Terjerat Cinta Sang Pembantu

Terjerat Cinta Sang Pembantu
Akan bahagia,


__ADS_3

Mama Davian dan Tira sedang memasak besar-besaran. Entah apa yang menyebabkan Mama Davian mau memasak. Bi Lilis dan rekannya juga turut membantu Mama Davian memasak. Entah ada angin apa yang menyebabkan suasana hati Mama Davian sangat baik hari ini.


"Nyonya,sebenarnya ini ada acara apa?" tanya Tira.


"Pagi tadi, aku dapat arisan. Senangnya hatiku, makanya aku sengaja ingin memasak banyak untuk ku bagikan pada kerabat dan tetangga juga." ucap Mama Davian.


"Oh begitu ya, Nyonya. Seneng ya kalau dapet arisan, saya juga merasa, kalau dapet arisan tuh uang nemu." jawab Tira.


"Iya, makanya aku seneng banget hari ini. Dapet ke tiga dari 10 orang. Papa Davian gak tahu kalau aku ikut arisan ini. Jadi, ini uang pribadiku." ucap Mama Davian.


"Wah, nyonya hebat. Bisa menyisihkan uang bukan harus terus meminta pada suami ya," Tira tersenyum.


"Iya, aku sisihkan uang bulanan seminggu 13juta, kali sebulan aku sisihkan 50 juta lebih kan jadinya. Ya, lumayan bangga aja rasanya pegang uang sendiri." Mama Davian sumringah.


"50 juta sebulan Nyonya? Jadi, dapetnya? ..." Tira kaget.


"Ya, dapetnya 500 juta! Walau gak sebanding dengan arisan keluarga yang dapetnya Em-Eman, tapi aku bangga bisa dapat uang segini atas kerja kerasku menyisihkan uang pemberian Papa Davian." Mama Davian tersenyum senang.


"Wah, hebat Nyonya bisa menyisihkan uang sebulan 50 juta. Saya kira, semua orang kaya pasti boros, ternyata Nyonya enggak." Tira membalas senyuman Mama Davian.


"Tentu saja aku pandai mengelola uang. Dua minggu sekali, Papa Davian transfer uang 300 juta, kadang kalau lagi baik bisa 500 juta. Aku sisihkan beberapa untuk arisan sendiri. Sisanya, tentu saja aku habiskan dengan teman-teman sosialitaku untuk membeli barang branded atau limited edition. Belum lagi, aku diberi kartu kredit tanpa batas oleh Davian. Makanya, aku patut bersyukur untuk nikmat ini. Aku akan membagikan semua masakan ini pada orang-orang terdekatku dan orang yang membutuhkan. Semuanya akan kuberi, aku senang melakukannya. Apalagi, aku punya cucu sekarang. Kebahagiaanku sangat lengkap sekali." Mama Davian sangat bahagia.


"Wah, hebat sekali, Nyonya." Tira tak bisa berkata-kata lagi.


"Aku mau ke Bik Lilis dulu ya, mau suruh bungkusin untuk besan-ku." Nyonya Amel berlalu.


"Iya, silahkan Nyonya." jawab Tira.


Daebak, uang segitu banyak. Kenapa yang disisihkan hanya 50 juta sebulan? Kalau aku pasti mimpi bisa dapetin uang sebanyak itu. Keluarga ini memang bukan keluarga sembarangan. Mereka banyak uang, tapi tak terlihat glamour dan sombong seperti kebanyakan orang lain. Beruntung aku bekerja disini, orang-orangnya baik. Batin Tira.


"Hayo, kamu lagi ngelamunin apa!" Rangga mengagetkan Tira yang sedang melamun.


"Eh, Tuan. Enggak kok, aku lagi potongin timun ini, lihat kan?" ujar Tira.


"Aku perhatikan kamu kok dari tadi. Waktu kamu ngobrol sama Kakak pun aku dengar. Sebentar lagi juga kamu akan seperti Kakak atau Arini, memegang uang pemberian dariku." Rangga tersenyum lebar.


"Eh, apa sih Tuan. Aku gak memikirkan hal itu, kok." elak Tira.


"Kamu mau jatah berapa sebulan? Tiga ratus? Lima ratus? Satu Em? Aku bisa kasih buat kamu." Rangga sombong.


"Eh, aku gak maksud gitu, Tuan." Tira jadi canggung.


"Kamu gak tahu aja kekayaanku melebihi Davian. Aku punya banyak kelebihan. Hanya satu kekuranganku," ucap Rangga.


"Apa itu?"


"Aku tak bisa mencari wanita, dan aku tak bisa menaklukannya. Menaklukanmu pun sangat sulit bagiku. Aku ingin mencari wanita dari kalangan sepertimu, seperti Arini begitu. Kalau aku bertemu dengan wanita yang tahu uang, pasti akan habis uangku. Mudah saja mencari wanita dengan uang, tapi aku tak mau. Aku lebih baik memperjuangkan wanita biasa sepertimu. Wanita yang sudah pasti tulus mencintaiku bukan karena melihat uangku." ucap Rangga.


Tira hanya tersenyum mendengar ucapan Rangga yang ditujukan padanya. Tira memang belum bisa mengutarakan perasaannya pada Rangga secara gamblang, ia masih malu-malu.


"Oh iya, mulai saat ini, jangan panggil aku Tuan lagi, aku calon suamimu, Ra." ucap Rangga.

__ADS_1


"Ha? Ta-tapi, aku tak biasa, Tuan. Eh," Tira canggung.


"Panggil aku By, Hubby ... Manis sekali bukan? Aku akan memanggilmu, hunny." Rangga tersenyum.


"Ih, malu. Masa kayak gitu, kayak abege baru pacaran aja. Aku malu ah," ujar Tira.


"Jadi, kamu mau panggil aku Mas? Seperti panggilan Arini pada Davian. Begitu?" sedilik Rangga.


"Ah, aku masih belum nyaman. Aku panggil Pak Rangga aja!" ujar Tira.


Tiba-tiba, Arini dan Davian datang ke dapur, melihat Rangga dan Tira yang sedang terlibat perdebatan kecil. Arini tersenyum melihat mereka.


"Ayo, calon pengantin lagi ngomongin apa nih?" goda Arini.


"Eh, Nona ... Gak kok, gak lagi ngapa-ngapain, aku lagi motong timun, ini." Tira tersenyum.


"Ra, jangan panggil Nona dong. Kamu kan bukan asistennya si Arini lagi." keluh Rangga.


"Et dah, bucin akut lu, Ga. Baru gitu aja udah lebay!" timpal Davian.


Mama Davian kembali dari dalam dapur, "Eh, kebetulan kalian semua ngumpul disini. Mama sudah selesai membungkus box makanan ini. Ga, ada untuk Ayah dan Mama, ini mau dianterin Pak Diman aja? Apa kamu yang anterin?" tanya Mama Davian.


Rangga menatap Tira, "Kak, biar aku aja yang antar. Sekalian aku mau ngenalin Tira ke Ayah!" Rangga bersemangat.


Wajah Tira memerah, ia sangat malu. Rangga membuatnya tak nyaman dengan ucapannya barusan. Ia sedikit kaget, namun sebisa mungkin Tira tetap berlaku seperti biasa.


"Baiklah. Kalau kamu Rin? Kamu kan belum empat puluh hari. Biar Dika aja ya yang antar box makanan ini ke rumahmu?" pinta Mama Davian.


"Mama tuh lagi seneng sayang, dia dapat arisan dari uangnya sendiri katanya, padahal jelas-jelas itu uang Papa dan uang aku. Ampun deh Mama ini," Davian geleng-geleng kepala.


"Eh, Dav! Jangan begitu, syukuri dong Mama bisa nyimpan uang dan dapat uang hasil dari kerja keras Mama ngumpulin uang." Mama Davian tak mau kalah.


"Ampun deh, Mama. Baru ketiga juga dapetnya, Mama masih harus bayar berapa ratus juga lagi itu. Kan nanti giliran orang lain yang bayar." Davian menggoda Mama Amel.


"Ah, kamu sama Mama gitu banget sih, Dav! Udah, nih bawa sana. Biar segera diantar si Dika." ucap Mama Davian.


"Baik, Ma."


Rangga dan Tira segera membawa bungkusan yang diperuntukkan Ayah dan Ibu Rangga. Rangga sengaja ingin membawa sendiri masakan untuk Ayahnya, karena ia akan membawa Tira, sekaligus mengenalkan Tira pada kedua orang tuanya. Waktu yang diberikan Ayahnya, adalah dua bulan. Kini, waktu itu hampir habis. Rangga tak sabar ingin segera memamerkan wanita pujaannya pada sang Ayah.


"Kamu siap?" tanya Rangga.


"Aku takut," Tira menunduk.


"Ada aku yang akan melindungimu, tenanglah, kau aman di sampingku, Tira." Rangga memegang tangan Tira.


"Makasih, sayang." ucap Tira perlahan.


"Apa? Sayang? Oh, Yeay! Yes. Seneng banget aku dengernya. Ternyata, kamu berani juga mengatakan sayang padaku. Ayo, kita berangkat! Aku sudah tak sabar ingin segera bertemu dengan kedua orang tuaku." Rangga antusias sekali.


Aduh, a**ku malah keceplosan menyebutnya sayang. Malu sekali aku, sungguh malu! Dia pasti merasa di atas angin, karena aku menyebut sayang padanya. Aku masih malu mengatakannya. Kenapa mulut ini lancang sekali? Sepertinya, aku tak akan berani menatapnya. Dia pasti terus-menerus menggodaku. Beginikah rasanya jatuh cinta? Benarkah dia calon suamiku? Kenapa aku masih tak percaya? Dia adalah orang kaya, pemilik perusahaan, anak seorang konglomerat. Apa aku bermimpi mendapatkannya? Rasanya sangat tak mungkin, wanita sepertiku bisa mendapatkannya. Semoga saja, cintanya untukku benar-benar tulus. Gumam Tira.

__ADS_1


...🍂🍂🍂...


Sekretaris Dika bersiap menuju rumah Arini untuk mengantar masakan keluarga Raharsya. Mama Amel memang senang berbagi, ia masak besar-besaran dan akan dibagikan pada panti asuhan serta tetangga disekitar, tak lupa juga ia memberikannya pada kerabat dan keluarga besarnya, termasuk keluarga Arini.


Sekretaris Dika entah mengapa begitu antusias akan pergi ke rumah Arini. Mungkin, ia memang butuh sedikit hiburan kala ia sedih ditinggal oleh Tira. Mungkin, Nadya lah obat yang bisa membuat sekretaris Dika sedikit melupakan Tira. Apalagi, keluarga Arini yang ramah dan sopan padanya, membuat ia betah jika berlama-lama di rumah Arini.


"Selamat siang, Nad." sapa sekretaris Dika pada Nadya.


"Hai, Pak Dika. Wah, bawa apaan nih?" tanya Nadya.


"Ini bawa masakan khas rumah Bos Davian. Biasa ada syukuran kecil-kecilan, jadi kata Nyonya suruh bawain jiga buat keluarga Non Arini disini." ucap sekretaris Dika.


"Eh, ayo masuk dulu ke rumah, soalnya Ibu sama Mita gak ada. Ibu ada rapat di sekolah Mita, jadi Ibu pergi, Alif juga kebetulan ikut, Pak." jelas Nadya.


"Wah, sayang sekali. Ya udah, ini bawa masuk dulu atau taruh di kulkas aja," ujar sekretaris Dika.


"Ah, iya Pak. Baik."


Sekretaris Dika duduk di teras rumah Arini. Ia enggan masuk kedalam rumah, karena tak ada siapa-siapa. Menikmati hiruk pikuk jalanan dengan beberapa pelanggan minimarket yang hilir mudik, membuat suasana hatinya membaik.


"Pak Dika, diminum teh nya," Nadya meletakan teh dan camilan di meja kecil.


"Makasih, Nad." jawab sekretaris Dika.


"Santai aja, Pak Dika. Gak usah buru-buru. Tunggu Ibu datang, takutnya ada yang mau Ibu bawakan untuk Nona Arin," Nadya sengaja membiarkan sekretaris Dika berlama-lama disini.


"Ya, Nad. Makasih," ucap sekretaris Dika.


"Pak, Bapak pacaran ya sama Tira?" tanya Nadya.


"Hush! Sembarangan kamu, siapa bilang? Tira bentar lagi mau nikah sama Tuan Rangga." jawab sekretaris Dika.


"Ha? Kukira, kalian saling suka," Nadya tak percaya.


"Aku menyukainya, tapi dia ternyata tak bisa menyukai aku. Mungkin, karena perlakuan dan perbuatan Tuan Rangga sangat spesial padanya. Tapi, aku bahagia. Dia bersama orang yang tepat." ujar sekretaris Dika.


"Pak Dika pasti sedih ya. Yang sabar ya, mungkin cinta belum berpihak pada Pak Dika." ucap Nadya.


"Mungkin, aku harus membuka hati. Untuk siapa saja yang mau masuk kedalam hatiku," ucap sekretaris Dika.


Aku mau, tapi aku takut. Batin Nadya.


"Semoga, segera mendapatkan pengganti Kak Tira ya, Pak." Nadya tersenyum.


"Ya, semoga saja. Terima kasih," sekretaris Dika tersenyum.


Tidak terlalu cantik, tapi menarik. Itu kamu, Nadya. Gumam sekretaris Dika.


*Bersambung*


Halo guys...

__ADS_1


Sekretaris Dika mau buka hati buat yang lain nih, apa ada diantara kalian yang mau memasuki hatinya yang kosong? 😂😂😂


__ADS_2