Terjerat Cinta Sang Pembantu

Terjerat Cinta Sang Pembantu
Misi-ku.


__ADS_3

Pagi ini, Arini sudah diantar oleh sekretaris Dika menuju rumah Ibunya. Arini akan meminta izin pada Ibunya untuk pergi meninggalkan Jakarta.


Arini akan tinggal di perkampungan dan pura-pura menjadi Dokter di sebuah rumah sakit daerah. Keluarga Arini belum tahu sama sekali mengenai hal ini, ia harus mendapatkan restu dari orang tuanya.


"Apa Ibu mengizinkan Arini pergi?" tanya Arini


"Ibu sedih, kalau kamu pergi terlalu jauh, Arini. Ibu takut, terjadi sesuatu sama kamu. Apalagi, kamu hanya sendiri. Tanpa suami kamu. Ibu bingung, kenapa Davian malah mengizinkan kamu pergi?" tanya Ibu


"Eh, i-itu karena Mas Davian mendukung cita-cita Arini, Bu. Dia tak mau membuat Arini merasa dikekang olehnya. Mas Davian juga akan sering-sering mengunjungi Arini, Bu." Arini berbohong pada Ibunya.


"Padahal kan, Davian orang kaya raya. Kamu itu istrinya, kamu bisa saja minta dia untuk bekerja di rumah sakit daerah dini, Rin. Daripada kamu harus jauh-jauh begitu." Ibu merasa keberatan


Maafkan Arini, Bu. Arini tak mungkin mengatakan keadaan yang sebenarnya pada Ibu. Arini takut, Ibu semakin khawatir akan keadaan ini. Arini janji, Arini akan melindungi diri Arini. Arini juga percaya pada Mas Davian, bahwa yang dilakukannya adalah yang terbaik untuk keselamatan Arini juga, Bu. Batin Arini.


"Arini gak mau apa-apa harus ditolong Mas Davian, Bu. Arini ingin berjuang sendiri. Arini malu kalau harus Mas Davian turun tangan." jelas Arini


"Ibu berat hati meninggalkan kamu, Arini. Ibu sedih, harus berjauhan sama kamu. Ketika kamu sudah menikah saja, Ibu merasa sedih karena kamu pasti akan hidup bersama suamimu. Apalagi sekarang? Kamu bahkan akan jauh dari Ibu dan suamimu sendiri. Apa kamu benar-benar yakin atas pilihanmu Arini?"


"Arini yakin, Bu. Arini hanya meminta restu Ibu sebagai orang tua. Arini mohon, izinkan Arini pergi, Bu. Arini janji, akan menjaga diri dengan baik."


Ibu Arini terdiam. Ia sangat berat mengizinkan Anak sulungnya pergi, tapi Arini memang ingin sekali menjadi tenaga kesehatan sejak dulu.


"Ibu tak bisa berbuat apa-apa, jika suamimu saja sudah mengizinkan kamu pergi. Ibu hanya bisa membantu memberikan doa terbaik untukmu, Arini." jelas Ibu Arini.


"Ibu, kenapa rasanya sedih sekali?" tanya Arini.


"Ibu pasti akan sangat merindukan kamu, Nak. Kamu harus bisa menjaga dirimu, ada Ibu, suamimu, dan adik-adikmu yang selalu mengharapkan yang terbaik untukmu."


Arini terharu. Ia menitikkan air matanya. Arini langsung memeluk Ibunya dengan lembut. Meleburkan rasa bersalah dan kasih sayangnya pada Ibunya. Semua ini bohong dan rekayasa, tapi Arini tak mungkin mengatakan keadaan yang sesungguhnya pada sang Ibu.


"Maafkan aku, Bu." Arini menunduk.


"Tidak apa-apa, berjuanglah, Arini. Gapai cita-citamu. Hanya satu pintaku, jangan lupakan kewajiban mu pada Allah, dan jaga dirimu baik-baik. Semoga kamu selalu ada dalam lindunganNya setiap saat." Ibu Arini mengusap rambut putrinya.


"Terima kasih, Ibu. Ucapan mu sangat berarti. Aku sangat beruntung menjadi anakmu." jawab Arini.


Arini memeluk dan mencium Ibunya lagi. Babak baru kehidupan Arini dimulai. Arini berharap, semuanya akan berjalan sebagaimana mestinya, tanpa ada lika-liku sedikitpun.


Bukan ingin Arini membohongi Ibunya, namun Arini tak mau jika Ibu Arini berpikiran yang tidak-tidak mengenai dirinya.


***


.

__ADS_1


.


.


Rumah keluarga Davian.


Davian sengaja mengumpulkan keluarga besarnya. Kakek dan Neneknya telah hadir di rumah tersebut. Ibu Arkan pun telah hadir, namun Arkan tidak terlihat batang hidungnya.


"Maafkan aku, mengumpulkan kalian mendadak seperti ini."


"Ada apa Davian? Apa kamu mengalami kesulitan?" tanya Kakek Davian


"Aku akan memberi tahu sesuatu yang penting pada kalian."


"APA ITU?" nada sinis terdengar dari mulut tante Meisya


"Dav, katakan saja." orang tua Davian telah mengetahuinya lebih dulu


"Aku telah bercerai."


Semua mata memandang kearah Davian. Tentu saja ini menjadi masalah besar bagi keluarga Davian. Satu bulan lagi pertemuan besar dengan investor asing akan digelar. Namun, Davian malah menyebutkan dirinya telah bercerai.


Nasib Arini lebih pantas di perjuangan. Davian rela, melakukan apapun, asal Arini tetap aman dan baik-baik saja. Arkan bukan musuh sembarangan. Ia benar-benar jahat dan Davian harus bisa lebih pintar darinya.


"Davian? Apa benar kamu telah bercerai?" tante Meisya terlihat senang


Davian mencoba sekuat hatinya mengikuti alur yang terjadi. Ia harus berhasil memainkan perannya kali ini. Davian harus meyakinkan keluarganya bahwa perceraian itu benar adanya.


"Aku telah bercerai dengan Arini. Arini memilih jalannya sendiri untuk mengejar karir dan cita-citanya. Aku sudah menahannya, namun dia tetap memaksa untuk pergi. Akhirnya, aku melepaskannya." ucap Davian dengan yakin


"Kamu tidak bercanda kan Dav?" tante Meisya sumringah


"Davian, mana istrimu?" Kakek Surya sedikit kesal


"Dia sedang berada di rumah Ibunya. Nanti, dia akan kembali. Itupun hanya untuk membawa pakaiannya yang masih tertinggal di rumah ini." jawab Davian


"Aku bisa mencegah kalian bercerai asalkan aku bisa bertemu istrimu sekarang juga." perintah kakek Davian


Davian berjalan menuju meja aquarium dekat rumahnya. Ia mengambil kertas yang telah di laminating oleh sekretaris Dika. Ya, itu adalah akta cerai Arini dan Davian yang dibuat oleh sekretaris Dika. Sangat mirip dengan akta cerai yang asli.


Davian menyerahkan akta cerai pada Kakeknya. Kakeknya terbelalak membaca akta tersebut. Beliau percaya jika Davian dan Arini telah bercerai.


"Papa, Meisya ingin melihatnya." Tante Meisya mendekati Kakek Surya

__ADS_1


Mereka melihat dengan seksama. Termasuk Nenek Davian. Keputusan ini sangat mendadak. Tentunya, sangat membuat Kakek Davian kaget dan tercengang.


"Kenapa akta cerai ini telah selesai? Kalian membohongiku?" tanya Kakek Surya.


"Aku tidak membohongi Kakek. Aku sudah lama membuat gugatan cerainya, namun aku tak memberi tahu kalian, sampai saatnya surat cerai ini tiba. Maafkan aku, mengecewakanmu Kakek." jelas Davian.


Kakek Davian terdiam. Ia merenungi kejadian yang menimpa Davian. Pertemuan dengan investor asing akan dilangsungkan bulan depan. Dan Davian? Malah bercerai. Bagaimana ini?


"Kamu bisa rujuk lagi dengannya. Demi perusahaan kita!" ucap sang Kakek.


"Tidak, kek. Dia akan segera pergi. Dia di tugaskan untuk menjadi Dokter di kampung. Aku tak bisa menahannya. Aku sudah berusaha, namun cinta tak berpihak padaku." Davian berbohong.


"Bagaimana kamu akan mengatasi hal ini?" tanya Kakek Davian


"Aku akan mundur sementara. Aku akan menjadi wakil CEO. Kakek bisa menilai nanti. Silahkan, jadikan Arkan dan Meliza CEO dari Raharsya Grup. Aku akan mundur."


"DAVIAN!!!" Papa Davian tak menyangka jika anaknya akan seperti ini


"DAVIAN, KENAPA?" Mama Amel pun shock


"Biarkan Arkan yang bertemu dengan pihak investor. Lihat saja oleh Kakek, bagaimana kinerjanya. Aku akan tetap berdiri di belakang perusahaan ku. Aku akan mempercayakan ini pada Arkan."


"Davian, akhirnya kamu sadar juga! Bahwa Arkan lah yang pantas memimpin perusahaan." Tante Meisya sombong


"Kamu yakin, Davian?"


"Aku yakin, Kek." jawab Davian mantap


"Kamu tak akan menyesal?" tanya Kakek


"Tidak. Aku yakin dengan ucapan ku saat ini."


Biarkan Arkan yang menjadi CEO Raharsya Grup. Biarkan dia memimpin jalannya proses pertemuan dengan investor asing. Aku akan menjalani misi-ku. Dengan begini, Arkan akan lupa dengan tujuannya menghancurkan aku dan istriku. Justru akan ku buat sebaliknya, aku yang akan menghancurkan Arkan dan perusahaan gelapnya tanpa sisa!


Arkan tak akan kapok, biar aku buat dia lumpuh selamanya, aku akan membuat dia benar-benar jatuh sampai dia tak berani mengganggu perusahaan ku lagi. Demi istriku, aku akan mengalah dulu.


Tunggu tanggal mainnya, Arkan. Aku akan lebih dulu menghancurkan mu. Kamu tak bisa menghancurkan aku begitu saja, aku tentunya lebih pintar darimu.


*Bersambung*


Selamat sore


Jangan lupa like setelah membaca ❤*

__ADS_1


__ADS_2