Terjerat Cinta Sang Pembantu

Terjerat Cinta Sang Pembantu
DATANG


__ADS_3

"Arin ..."


"Nad-ku ..."


Nadya datang dan segera memeluk Arini. Ia sedih, sekaligus bahagia karena sebentar lagi sahabatnya itu akan segera melahirkan. Davian dan sekretaris Dika duduk di sofa karena ada Nadya datang.


"Dik, Rangga sedang on the way kesini. Nanti, lo jemput dia di bandara. Perkiraan sampai antara jam 6 atau 7 pagi. Lo harus stand by ya." ucap Davian.


"Baik, Bos." jawab sekretaris Dika.


"Gue nyesel, gue pengen minta maaf sama Keyza." ucap Davian.


"Tapi kenapa Tuan Rangga harus datang kesini? Bukannya niat awal lu mau minta maaf lewat telepon?" tanya sekretaris Dika.


"Gue gak tahu. Mama yang bilang, katanya si Rangga mau datang kesini. Tadi dia nelepon gue, cuma gue lagi di ruangan Dokter Tika, jadi gak gue angkat. Mungkin si Rangga nelepon Mama, dan Mama memohon agar dia pulang." jawab Davian.


Sepertinya, memang Tuan Rangga yang ingin pulang ke Indonesia, karena dia merindukan Tira, karena yang mengangkat teleponnya adalah Tira. Rasanya, Tuan Rangga memang mencintai Tira. Apakah Tuan Rangga serius pada Tira? Apakah yang dilakukan Tuan Rangga adalah suatu pengorbanan cinta seperti yang dikatakan oleh Nadya? Lalu, apa perjuanganku untuk Tira? Aki terlalu malu untuk memperjuangkannya. Aku telah kalah sebelum berperang. Gumam sekretaris Dika dalam hati.


"Oh, gitu ya Bos. Baguslah, kalau Tuan Rangga pulang. Bos bisa mengucapkan permohonan maaf pada Keyza secara langsung." tambah sekretaris Dika.


"Kok elu keliatan gak bahagia sih, Dik? Lu kecewa ya? Kalau Rangga balik, Tira akan bertemu lagi dengannya." ucap Davian to the point.


"Enggak kok, Bos. Sotoy lu!" elak sekretaris Dika.


Tiba-tiba, Nadya mengajak sekretaris Dika untuk bertemu Alif dan Mita, karena Nadya tak ada teman lagi selain kedua adik Arini. Nadya tak mau berlama-lama di ruang bersalin Arini, ia merasa takut dan sedikit ngilu mendengar rintihan kontraksi Arini.


"Tuan Dav, boleh gak saya pinjam Pak Dika? Kata Ibuk, Alif sama Mita keluar, aku ingin bertemu dengan mereka." ucap Nadya.


"Oh, ya udah, bawa aja dia. Sekalian, jajanin ya, Nad. Sekretaris Dika sedang galau, kasihan dia. Kalau perlu, obati juga hatinya yang terluka, kasihan dia." Davian tertawa.


"Sialan lu, Bos. Emang mulut lu gak bisa di filter!"


Sekretaris Dika mengajak Nadya berjalan-jalan di sekitar rumah sakit sambil mencari Alif dan Mita. Sekretaris Dika teringat, bahwa tadi sebelum menjemput Nadya, Tira sempat mengajaknya makan di kantin, karena kedua adik Arini sedang makan di kantin.


"Nad, mungkin saja Alif dan Mita ada di kantin. Tadi mereka akan makan siang. Memang sudah lama sih, tapi mungkin saja masih bermain-main di sekitar kantin." ucap sekretaris Dika.


"Oh, baiklah. Kita ke sana sekarang." ucap Nadya.


Mereka terus berjalan menuju kantin, berharap bahwa Alif dan Mita masih ada di kantin. Kali ini, sekretaris Dika ingin makan siang, karena ia pun sangat lapar, tadi ia berbohong pada Tira, bahwa dirinya tidak lapar.


Alif dan Mita sedang berfoto bersama Tira. Mungkin mereka telah selesai makan siang, jadi mereka bermain bersama didekat kantin. Nadya melihat keberadaan Alif dan Mita, lalu Nadya mengajak sekretaris Dika menemui mereka.


"Hai, kalian." Nadya melambaikan tangannya.


"Eh, Kak Nadia udah datang. Udah bertemu Kakak?" tanya Mita.


"Udah, tapi Kak Nad gak mau terlalu lama didalam, kasihan Kak Arin, pasti terganggu." jawab Nadya.

__ADS_1


"Betul, aku juga tadi gak bisa lama-lama didalam, kasihan Nona." ucap Tira.


Sekretaris Dika terdiam. Ia tak ikut berbicara sedikitpun. Ia hanya menatap Tira sesekali. Wajahnya masih dipenuhi rasa kesal dan kecewa, namun ia tak bisa berbuat apa-apa.


"Nad?" ucap sekretaris Dika tiba-tiba.


"Iya, Pak?" jawab Nadya.


"Katanya tadi kamu mau makan? Aku udah laper dari tadi sebelum jemput kamu. Ayo, kita makan dulu!" ajak sekretaris Dika.


"Ah, iya ya! Aku hampir lupa. Kalian mau ikut makan siang gak? Aku belum makan, nih." ucap Nadya.


"Udah kok, tadi. Silahkan, makan aja. Kita udah selesai." jawab Tira.


"Oh, ya udah aku makan dulu ya, nanti kita ketemu lagi." ucap Nadya.


Tira hanya membalas dengan lambaian tangan saja. Ia terlalu malas untuk menjawabnya. Ia terlanjur kesal dengan apa yang diucapkan oleh sekretaris Dika, terlihat sekali bahwa ia kesal pada Tira.


Tadi, aku sudah mengajaknya untuk makan siang kan? Tapi apa? Dia bilang belum lapar! Aku jelas mendengarnya, aku tak mungkin salah dengar. Lalu, barusan dia bilang apa? Lapar dari tadi? Maunya apa sih? Labil banget jadi orang! Kenapa terkesan dia sedang menyalahkan aku? Batin Tira.


Sekretaris Dika memesan makanan yang sama dengan Nadya. Ia tak selera makan. Ia memesan makanan hanya agar perutnya terisi, karena hari ini dan esok ia pasti sibuk. Ia sengaja mengatakan hak itu, karena ia ingin melihat reaksi wajah Tira akan seperti apa. Dika merasa, ia berhasil membuat Tira kesal dengan ucapannya.


"Pak Dika, sebenarnya Bapak terpaksa kan makan siang dengan saya?" Nadya mengartikan.


"Tidak juga, aku harus mengisi perutku, karena aku sibuk untuk saat ini." jawab sekretaris Dika.


"Begitu ya?"


"Udah, ayo makan. Jangan banyak bicara!" perintah sekretaris Dika.


"Baik, Pak." jawab Nadya.


...🔥🔥🔥...


Keesokan harinya.


Arini masih belum juga melahirkan. Pembukaan jalan lahir sampai pagi ini mentok di angka 7. Arini sudah terlihat kelelahan sekali. Davian selalu di sampingnya, dan memegang tangannya. Arini tetap yakin, bahwa ia mampu melahirkan secara normal, ia hanya harus bersabar sedikit lagi.


"Sayang, kita sesar saja, ya? Mas gak tega lihat kamu lemah gini. Mas takut, ketika pembukaan sudah lengkap, kamu malah tak ada tenaga, sayang." Davian cemas sambil memegangi tangan Arini.


Dengan suara lemah Arini menjawab, "Mas, aku kuat. Aku bisa. Sakit ini adalah sebagian dari perjuanganku. Bayi kita sedang berjuang, doakan yang terbaik. Aku akan menunggu sampai waktu yang telah ditentukan oleh tim Dokter. Aah, Mas, rasanya begini ternyata," Arini merintih lagi.


"Sayang, aku gak kuat lihat kamu begini terus! Aku gak tega. Kumohon, jangan keras kepala. Aku ingin rasa sakit mu segera berakhir. Kumohon," Davian terus memohon pada Arini.


Arini tersenyum, "Mas, aku gak apa-apa kok. Walaupun sakit, aku bahagia, bisa merasakan sakit saat melahirkan. Sudah, jangan seperti ini terus."


Davian mengusap perut Arini yang buncit. Ia tak tega jika istrinya terus-menerus menahan sakit. Namun, apa boleh buat jika Arini bersikeras ingin melahirkan normal, Davian harus tetap bersabar dan menunggu sebentar lagi.

__ADS_1


Rangga telah dijemput oleh sekretaris Dika. Mereka sedang dalam perjalanan menuju Rumah sakit. Sekretaris Dika tak banyak bicara, padahal sebenarnya banyak sekali yang ingin ia tanyakan pada Rangga. Namun, kapasitasnya hanya untuk diam dan menuruti perintah Davian saja. Rangga pun tak banyak bicara, karena Keyza terlelap kelelahan.


Siapa dia? Batin sekretaris Dika.


Sekretaris Dika tetap melajukan mobilnya menuju Rumah sakit. Walau ia penasaran, ia tak bisa bertanya, ia hanya bisa menerka beberapa kemungkinan yang terjadi. Satu jam berlalu, kini mobil yang dibawa sekretaris Dika telah sampai di parkiran Rumah sakit.


Dari dalam mobil, Rangga sudah melihat Tira dan Davian sedang menunggunya. Rangga tersenyum, wanita yang pernah mengobrak-abrik hatinya itu berada dalam pandangannya lagi.


Tira, itu kamu ... Batin Rangga.


Merek berempat keluar turun dari mobil. Davian dan Tira melambaikan tangannya pada mereka, hingga wajah Tira berubah menjadi sendu ketika melihat seorang wanita di samping Rangga. Rangga kesulitan berjalan, karena dia memangku Keyza yang sedang terlelap tidur.


SIAPA DIA? KENAPA HATIKU SAKIT MELIHATNYA? batin Tira.


Davian segera mendekat pada Rangga.


"Bro, thanks lu udah datang." ucap Davian.


Davian tak mempedulikan wanita yang bersama Rangga, karena yang ia pedulikan hanyalah Keyza dan semua rasa bersalahnya.


"Tira, antarkan mereka ke ruang sebelah ruang bersalin, itu sudah ku sewa untuk Keyza beristirahat." perintah Davian.


"Ba-baik, Tuan." Tira mempersilahkan mereka mengikutinya.


Davian dan sekretaris Dika berjalan mengikuti dari belakang. Sekretaris Dika membawakan dua koper milik Rangga.


"Bos, siapa wanita itu?" tanya sekretaris Dika.


"Mana gue tahu. Gue gak peduli. Yang gue pedulikan, hanya Keyza. Gadis yang harus gue sayang!" Davian berlalu.


Ada apa dengan Tuan Rangga? Kenapa membawa wanita kesini? Bagaimana dengan Tira? Apakah Tira baik-baik saja?


*Bersambung*


Selamat malam.....


Silahkan tebak-tebakan sesuka kalian.. 🤭🤭🤭


Aku berikan kisah-kisah di akhir cerita ini biar berkesan aja buat kelean 🤭😃


Pokoknya, apapun endingnya, jangan sampai marah apalagi ngatain akoh ya, akoh gak kuat di bully, apalagi di timpuk onlen 😂🤣


Ay lap yu guysssss 😘😘😘


Jangan lupa LIKE KOMENTAR DAN VOTENYA YA ...


Tanpa kalian, apalah aku...

__ADS_1


Oh ya, baca cerita aku yang lain yuk, selagi nunggu cerita ini UP. Buka ajah profilku, pilih di sana, ada yg dah tamat, ada juga yang masih og going..


makasih yaw 🥰🥰🥰


__ADS_2