Terjerat Cinta Sang Pembantu

Terjerat Cinta Sang Pembantu
Calandra series 28


__ADS_3

Sebelum membaca, like dulu ya semuanya..


Paragrafnya jangan di lewat, baca ya 😘😘😘


Berarti, dugaan ku selama ini benar. Papa Adi memang lelaki mata keranjang. Entah apa penyebab ia tega mengkhianati Mama. Tapi, pada saat itu, aku pun memang akan menjadi korbannya. Sepertinya, dia memang laki-laki buaya, dan aku tak menyangka, jika Papa Adi melakukan itu dengan Rena. Kata Andra, Rena adalah penyebab Elang memutuskan aku. Kenapa sekarang Rena malah tidur dengan Papa Adi? Kenapa Rena murahan sekali? Kalau Elang mengetahui hal ini, ia pasti begitu sakit hati. Batin Nisha.


Bu Ani menjelaskan maksud dan tujuannya menemui Nisha. Ia membahas perihal Nisha yang akan menjadi ahli waris semua aset-asetnya. Bu Ani memang telah memegang hak adopsi Nisha sejak dulu. Namun, karena emosinya dan hasutan dari Pak Adi, Nisha jadi pergi dan akhirnya Bu Ani pun menyesal.


"Kamu anak Mama, kamu pelindung Mama. Biarlah, takdir Allah menggariskan bahwa Mama tak bisa hamil dan melahirkan. Dahulu, Mama rela meninggalkan semua keluarga Mama, dan Mama lebih memilih lelaki yang menurut Mama paling berharga, tapi nyatanya Mama salah. Mama salah jalan, Mama tak menyangka dia tega berkhianat seperti itu."


"Mama yang sabar. Sepahit apapun kehidupan, jika kita sabar dan tetap bersyukur menjalaninya, Nisha yakin, kebahagiaan akan datang pada waktu yang tepat. Mama harus kuat, Nisha gak mau Mama terluka. Ada Nisha disini, yang akan menghapus air mata Mama, dan menggantinya dengan senyuman kebahagiaan, Ma." Nisha memeluk erat Ibundanya.


"Sayang, terima kasih banyak. Mama kini hanya punya kamu, Nisha. Mama sayang sama kamu, tak ada lagi orang yang bisa Mama percaya selain kamu. Terima kasih, karena kamu mau mendengarkan kesedihan Mama. Mama harap, kamu mau menjalankan semuanya. Mama yakin kamu bisa, demi Mama sayang ..." senyuman itu terlihat di wajah Bu Ani.


"Ma, Nisha gak akan ninggalin Mama. Nisha sangat-sangat sayang sama Mama. Nisha berharap, Mama selalu sehat dan Mama bahagia bersama Nisha. Mama tak perlu memikirkan apapun, yang sudah terjadi, biarlah terjadi. Kita ambil hikmahnya saja, dan kembali bahagia menjalani hidup."


"Terima kasih, sayang. Mama ingin selalu sama kamu. Mama kuat karena ada kamu, Mama gak punya siapa-siapa lagi selain kamu. Alhamdulillah, kamu tak membenci Mama, dan Mama bersyukur karena itu, Nisha." Bu Ani mengusap-usap rambut Nisha.


...🌸🌸🌸...


Kampus Nisha dan Elang ...


Nisha diantar oleh sang Mama menuju kampusnya. Karena kampus sedang mengadakan pensi dan bazaar besar-besaran, jadi kegiatan belajar mengajar dihentikan sementara, dan Nisha bisa masuk kampus kapan saja. Nisha pamit pada Bu Ani, dan Bu Ani pun segera berlalu, karena banyak hal yang harus ia urus, termasuk gugatan cerai dan proses balik nama semua aset-asetnya menjadi atas nama Kanisha Indira.


Saat Nisha berjalan menuju lapangan kampus, tiba-tiba ponselnya berbunyi. Ia membukanya, dan ternyata ada pesan masuk dari nomor tak dikenal. Nish membacanya, dan ia begitu terkejut dengan isi pesan itu. Nisha menghela nafas, memang mungkin Nisha harus sadar diri dan mundur dari semuanya. Toh, kini ibunya pun tengah kembali padanya. Nisha mematikan ponselnya, karena ia sedih membaca pesan tersebut.


Nisha sedang melihat penampilan band dari mahasiswa fakultas hukum. Ia berada di tengah-tengah mahasiswa lain. Ia tak akrab dengan mahasiswi lain, karena kuliah pun hanya dua minggu sekali. Tiba-tiba, ada yang menarik tangan Nisha dari belakang. Sontak saja Nisha pun kaget, dan melihat siapa yang berani-beraninya menarik tangannya.


"E-Elang?" Nisha terlihat kaget.


"Bisa minta waktumu sebentar, Nish?" ucapnya, namun sedikit tak terdengar karena sound musik yang begitu keras.


"Apa? Gak kedengeran." Nisha terlihat ingin menghindar.


Elang menarik Nisha dan mengisyaratkan untuk keluar dari kerumunan mahasiswa yang sedang menonton acara tersebut. Nisha pun berjalan mengikuti Elang dengan perasaan malas dan tak nyaman. Rasa trauma karena Elang pernah berbuat jahat padanya, membuat Nisha malas merespon Elang.


Elang mengajak Nisha duduk di taman kampus. Sepertinya, ada hal serius yang akan Elang bicarakan pada Nisha. Meskipun ada rasa takut, Nisha menguatkan dirinya untuk berbicara dengan Elang. Nisha terlalu baik, ia tak bisa membenci siapapun yang telah menyakitinya, termasuk Elang.


"Ada apa?" tanya Nisha.


"Nish, izinkan aku berbicara ... semenjak kejadian itu, aku malu, dan aku tak sanggup untuk menatap wajahmu. Maafkan aku, sungguh aku menyesal." ucap Elang menunduk.


Nish menghela nafas, "Tak mudah bagiku untuk melupakan kejadian itu. Aku tak menyangka, kamu sepicik itu, Elang. Tapi, aku mengerti kenapa kamu melakukannya. Sudahlah lupakan saja, aku telah memaafkan mu." ucap Nisha.


"Aku menyesal melakukannya. Aku tak berpikir jernih kala itu, mungkin maaf saja tak cukup bagiku, karena dosaku terlalu banyak padamu." ucap Elang, seraya menunduk malu.

__ADS_1


"Kamu memutuskan aku, karena Rena bukan?" kata-kata itu keluar dari mulut Nisha, karena ia memang penasaran.


Elang menatap Nisha, "Iya, kamu benar. Maafkan aku, karena aku tergoda. Rena adalah cinta pertamaku, dia menolakku saat itu. Tapi, tiba-tiba dia datang karena aku telah denganmu. Karena hal itu, hatiku goyah, dan aku meninggalkanmu karena dia. Sungguh, itu kesalahan terbesarku." ucap Elang lagi.


"Aku tahu. Sekarang, bagaimana hubunganmu dengan Rena?"


"Aku sudah putus dengannya, karena suatu hal. Aku beruntung putus dengannya," jawab Elang.


"Aku tahu, karena dia adalah simpanan Ayah angkatku." jawab Nisha.


DEG. Elang kaget, ia tak menyangka Nisha mengetahui hal itu. Elang ingin menyembunyikannya, tapi ternyata tanpa ia beritahu pun Nisha sudah tahu. Elang mengangguk, wajar saja Nisha tahu, karena ia dekat dengan Calandra, ia pasti tahu dari keluarga itu.


"Syukurlah kamu tahu," Elang tersenyum.


"Sepertinya, ada hal yang belum kamu tahu, Lang." ucap Nisha.


Elang penasaran, "Apa itu?"


"Semalam, dia tidur bersama Papaku, dan Mamaku memergokinya. Kasihan Mamaku, dia pasti kecewa."


"Aku sudah tahu. Karena mereka memang sering melakukannya. Rena hanya ingin uang dari Papa angkatmu. Sekarang pun, dia sudah hamil anak Papamu." tambah Elang.


"HA? Hamil? Rena sudah hamil? Serius kamu, Lang? Aku baru tahu. Kukira, mereka baru pertama kali melakukannya."


"Dan dia meminta aku bertanggung jawab. Untungnya Ayahku pintar, dan dia sengaja membawa Rena ke sana, agar semuanya terbongkar. Tapi, aku sungguh tak menyangka, baru beberapa jam saja wanita itu di rumah orang tua angkatmu, mereka sudah berani berbuat seperti itu. Kasihan Mamamu, Nisha." ucap Elang.


"Iya, Nisha. Semua sudah ada titik terangnya. Sekali lagi, maafkan perilaku bodohku kala itu. Beruntungnya kamu dekat dengan Calandra. Ternyata, dia begitu menyayangi dan menjaga kamu. Semoga kamu bisa bahagia bersamanya." Elang tersenyum.


"Oh, tidak. Aku tak akan memikirkan urusan itu untuk sekarang. Aku akan fokus pada kuliahku, dan aku akan menjaga Mamaku. Aku tak akan memikirkan urusan percintaan dulu, lagipula aku dan Calandra tak ada hubungan apapun. Kurasa, dia juga sama sepertimu. Kamu memacariku, hanya karena kamu kasihan denganku, bukan? Calandra pun kurasa begitu. Dia mendekatiku, karena kasihan padaku. Gadis miskin yang tak punya siapa-siapa." ucap Nisha.


"Nisha, kamu jangan menyamakan aku dengan Andra. Kurasa, dia memang tulus padamu, aku bisa merasakannya. Dia adalah lelaki yang tepat untukmu." ucap Elang.


"Ah, sudah. Jangan membahas itu. Aku tak mau terbebani perasaan lagi," ujar Nisha.


"Iya, maafkan aku, Nisha. Aku pun tak akan bisa lagi merasakan jatuh cinta." ucap Elang.


"Kenapa?"


"Aku telah dijodohkan. Aku tak boleh jatuh cinta lagi, karena setelah lulus kuliah, aku harus bertunangan dengan wanita yang dipilihkan oleh Ayahku." ucap Elang.


"Itu balasan atas semua perbuatan mu. Tapi, tak selamanya perjodohan itu menyakitkan, Elang. Terima saja, dan belajar mencintai wanita yang dipilihkan orang tuamu." nasihat Nisha.


"Baiklah. Aku sudah pasrah, aku tak akan melawan mereka lagi. Menyakitimu, membuat aku sadar, Nisha. Aku minta maaf yang sebesar-besarnya, dan terima kasih banyak atas pelajaran hidup yang sangat berharga ini." ucap Elang.


"Sudah, lupakan saja. Kamu juga mengajariku, agar aku tidak mudah menerima laki-laki, dan aku tak boleh dengan mudahnya percaya dengan perkataan manis laki-laki. Aku tak mau jatuh untuk yang kedua kalinya." tegas Nisha.

__ADS_1


"Kurasa Calandra tulus padamu, Nisha. Walaupun terkadang, aku sakit hati melihatmu selalu bersamanya. Tapi, aku tahu, dia begitu ingin menjaga dan melindungi kamu, karena dia begitu, aku jadi tenang melepasmu dan membiarkan kamu bersamanya." ucap Elang.


"Aku ragu, dan masih belum percaya. Aku tak akan terlalu berharap pada laki-laki, siapapun itu. Sudah ya, aku harus pergi. Aku tak bisa berlama-lama. Ada urusan penting yang harus aku urus." ucap Nisha.


"Loh, kok kamu jadi gitu sih, Nish? Kukira, kamu akan memantapkan hatimu dengan Calandra. Baiklah, semua terserah padamu. Aku hanya meminta maaf padamu, dan hatiku lega karena kamu tak marah lagi padaku."


"Aku pergi ya," Nisha berdiri lalu melambaikan tangannya dan berlalu meninggalkan Elang.


...🌸🌸🌸...


Beberapa hari kemudian ...


Nisha sudah memutuskan untuk kembali bersama Bu Ani. Nisha telah meminta maaf pada Arini dan juga Davian, karena tak bisa lagi mengajar Livia. Hari ini, Nisha dan Bu Ani memutuskan untuk datang ke rumah Davian dan Arini, karena Bu Ani akan meminta pada Arini, agar ia tak perlu lagi bersusah payah membiayai Nisha, karena kini Nisha akan sepenuhnya menjadi tanggung jawab Bu Ani.


"Maafkan saya, Ibu Arini. Saya tahu, Ibu pasti kecewa, tapi saya pun butuh Nisha. Karena hanya Nisha yang saya punya. Semoga, Ibu Arini bisa mengerti atas keputusan saya dan Nisha ini. Sebelumnya, saya berterima kasih, dan sangat bersyukur, karena Ibu Arini menerima anak saya dengan baik disini." Ibu Ani memohon pada Arini.


"Saya begitu kecewa mendengar keputusan ini. Saya sudah menganggap Nisha sebagai anak saya sendiri. Berat rasanya jauh dari gadis baik hati seperti Nisha ini. Tapi, mau bagaimana lagi, saya tak bisa melarang, karena Ibu adalah Ibu asuhnya, dan Ibu berhak atas Nisha. Dan ternyata, Nisha pun memang menginginkan tinggal bersama Ibu. Baiklah, saya akan melepas Nisha, karena dia pasti bahagia bisa tinggal bersama Ibu lagi. Namun, jangan lupakan saya, dan kita harus tetap menjalin hubungan kekeluargaan walaupun kita jauh." Arini mencoba ikhlas melepas Nisha.


"Eh, Ma, Bu Arin, Nisha izin pergi ke toilet sebentar ya." ucap Nisha.


"Baik Nisha, silahkan." jawab Arini.


Nisha pergi ke toilet. Ia sengaja memilih toilet yang jauh dari ruang keluarga, karena ia ingin sedikit menghindar dari Arini. Nisha malu, dan Nisha tak enak pada Arini. Setelah Nisha keluar dari toilet belakang, tiba-tiba ada yang menarik tangannya. Nisha kaget, ternyata Andra yang menarik Nisha.


"Ada apa? Kenapa mengangetkan aku?" tanya Nisha.


"Ikut aku!" Calandra membawa Nisha ke dekat kolam renang.


"Lepas, Andra! Ada apa sih?" Nisha memegang tangannya karena sakit.


"Kenapa kamu harus berhenti mengajari Livia? Walaupun kamu nanti tinggal bersama Ibumu, setidaknya kamu tetap bisa datang ke rumah ini, dan masih mengajari les adikku!" ucap Calandra.


"Maafkan aku, Andra. Aku harus menjaga Mamaku. Aku harus bersamanya." ucap Nisha.


"Kalau begitu, kita pacaran sekarang! Agar kamu gak bisa jauh dari aku!" tegas Andra.


"Andra, apa maksudmu!" Nisha tak mengerti.


"Aku tak ingin kamu jauh dariku, Nisha. Aku tak bisa menjagamu, kalau kamu tak ada dalam pandanganku! Kumohon, lebih baik kita pacaran saja agar kamu selalu dekat denganku!" Andra ketakutan, ia takut Nisha pergi, makanya kata-kata itu refleks keluar dari mulutnya.


Astaga, kenapa ucapannya membuat jantungku berdegup sangat kencang?


*Bersambung*


Yuk, update aplikasinya ke versi terbaru,karena poin yg kalian berikan di aplikasi versi dulu, udah gak berlaku. buka lagi playstore nya ya, perbarui aplikasinya. nanti tampilannya akan seperti ini. Seperti biasa, setiap senin, beri vote juga ya di cerita ini, klik yang aku lingkari dibawah 😘🌸

__ADS_1



__ADS_2