Terjerat Cinta Sang Pembantu

Terjerat Cinta Sang Pembantu
Calandra series 8


__ADS_3

Selamat membaca ...


Jangan lupa like dulu ya... Makasih ❀


Satu minggu kemudian ...


Hari ini, hari pertama Nisha berada satu universitas bersama Elang. Nisha masih belum bisa beradaptasi dengan universitas barunya. Disini, tak ada satupun orang yang Nisha kenal selain Elang. Nisha menelepon Elang, tapi tak pernah ada jawaban dari Elang. Tak lama, seseorang wanita datang menghampiri Nisha yang tengah kebingungan mencari Elang.


"Hi ... Nisha ya?" sapa wanita itu.


"Iya, siapa ya?" tanya Nisha heran.


"A-aku, Rena, Renata. Salam kenal ya, Aku temennya Elang. Kata Elang, kamu hari ini jadi mahasiswa disini, dan Elang juga nyuruh aku agar aku bantuin kamu." ucapnya.


"Kamu temennya Elang? Kok aku gak pernah tahu ya?" Nisha heran.


"Ah, aku temen di kampusnya. Kamu pasti gak kenal sama aku." ucap Rena gugup.


"Oh, syukurlah. Aku bisa tanya-tanya sama kamu." Nisha tersenyum.


Rena membalas senyuman Nisha. Rena diperintahkan oleh Elang untuk menjaga Nisha. Rena awalnya keberatan, tapi Elang terus meyakinkan Rena, agar dirinya mau membantu Nisha. Nisha memulai kelasnya. Elang pagi ini tak ada kelas, Elang sedang di kantin bersama teman-temannya.


"Bro, serius lu tuh cewek taruhan kuliah di kampus ini?" tanya Haris.


"Serius. Dia dibiayai oleh keluarga konglomerat. Gue keberatan banget dia disini. Tapi, gue bingung orang dia yang pengen kuliah disini. Katanya, dia pengen deket sama gue." ucap Elang.


"Ya udah. Kenapa lu kayak keberatan gitu? Katanya ku mau mencoba mencintai dia. Gimana sih lu!" celetuk Andre.


"Gue bingung. Gue udah jadian juga sama si Rena." ucap Elang pelan-pelan.


"Ha? Gila lo, Lang! Parah bener sih lo!" Andrea tak percaya.


"Sejak kapan, Lang? Bukannya si Rena selalu nolak lo?" Dio tak percaya.


"Baru dua minggu yang lalu. Entah kenapa dia tiba-tiba ngedeketin gue. Dia bilang dia mau nerima cinta gue. Gue ya bingung banget disitu. Ya udah, karena dia cantik, primadona kampus, ya gue jadian deh sama dia." Elang menggaruk-garuk kepalanya.


"Terus tuh cewek taruhan mau gimana?" tanya Benji.


"Tapi gue udah jujur sama Rena. Bahkan gue minta tolong si Rena buat bantuin Nisha." ucap Elang.


Andre tertawa, "Hahaha, parah lu, Lang. Lu menyatukan mereka, agar istri pertama sama istri kedua jadi akur gitu?"


"Iya Lang! Kok kesannya elu kayak mau poligami sih." Benji ikut tertawa.


"Sialan lu. Karena Rena udah nerima gue, gue bakal pilih Rena, dan mutusin Nisha." ucap Elang.


"Gila lu. Tuh cewek kan keliatan banget kalau sayang sama elu, Lang. Lu gak kasihan apa?" tanya Haris.


"Gue kasihan sama dia, makanya gue jadiin dia pacar gue. Dari dulu gue bilang, kasihan dia. Makanya gue berani macarin dia." tegas Elang.


"Ya udah, si Nisha buat gue aja." sambar Dio.

__ADS_1


"Sembarangan lo, Yo. Gak bisa. Gak boleh ada siapapun diantara kalian yang berhak milikin Nisha!" tegas Elang.


"Egois lu, Lang. Apa lu mau dua-duanya?" sambar Benji.


"Kurang asem, lu. Udah deh, berisik kalian. Gue mau cari cara, gimana caranya mutusin si Nisha." Elang bingung.


"Suka-suka elu deh Lang." Haris geleng-geleng kepala.


Ya, Rena adalah gadis yang sudah Elang sukai sejak masuk kuliah. Rena gadis yang cantik dan digilai oleh laki-laki di kampusnya. Elang termasuk laki-laki yang menyukai Rena. Tapi, Rena tak pernah membalas perasaan Elang. Baru kali ini, Rena mendekati Elang. Entah apa penyebabnya, yang jelas Elang bahagia karena Rena mau menjadi pacarnya. Padahal, Elang nembak Rena sudah lama, sebelum ia menjadikan Nisha pacar taruhannya.


...🌸🌸🌸...


Nisha sudah selesai kuliahnya. Ia akan segera menuju rumah Arini untuk mengajari Livia les. Nisha tak juga mendapat telepon dari Elang. Nisha merasa kesal, karena seharian ini Elang tak juga menghubunginya. Padahal, Nisha berharap, bahwa Elang mau pulang bersamanya. Nisha membuka ponselnya, lalu ia menghubungi Elang.


Telepon tersambung ...


"Halo, sayang. Kamu dimana?" tanya Nisha lewat ponselnya.


"Maaf Nish. Aku udah pulang. Aku ada urusan keluarga. Aku sama Ayahku lagi di rumah Nenekku, Nenekku sakit. Aku gak sempet ngabarin kamu. Maaf ya, aku sibuk hari ini." ucap Elang.


"Oh, gitu ... kukira kamu lupa sama aku, Lang." Nisha terdengar kecewa.


"Enggak kok. Aku cuma lagi ada urusan aja. Eh, udah dulu ya, nanti aku hubungi lagi. Bye, Nish ... " Elang mematikan ponselnya.


Nisha sedih. Ia tak mengerti kenapa Elang begitu tega pada dirinya. Nisha merasa, Elang tak suka jika Nisha kuliah di tempat yang sama dengannya. Nisha pun berjalan mengelilingi kampus. Ia memutuskan untuk pulang saja, dan naik kendaraan umum menuju rumah Arini.


Langkahnya terhenti tepat di gerbang kampus. Matanya terbelalak kaget, ketika Nisha mendapati Calandra tengah berdiri di mobilnya dan menatap kearah Nisha. Heran, itulah yang Nisha rasakan. Untuk apa Calandra berada di universitas ini.


"Ka-kamu, ngapain kamu disini?" Nisha mendekati Calandra.


"Enggak, makasih. Aku bisa pergi sendiri." Nisha menolak.


"Kamu jangan menolak, Nisha. Aku jauh-jauh datang dari kampusku untuk menjemputmu. Kenapa kamu malah menolak? Aku sudah berbaik hati, agar kamu tak terlalu jauh menuju rumahku!" ujar Calandra.


"Aku gak minta kamu buat jemput aku kesini. Aku gak perlu diperlakukan seperti itu. Aku mampu pergi sendiri. Udah, kamu pergi aja. Aku mau naik angkutan umum!" tegas Nisha.


"Nish, ini perintah Mommy-ku. Aku disuruh jemput kamu. Masa kamu nolak sih? Apa kamu mau ngobrol sama Mommy-ku? Dia minta aku jemput kamu! Karena dari Universitas ini menuju rumahku itu lumayan jauh! Ayo, berangkat. Jangan banyak bicara kamu!" Calandra menarik tangan Nisha lalu membuka pintu mobilnya.


"Eh, lepas! Lepasin, gak! Sembarangan aja kamu pegang-pegang!" Nisha kesal.


"Masuk, ayo ... " Calandra memaksa Nisha masuk ke mobilnya.


Nisha pun telah masuk ke mobil Calandra, dan Calandra pun segera naik ke mobilnya. Mobil Calandra berlalu dari kampus tersebut. Nisha tak menyadari, ternyata Haris dan Benji melihat kejadian itu. Haris dan Benji bertanya-tanya, siapa lelaki yang menjemput Nisha.


"Apa itu pacarnya si Nisha, Ben?" tanya Haris.


"Ah, gak mungkin. Cowok itu juga terkesan memaksa si Nisha kok." ucap Benji.


"Kalo si Elang tahu, apa dia bakalan cemburu?" tanya Haris.


"Udah, biarin aja. Kita pura-pura gak tahu. Biarin si Elang nyesel udah buang mutiara demi perak." ucap Benji.

__ADS_1


"Bener juga lu. Setahu gue, si Rena itu sugar baby, loh!" ujar Haris.


"Iya, gue tahu kabar itu. Cantik sih, tapi ngeri. Biarlah si Elang ngurus dirinya sendiri. Dia susah dikasih tahu!" tegas Benji.


"Yoi, Bro. Yok, balik ah!" ajak Haris lalu mereka menuju parkiran.


...🌸🌸🌸...


Selama dalam perjalanan, Nisha cemberut. Ia kesal pada Calandra. Nisha tak suka, Calandra selalu saja memegang tangannya dan memaksanya. Ingin rasanya keluar dari mobil ini, tapi Nisha takut dirinya terluka. Calandra menatap Nisha, Calandra tahu, kalau Nisha kesal dan marah padanya.


Entah mengapa, Calandra ingin sekali menjemput Nisha. Ia merasa ingin melindungi Nisha setelah ia tahu, kalau dirinyalah penyebab hidup Nisha hancur. Sepahit apapun Nisha menolak, rasanya Calandra ingin terus menolong dan membantunya.


"Lain kali, gak usah jemput aku lagi. Aku gak suka!" tegas Nisha.


"Kenapa? Harusnya kamu seneng ada yang jemput kamu!" jawab Andra.


"Aku gak enak sama pacarku kalau dia lihat aku di jemput orang lain. Please, kamu gak usah jemput-jemput aku lagi." jawab Nisha kesal.


Andra menyeringai, "Pacar? Kalau kamu punya pacar, kenapa pacar kamu gak anterin kamu ke rumahku? Kenapa malah aku yang menjemputmu? Kemana pacarmu? Halu kamu!" Andra tersenyum puas.


"Dia sama Ayahnya lagi jenguk Neneknya yang sakit. Tadi dia ngabarin aku, kok. Udah deh, gak usah ngompor-ngomporin!" Nisha cemberut.


"Nenek?" Calandra berpikir.


Bukankah kedua orang tua sekretaris Dika sudah meninggal karena kecelakaan ketika aku masih SMP? Dan juga, bukankah istri sekretaris Dika hanya mempunyai Ayah, karena Ibunya juga telah pergi. Si Elang kan anak sekretaris Dika. Kenapa dia bilang jenguk Nenek dengan Ayahnya? Calandra bingung.


"Siapa nama Ayahnya pacar kamu?" tanya Calandra.


"Aku belum tahu, karena aku belum pernah bertemu dengan kedua irang tuanya." ucap Nisha.


Calandra segera membuka handphone-nya, lalu memasang earphone kd telinganya. Ia akan menghubungi Davian. Telepon pun tersambung, dan tak lama, Davian pun mengangkat telepon Calanra.


"Halo, anakku. Ada apa?" tanya Davian lewat ponselnya.


"Dad, Daddy dimana? Apa sedang bersama sekretaris Dika?" tanya Calandra.


"Iya, aku sedang dengan sekretaris Dika. Aku sedang meeting di Bogor. Memangnya kenapa?" tanya Davian.


"Oh, gak apa-apa, Dad. Hati-hati ya, jangan pulang terlalu malam."


"Baik, Andra. Aneh kamu, tumben-tumbenan seperti ini padaku." Davian heran.


"Aku tutup ya, Dad." Andra menutup teleponnya.


Sudah bisa di pastikan, Elang berbohong pada Nisha. Pertama, Elang berbohong jika ia akan menjenguk Neneknya. Kedua, ia juga berbohong soal Ayahnya. Jelas-jelas Ayah Elang sedang bersama Daddy Davian. Calandra menatap Nisha, lalu ia berkata ...


"Pacarmu berbohong. Dia tak menjenguk Neneknya. Kamu harus menanyakan kebenarannya. Kamu telah dibohongi, Nisha!" tegas Calandra.


Nisha menatap tajam, "Apa maksudmu? Kamu mau menghancurkan hubunganku? Aku tak mungkin mempercayai laki-laki seperti kamu! Aku lebih percaya pada kekasihku sendiri! Diamlah, dan jangan banyak bicara." Nisha emosi.


"Terserah kamu. Aku hanya memberi tahu, percaya atau tidak, bukan urusanku. Aku hanya akan tetap pada tujuanku. Bahwa aku akan menebus dosaku dengan melindungi dan menjaga kamu!" ucapan Calandra penuh makna.

__ADS_1


DEG. Jantung Nisha berpacu sangat cepat.


*Bersambung*


__ADS_2