
Amarah memuncak tak tertahan. Arini dipaksa oleh Davian untuk mengikutinya. Tangannya digenggam erat oleh Davian. Arini meronta, namun tangan Davian terlalu kuat. Davian tak memberi Arini kesempatan untuk bicara. Ia tetap keras kepala, dan memikirkan dirinya sendiri.
Arini sudah tak tahan lagi. Ketika ia berada di lobi Rumah sakit, ia benar-benar ingin melepaskan tangan Davian dengan kuat. Sekuat tenaganya Arini melepaskan genggaman Davian,
"Aaarrgghhhhh"
Tangan Davian terlepas dari tangan Arini, namun Arini terpental, ia tak seimbang, tubuhnya benar-benar kehilangan keseimbangan, hingga ia terjatuh ke lantai dengan kerasnya.
Brruugghhhh
Arini jatuh ke lantai. Ia mengaduh, tubuhnya kesakitan, perutnya memberikan reaksi, perutnya sakit, Arini benar-benar tak bisa menahan rasa sakit disekitar perutnya.
Davian sadar Arini terjatuh, dengan sigap ia segera menghampiri Arini yang terjatuh dengan posisi telentang. Davian benar-benar kaget, ia tak menyangka bahwa istrinya yang sedang hamil muda, harus terjatuh karena ulahnya.
Beberapa perawat dan suster segera menghampiri Arini. Arini segera dinaikan ke brankar dorong Rumah sakit, untuk segera dilakukan pemeriksaan lebih lanjut.
"Sayang, maaf! Sungguh, maafkan aku. Aku benar-benar tak menyangka kejadian ini bisa menimpa dirimu, Arini. Maafkan aku. Dokter, Suster, segera periksa istriku. Jangan sampai dia kenapa-napa." Davian menangis, ia benar-benar khawatir dengan kondisi Arini,sang istri.
Arini hanya meringis kesakitan. Tubuhnya benar-benar lemas. Davian sangat khawatir pada kondisi janin yang ada pada tubuh Arini. Ia takut terjadi apa-apa pada bayi mungilnya.
"Sayang, maafkan aku, aku benar-benar salah, aku terlalu emosi hingga kamu bisa terjatuh seperti itu. Maaf, Arini. Maaf. Aku benar-benar bodoh, aku tak punya otak. Hatiku sakit melihatmu dan bayi kita terjatuh. Maafkan aku, Arini." Davian menutup matanya sambil menangis. Ia tetap membantu para perawat mendorong Arini menuju ruangan pemeriksaan khusus Ibu hamil.
"Aarrgghh, sakit, Mas. Sakit sekali, aku benar-benar tak tahan dengan rasa sakit ini." Arini terus meringis kesakitan.
Davian segera menghubungi sekretaris Dika yang sedang standby didalam mobil. Sekretaris Dika benar-benar kaget, ia pun segera memberitahukan hal ini pada kedua orang tua Davian.
Arini sedang diperiksa oleh tim dokter dari spesialis kandungan. Davian tak diperbolehkan masuk sebelum pemeriksaan selesai. Davian menunggu di kursi tunggu Rumah sakit.
Sekretaris Dika dan kedua orang tuanya menghampiri Davian. Mereka benar-benar tak menyangka akan kejadian ini. Davian tak mengerti, kenapa Arini bisa lemas dan tak bertenaga, sehingga menyebabkan ia terjatuh ke lantai.
Mama Davian duduk di samping Davian. Ia menepuk-nepuk pundak anak sulungnya.
__ADS_1
"Dav, kenapa kamu tak bisa menahan emosimu? Inilah akibatnya, jika kamu terlalu emosi. Istrimu sendiri yang jadi korbannya kan. Mama gak habis pikir sama kamu, kenapa dari dulu, sifat keras kepalamu selalu mendarah daging seperti ini, Dav." ucap Mama Davian.
Davian tak bisa menjawab pertanyaan Mamanya. Davian benar-benar sedih. Davian kini menyesali perbuatan bodoh dirinya. Andai saja waktu bisa ia ulang kembali, mungkin ia akan tetap tenang menyelesaikan masalah ini dengan kepala dingin.
"Dav benar-benar diluar kendali, Ma. Dav tak berpikir Arini akan kehilangan keseimbangan lalu terjatuh. Ini benar-benar tak diduga. Arini, istriku, dan anakku, bertahanlah kalian." ucap Daviann.
Tak lama, sang dokter memanggil suami Arini untuk masuk. Itu berarti, Davian diperbolehkan masuk. Dengan senang hati, Davian masuk kedalam ruang pemeriksaan. Arini terlihat masih terbaring lemah. Ia menatap Davian dengan tatapan menyedihkan.
Maafkan aku, Arini-ku. Aku tak sengaja melakukannya. Aku benar-benar khilaf. Semoga kamu dan bayiku tak apa-apa. Semoga kalian tetap sehat. Batin Davian.
"Dok, bagaimana?" Davian duduk di damping Arini.
"Saya sudah melakukan pemeriksaan. Saya juga sudah melakukan tindakan USG, Pak Davian harap tenang. Janin kalian shock, ia kaget. Tadi, ia tak terdeteksi oleh alat pendeteksi jantung janin atau disebut juga kardiotokografi (CTG) Janin benar-benar dalam keadaan shock. Denyut jantungnya baru bisa terasa setelah sepuluh menit kami mencarinya."
"Ja-jadi, bayi saya tidak kenapa-napa, Dok? Bayi saya selamat kan Dok?" Davian masih berkaca-kaca.
"Bayi anda selamat, Tuan. Janin didalam tubuh Nona Arini sangat kuat, ia hanya shock. Tapi, setelah kami lakukan tindakan USG, pergerakannya terlihat aktif. Jika Tuan ingin melihatnya, kami sudah punya rekaman USGnya."
"Baiklah, Pak. Saya sudah memberikan resep obat di meja pasien. Tolong tebus obatnya, dan segera diminum setelah makan. Satu jam lagi, kami akan datang kembali memeriksa keadaan pasien. Permisi." ucap Dokter. Mereka semua keluar dari ruangan periksa Arini.
Davian meminta sekretaris Dika untuk segera menebus obat yang diresepkan sang dokter. Davian juga berpesan pada sekretaris Dika, agar kedua orang tuanya menunggu diluar dahulu, dan jangan diperbolehkan masuk.
Davian mengunci pintu ruangan tersebut. Kemudian, dengan langkah penuh keraguan, Davian menghampiri Arini yang masih lemah. Kondisi Arini belum stabil, ia masih dalam keadaan shock yang berlebih.
"Maafkan aku, sayang. Kamu boleh membenciku, ini semua salahku." ucap Davian tiba-tiba.
"Ini bukan salahmu, a-aku yang terlalu marah dan membanting kan tubuhku sendiri ke lantai." ucap Arini dengan suara lemah.
"Aku yang salah, kamu tak perlu seperti itu. Syukurlah, anakku tak kenapa-napa. Aku bahagia, anakku tetap bertahan. Terima kasih, sayang. Aku benar-benar telah menyesal berbuat seperti itu padamu. Aku hanya terlalu emosi, sayang. Maafkan aku." ucap Davian.
"Mas, tahukah kamu? Apa kesalahan kita? Tahukah kamu? Bahwa ini adalah sebuah peringatan untuk kita." ucap Arini.
__ADS_1
"Peringatan apa maksudmu, Arini?" Davian tak mengerti.
"Kamu dengan sangat emosi dan marah, menolak Keyza habis-habisan, dan tahukah kamu? Allah menegur kita, dengan cara seperti tadi. Ia tak suka jika kita sombong dan tak menerima ciptaanNya. Allah marah pada kita, aku dan kamu terlalu egois, sehingga tak mau membantu Keyza yang saat ini sedang kesulitan. Aku merasa, bahwa kita memang harus menolong Keyza dari masalah ini."
"Aku benar-benar tak bisa menerimanya, sayang. Bukan karena apa, tapi semua ini karena ketamakan Ayahnya. Aku benar-benar tak bisa memaafkannya." balas Davian.
"Tapi, apa kamu harus marah juga pada Keyza? Dia tahu apa? Dia salah apa? Kenapa kamu harus marah padanya? Kenapa kamu tak mau menerimanya? Apa kamu tak takut, Allah mengambil anakmu, karena sifat marah mu pada anak tak berdosa itu?" tanya Arini dengan suara pelan.
Davian terdiam. Rasanya, seperti mendapat tamparan pada dirinya. Ia tak menyangka, Arini bisa berkata seperti itu. Memang benar, Keyza tak berdoa, dan tak bersalah. Namun, kebencian Davian pada Arkan, membuatnya juga membenci Keyza.
"Sekarang, aku harus bagaimana menurutmu?" tanya Davian.
"Apa kamu tak bisa, membiarkan ia hidup di lingkungan kita? Biarkan ia hidup, biarkan ia bahagia. Kasihani dia, ia tak bersalah. Ia telah ditinggalkan Ayahnya, kemudian ia juga ditinggalkan Ibunya. Kini, ia pun tak bisa bersama Neneknya, karena Tante Meisya sedang terbaring di Rumah sakit. Apa kamu tega? Membiarkan makhluk kecil tak berdosa itu menerima kepedihan dan kesepian dari perbuatan orang tuanya?" Arini mencoba meluluhkan Davian.
"Aku tak mau kamu mengurusnya!" Davian kekeh.
"Aku sedang hamil muda, aku tak mungkin mengurus anak kecil. Kita kan punya Tira, dia hanya bertugas membersihkan kamar kita dan menyiapkan keperluan kita. Menurutku, dia tak akan kerepotan, jika diminta untuk mengurus anak kecil. Keyza sudah pintar, dia sudah berusia 4 tahun. Itu tak akan membuat Tira kesulitan. Apa tak bisakah hatimu sedikit luluh dan mencoba menerima Keyza?" ucap Arini.
"Entahlah. Hatiku terlalu sakit, jika harus mengenang sesuatu yang berhubungan dengan Arkan. Istirahatlah dulu, lalu minum obat ketika Dika sudah datang. Aku akan menenangkan pikiranku, nanti aku kembali lagi. Jaga dirimu sayang, maafkan kesalahan ku yang membuatku terbaring lemah seperti ini."
Davian tersenyum pada Arini, lalu ia keluar dari ruangan tersebut. Orang tua Davian sedang menunggu diluar, dan melihat Davian dengan tatapan penuh keraguan. Kedua orang tuanya bertanya, namun Davian tak menjawab. Hatinya bingung, dan tak tahu harus bagaimana lagi.
*Bersambung*
Selamat sore..
Bantu Davian menjawab ya, menurut kalian, kira-kira Davian akan bagaimana?
Oh iya, di episode sebelumnya, ada komentar dari Afika Erniawan, suruh Tasya saja yg urus, nah untuk urusan Tasya, aku skip ya semuanya. Tasya tak aku hadirkan lagi, karena aku sudah siapkan cerita khusus untuk Tasya dan Aldric nanti. Aku akan buat sequelnya tentang kisah mereka. Dijamin, lebih menarik dan menegangkan.
Jangan lupa LIKE DAN KOMENTARNYA. Vote juga yaa 🥰😍
__ADS_1