
Like, ya.. Sebelum membaca like dulu. Makasih 💞
...🌸🌸🌸...
"Bu, maaf itu di pipi Ibu ada sisa steak menempel." ucap Rival.
"Masa sih, Val? Disebelah mana?" Nisha meraba-raba pipinya.
"Pinggir dagu Ibu," jawab Rival.
"Bentar deh."
Nisha membuka tas nya dan mencari-cari kaca agar bisa melihat bekas makanan yang menempel di pipinya. Ternyata, ia lupa membawa kaca. Kaca tersebut tak ada didalam tas nya.
"Astaga, aku lupa membawa kaca."
"Biar saya bantuin, Bu." Rival memberikan tisu pada Nisha.
Nisha mengambil tisu yang Rival berikan, "Makasih, Val."
Andra melihat momen tersebut. Entah kenapa, hatinya panas melihat Nisha mendapat perlakuan hangat dari laki-laki lain. Padahal, waktu 8 tahun itu lama sekali, dan mungkin saja Nisha sudah memiliki kekasih. Andra begitu kecewa, tapi ia pun penasaran, ingin memastikan bahwa itu Nisha atau bukan. Ia melihat, lelaki itu begitu hangat pada Nisha.
Aku masih ragu, sebenarnya itu Nisha atau bukan? Semoga saja, itu bukan Nisha, agar hatiku tak sakit melihat dia diperlakukan romantis oleh kekasihnya. Batin Andra.
Jantung Andra berdebar tak karuan tatkala ia berjalan mendekati meja seorang wanita yang ia duga adalah Nisha. Andra tak habis pikir, jika itu memang Nisha. Dengan siapa Nisha? Kenapa ada laki-laki yang begitu romantis memperlakukannya? Pertanyaan itu terus melayang-layang di kepala Andra. Nisha masih tak menyadari bahwa Andra mendekatinya, tapi Andra memang yakin, bahwa itu Nisha.
Langkah Calandra terhenti tepat di meja Nisha dan Rival sedang dinner. Tatapan Andra fokus melihat Nisha, dan meyakinkan dirinya bahwa itu memanglah Nisha. Nisha pun melihat sosok yang berdiri di hadapannya, dan kemudian ....
"Kanisha ..." Andra menyapa Nisha, walaupun Andra sendiri begitu kaget.
"Ca-Calandra?" mata Nisha tiba-tiba terbelalak kaget.
Nisha terkesiap, seketika itu pula ia berdiri dan pandangannya tetap tertuju pada lelaki yang berada di hadapannya.
"Kanisha? Benarkan aku, bahwa kamu adalah Nisha?" mata Andra seketika itu pula berbinar-binar.
Nisha tersenyum dan mengangguk, "Apa kabar? Sudah lama sekali kita tidak bertemu." Nisha menjulurkan tangannya,
Andra membalas salam Nisha, "Baik, sejauh ini baik-baik saja. Sepertinya, aku mengganggu makan malam mu, Maaf ya. Aku hanya ingin memastikan apakah ini kamu atau bukan."
"Andra, gak apa-apa kok. Santai saja, kamu ternyata ada disini juga. Ah, iya, kamu kan pasti menjalankan bisnis Pak Davian, tentu saja kamu ada disini." ucap Nisha yang begitu gugup karena melihat Andra.
Tiba-tiba, Elang pun datang dengan tergesa-gesa ....
"Aduh, mohon maaf sekali, Bos saya salah orang. Maaf sekali ya, dia mengira bahwa anda adalah mantan kekasihnya yang dulu. Mohon maaf mengganggu kenyamanannya. Bos, ayo kita pergi!" sahut Elang.
Elang? Kamu Elang? Hey, ada apa dengan kalian? Astaga, mantan kekasih, mantan kekasih apa maksudmu, Lang? Batin Nisha tak percaya.
"Lang, apa maksudmu?" Andra terganggu dengan ucapan mantan kekasih yang dilontarkan Elang.
Nisha tambah kaget lagi melihat Elang, "Elang? Kamu bekerja untuk Calandra? Surprise sekali ini. Ya ampun, ternyata kalian bisa bersahabat juga." Nisha begitu kaget melihat Elang menyebut Andra dengan sebutan Bos.
__ADS_1
"Hah? Nisha? Ja-jadi, benar kalau kamu adalah Nisha?" Elang tak menyangka.
Nisha tersenyum lagi, "Iya, Elang. Aku Kanisha. Kenapa? Kenapa kamu tidak mengenali aku? Andra saja mengenaliku,"
"Astaga ... lega sekali aku Nish, aku kira itu bukan kamu. Kamu kemana aja selama ini? Kenapa kamu tega sekali tak memberi kabar pada Andra? Kenapa kamu seakan-akan sengaja melupakan kita? Kenapa kamu harus memutus kontak dengan kita? Apa kamu sengaja ingin menjauh dan melupakan kita?" pertanyaan yang berbondong-bondong keluar dari mulut Elang.
Andra begitu malu melihat Elang mengatakan hal itu. Mengingat ada laki-laki di samping Nisha yang sejak tadi terlihat tak nyaman ketika Andra mendekatinya. Andra merasa, bahwa itu kekasih Nisha, karena ia pun melihat lelaki itu begitu memperlakukan Nisha dengan hangat.
"Astaga, Elang. Lancang sekali mulutmu. Nisha, maafkan Elang, maafkan kita mengganggu waktumu. Aku hanya memastikan saja bahwa itu kamu. Sekali lagi maafkan kita ya, kalau begitu aku permisi. Pak, kami permisi." Andra pun mengucapkan permisi pada Rival.
"Lang, ayo pergi!" Andra menarik Elang.
"Hey, tunggu! Kalian mau kemana? Andra, Elang?" Nisha heran dengan tingkah dan perilaku Andra.
Andra hanya berbalik pada Nisha, dan melambaikan tangannya. Nisha tak mengerti, tapi akhirnya ia duduk kembali dan menyelesaikan makanannya yang tertunda. Nisha makan dengan fokus dan tak banyak bicara. Setelah selesai makan, Rival pun memberanikan diri untuk bertanya pada Nisha.
"Ibu punya mantan kekasih juga?" tanya Rival.
"Kamu kira aku ini gak normal apa! Aku gak ngerti, kenapa mereka malah pergi?" Nisha heran.
"Mungkin karena mereka melihat saya, Bu. Apa mungkin mereka mengira kalau saya ini kekasih Ibu, atau suami Ibu gitu?" Rival tertawa kecil.
"Ah, iya. Mungkin saja begitu. Tapi, aku senang dia menemui ku, Val." ucap Nisha.
"Ibu masih mencintainya? Kenapa kalian dulu berpisah kalau gitu?" tanya Rival.
"Ceritanya panjang. Dulu, aku pergi meninggalkannya dan menjauh darinya. Aku sengaja melakukan itu, karena ada seorang wanita yang mencintainya dan dia mengancamku kalau sampai aku dekat dengannya lagi. Aku tahu diri, lagipula aku merasa malas untuk memiliki sebuah hubungan, aku takut sakit hati untuk yang kedua kalinya, Val. Aku masih muda sekali kala itu. Belum cukup waktuku untuk menjalin kisah. Menurutku, saat itu aku hanya buang-buang waktu saja." jelas Nisha.
"Gimana kalau dia sudah menikah dengan wanita itu? Kamu tahu apa, Val? Waktu 8 tahun itu lama sekali. Dan aku tak pernah saling contact dengannya." ucap Nisha.
"Ciye, Ibu cemburu ya? Kelihatan banget dari wajahnya." ucap Rival tertawa.
"Haish, Rival. Kamu nyebelin banget. Udah ah, aku mau lihat live music di sana." Nisha menghindar dari Rival, karena kesal Rival malah menertawakannya.
Nisha berjalan menuju live music yang berada di halaman kolam renang. Ia melihat-lihat sosok Andra ataupun Elang, tapi tak juga ia bertemu. Kemana mereka? Kenapa cepat sekali mereka pergi? Nisha tak mengerti.
Andra ... waktu 8 tahun tak merubah apapun pada diriku selain pendidikan ku dan profesi ku. Tapi, apa yang berubah padamu? Apa kamu telah menikah dengan Sheila? Ingin sekali aku bertanya padamu. Tapi, aku terlalu malu dan gugup berhadapan denganmu. Aku merasa bersalah karena telah meninggalkanmu dan menghilang tanpa jejak. Batin Nisha sambil berjalan sendiri.
Ia melihat live music itu. Ia berdiri di paling belakang, karena didepan sudah banyak tamu yang berjejer menikmati music yang disediakan oleh tuan rumah. Terdengar alunan sendu, lagu Aku pasti kembali dari sang vokalis yang menyanyikan lagunya dengan penuh penghayatan.
...🎶Waktu telah tiba...
...Aku 'kan meninggalkan...
...Tinggalkan kamu 'tuk sementara...
...Kau dekap aku...
...Kau bilang jangan pergi...
...Tapi ku hanya dapat berkata...
__ADS_1
...Aku hanya pergi 'tuk sementara...
...Bukan 'tuk meninggalkanmu selamanya...
...Aku pasti 'kan kembali pada dirimu...
...Tapi kau jangan nakal...
...Aku pasti kembali🎶...
Lagu itu ... Kenapa jadi mengingatkan aku pada seseorang yang baru saja menemui ku? Andra, aku pergi meninggalkanmu, tapi kini aku telah kembali. Mungkinkah kamu masih menungguku? Apa kamu telah bersama yang lain?
Astaga, kenapa aku berkata begitu! Aarrgghh, kenapa dengan hatiku? Sebelum bertemu Andra, pikiranku tak seperti ini. Tapi kenapa setelah bertemu dengannya, hatiku teringat lagi padanya? Batin Nisha.
Tiba-tiba, seseorang telah berada di samping Nisha, dan menemaninya menikmati lantunan lagu yang dinyanyikan dengan begitu merdunya.
"Kamu suka lagunya?" ucapnya tiba-tiba.
Nisha menoleh, ia kaget. "An-Andra?"
Andra tersenyum, "Lagu yang tepat untuk kita,"
"Eh, apa benar begitu?" Nisha gelagapan, wajahnya mulai memerah bak udang rebus.
"Kamu pergi untuk sementara, bukan untuk meninggalkanku. Kamu pasti kembali, kembali pada diriku. Bukan begitu, Nish?" Andra mulai menggoda Nisha.
Astaga, kenapa ucapannya membuat aku berbunga-bunga? Andra, kuakui, aku sangat merindukanmu. Merindukan wajahmu, suaramu, senyummu, dan semuanya tentang dirimu. Maafkan aku yang terlalu egois. Batin Nisha.
"Kamu bisa aja," Nisha hanya membalas dengan senyuman tersipu malu.
Nish, aku sempat mengira laki-laki itu adalah kekasihmu. Aku sempat kesal melihat dia begitu hangat padamu. Tapi, syukurlah Elang segera memberitahuku, bahwa dia hanya sekretaris mu. Aku senang mendengarnya, ternyata kamu masih setia, untukku ....
"Aku kangen kamu, Nisha ..." Andra menatap Nisha.
Sssrrrrrhhhh, aliran darah yang dipacu oleh jantung terasa mengalir begitu cepatnya ke seluruh tubuh Nisha. Ia merasakan desiran yang tak biasa. Ucapan Andra membuatnya begitu terpesona dan Nisha benar-benar merasakan sesuatu yang tak biasanya. Mungkinkah kali ini cinta akan berpihak pada mereka berdua?
Aku juga merindukanmu, Andra. Batin Nisha dalam hati.
"Katakan yang keras Nisha, aku tak bisa mendengarnya," ucap Andra tiba-tiba ketika mata mereka berdua saling menatap.
"Apa? Kamu tahu apa yang aku ucapkan?" Nisha benar-benar kaget.
Andra tersenyum menatap Nisha, "Aku tak bisa mendengarnya, tapi aku bisa merasakannya, apa yang barusan kamu ucapkan didalam hatimu!"
"Andra, ka-kamu tahu?" Nisha gugup.
"Terima kasih, kamu telah kembali ..." tiba-tiba, dengan spontan nya Andra memegang tangan Nisha.
"Andra ..." Nisha begitu tersipu.
~Ku tak akan pernah berpaling darimu, walau kini kau jauh dariku. Kan slalu ku nanti, karena ku sayang kamu, hati ini selalu memanggil namamu. Dengarlah melati ku, ku berjanji hanyalah untukmu, cintaku takkan pernah ada yang lain.~
__ADS_1