
Kisah Sekretaris Dika dan Nadya.
Mungkin, bagi sebagian orang, cinta bukanlah hal mudah. Menyatukan dua insan yang berbeda, agar bisa menjadi satu, dalam sebuah ikatan. Ada laki-laki yang mudah mengutarakan cinta, tapi ada juga laki-laki yang tak bisa mengungkapkan cinta, padahal ia jelas-jelas sangat mencintai wanita itu.
Hal yang sering dialami oleh sekretaris Dika. Mencintai seseorang, tapi bingung bagaimana mengungkapkannya. Dulu, ketika ia dekat dengan Tira, ia pun mengalami hal yang sama. Ia tak bisa mengungkapkan perasaannya. Ia tak pandai meraih hati wanita. Ia tak bisa romantis. Bagaimana ia harus mengungkapkan perasaannya?
Kini, kedekatannya dengan Nadya sama sekali tak menunjukkan progress yang positif. Sekretaris Dika sangat kaku, dan bingung harus bagaimana berbicara pada wanita mengenai perasaannya. Haruskah ia menyatakan cinta? Baginya, pernyataan cinta itu tidak penting. Yang penting adalah, pembuktian cinta itu sendiri.
"Woy! Ngapain lu ngelamun deket kolam? Gue ceburin tau rasa lu!" Davian menghampiri sekretaris Dika yang sedang menyendiri.
"Ngagetin aja lu, Bos." timpal sekretaris Dika.
"Kenapa lu? Kok muka lu melow gitu? Banyak pikiran lu ya?" tebak Davian.
"Kagak, Bos. Sotoy deh lu." sekretaris Dika sedikit gugup.
"Gimana hubungan lu sama temennya istri gue?" tanya Davian.
"Gak gimana-gimana. Emang musti gimana, Bos?" tanya sekretaris Dika polos.
"Lu udah pacaran belum sama dia?" tanya Davian.
"Uhukk, uhukk. Kenapa harus pacaran sih Bos? Kita juga udah deket kok." jawab sekretaris Dika gugup.
"Pacaran itu seenggaknya lu sama dia udah ada ikatan! Kalau elu gak nyatain perasaan elu ke dia, gimana dia mau tahu perasaan lu yang sesungguhnya. Direbut orang baru tahu rasa lu!" tegas Davian.
^^^Gue udah ngerasain cewek yang gue suka direbut orang, Bos. Itulah kelemahan gue, gue gak bisa nyatain perasaan gue yang sesungguhnya. Gue juga bingung, dengan hati dan perasaan gue. Entah kenapa gue jadi ciut begini ngadepin wanita. Batin sekretaris Dika.^^^
__ADS_1
"Belum, Bos. Gue bingung bilangnya. Yang jelas, gue deket sama dia aja itu udah suatu pertanda, kalau kita memang ada hubungan!" tegas sekretaris Dika.
"Curut-ku tersayang, pantesan aja elu sampe sekarang belum pernah pacaran. Ternyata, ini kelemahan elu. Eh, denger gue ya! Cewek itu butuh kejelasan. Kalo elu gak nyatain cinta lu ke Nadya, dia bisa-bisa lari dari lo. Intinya, sebuah hubungan itu, selain perlu kedekatan, ikatan juga perlu! Elu harus yakinin dia, kalo elu emang buat dia, Dik. Jangan biarin gantung gini. Kalo dia merasa kesel digantung terus sama elu, dia pasti nyari cowok lain. Percaya deh apa gue kata!" Davian memperingatkan.
"Ah, masa sih Bos? Kan dia deketnya sama gue. Masa berani deket sama cewek lain." ujar sekretaris Dika.
"Dia deketnya sama lom Tapi, elo sama dia ada hubungan gak? Status lu sama dia apa? Kalo lo gak bisa nyatain perasaan lo ke cewek, lo ajak nikah aja langsung! Aman kan tuh." Davian terkekeh.
"Ah, gila lo! Kalo gue ditolak gimana. Sumpah, Bos. Gue bingung dengan perasaan gue sendiri. Di satu sisi, gue nyaman sama dia. Tapi, gue gak bisa nyatain perasaan gue. Kayak berat banget rasanya!" tegas sekretaris Dika.
Davian hanya menggelengkan kepalanya ketika mendengar sekretaris Dika berbicara. Lelaki yang pintar dan sigap dalam bekerja seperti sekretaris Dika, ternyata tak menjamin bahwa ia juga akan pintar dalam urusan percintaan.
"Elu denger gue. Jangan elu abaikan ucapan gue ini Gue gak akan ngulang dua kali. Elu musti dengerin baik-baik, Dik!" perintah Davian.
"Baik, Bos. Gue dengerin elu. Apaan emang?" sekretaris Dika mendengarkan.
"Ha? Apa harus seperti itu Bos? Gue gak bisa, gue terlalu malu." ujar sekretaris Dika.
"Elu bukan malu, tapi lu gengsi. Iya kan? Cepetan pergi. Lu sama dia udah terlalu lama jalanin hubungan gak jelas. Sekarang waktunya elu seriusin tuh cewek. Jangan sampe elus nyesel karena gak nembak dia!" tegas Davian.
"Eh, Bos kok maksa sih? Ba-baiklah, gue berangkat sekarang." sekretaris Dika tak ada pilihan lain.
"Sekarang atau enggak sama sekali. CEPET!" perintah Davian.
"Siap, Bos!" sekretaris Dika kaget karena Davian terkesan memaksanya.
Sekretaris Dika memakai mobil Davian dan segera berangkat menuju rumah Arini untuk bertemu Nadya. Sekretaris Dika bingung, karena ia belum pernah menyatakan perasaan pada wanita secara khusus. Tapi, karena ini perintah Davian, dan dirinya juga tak ingin menggantung Nadya, sekretaris Dika harus menyatakan perasaannya secara tulus.
__ADS_1
Sesampainya di rumah Arini, Sekretaris Dika langsung masuk ke minimarket tempat Nadya bekerja. Tapi, Nadya tak terlihat. Sekretaris Dika keluar lagi dan memasuki rumah Arini, untuk bertanya pada Ibu Arini. Beruntungnya, Ibu Arini ada di dalam rumah ketika sekretaris Dika mengetuk pintunya.
"Eh, Nak Dika. Ayo, masuk. Duduklah dulu!" ucap Ibu Arini.
Sekretaris Dika pun masuk dan duduk, "Siang Bu. Wah, lagi buat apa nih?"
"Ini Ibuk lagi buat syal dari kain wol. Iseng aja sambil menunggu anak-anak. Oh iya, Nak Dika ada keperluan apa kesini? Apa disuruh sama Arin?" tanya Ibu Arini.
"Oh, enggak kok Bu. Dika kesini mau bertemu sama Nadya." ucap sekretaris Dika.
"Wah, kebetulan Nadya lagi izin barusan. Dia bilang mau ketemu seseorang katanya. Malah Ibu kira itu kamu, Nak Dika. Eh, ternyata bukan. Gak tahu mau ketemu sama siapa Nadya itu. Coba kamu telepon dulu." ucap Ibu Arini.
"Oh baiklah, Bu. Nanti saja Dika telepon lagi.Nanti Dika kesini lagi ya, Bu. Dika mau pamit aja. Takut Bos nungguin." tegas sekretaris Dika.
"Eh, kok buru-buru amat. Ibu aja belum sediain kamu minum, Dik." ucap Ibu.
"Gak apa-apa kok, Bu. Nanti Dika kesini lagi aja ya. Sekarang Dika harus pergi. Assalamualaikum." Sekretaris Dika beranjak dari duduknya kemudian keluar dari rumah Arini.
"Baiklah, Nak. Waalaikumsalam. Ayo, Ibu antar ke depan.
Sekretaris Dika kesal. Ternyata, Nadya sedang tak ada di minimarket. Ia bertanya-tanya. Dimanakah Nadya? Dan bersama siapakah Nadya? Pertanyaan itu sekelebat terlintas di benak sekretaris Dika. Ia terpaksa melajukan mobilnya untuk kembali pulang, karena percuma, Nadya tak ada.
Hari ini, Jakarta sangat macet. Sekretaris Dika terjebak macet yang lumayan panjang. Ia terpaksa berdiam diri, karena berbalik arah pun sudah tak mungkin. Tiba-tiba, pandangannya tertuju pada restoran di pinggir jalan yang terlihat jelas dari tempat dirinya berada. Dika merasa aneh, karena melihat pelanggan yang berada di pinggir jendela terlihat jelas sekali.
NADYA? Bersama siapa dia? Laki-laki dihadapannya, tersenyum padanya. Nad, kenapa kamu tega jalan-jalan bersama laki-laki lain? Sebegitu tak berartinya kah aku di matamu? Hingga kamu tega seperti ini. Hatiku sakit melihatnya. Mungkin benar yang dikatakan Bos. Wanita tak mau digantung, dan wanita butuh kejelasan. Ya Tuhan. Kenapa baru sekarang aku menyadarinya? Kenapa aku tak suka melihat Nadya bersama laki-laki lain. Arrggghhh, aku harus segera menyatakan perasaanku pada Nadya. Agar aku tak kecewa untuk yang kesekian kalinya.
*Bersambung*
__ADS_1