
Rangga dan Tira masih tak saling sapa, sejak kejadian Rangga menggerutu pada Tira, Tira jadi badmood dan semakin malas melakukan hal apapun. Keyza yang tak mengerti dengan perilaku kedua orang tuanya, memutuskan untuk bermain rumah barbie saja, daripada kesal melihat mereka tak saling sapa.
Rangga yang tak nyaman dengan keadaan ini, sebenarnya ingin kembali bertanya pada Tira, namun egonya memaksa kalau Rangga harus mendiamkan Tira. Tira pun semakin kesal dibuat Rangga. Rasanya, ia ingin pergi kemana pun, asalkan tak melihat wajah suaminya.
Lima jam setelah kepulangan Rangga, masih tak ada perubahan. Hingga Rangga benar-benar kesal dan mendekati Tira yang sedang membaca majalah di sofa. Rangga duduk di depan Tira. Ia menatap Tira dengan tatapan penuh tanya.
"Ra!" sapa Rangga dengan nada masih ketus.
Tira hanya mendelikkan matanya pada Rangga. Ia enggan menjawab ucapan Rangga. Melihat wajahnya saja, Tira sudah kesal bukan main. Wajah tampan Rangga, membuat Tira kesal. Tira membenci wajah Rangga yang tampan. Tira tak suka, entah kenapa ketika Tira menatap wajah Rangga, rasanya malah mual dan ingin muntah.
"Kamu masih marah?" tanya Rangga pelan-pelan.
"Enggak. Udah diem!" Tira tak ingin melihat wajah Rangga.
"Ra, kok kamu gitu sih? Kenapa kayak jijik banget lihat wajah aku?" tanya Rangga lagi.
"Enggak, aku gak jijik. Cuma gak mood aja. Udah sana, jangan ganggu aku!" Perintah Tira.
"Aku gak mau gini terus. Aku akan tetap disini sampai kita menyelesaikan masalah kita tadi pagi." tegas Rangga.
"Gak apa-apa. Udah lupain aja, udah kamu pergi aja Bang." Tira sungguh muak melihat wajah suaminya.
"Ra, kamu kenapa sih? Nyebelin banget!" tegas Rangga.
"Bang Rangga, kalau aku bilang pergi ya pergi aja! Kenapa sih bawel banget? Aku tuh males lihat wajah kamu, tahu gak! Aku pengen kamu pergi aja! Kenapa sih malah deketin terus!" Tira sungguh kesal.
"Oh jadi kamu mau aku pergi? Ya udah, aku pergi! Aku gak akan deket-deket kamu! Kalau kamu udah gak males lihat wajah aku, hubungi aku, baru aku akan pulang!" tegas Rangga.
"Terserah!" Tira membiarkan Rangga.
Rangga mengambil jaket dan kunci mobilnya. Ia segera pergi meninggalkan Tira. Tira sempat kecewa, karena Rangga tak bertahan, Rangga malah pergi begitu saja. Padahal, Tira ingin Rangga tak pergi dan memohon maaf padanya.
Kenapa dia malah pergi sungguhan? Kenapa dia tidak merayuku? Kenapa Bang Rangga jahat sekali padaku? Kenapa dia membiarkanku sendirian disini? Kenapa sih? Kenapa dia tak bisa peka jadi laki-laki? Aarrgghh, aku kesal pada Bang Rangga. Batin Tira.
Tira menangis lagi. Suasana hatinya mudah berubah. Kadang ia kesal, ia malas, lalu ia mudah menangis. Entah apa yang terjadi padanya. Yang jelas, Tira sangat membenci Rangga karena perlakuan Rangga padanya.
Rangga yang kesal segera melajukan mobilnya dengan cepat. Ia bingung harus kemana. Namun, ia kesal jika berada di rumah terus. Rangga teringat pada Davian. Namun, ini hari kerja. Sepertinya, Davian pun sedang di kantornya. Tapi, Rangga mencoba menghubunginya dahulu.
Tut ....
__ADS_1
Telepon tersambung, tak lama Davian pun mengangkatnya.
"Halo, Ga. Kenapa?" sapa Davian di ujung ponselnya.
"Lu dimana, Dav?" tanya Rangga.
"Di kantor. Kenapa emang?" jawab Davian.
"Sibuk gak? Gue mau ke kantor lu, Dav. Itupun kalo lu gak sibuk," ucap Rangga lalu membetulkan posisi ponselnya.
"Enggak kok, gue santai. Sini aja, Ga! Emangnya ada apa sih? Kok kayak darurat gitu?" tanya Davian.
"Kagak! Entar aja gue ceritain di sana. Ya udah, gue on the way perusahaan alo sekarang!" ujar Rangga.
"Oke, bro!" Davian mematikan teleponnya.
Rangga segera melajukan mobilnya dengan cepat. Ia ingin segera curhat pada Davian mengenai masalahnya dengan Tira. Walaupun usia Davian berada di bawah Rangga, namun kedewasaan Davian tak dapat di pungkiri. Rangga selalu saja percaya curhat pada keponakannya sendiri. Davian bisa mencairkan suasana hatinya yang sedang kalut.
Sesampainya di perusahaan, Rangga di sambut oleh security dan beberapa penjaga lainnya. Ia naik lift dan berharap segera sampai di ruang kerja Davian. Rangga sudah sangat kesal dan ingin mencurahkan isi hatinya yang mengganjal karena ulah Tira.
Sekretaris Davian mempersilahkan Rangga masuk kedalam ruang kerja Davian. Terlihat Davian yang sedang mengetik sesuatu lewat layar monitor nya. Davian melihat Rangga dengan tatapan kusut. Davian mempersilahkan Rangga untuk duduk di sofa empuknya. Davian beranjak daei meja kerjanya dan turut duduk di sofa bersama Rangga.
"Dav, pusing gue!" Rangga mengacak-acak rambutnya.
"Pusing kenapa lu, Bang? Bukannya lu baru pulang dari Swiss?" tanya Davian.
"Iya, gue baru pulang tadi pagi. Tapi, gue kesel sama si Tira!" keluh Rangga.
Davian memperhatikan, "Kesel? Emangnya kenapa?" tanya Davian.
"Lu bayangin, Dav! Gue baru pulang dari Swiss lihat kondisi rumah kayak kapal pecah. Gila, suasana hati gue yang semula baim jadi kacau. Belum lagi, si Tira pas gue pulang ternyata masih tidur aja! Padahal, itu udah hampir jam sepuluh, Dav. Gue baru tahu sifat wanita yang sebenarnya baru ketahuan setelah menikah. Sumpah, gue kesel banget. Ditanya, malah nangis, heran gue." Rangga menjelaskan.
Davian memperhatikan ucapan Rangga. Sepertinya, bukan karena Tira malas atau pun jorok. Davian masih terus mendengarkan ucapan Rangga sebelum ia mengeluarkan pendapatnya.
"Lagi sakit kali, Ga!" Tegas Davian.
"Kagak, dia lagi sehat, Dav. Jelas banget sehat. Gue kesel sumpah. Harusnya kan gue yang marah sama dia, eh malah dia yang marah-marah sama gue. Udah gitu, pas gue marah balik, dia malah nangis, padahal sebelumnya dia gak pernah se-cengeng itu. Kan gue jadi serba salah," gerutu Rangga.
"Kok aneh sih Ga? Setahu gue, Tira itu orang yang kuat. Dia gak mungkin cengeng kalo hanya masalah sepele. Ditambah lagi, dia gak jorok kok. Dia rajin banget bersih-bersih. Apa lu ulang tahun? Jadi dia buat surprise buat lu." terawang Davian.
__ADS_1
"Enggak, ulang tahun gue masih empat bulanan lagi. Itu yang gue heran. Apalagi nih ya, ketika gue udah mulai mau baik-baikin dia, dia malah kayak kesel gitu lihat muka gue. Dia jijik gitu pas lihat gue. Ya ampun, Dav! Apa lu tahu, dia maksa gue pergi karena dia bilang kesel lihat muka gue! Sumpah, gue kesel banget. Ternyata, berumah tangga itu tak semudah yang kita kira, ya!" gerutu Rangga.
Davian mengangguk-angguk. Sepertinya ia tahu permasalahan yang dialami Rangga. Davian tersenyum nakal pada Rangga. Ternyata, usia Rangga yang lebih tua darinya, tak menjamin Rangga lebih dewasa darinya. Ternyata, Rangga lebih polos dari dugaannya.
"Kenapa ketawa lu? Seneng ya lu gue menderita?" Rangga kesal.
Davian masih tertawa, "Enggak, gue cuma heran aja kenapa lu polosnya kebangetan. Gue tanya sama lu, nikah udah sebulanan kan ya?" Davian menebak.
"Iya, emangnya kenapa?" tanya Davian.
"Kenapa lu bego banget sih Bang? Perubahan pada istri lu itu hal yang wajar! Ular Phyton lu ganas juga ya, kayak Cobra punya gue!" Davian terkekeh.
"Maksud lu? Tahu darimana lu kalau Phyton gue ganas?"
"Jelas tahu lah! Istri lu tuh kayaknya hamil deh! Perubahannya udah kayak orang hamil, Ga. Dulu, kalau Arini, pas hamil muda itu muntah dan mualnya yang berlebihan, gue sampe ikut nangis lihat dia kayak gitu. Perbawa setiap bayi itu beda-beda, Ga. Mungkin aja istri lu jadi males karena efek bayi didalam rahimnya dia!" tegas Davian.
"A-apa? Istri gue hamil?" mata Rangga berbinar.
"Coba aja lu tanya, dia udah menstruasi belom? Lu salah kalau marah-marah sama dia. Parah lu, harusnya pas istri lagi ngalamin ngidam kayak gitu, elu harus selalu ada buat dia! Bukannya malah elu ngebiarin dia kayak gitu! Apalagi lu marah-marahin dia." Davian menasehati Rangga.
"Serius lu Dav? Gue gak yakin dia hamil. Berdosa banget dong ya gue kalau ternyata Tira beneran hamil." Rangga merasa malu.
"Ya iya lah, dosa lu nyakitin hati istri lu! Udah, lu tanya dia, terus ku ajak periksa ke Dokter kandungan biar jelas. Ngalah, Ga. Lu harus banyak mengalah. Istri lagi hamil itu godaan buat suami berat banget! Nih, gue udah ngalamin semua itu." Davian menjelaskan.
"Ya ampun, Dav. Gue jadi gemetar gini denger Tira hamil. Kenapa baru denger penjelasan elu aja gue udah se-bahagia ini ya? Gue harus cepet pulang, Dav. Gue mau minta maaf sama Tira." ucap Rangga.
"Ya udah, minta maaf lu yang tulus sama istri lu. Kasihan dia,"
"Pinter juga lu ya, selain raja bucin, ternyata lu juga pinter kalo ngomongin urusan bikin anak! Terima kasih banyak, suhu." Rangga tertawa.
"Eh sialan, lu! Bukannya terima kasih, malah ngatain gue!" Davian sewot.
"Keep Calm, dong Bro! Gitu aja sewot. Thanks ya, gue seneng dapet pencerahan dari elu. Kalo gitu, gue pulang dulu ya, Dav. Gue harus memastikan semua ucapan elu. Nyesel gue udah sinis sama Tira." Rangga beranjak dari duduknya dan segera berlalu.
"Hati-hati, Bro. Semoga garis dua, Bang!" Davian melambaikan tangannya ketika Rangga berlalu dari ruangannya.
"Amin, Dav." Rangga membalas lambaian tangan Davian.
Memang, perpaduan antara ular phyton dan ular cobra itu takkan salah kekuatannya. Ketika Cobra gue langsung jadiin Callandra, Phyton si Rangga pun bisa langsung nanam benih di si Tira. Tinggal nunggu si curut nih! Apakah ular welangnya, eh salah! Apakah anaconda-nya akan sehebat gue sama si Rangga? Kita lihat saja nanti, semoga si curut Dika juga cepet nikah! Amin. Gumam Davian sambil tertawa sendiri.
__ADS_1