
Suasana makan malam di keluarga Raharsya.
"Arini, kamu sudah baikan?" tanya Mama Davian
"Sudah, Nyonya. Aku tidak apa-apa, kok." ucap Arini
"Aku ini Mama-mu sekarang, jangan panggil Nyonya." ucap Mama Davian
"Maaf, ba-baik Ma." ucap Arini gugup
"Jangan sungkan, Rin. Anggaplah Mamaku seperti Ibumu sendiri." tambah Davian
"Iya, Mas."
"Ciyeeeee, udah manggil Mas nih. Semenjak tragedi Om Rangga, Kak Davi jadi sweet gini sih sama Kak Arini." goda Sherly
"Apaan sih, Sher!" Davian malu
"Dav, kalau memang Rangga benar berbuat seperti itu, Papa tak akan mengizinkan lagi dia untuk tinggal di rumah ini. Besok pun dia akan langsung terbang ke Swiss!" ucap Papa Davian
"Biarkan dia, Pa. Dia hanya kalah start denganku untuk mendapatkan Arini, jadi dia berbuat aneh seperti itu."
"Papa kecewa pada Rangga. Biarkan dia tenang dulu di sana, kalian tetap tenang, jangan terganggu oleh Rangga."
"Iya, Pah."
Mereka semua makan bersama. Karena permintaan Davian, Mama dan Papanya harus lebih ramah pada Arini. Davian ingin serius pada Arini.
Selesai makan, Davian mengajak Arini untuk segera naik ke kamar. Hati Arini berdegup kencang. Ia teringat ucapan Davian tadi siang. Apakah Davian serius dengan perkataannya?
Sesampainya di kamar, Davian menyalakan televisi. Ia selonjoran di ranjangnya. Arini pura-pura membersihkan meja kerja Davian.
"Sibuk banget sih!"
"Tugasku memang sudah sewajarnya begini." ucap Arini
"Itu hanya akal-akalanmu kan? Pura-pura sibuk, padahal kamu menghindari." sindir Davian
"Menghindari apa? Bukankah biasanya aku memang seperti ini? Aku selalu membersihkan kamar Tuan sebelum Tuan tidur."
"Kok Tuan lagi?"
"Maaf, aku terpancing. Mas jangan mancing aku terus dong!"
"Maaf sayang, aku hanya kesal, kamu tak naik ke ranjang ini."
"Memangnya, harus sekarang, aku kan belum mau tidur, aku masih akan membersihkan meja kerja Mas." jawab Arini
"Memangnya kalau di ranjang, harus langsung tidur ya?" tanya Davian
"Memangnya mau ngapain lagi? Fungsi ranjang ada di kamar kan memang untuk tidur. Untuk merebahkan tubuh kita." timpal Arini
"Ranjang juga bisa digunakan untuk bermain-main." jawab Davian enteng
"Bermain-main? Ngaco aja! Alif aja kalau main-main di kasur, Ibu selalu memarahinya. Ini lagi, udah tua udah dewasa, masih aja mau main-main di kasur! Huh!" dengus Arini
"Bukan begitu maksudku!"
"Lalu?"
"Kita bisa bermain kuda-kudaan di ranjang ini. Itu permainan yang menyenangkan. Apa kamu tak mau mencobanya?" Davian terkekeh
__ADS_1
"Hahaahha! Ngapain main kuda-kudaan, mendingan aku naik kuda beneran di Puncak. Kudanya juga bagus-bagus! Ada yang di cat mirip kuda pony yang pink itu. Bagus deh pokoknya! Aku jadi ingin pergi ke Puncak." jawab Arini
Arini, sebegitu polos kah dirimu? Sampai-sampai mengartikan kuda-kudaan dengan naik kuda beneran? Apa kamu tak mengerti, bahwa aku ingin naik kuda di ranjang ini denganmu, malam ini! Si kecilku sudah tak tahan, apalagi, semenjak melihat bola duniamu yang indah itu. Oh, Arini.. Ternyata tubuhmu sungguh menggoda. Bisakah aku menyentuhnya malam ini? Aduh, gue keceplosan.'
"Ingin banget kamu naik kuda di Puncak?" tanya Davian
"Iya, Mas. Aku ingin menikmati udara puncak yang dingin dan segar, sambil naik kuda berjalan-jalan disekitar kebun teh! Duh, jadi kebayang-bayang deh."
"Nanti, kita bulan madu ke Puncak. Kamu mau?"
"BULAN MADU?" Arini kaget
"Iya, memangnya kenapa?"
Kalau bulan madu, berarti kan? Aku akan ditiduri oleh Mas Davian, berarti gak jadi sekarang dong ya dia nidurin aku? Yess, yess! Aku bebas malam ini. Ternyata, Mas Davi tak ingin meniduri ku malam ini. Batin Arini
"Nggak, aku setuju. Bulan madu kita, yang indah ya Mas?"
"Tentu saja, Arini. Akan ku buat kamu bahagia."
"Makasih, Mas."
"Sini dong." ucap Davian
Haduuuuuhh, ngapain pake nyuruh kesana. Aku takut. Ibu, tolong aku. Aku takut dia terangsang jika tidur bersamaku lagi. Ingin rasanya aku tidur di karpet saja! Batin Arini
'"Ngapain, Mas?"
"Ya, tiduran aja. Kenapa harus nanya ngapain? Kamu mau aku apa-apain? Yaudah, sini. Dengan senang hati aku melakukannya." timpal Davian
"Eh, nggak kok nggak! Ngaco aja deh Mas ini." Arini gugup
"Sayang, sini. Temani aku, aku ingin peluk istriku yang cantik."
"Ya udah, kalau nggak mau. Tiduran disini aja, nonton televisi bareng aku." balas Davian
"Dari sini juga kelihatan kok. Ini aku sedang nonton." Arini terus membantah
Davian kesal. Arini terus saja tak menuruti perkataannya, Arini malah duduk di meja rias dan membantah perkataan Davian. Ingin rasanya Davian menutup rapat mulut Arini, agar ia tak membantah semua yang diucapkan Davian.
Davian beranjak dari tidurnya. Ia berjalan menuju Arini yang sedang duduk di meja rias. Dengan sigap, Davian membopong Arini secara paksa, agar Arini mau tidur di ranjang bersamanya.
"Aaarrrgghhh, Tuan! Lepasin aku dong. Apa-apaan sih!!!"
"Dibilangin dari tadi, suruh tidur di ranjang. Malah gak mau, kenapa sih? Susah banget nyuruh kamu tidur bareng aku, biasanya gak pernah sulit kayak gini. Kok sekarang jadi sulit."
Davian menjatuhkan tubuh Arini di ranjangnya yang empuk. Davian segera menahan tangan dan kaki Arini agar tak pergi kemana-mana. Davian segera tidur di samping Arini. Ia puas, istrinya itu kini bisa tidur berdua bersamanya.
"Udah, diem disini. Ribet banget hidup lu!"
"Iya, iya. Ini juga udah tidur disini kan? Bawel banget jadi cowok!!!" umpat Arini
"Jujur aja deh, lu takut kan?" tanya Davian
"Takut apa coba?" tanya Arini
"Kalo gak takut, ayo! Kita lakukan sekarang."
Davian membalikan tubuh Arini agar berhadapan dengannya. Ia memegang lengan Arini. Ia menatap Arini dengan gemas.
"Kenapa? Gak berani menatap ku?" tanya Davian
__ADS_1
"Ini terlalu dekat, apa Mas bisa mundur sedikit, aku tak nyaman."
"Kamu gugup kan, aku tahu itu."
"Mas, jangan terlalu dekat begini, aku malu."
"Katanya tadi gak takut, kenapa sekarang jadi gugup begini?" tanya Davian
"Dekat dengan Mas membuat aku tak nyaman. Sungguh!"
"Kita harus dekat, karena aku akan menagih janjiku padamu malam ini."
"JANJI?"Arini pura-pura lupa
"Jangan pura-pura lupa deh! Dari wajahmu juga aku sudah tahu, kalau kamu memang ketakutan, karena kamu takut, aku akan mengajakmu main kuda-kudaan." ucap Davian
"Aku mau kok naik kuda. Bukannya nanti saat bulan madu, iya kan?"
"Itu naik kuda sungguhan. Ini kuda bohongan, kamu yang jadi kudanya." ucap Davian
"Kok aku? Aku kan bukan kuda. Aneh banget sih nih orang satu." umpat Arini
"Mau aku ajarin? Naik kuda-kudaan?"
"Gimana ajarin nya?" tanya Arini
"Aku gak bisa jelasin, aku harus praktekin, Rin." jawab Davian
"Aku nggak ngerti, arah dan tujuan obrolan ini." jelas Arini
"Kamu memang gak bisa diajak bicara perumpamaan, aku harus berkata to the point padamu."
"Baguslah kalau Mas mengerti."
"Ayo, kita lakukan hubungan suami istri yang sebenarnya. Si kecilku sudah tak tahan dari tadi, ingin mencetak gol di gawang mu. Sudah cukup jelas kan?"
"Mmh, anu, itu, Tuan! Eh, Mas! Aku ingin bicara padamu." ucap Arini gugup
"Apa?"
"Bisakah kita melakukannya nanti saja? Setelah aku camping, dan menyelesaikan masalahku dengan Mas Adit, aku masih takut, Mas."
Davian terdiam. Tiba-tiba, wajahnya terlihat seperti seseorang yang sedang kecewa.
"Ya sudah, terserah kau saja. Aku lelah, aku akan tidur."
Davian membalikkan badannya membelakangi Arini. Ia kesal dengan ucapan Arini. Arini jadi tak enak, ia merasa bersalah pada Davian.
"Mas, jangan marah?"
"Nggak!"
"Mas, balik sini."
"Nggak mau."
"Mas, kenapa aku dicuekin?"
"Bayangkan aja, ketika aku sudah siap mencetak gol, tapi gawangnya malah kamu tutup. Gimana perasaanmu? Aku jadi tak akan menang dong kalo gitu!"
"MAAF.... Nanti saja ya?"
__ADS_1
"BODO AMAT!!!"
*Bersambung*