Terjerat Cinta Sang Pembantu

Terjerat Cinta Sang Pembantu
Persentase Cinta


__ADS_3

"Jadi, namamu Tira?" tanya Davian di ruang tamu


"Iya, Tuan."


"Apa kamu sanggup dengan semua tugas dan pekerjaanmu?" tanya Davian lagi


"Saya sanggup, Tuan. Saya akan menjaga Nona dengan baik." jawab Tira


"Bagus. Kabari sekretaris Dika jika terjadi sesuatu. Sanggup?"


"Tentu saja."


"Temani istriku di kamarnya. Bantu dia, dia sedang membereskan semua perlengkapannya."


"Baik, Tuan."


"Dik, lu antar dia ke kamar."


"Oke, Bos." jawab sekretaris Dika


Tira segera naik ke lantai atas ditemani sekretaris Dika.


Tok.. Tok.. Tok..


Arini membuka pintu kamarnya. Dia terlihat senang melihat Tira datang. Arini sepertinya mempunyai teman baru yang hampir seusia dengannya.


"Selamat malam, Nona." sapa Tira ramah


Tira mendekati Arini yang sedang memasukan beberapa peralatannya ke koper.


"Sini, sini. Jangan panggil Nona dong. Panggil Arin aja,"


"Maaf, Non. Itu gak mungkin. Tuan udah beri saya amanat, kalau saya harus sopan."


"Hmm, tapi aku merasa sedikit kurang nyaman. Eh, siapa namamu?" tanya Arini


"Nama saya Tira, Nona. Pokoknya, kalo Nona Arini butuh apa-apa, jangan sungkan-sungkan, bilang aja sama saya." Tira tersenyum


"Iya, tentu saja. Ya sudah, tolong masukan beberapa bungkusan itu ke koper yang di sana ya. Aku harus segera menyiapkannya. Besok kita akan berangkat pagi buta."


"Baik, Nona."


Sekretaris Dika menemui Davian di ruang kerjanya. Davian terlihat sedang melihat sesuatu. Sekretaris Dika mendekatinya. Kemudian, ia mendekati Bosnya tersebut.


"Lagi liat apaan sih Bos?" tanya sekretaris Dika


"Gue lagi maen game persentase cinta. Lo mau ikutan gak?"


"Bos, apaan sih? Kayak bocah aja lu!" umpat sekretaris Dika


"Lu harus tahu, aplikasi persentase cinta ini dibuat oleh Mama Lemon! Eh salah, Mama Lauren maksud gue. Sebelum dia meninggal, dia sempat membuat aplikasi kekuatan cinta ini. Ini akurat loh Dik! Gue lagi nyoba kekuatan cinta gue sama Arini saat ini tuh berapa persen. Sini, sini deh lu!"


Sekretaris Dika hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah Bosnya yang seperti anak-anak. Ternyata, jatuh cinta itu bisa membuat orang pintar menjadi bodoh. Hanya karena hal-hal kecil yang tak rasional saja, mereka bisa percaya dengan begitu mudahnya. Cinta memang bisa menaklukan singa yang ganas menjadi kucing yang jinak.

__ADS_1


Ketika cinta telah menguasai dirinya, cinta dengan mudahnya membuat seseorang menjadi lebih objektif dalam menilai sesuatu. Itulah yang saat ini sedang dirasakan oleh Davian. Jatuh cinta, dan mencintai seseorang yang membuatnya mabuk asmara. Bos cuek dan dingin, bisa berubah menjadi romantis hanya karena seorang wanita.


"Tuh, tuh Dik! Lihat! Persentase cinta gue sama Arini sekitar 85%. Terbukti kan, kalau kita memang saling mencintai." Davian kegirangan


"Hmm, kenapa gak 100% ya Bos?" tanya sekretaris Dika


"Gila aja lo, masa 100%. Gak ada cinta yang sempurna, Dik. Melebihi 50% saja cinta itu sudah nampak, apalagi melebihi 80%!" Davian membela diri


"Ya enggak gitu dong, Bos. Trus, 15% lagi kemana? Kayaknya, sisanya cinta Nona Arini deh itu. Mungkin saja, 15% lagi bukan buat lo, Bos." ucap sekretaris Dika


"HAH? Gak mungkin! Mana bisa begitu. Lu ngompor-ngomporin gue ya Dik?" Davian jadi bingung


"Enggak, Bos. Gue nanya, bukan ngomporin elu! Coba aja, lu tanya sama Nona Arini. Yang 15% nya kemana? Lu pasti dapet jawabannya!" usul sekretaris Dika


"Apa memang begitu, Dik? Apa hanya cinta gue yang full buat dia? Apa dia masih ragu? Sehingga ada 15% lagi yang tertinggal. Aplikasi Mama loreng ini gak mungkin bohong kan Dik?" Davian jadi kikuk


Sekretaris Dika tak kuasa ingin sekali tertawa. Namun, ia menahannya. Bosnya bisa dengan mudahnya percaya dengan aplikasi buatan seperti ini. Inikah rasanya jatuh cinta?


"Ya mana gue tahu Bos! Gue kan gak punya pasangan. Lagipula, gue juga gak pernah coba-coba main aplikasi begituan." jawab Sekretaris Dika


Davian mengotak-atik handphonenya lagi. Dilihatnya berkali-kali, kemudian ia mendapatkan ide untuk memasukan nama seseorang lagi.


"Gue punya ide!" ucap Davian


"Ide apa?" tanya sekretaris Dika


"Gue ketik nama lo. Gue bakal persentasi kan nama lo di aplikasi cinta ini."


"HAH? Sama siapa? Aneh-aneh aja lu Bos!"


"Dih, Bos ngapain sih? Apa Bos bener-bener percaya sama aplikasi beginian? Ngapain musti masukin nama gue sama si nyebelin itu!" maki sekretaris Dika


"Udah lu berisik, gue udah ketik nama lu, dan gue juga ketik nama Asisten Tira. Kita klik, dan.. Tunggu hasilnya sebentar lagi."


"Parah emang Bos gue, bucinnya kelewatan lu sampe hal gak penting kayak gini juga musti lu lakuin."


Davian tak menganggap ucapan asistennya. Davian terus memperhatikan sinyal cinta yang ada pada aplikasi tersebut. Betapa kagetnya Davian, ia tertawa dengan keras, melihat hasil yang terjadi antara sekretaris Dika dan Asisten Tira.


"Woy, Dik! Lu liat nih? Aplikasi ini gak mungkin bohong! Persentase cinta lu sama asisten Tira itu sekitar 68%. Hahahaha! Tandanya, ada benih-benih cinta yang terjadi antara lu sama Asisten Tira!" jelas Davian


"Gila lu Bos! Gak mungkin lah. Gue aja gak pernah ngobrol ataupun dekat sama dia. Mana ada persentase langsung 68%! Aplikasi ngaco kok dipercaya aja sih Bos! Lu itu jadi kayak orang bodoh tau gak!"


"Lu gak usah ngelak, Dik. Ini bukti. Bahwa lambat laun, lu juga bakalan mencintai Asisten Tira."


"Serah lu deh Bos. Cinta sama pembodohan itu gak jauh beda. Sama-sama membuat orang buta! Mau buta mata, maupun buta hati."


***


Kamar Davian & Arini.


Davian merebahkan tubuhnya di ranjangnya yang empuk. Begitu juga Arini, ia tidur di samping Davian. Malam ini, adalah malam terakhir bagi mereka berdua. Besok, mereka akan berpisah. Dan Davian, akan menjalankan misinya untuk menghancurkan Arkan serta kawan-kawannya.


"Sayang?" tanya Davian

__ADS_1


"Ya, Mas?"


"Ini sudah jam berapa?"


"Tengah malam, Mas." jawab Arini yang terlihat sedikit kantuk namun tak bisa memejamkan matanya


"Kenapa aku gak bisa tidur ya? Aku selalu terngiang akan perpisahan kita." jawab Davian


"Mas pasti merindukan aku. Jika aku akan mulai sibuk dengan tugasku, mungkin Mas yang akan sedih ketika sampai di rumah."


"Tentu saja, aku akan merasa kesepian. Ternyata, kamu membuat banyak arti dalam hidupku. Kamu benar-benar telah membuat hari-hariku lebih bermakna dan bahagia. Terima kasih, sayang."


"Mas, akan berapa lama menyelesaikan masalah Arkan?"


"Secepatnya. Aku harus menyingkirkan sampah seperti dia."


"Semoga saja, Mas. Aku harap, Mas Davi baik-baik saja. Mas harus hati-hati menghadapinya. Mas tak boleh gegabah, pokoknya Mas harus waspada. Aku gak mau Mas kenapa-napa." ucap Arini


"Tentu saja, aku akan menjaga tubuhku untukmu, sayang."


"Dih, kenapa malah menjurus ke sana." jawab Arini


"Apalagi yang kamu harapkan selain tubuhku dan cintaku?" Davian menyeringai.


"Ah, sudahlah. Jangan dilanjutkan! Ini sudah tak benar. Lebih baik, aku tidur saja. Besok kita kan harus bangun pagi sekali."


"Eh, sembarangan kamu. Jangan dulu tidur, ada hal yang harus aku pertanyakan padamu!" ucap Davian


"Apalagi sih, Mas?" tanya Davian


"15% cintamu itu untuk siapa? Kenapa bukan untukku?" tanya Davian


Arini melotot keheranan. Ia tak mengerti maksud dari ucapan Davian. Davian sangat aneh, bertanya hal-hal yang ada diluar nalar Arini.


"Maksudnya? Aku gak ngerti Mas Davian ngomong apa!"


"Cinta kita hanya 85%. Aku telah memberikan seluruh cintaku untukmu! Tapi, sepertinya kamu hanya memberi 35%. Aku tanya, 15% lagi cintamu itu untuk siapa kalau bukan untukku? Jawab, atau aku tak akan mengampuni malam ini. Aku akan menghabisi mu sampai aku mendengar desahan indah keluar dari mulutmu." ancam Davian


"Eh, eh! Jangan sembarangan. Maen ngasih pertanyaan yang gak masuk akal. Lagi, kalau aku gak bisa jawab, Mas dengan santainya bilang akan menghabisi ku? Kenapa kamu ini egois sekali? Pertanyaan bodoh macam apa ini!" keluh Arini


"Pokoknya, kamu harus jujur! 15% lagi cintamu itu untuk siapa? Kalau kamu gak bisa jawab, kamu harus pasrah menerimanya, bahwa tubuhmu akan ku nikmati sampai pagi." kata Davina


Davian mulai memegang tubuh Arini. Seperti biasa, Davian mulai menghisap leher dan telinga Arini, agar istrinya mudah terangsang.


"Aish, Mas! Apaan sih. Kenapa malah gini? Ah, geli. Lepasin!!! Aku harus istirahat, bukan malah menyerahkan tubuhku padamu lagi. Aaaaaah, Mas. Geli," Arini mengerang


"Kamu terima saja perlakuanku. Ini adalah hukuman karena kamu tak bisa menjawab 15% cintamu untuk siapa. Aku akan menikmati tubuh indah ini, sampai pagi. Biar kamu tahu rasa, seenaknya saja memberikan 15% cintamu untuk orang lain." Davian terus menggelayuti tubuh indah Arini


"MAS DAVI, BUALAN MACAM APA INI. HARUSNYA MAS JANGAN BANYAK ALASAN, BILANG SAJA INGIN BERCINTA DENGANKU!"


*bersambung*


selamat membaca..

__ADS_1


Semoga suka.


jangan lupa like dan komentarnya. cerita ini benar-benar sepi, ramein yuk. Jangan jadi silent readers, karena aku juga butuh dukungan klian🥰


__ADS_2