
Pagi ini, Davian mulai bekerja. Seperti biasa, Arini menyiapkan sarapan untuk Davian. Kali ini, Arini membuat gandum dan susu sebagai menu sarapan Davian.
"Silahkan dimakan, Tuan." ucap Arini
"Ikut makan, ayo." jawab Davian
"Nggak usah, Tuan. Saya sudah sarapan tadi sebelum Tuan bangun." tolak Arini halus
"Lain kali, lu makan bareng gue aja! Gue pengen ditemenin." ucap Davian
"Eh, i-iya Tuan."
Arini membereskan rak-rak buku Davian. Seperti biasa, tugas Arini di rumah ini tetaplah pembantu Davian. Asisten lain tak mau membantu Arini, karena mereka pun tahu, Arini hanya menjadi istri sandiwara Tuannya saja.
"Tuan?" tanya Arini
"Ya?" jawab Davian
"Apa boleh siang ini saya mengunjungi teman saya?" pinta Arini pelan-pelan
"Ngapain?"
"Karena sudah lama tak bertemu, saya ingin bermain saja ke butik miliknya."
"Oh dia punya butik? Dimana?" tanya Davian
"Di jalan cempaka, kalau dari rumah Tuan hanya sekali naik angkot, lalu naik busway." jelas Arini
"Biar Dika yang antar lu nanti." jawab Davian
"Gak usah Tuan, itu pasti merepotkan. Aku bisa sendiri, kok." Arini memaksa
"Gak baik cewek sendirian didalam angkutan umum. Apa lu gak takut? Banyak tangan-tangan nakal di sana. Gimana kalau lu di jahatin sama mereka?"
"Nggak mungkin Tuan. Didalam busway juga pasti penuh sesak oleh banyak orang. Apalagi didalam angkutan umum yang sempit."
"Gak mau tahu, lu diantar Dika aja."
"Tapi, Tuan!" Arini tak setuju
"Kalau lu gak mau dianter Dika, biar gue aja yang anter lu nanti." ucap Davian
"Eh, kenapa harus sama Tuan? Sudah kubilang, aku bisa sendiri saja." jawab Arini
"Lu itu istri gue, gue gak mau lu kenapa-napa. Gue gak mau lu naik angkutan umum. Nanti, lu bisa diliatin oleh semua cowok-cowok. Itu yang bikin gue gak suka!"
"Gue mohon, jangan membantah dan jangan tanya kenapa!" ucap Davian lagi
Kenapa Tuan perhatian sekali sama aku? Kenapa aku merasa dia benar-benar mencintai aku? Apa aku berharap terlalu jauh? Tapi, dia memang perhatian, meskipun aku menolak, dia tetap memaksa. Batin Arini dalam hati.
"Baiklah, Tuan."
Davian melanjutkan makannya. Sesekali, ia menatap Arini kesal, karena Arini terlalu fokus dengan pekerjaannya sehingga melupakan Davian.
Davian ingin Arini memperhatikannya. Davian ingin Arini melirik sedikit saja, padanya. Kenapa Arini cuek padanya? Apa perbuatannya semalam, membuat Arini sakit hati?
__ADS_1
Padahal, aku berusaha menjadi pria yang romantis. Meskipun, awalnya aku memang membuatnya takut. Tapi, aku memang ingin memberi kejutan padanya. Aku ini lelaki yang romantis bukan? Gumam Davian dalam hati.
Sampai Davian berlalu pun, Arini tak berbicara sama sekali padanya. Arini hanya tersenyum dan menundukkan kepalanya sebagai tanda hormat.
Davian merasa tak nyaman, dengan perlakuan Arini yang cuek seperti ini. Davian ingin Arini mengucapkan salam padanya, mencium tangannya, dan melambaikan tangan pada dirinya. Namun, Arini terlihat cuek saja.
Davian berlalu dengan perasaan kecewa, karena Arini yang cuek padanya pagi ini. Davian merasa kesal, tapi tak bisa berbuat apapun.
Berbeda hal nya dengan Arini, Arini yang gugup dan malu pada Davian serasa tak bisa berbuat apa-apa. Arini teringat perlakuan Davian semalam. Arina benar-benar malu, rasanya Arini tak bisa bernafas ketika dekat dengan Davian.
***
Siang ini, jadwal Arini akan menemui Salsa, teman SMA-nya. Namun, ketika Arini sedang menunggu sekretaris Dika, Davian meneleponnya.
"Iya, Tuan. Ada apa?" tanya Arini
"Rin, gue ada meeting mendadak sama sekretaris Dika. Lu berangkat sama sopir Mama aja, Pak Gunadi namanya. Gue udah beritahu dia, agar segera menunggu lu didepan." ucap Davian
"Baik, Tuan. Terima kasih atas informasinya." ucap Arini gugup
"Ya sudah, hati-hati dijalan. Nanti kalo keburu, gue jemput lu di butik itu."
"Eh, gak usah repot-repot, Tuan." Arini sungkan
"Gak apa-apa! Lu tinggu aja di butik itu, gue pasti jemput lo."
"Eh i-iya, terima kasih, Tuan." jawab Arini
Davia menutup teleponnya. Arini segera berangkat menuju parkiran depan rumah Davian. Ternyata, benar saja apa kata Davian, Pak Gunadi telah menunggu di depan mobil.
"Eh, iya Pak. Makasih!"
Perjalanan memakan waktu sekitar setengah jam. Kini, Arini telah berada di butik Salsa. Salsa's Boutique, namanya.
Orang tua Salsa termasuk orang yang berada, Salsa bisa mempunya butik semegah ini karena perjuangan orang tuanya. Salsa beruntung, bisa mempunyai usaha di usianya yang masih muda.
Walaupun Salsa orang berada, Salsa tak pernah melupakan Arini. Salsa baik hati pada Arini. Mereka terpisah, ketika Arini dan Salsa akan masuk perguruan tinggi. Salsa masuk ke PTN Negeri, sedang Arini hanya bisa kuliah di universitas swasta, dan itupun harus kandas di tengah jalan.
Mereka sudah jarang bertemu. Kali ini, Salsa sangat tercengang mendengar Arini bekerja di rumah Davian. Davian sangat terkenal dimana-mana. Mendengar Arini bekerja di tempat Davian, membuat Salsa menjadi jealous dan kesal.
"Halo, Rin! Apa kabarnya lo? Long time no see ya!" ucap Salsa
"Baik, Sa. Lu sendiri gimana? Lu hebat banget, Sa. Bisa punya butik semewah ini." Arini takjub melihat butik Salsa yang luas dan mewah
"Gue sibuk akhir-akhir ini. Ah, biasa aja Rin. Gue juga baru merintis usaha ini sendiri."
"Bagus, Sa. Lu bener-bener hebat deh!" ucap Arini
"Rin, apa bener lu jadi pembantu di rumah Davian?" tanya Salsa
"Iya, Sa. Baru sebulanan kerja di rumahnya dia, Sa!" jawab Arini
"Beruntung banget lu Rin, bisa kerja bareng Davian." ucap Salsa
"Gak seberuntung orang-orang sih, Tuan Davian itu benar-benar menyebalkan. Aku kadang kesel sama ulahnya!"
__ADS_1
"Hahaha! Jarang lo ada cowok kayak gitu. Davian itu berkharisma banget menurut gue." Salsa kagum dengan Davian
"Dia memang ganteng, tapi sayang, dia itu sombong." ucap Arini
"Lah, wajar aja Rin sombong! Davian kan tajir melintir dari dulu. Orang tajir gak sombong itu kayak sayur tanpa garam tau nggak, hambar rasanya." jelas Salsa
"Sa, lu kok kayaknya perhatian banget sama Tuan Davian. Lu kenal dia?" tanya Arini
"Nggak, gue cuma tahu sekilas aja." jawab Salsa
"Gue kira lu kenal deket sama Tuan Davian. Kelihatannya lu tahu segalanya tentang dia. Eh, eh! Baju-baju di butik lu ini mahal gak sih?" tanya Arini
"Namanya juga butik, beda dari pasar! Jelas harganya selangit dong Rin." jawab Salsa sombong
"Pantas saja bajunya bagus-bagus dan mewah gini." Arini takjub
"Banyak loh artis-artis dan orang-orang kaya datang ke butik gue ini. Gue merasa seperti orang penting jadinya." ucap Salsa
"Wah, temen gue udah jadi desainer nih sekarang!" ucap Arini
"Iya, dong. Apa sih yang gue gak bisa?" Salsa di atas angin
"Sa, boleh dong gue dikasih baju dari butik lu ini. Gue pengen beli, tapi belom ada duit! Moga aja lu mau kasih. Ngarep ya gue, hehehe." Arini sedikit bercanda, namun terlihat bawa ia memang berharap
"Enak aja lu Rin! Baju-baju disini tuh mahal-mahal tahu, gue gak mungkin kasih gratis cuma-cuma buat lu. Lu beli satu baju aja musti nunggu tiga bulan gajian kali."
Ucapan Salsa menyakiti hati Arini. Kenapa rasanya sakit sekali, meskipun dengan temannya, tapi rasanya Salsa telah menghantam habis harga diri Arini. Salsa yang sekarang sangat berbeda dengan Salsa yang dulu. Arini begitu kaget, ia tak menyangka temanya kini tengah berubah.
Salsa benar-benar sombong. Berbeda ketika dulu ia masih SMA, Salsa sangat baik dan perhatian pada Arini. Arini menghela nafas, dan mencoba mengertikan Salsa yang sifatnya sudah berubah.
"Ya sorry deh Sa. Gue cuma becanda kok. Jangan dimasukin kehati ya." ucap Arini
"Ya lu kira-kira aja, baju gue yang harganya jutaan ini harus gue kasih cuma-cuma ke elu, enak aja deh. Gue aja kalau mau bajunya, musti beli. Biar modal gue tetep muter!" jelas Salsa
"Iya, iya Sa. Maaf ya." Arini mulai tak nyaman
Tiba-tiba, Davian sudah ada di ruangan itu dan mengagetkan Salsa dan Arini. Arini tak percaya, Davian datang menjemputnya.
"Berapa harga baju ini? Kenapa lu sombong banget? Bukankah Arini itu temen lu? Kenapa lu pelit banget sama dia?" Davian muncul tiba-tiba, membuat Salsa kaget setegah mati.
"Dika, beli semua baju yang ada disini. Berikan untuk Arini. Orang sombong seperti dia, harus mendapat pelajaran." Davian menatap benci kepada Salsa.
"Tuan..." Arini berdebar, ia takut.
"Lu kalau sama gue, bisa bantah dan membangkang. Kenapa didepan temen lu, harga diri lu diinjak-injak seperti itu, lu malah diem aja dan masih bisa terima." Davian marah
"Tuan, cukup.." Arini menunduk.
Davian mendekati Salsa yang gugup.
"Jangan sombong. Arini itu wanita yang spesial buat gue. Jangan macem-macem sama dia." Davian menarik tangan Arini, lalu pergi meninggalkan Salsa yang diam membisu.
"Apa? Nggak mungkin!" Salsa tak percaya
*bersambung*
__ADS_1