Terjerat Cinta Sang Pembantu

Terjerat Cinta Sang Pembantu
Ketahuan bohong, deh.


__ADS_3

Beberapa hari kemudian.


"Halo, Nad? Kamu lagi santai gak?" tanya sekretaris Dika lewat ponselnya.


"Halo, Pak. Santai kok, soalnya udah beres nurunin barang." ujar Nadya.


"Kalo gitu, bisa anter aku ke Mall sekarang?" tanya sekretaris Dika.


"Ke Mall? Untuk apa, Pak?" tanya Nadya.


Sekretaris Dika bingung, "Mm, itu, anu aku disuruh Bos Davian cari sesuatu di Mall, dan itu untuk wanita, aku gak mungkin kan pergi sendirian mencari keperluan wanita, aku ingin kamu ikut, biar aku bisa tanya-tanya sama kamu, Nad." ucap sekretaris Dika.


"Oh, gitu ya, Ah i-iya, baiklah, aku akan ikut dengan Pak Dika. Aku siap-siap dulu ya, sekalian izin dulu sama Ibu Arini." jawab Nadya.


"Baik, Nad. Setengah jam lagi aku jemput kamu ya," ujarnya lewat ponsel yang sedang ia genggam.


"Baik, Pak Dika. Sampai ketemu nanti," Nadya menutup teleponnya.


Sekretaris Dika termenung sendiri, ia kesal tak ada aktifitas. Davian dan Arini sedang pergi jalan-jalan berdua tanpa ditemani oleh dirinya. Mereka bilang, akan makan siang bersama rekan kerjanya. Karena itulah, sekretaris Dika diminta untuk tinggal saja. Sekalian Davian dan Arini ingin me time berdua. Baby Calan ditemani oleh Mbak Rita.


Karena itulah sekretaris Dika mengajak Nadya berjalan-jalan, dengan alasan akan membelikan barang-barang suruhan Davian. Beruntungnya sekretaris Dika saat ini, ternyata Nadya mau diajaknya jalan-halan. Ia segera mengganti pakaiannya dengan rapi dan menggunakan parfum mahal yang diberikan Davian padanya. Hari ini, ia harus terlihat tampan dan gagah, karena ia akan bertemu dengan wanita idamannya, Nadya.


...🌸🌸🌸...


Nadya telah meminta izin pada Ibu Arini untuk mengantar sekretaris Dika Ibu Arini pun mengizinkannya, dan Nadya segera pamit untuk menunggu di depan, karena sekretaris Dika berkata, bahwa sebentar lagi ia akan sampai.


Nadya menunggu dengan santai. Penampilannya hari ini berbeda dengan biasanya. Ia memakai baju yang diberikan Arini padanya. Baju yang simpel namun terlihat sangat menarik. Tak lama, mobil sekretaris Dika berhenti didepan rumah Arini. Kali ini, sekretaris Dika menggunakan mobil biasa, karena mobil mewahnya sedang dipakai oleh Davian dan Arini.


"Hai, Pak." sapa Nadya ramah.


"Eh, iya Nad. Ayo, masuk." ajak sekretaris Dika.


Nadya segera masuk kedalam mobil. Sebenarnya, sekretaris Dika tertarik pada Nadya, namun ia bingung bagaimana cara mengungkapkan perasaannya. Karena sekretaris Dika terlalu mengandalkan gengsinya, jadi ia masih terlihat stay cool saja jika didepan Nadya. Padahal ia sangat bahagia sekali bisa jalan-jalan bersama seperti ini.


Sekretaris Dika secepat kilat bisa melupakan Tira karena kehadiran Nadya. Walaupun tidak secara gamblang Dika mengatakan bahwa ia menyukai Nadya, tapi dari caranya memperlakukan Nadya tentu saja jelas terlihat bahwa Dka memang mengistimewakan Nadya.


"Kita kemana, Pak?" tanya Nadya.


"Ke Mall Puri Citra," jawabnya.


"Memang, Tuan Davian minta dibelikan apa, Pak?" Nadya memang banyak bertanya.

__ADS_1


"Ha? Emh, eh itu, anu, apa sih namanya ya, aku lupa," sekretaris Dika menggaruk-garuk kepalanya sambil mengemudi.


Bagaimana aku bisa menjawabnya? Aku kan berbohong mengatakan kalau Bos menyuruhku membeli sesuatu. Duh, beli apa ya ngomongnya? Jadi bingung gue. Gini nih kalo bohong, jadi kemakan omongan sendiri. Gerutu sekretaris Dika dalam hati.


"Apa, Pak? Kebutuhan Baby Calan?" Nadya menebak,


"I-iya, apa sih itu untuk menyusui di masukan dot, duh apa sih namanya!" sekretaris Dika asal bertanya.


"Ah, itu! Itu pompa ASI namanya, atau breast pump, Pak." jawab Nadya.


"Ah, itu Nad! Iya, itu. Aku disuruh Bos beli pompa ASI untuk Nona!" ujar sekretaris Dika berbohong.


"Oh, gampang itu, Pak. Nanti kita cari di baby shop aja. Pasti banyak macam-macam merek dan yang bagus." ucap Nadya tersenyum.


"Baik, Nad. Makasih ya sebelumnya, kamu udah mau nemenin saya pergi.' ucap sekretaris Dika tiba-tiba.


" Sama-sama, Pak. Aku juga harusnya makasih, karena Pak Dika udah ngajakin aku jalan-jalan." Nadya terlihat senang.


"Iya, Nad ..." sekretaris Dika hanya membalas dengan senyuman.


...🌸🌸🌸...


Satu jam kemudian.


Davian dan Arini ternyata ada didalam Mall Puri Citra. Setelah selesai makan siang bersama rekannya, Arini meminta Davian untuk menemaninya cuci mata membeli beberapa kebutuhan keluarga. Davian mencari kemeja yang cocok untuknya, dan Arini juga sedang mencari beberapa dress yang pas untuknya.


"Mas, bagus kemeja warna abu-abu itu! Kalem dan casual." Arini menilai kemeja yang dipilih Davian.


"Aku ini aja, sama beberapa kemeja. Jadi, aku beli tiga kemeja sayang,* ucap Davian.


" Iya, Mas. Aku juga beli dress ini aja, kita gak boleh lama-lama disini, aku pengen cepet pulang!" ucap Arini.


"Loh, kok cepet-cepet? Baby kita kan anteng, tadi aja dia gak rewel." ujar Davian.


"Aku pengen cepat pompa ASI-ku, Mas. Sakit nih pay*dara aku, bengkak rasanya!" ujar Arini.


"Loh, kamu bawa gak pompa ASInya?" tanya Davian.


"Bawa kayaknya, cuma ketinggalan di mobil, makanya kita segera ke mobil, aku mau memompa ASI." ujar Arini.


"Oke sayang, kita bayar dulu ini ya!" Davian mengajak Arini ke kasir.

__ADS_1


Davian segera membayar baju yang ia beli. Ia dan Arini akan segera pulang dan berniat untuk memompa ASI milik Arini yang sudah terlihat membengkak. Mereka berjalan berdua, namun tiba-tiba Davian melihat sekretaris Dika dan Nadya sedang berjalan bersama.


"Yang, lihat di sebelah sana! Bukannya itu si curut sama temen kamu ya?" tanya Davian sambil menunjuk kearah sekretaris Dika dan Nadya.


Arini melihat kearah yang ditunjuk Davian, "Eh, iya Mas. Itu Dika sama Nadya. Wah, mereka lagi jalan-jalan juga rupanya!" Arini menatap Nadya dan Dika.


"Tuh dia abis belanja. Abis belanjaan cewek. Dasar bucin," Davian geleng-geleng kepala.


"Jangan ngatain orang bucin. Jelas-jelas yang ngatain nya aja raja bucin. Terrrrr-bucin!" Arini terkekeh.


"Eh, sembarangan kamu ya! Udah ayo, kita temuin si curut. Kita kagetin dia," Davian mulai jahil.


"Eeh, Mas, kamu itu jahat banget sih! Kan nanti dia malu," Arini mengikuti Davian, karena tangannya di genggam Davian.


Sekretaris Dika tak menyadari kehadiran Davian dan Arini yang melihat mereka sedang berjalan berdua. Sekretaris Dika tetap enjoy berjalan dengan Nadya. Dika dan Nadya telah membeli pompa ASI, dan Dika juga membelikan Nadya beberapa barang, dengan alasan imbalan atas ketersediaan Nadya menemaninya.


Tiba-tiba ...


"Cie, curut! Diam-diam menghanyutkan. Free kerja, tahunya malah pacaran disini. Eh, malah ketemu Bos lagi." ledek Davian.


Sekretaris Dika sangat terkejut, "Eh, Bos, kok kebetulan banget ketemu disini,"


"Hy Nad-ku, kok kamu gak ngabarin aku kalau jalan-jalan sama Dika!" Arini tersenyum menggoda Nadya.


Nadya malu, dan gugup. Ia tersenyum, "Eeh, Arin. I-iya, nih. Maaf gak ngabarin, aku kira kamu sibuk. Aku diajak Pak Dika untuk nemenin dia beli sesuatu buat kamu, jadi ya aku temenin aja."


Davian melotot pada sekretaris Dika yang wajahnya begitu pucat. Sepertinya, kebohongannya akan terungkap. Ia mulai bingung harus bagaimana menjelaskan pada Davian dan Arini, mengenai apa yang barusan Nadya bilang.


"Lu beliin apa untuk istri gue? Emangnya kamu nyuruh apa sama si Dika, yang?" tanya Davian.


"Eh, enggak kok. Aku gak nyuruh Dika sama sekali. Dik, memangnya kamu beliin apa buat aku?" Arini bingung.


Sekretaris Dika berkeringat. Ia makin gugup dan makin tak percaya diri. Ia malu kalau Nadya mengetahui kebohongannya. Dika sudah pasrah. Ia hanya bisa sabar dan legowo menerima caci dan makian dari sang Bos.


"Emh, i-itu, anu, Nona ..." sekretaris Dika bingung bukan main.


Nadya angkat bicara, "Pak Dika minta temenin aku buat beliin pompa ASI untuk kamu, Rin. Katanya, Tuan Davian yang nyuruh Pak Dika." dengan polosnya Nadya berkata jujur.


"Apa?" Davian keheranan.


DEG. Alamak, ketahuan deh! Ketahuan pasti deh, kalo gue bohongin Nadya dan bawa-bawa nama Bos sama Nona. Mati gue! Batin sekretaris Dika dalam hati.

__ADS_1


*Bersambung*


__ADS_2