Tapi, jika Elang tak memutuskan Nisha, dan Elang tak membiarkan Nisha pulang sendiri malam itu, mungkin hubungan Nisha dan Elang akan baik-baik saja. Tapi, Elang sendirilah yang mengotori hidupnya. Dia membuat Nisha terluka dan kecewa. Padahal, Nisha begitu mencintainya. Sekarang, setelah aku memutuskan hal itu, anakmu marah dan tak terima. Sebenarnya, apa mau mu, Elang?" tanya Davian.


Elang terdiam, ia tak menjawab sepatah kata pun. Elang tahu, semua ini karena ia tergoda oleh Rena, karena Rena adalah cinta pertamanya yang dulu menolak dirinya habis-habisan. Kini, giliran Nadia yang membuka suara, karena Elang adalah tanggung jawabnya.


"Daddy! Dia hanya terobsesi pada Nisha karena aku dan Nisha sekarang dekat. Dia tak rela, jika kita dekat. Dia bodoh, dia yang selingkuh dan meninggalkan Nisha, tapi setelah Nisha dekat denganku, dia tak rela, dan seakan-akan Nisha masih miliknya. Otakmu sungguh picik, Elang!" Calandra emosi.


"Tak ada yang membiarkan kamu untuk berbicara! Diam kamu, mulut sampah! Sama seperti mulut sampah mu itu yang seenaknya mencium gadis yang tak berdosa!"

__ADS_1


"Mas! Cukup!" Arini menghentikan Davian.


"Pak Davian, izinkan aku berbicara mewakili Elang. Maafkan aku, disinilah aku yang salah. Aku terlalu lalai dalam mengurus Elang, aku yang terlalu memanjakannya hingga dia menjadi seperti ini. Sungguh, hal ini ada diluar jangkauanku. Aku mohon maaf sekali, aku pun kecewa karena dia begini. Sungguh, hatiku pun sakit mendengar kabar Elang berbuat seperti itu. Rasanya, aku telah gagal menjadi seorang Ibu ... Aku bukan Ibu yang baik untuk anaknya, perlakuanku pada anakku, membuat dia menjadi liar dan semaunya seperti ini. Ini semua salahku, maafkan aku ..." Nadia menunduk dan air matanya tak terasa telah mengalir dan membasahi pipinya.


"Mama ... jangan menangis!" Elang tak kuasa melihat Nadia menangis.


"Biar nanti kuberi kau hukuman yang setimpal, Elang! Kau telah menyakiti hati banyak orang! Dasar kau anak baj1ngan!" Sekretaris Dika berdiri, akan memukul Elang, namun Davian menahannya.


"Sudah cukup, Dik. Urus anakmu nanti setelah aku pergi. Yang jelas, kamu telah salah dan berdosa Elang. Jika saja anakku tak menemani Nisha, apa yang akan terjadi? Mungkin, kamu dan Nisha telah melakukan hubungan terlarang itu, iya kan? Dan kamu, akan bangga melakukannya, bukan begitu? Sungguh, kamu terlalu mengecewakan. Kalau sampai kamu berhasil meniduri Nisha, apa kamu pikir, kamu akan bisa bersamanya? Bagaimana kalau Ayahmu lebih memilih mengasingkan kamu dan membiarkan kamu menetap di luar negeri seorang diri?" ancam Davian.


"Tak akan ada ampun bagimu, Elang. Aku sungguh marah, aku muak padamu! Jangan-jangan, saat kejadian aku memergoki kamu di hotel bersama seorang wanita jal4ng itu benar adanya? Bukan begitu? Apa kamu sering meniduri wanita-wanita Elang? Apa kamu sering menggunakan obat terlarang itu juga? IYA? HA? KATAKAN PADAKU, ATAU KU BUNUH KAU SEKARANG JUGA!" sekretaris Dika emosi.


"Dik, tahan. Jangan terlalu emosi. Sudahlah, kita lupakan semua ini." ucap Davian.


Tiba-tiba ... Pak Maman sang supir, mengetuk pintu dan membukanya, karena pintu tak tertutup rapat.


"Malam, Pak ..."


"Ada apa, Pak Man?" tanya sekretaris Dika.


"Pak, ada tamu." ucap Pak Maman yang membawa seseorang masuk kedalam rumah.


"Re-rena?" wajah Elang berubah menjadi sangat pucat.


Astaga, kenapa banyak orang di rumah ini. Bagaimana aku mengatakannya? Apakah mereka akan percaya padaku? Ya Tuhan, kukira tak banyak tamu. Ah, semua sudah terlanjur basah. Mau tidak mau, aku harus mengatakannya. Batin Rena.


"Se-selamat malam ... maafkan aku mengganggu kalian semua. Perkenalkan, namaku Rena. Aku kesini, malam ini dan menggangu kenyamanan kalian semua, karena ada satu hal yang harus aku katakan pada Elang, dan juga pada kedua orang tua Elang." ucap Rena.


"KAU! Bukankah, kau?" sekretaris Dika kaget, karena ia mengingat wajah Rena saat di hotel.


"Untuk apa kamu kesini?" Nadia berdiri, dan memperlihatkan wajah tak suka melihat Rena.


"A-aku HAMIL. Dan aku, a-ku ingin meminta pertanggung jawaban dari Elang! Karena ini adalah janinnya. Ini adalah perbuatannya. Dia tak bertanggung jawab atas kehamilanku, dia mengacuhkan aku dan membiarkan aku terluka dengan janin ini." Rena menangis dengan sedih agar mereka tak curiga.


"APA? RENA! KAU BERBOHONG! ITU TAK MUNGKIN, JELAS TAK MUNGKIN. APA MAKSUDMU, HA?" Elang membela diri.


Davian, Arini dan Andra tentu saja kaget mendengar seorang wanita datang ke rumah Elang untuk meminta pertanggung jawaban Elang. Bagaimana mereka tidak kaget, ini terkesan seperti bentuk hukuman nyata untuk Elang. Dika tengah menuduh Elang tentang meniduri wanita, selang beberapa menit, seorang wanita datang dan meminta pertanggung jawaban dari Elang. Mungkinkah ini hukuman nyata untuk perlakuan bejad Elang pada Nisha?


Sekretaris Dika berdiri dan menghampiri Elang, lalu sekretaris Dika menarik kerah baju Elang, sampai Elang kesulitan bernafas. Nadia dan Arini begitu kaget. Tanpa menunggu lama, Elang dihantam oleh kepalan tangan sekretaris Dika. Elang dipukuli habis-habisan oleh sekretaris Dika. Hal itu membuat Davian turut membantu Elang yang terluka. Dika memukul elang dengan membabi buta, saking menahan emosi yang sedari tadi ia tahan.


"DIK, DIKA! Cukup! Anakmu bisa terluka parah." Davian mencoba melepaskan sekretaris Dika yang terus memukuli Elang.


"MAS DIKA! CUKUP. AARRRGGGHHHHH!!!!!" Seketika Nadia pingsang dan ditahan oleh Arini. Nadia tak tega melihat anaknya dipukuli oleh Ayahnya sendiri.


Apakah rencana ku berhasil? Batin Rena.


*Bersambung*


Man teman, jangan lupa like nya ya ❤😘

__ADS_1


__ADS_2