Terjerat Cinta Sang Pembantu

Terjerat Cinta Sang Pembantu
Oh, Tidak!


__ADS_3

Davian sudah membawa Tasya masuk kedalam mobilnya. Davian tahu, Tasya sejak dulu menolaknya karena sudah pasti akan dijodohkan dengan lelaki pilihan Ayahnya. Davian memang kasihan melihat Tasya, namun kini Davian tak bisa berbuat lebih, karena hati Davian telah terikat dengan Arini.


"Kenapa semua ini bisa terjadi?" tanya Davian


"Hiks.. Hiks.." Tasya masih saja menangis.


"Jangan menangis, bicaralah. Jangan takut." ucap Davian


"Terima kasih, Dav. Kamu telah membayar semua utang Ayahku." Tasya menunduk


"Uang itukah yang dulu ingin kamu pinjam padaku?" tanya Davian


"Iya, maafkan aku. Dulu, aku ingin sekali menghindari pernikahan itu, aku ingin lari, tapi aku tak bisa, aku harus tetap bersama anak dari orang yang meminjami uang pada Ayahku." ucap Tasya


"Kenapa sekarang kamu malah diculik mereka?"


"Baiklah, aku akan menceritakannya padamu."


"Silahkan, aku akan mendengar dengan seksama."


"Aku, sudah dijodohkan sejak SMA oleh Ayahku. Karena hobinya berjudi, ia terus saja meminjam uang pada lintah darat. Ayahku kalap, ia tak mampu membayar utangnya, sedangkan lintah darat itu terus saja menagih."


"Lalu?"


"Bos lintah darat itu melihatku, aku akan dijodohkan dengan anaknya, kalau aku mau menikah dengan anaknya, maka semua utang Ayahku lunas. Untuk itulah, aku tak pernah menganggap mu saat masih sekolah, bahkan ketika sudah bekerja, aku masih mengabaikan perasaanmu. Karena aku tak mau kamu sakit hati, kalau suatu saat nanti, aku pergi meninggalkanmu dan menikah dengan lelaki itu." jelas Tasya


Tasya, kenapa mendengar ucapan mu itu hatiku jadi teriris? Jadi selama ini, kamu bukan tak menganggap ku, tapi kamu takut aku sakit hati, kalau kamu menikah dengan orang lain. Aaarrgghh, lupakan! Lupakan! Aku sudah punya Arini dalam hidupku. Untuk apa Tasya datang? Kamu telat Sya, aku tak bisa menolong mu lebih dari ini. Gumam Davian dalam hati.


"Lalu, kenapa kamu pergi? Bukankah kamu sudah menikah dengan anaknya?" tanya Davian


"Siapa bilang aku dinikahi oleh anaknya, aku hanya dijadikan budak **** oleh lelaki itu, aku tak dinikahi sama sekali. Anak bos itu malah memperlakukanku dengan buruk, aku harus melayaninya setiap saat, Dav. Dia benar-benar kejam dan jahat! Dia juga sering membawa beberapa wanita, dan melakukannya dengan wanita yang setiap malam datang ke rumahnya. Bahkan, yang paling menjijikkan aku harus melayani anak buahnya, Dav. Itu yang aku tak suka. Akses kepada orang tuaku pun telah mereka tutup, jadi aku memutuskan untuk kabur, aku tak mungkin terus bersama orang psyco seperti dia. Aku takut, Dav." Tasya menangis


"Akhirnya, kamu tertangkap juga kan tadi?" ucap Davian


"Iya, aku tak bisa lepas dari jeratan manusia berwujud iblis itu! Tapi, aku berterima kasih, kamu telah menolongku membayar semua utang ku. Kini, aku telah bebas dari mereka. Kalau tak ada kamu, mungkin aku akan kembali menjadi budak mereka. Aku harus membayar dengan cara apa, Dav? Maafkan aku, aku tak punya uang sebanyak itu." ucap Tasya


"Sudah, lupakan saja. Uang segitu tak ada apa-apanya untukku. Hiduplah dengan damai dan bahagia." jawab Davian


"Davian?" tanya Tasya


"Ya?"


"Aku tak punya uang untuk mengganti semua uangmu tadi. Sebagai gantinya, aku mau menikah denganmu! Aku mau hidup bersamamu selamanya, kau masih mencintaiku kan?"

__ADS_1


Davian terdiam. Tasya memanglah cinta pertamanya. Namun, kini sudah tak ada nama Tasya lagi didalam hati Davian. Davian sudah mulai menerima Arini sebagai istrinya. Dengan berat hati, Davian harus mengucapkan kata-kata yang akan mengecewakan Tasya


"Maaf, Tasya. Aku sudah tak memiliki perasaan apapun lagi padamu, aku sudah menikah, dan aku sangat mencintai istriku." jawab Davian tegas


"Tak mungkin. Kamu bohong kan Dav? Jelas-jelas, hanya aku wanita yang kamu cintai sejak dulu. Kenapa sekarang tiba-tiba kamu berubah begini?" Tasya sangat kecewa


"Aku telah menikahi pembantuku, Arini namanya. Maafkan aku."


***


Kediaman Arini.


Arini telah membereskan semuanya. Ia tinggal menunggu Mas Adit menjemputnya. Arini bertekad, saat camping nanti, Arini akan mengutarakan semuanya. Arini akan jujur pada Mas Adit, kalau sebenarnya Arini akan menikah.


"Assalamualaikum!" sapa Mas Adit


"Waalaikumsalam. Eh, Mas Adit. Masuk dulu, Mas."


Adit masuk dan menunggu Arini yang bersiap merapikan rambut dan pakaiannya. Arini dan Mas Adit pamit Ibu dan adik-adiknya. Ibu Arini memaklumi hal ini terjadi, karena Arini sudah meminta izin, akan membicarakan semuanya pada Mas Adit.


Arini dan Mas Adit berangkat. Ia naik motor lawas Mas Adit. Arini sekarang terbiasa naik mobil Davian, rasanya angin menyelusup ketika kini Arini naik motor lagi.


Suasana di bukit tempat perkemahan, sangat ramai. Banyak siswa-siswi kelas 6 yang akan memeriahkan camping kali ini.


Acara berlangsung meriah. Meskipun Arini bukan guru, tapi mereka tetap menghormati kehadiran Arini, banyak juga pasangan suami istri dari guru-guru yang ikut hadir. Arini sesekali mengabadikan foto Mas Adit yang sedang menjadi pembimbing.


Wanita yang terlihat tak suka melihat Arini itu, terus saja menatap jealous dan mencibir Arini. Wanita itu bernama Listia, ia memang menyukai Mas Adit, namun Mas Adit selalu mengacuhkannya, karena yang dicintainya adalah Arini.


Kini, hari sudah gelap. Semua anak-anak berkumpul di api unggun dan menyanyikan beberapa lagu khas pramuka. Mereka senang, bersuka cita bersama-sama. Begitu juga Arini, yang terlihat sangat bahagia melihat keceriaan malam hari ini.


Mas Adit mengajak Arini untuk berjalan-jalan sekitar bukit. Arini menyetujuinya. Mas Adit tahu, Arini pasti senang jika diajak camping, karena suasananya sangat ramai dan hangat. Mereka sedang berjalan-jalan sambil berbincang.


"Kamu senang, Rin?" tanya Mas Adit


"Iya, Mas. Suasananya hangat sekali. Anak-anak juga membuat suasana hatiku ceria." jawab Arini


"Apa aku tak membuat suasana hatimu bahagia?" tanya Mas Adit


"Eh, apaan sih Mas."


"Anak-anak malam ini akan melakukan uji nyali. Apa kamu mau ikut?" tanya Mas Adit


"Nggak ah, serem. Aku mau lihatin aja, Mas!" jawab Arini

__ADS_1


"Masa kamu kalah sama anak-anak kelas 6 SD sih, Rin? Ikutan aja! Seru tahu."


"Aku penakut, Mas. Aku gak mau ah, suka kebayang-bayang." tolak Arini


"Tenang aja, kan ada aku yang bakal jagain kamu." ucap Mas Adit


Arini hanya tersenyum. Ia tak menjawab perkataan Mas Adit. Sebenarnya, Arini merasa bersalah berada berdua bersama dengan Mas Adit saat ini


Ia merasa bersalah pada suaminya, Davian. Arini berharap, semoga acaranya cepat selesai.


Mas Adit menghentikan langkahnya. Langkah Arini pun juga terhenti. Mas Adit berbalik kearah Arini. Hingga kini mereka berhadapan. Arini mulai merasa tak nyaman dengan perlakuan Mas Adit.


"Arin?"


"Iya, Mas?" jawab Arini


Mas Adit perlahan memberanikan memegang tangan Arini. Arini ingin menolak, tapi tak bisa. Dengan terpaksa, tangan Arini kini dipegang oleh Mas Adit.


"Sudah saatnya, kita menjalani hubungan yang serius. Aku benar-benar ingin serius padamu, Arini. Jangan menghindar lagi."


"Mas, tapi aku.." Arini gugup


"Arini, aku mencintaimu. Apa kamu tak sedikitpun mencintaiku? Kenapa kamu selalu saja menghindar? Arini, menikahlah denganku. Aku ingin hidup bersama, bahagia denganmu. Apa kamu mau Arini?" tanya Mas Adit


"Tapi, Mas, Arini gak bisa..."


"Terima aku, Arini, aku mohon. Aku sangat mencintaimu."


"JANGAN HARAP! ARINI ADALAH ISTRIKU. TAK ADA LELAKI MANAPUN YANG BISA MENYENTUHNYA APALAGI MENDAPATKAN CINTANYA."


Davian dan sekretaris Dika datang tanpa diduga. Wajah Davian terlihat sangat marah. Ia sudah memata-matai Arini sejak tadi. Dan kini, sifat lelaki itu tak bisa ditoleransi lagi, sehingga Davian marah besar.


"Arini, ayo pulang! Aku adalah SUAMIMU, tak ada yang bisa mengganggumu lagi, aku benar-benar marah karena kamu membohongiku." Davian menarik paksa tangan Arini


*Bersambung*




Selamat pagi..


Selamat membaca. Jangan lupa like dan komen setelah membaca. Agar aku tambah semangat menulis 🥰🥰🥰

__ADS_1


__ADS_2