
"Bagaimana perasaanmu padaku?"
"Mas, itu hal yang sensitif."
"Apa kamu memang ragu padaku?" tanya Davian
"Ti-tidak, Mas." jawab Arini gugup
"Arini, jujur saja. Pahit atau tidak, aku menerimanya."
"Mas, aku tak bisa menjawabnya."
"Arini, lihat aku. Tatap, aku! Apa kamu merasa jantungmu berdebar, ketika aku menatapmu?" tanya Davian
"A-aku, aku biasa saja. Jantungku tak berdebar." Arini mencoba menghindar
...Jangan berdebar, jangan sampai berdebar-debar. Keluarga Tuan Davian harus aku hindari. Aku tak mau masuk terlalu jauh dalam keluarganya, walau hatiku menginginkannya. Hati, kumohon mengertilah, Davian bukan kehidupan nyata mu, Davian hanyalah sandiwara mu. Tetap tenang, jangan terlihat gugup. Batin Arini....
"Wajahmu tak bisa berbohong. Kamu pasti berdebar-debar kan berdekatan denganku seperti ini?" tanya Davian
"Ti-tidak, Mas. Aku tidak berdebar-debar. Aku biasa saja!" Arini mempertahankan egonya
Davian kesal, istrinya itu tak mau jujur padanya. Davian tahu, Arini gugup dekat dengannya. Davian penasaran, ingin tahu apakah Arini berdebar atau tidak ketika berdekatan dengannya. Tanpa sadar, Davian memegang dada Arini, ia ingin memastikan, dada Arini berdebar atau tidak.
Tangan Davian menyentuh dada Arini. Tanpa basa-basi, Arini refleks menepis tangan Davian yang menyentuh dadanya.
"MAS!!! Yang sopan dong!!!" Arini protes
"Astagfirullah, maaf Rin! Bukan maksud gue begitu."
Ya ampun, kenapa gue malah megang dadanya Arini sih? Eh, gue kan cuma ingin tahu, dia berdebar-debar atau enggak ketika dekat sama gue. Malah gue gak sadar, di dadanya kan ada bola dunia milik Arini. Sumpah, gue gak sadar! Gue hanya fokus pada debaran Arini. Kenapa gue bisa sebodoh ini? Batin Davian
"Bukan maksud apaan! Mas Davian gak sopan sama saya! Megang-megang dada saya tanpa seizin saya. Porno banget sih! Lagi bicara serius, Mas malah berbuat yang tidak-tidak." Arini marah
"Rin, gue megang dada lu itu cuma mau memastikan, lu berdebar-debar gak ketika deket sama gue, udah kok, cuma gitu aja."
"BOHONG! Kesempatan banget sih megang-megang!" Arini kesal
"Ya ampun, Arini! Sumpah, gue gak bohong. Gue gak sadar, kalo lu itu punya gunung kembar. Gue gak inget kearah situ, gue asal megang dada lo aja, sumpah! Gue gak ada niatan pegang-pegang yang lain."
Sumpah, gue gak ada niatan pegang-pegang yang lain, tapi kalo kepegang sedikit, ya itu rezeki buat gue, Rin. Bola dunia lu kenyal juga, sayangny cuma sebentar gue megangnya! Ehh, ya ampun. Gue kenapa sih, jangan ngeres Dav! Lu harus konsen. Gumam Davian.
"Dasar mesum! Sekali mesum, tetap mesum. Jangan banyak alasan ya. Aku bener-bener kesel sama Tuan!!!"
"Jangan Tuan, Mas dong!" ralat Davian
"Aku bener-bener kesel sama Mas!"
"Arini..."
"Hmm?" jawab Arini
"Serius, gue nanya serius."
"Apaan?" jawab Arini malas
"Apa lu suka sama gue?"
"Nggak." jawab Arini
"Bohong!" ucap Davian
__ADS_1
"Apa nggak ada gue, sedikitpun di hati lo?" tanya Davian
"Kenapa harus bertanya hal yang memojokkan ku seperti ini sih?" tanya Arini
Davian ingin kejujuran dalam diri Arini. Ia ingin, Arini tak menyembunyikan lagi perasaannya. Kalau Arini memang mempunyai perasaan pada Davian, Davian akan membawa hubungan ini ke jenjang yang sesungguhnya.
Davian mengambil tangan Arini yang terlihat gugup, lalu ia memegang tangannya. Arini kaget dengan perlakuan Davian. Namun, ia tak berani menolak, hatinya benar-benar berdebar tak kuasa menahan rasa yang membuncah dihatinya.
"Aku tidak memojokkan mu, aku hanya ingin tahu isi hatimu yang sesungguhnya."
"Aku sudah memberi tahu Mas, kan? Kenapa masih tak percaya?" ujar Arini
"Karena, itu bukan hari hatimu, aku bisa merasakannya." jawab Davian
"Aku sudah jujur."
"Baiklah, aku punya pilihan untukmu." ucap Davian
"Apalagi sih ini?" Arini tak mengerti
"Pilih berkata jujur, atau kita melakukan ciuman yang menggairahkan?"
"Ehh, apaan sih!!!"
"Pilih yang mana?" tanya Davian
"Tak ada yang ingin aku pilih, karena aku sudah jujur!"
"Jujur dari hatimu yang terdalam!" ucap Davian
"Gak percayaan banget sih!"
"Oh, berarti kamu mau melakukan ciuman bergairah ya?"
"Mas, jangan." ucap Arini sambil menutup matanya
"Baiklah, katakan perasaan mu yang sesungguhnya padaku." kata Davian sambil membuka wajah Arini yang tertutup oleh tangannya
"Baik, aku akan mengatakannya."
"Aku akan mendengarkan dengan baik." ucap Davian
Arini menghela nafas. Hal yang tak seharusnya ia utarakan pada Davian, terpaksa ia harus mengatakannya, agar terhindar dari ciuman sang suami. Arini beberapa kali menggigit bibirnya, ia benar-benar gugup, apa memang Arini harus mengatakannya.
"Mas, aku takut."
"Kenapa?"
"Aku takut kehilanganmu jika aku mencintaimu dengan sungguh-sungguh!" ucap Arini tiba-tiba
"Kenapa kamu berkata demikian?" tanya Davian penasaran
"Jika aku mencintaimu, aku takut merasakan sakit hati, aku tak mau hal ittu terjadi. Seperti ini saja, aku sudah merasakan kenyamanan Mas."
"Tapi, status kita ini hanya sandiwara, Arini."
"Aku tak mampu benar-benar mencintaimu, aku tak sanggup jika suatu saat nanti keluargamu mengusikku, seperti apa yang telah Tuan Rangga lakukan. Keluargamu bukan orang yang bisa aku taklukan, aku kalah dengan mereka." ucap Arini gugup
"Kamu tak seharusnya mengkhawatirkan hal itu. Yang terpenting, kamu cukup hidup bahagia bersamaku! Urusan keluargaku, ataupun Rangga, biar aku dan asistenku yang mengurusnya. Kamu tak perlu takut. Ada aku yang akan melindungi mu." jelas Davian
"Kita tak tahu apa yang akan terjadi. Aku masih ragu dengan Tuan Rangga Mas, aku masih takut dia akan membalaskan dendamnya padamu, apalagi jika ia tahu, kalau kita benar-benar saling mencintai." Arini mengutarakan isi hatinya
__ADS_1
"Biarkan mereka yang iri dengan kita, tak usah pedulikan mereka. Yang terpenting, kita harus selalu kuat dan yakin, bahwa cinta akan mengalahkan segalanya. Kekuatan cinta kita yang akan membuat mereka menyerah, tak mengganggu kita lagi." jelas Davian
"Semoga saja, Mas."
"Jadi, bagaimana?" tanya Davian lagi
"Bagaimana apanya?" tanya Arini
"Apa kamu mau menjalani pernikahan yang sebenarnya?" tanya Davian
"Aku akan menjawabnya, asal Mas izinkan permintaanku ini."
"Permintaan apa?" tantang Davian
"Lusa aku akan camping. Ingat kan? Boleh kan aku pergi?" tanya Davian
"Kenapa sih, kamu ingin sekali pergi camping? Bukankah kamu sekarang masih luka-luka." ucap Davian
"Ini sudah tidak apa-apa kok, Mas. Bukankah Mas tahu hubunganku dengan Mas Adit? Aku akan mengakhiri semuanya dengan Mas Adit. Setelah camping, aku akan mengatakan pada Mas Adit tentang semua ini, aku ingin Mas Adit tak mengejar ku lagi." jelas Arini
"Apa perlu aku antar?" tanya Davian
"Eh, tidak perlu Mas. Aku bisa sendiri kok!"
"Benar kamu akan mengakhirinya dengan Mas Adit-mu itu?" tanya Davian
"Benar, aku akan mempertimbangkan ucapan mu untuk melakukan pernikahan ini dengan cinta."
"Serius?"
"Tentu saja, Mas." jawab Arini
"Kamu boleh menemui Mas Adit-mu itu, tapi kamu tetap tak boleh camping." tegas Davian
"Ya ampun, Tuan! Kenapa jadi begini?" keluh Arini.
"Kamu mau aku mengizinkanmu camping?" tanya Davian
"Iya, kumohon izinkan aku camping, Tuan." pinta Arini
"Ada syaratnya!" tegas Davian
"Syarat lagi, syarat lagi." Arini kesal
"Yasudah, kalau tak ingin pergi."
"Eh, Eh, Mas kok gitu sih! Iya, iya. Apa syaratnya?" Arini memohon
"Aku mengizinkanmu pergi camping, asalkan..."
"Asalkan apa?" Arini penasaran
"Asalkan berikan aku barang antik milikmu itu malam ini. Kita akan melakukan pernikahan yang sesungguhnya, bukan? Maka, izinkan aku bertemu sweety milikmu. Aku sudah menahannya terlalu lama. Bagaimana?"
"APA?"
*Bersambung*
Gimana nih?
Kasih jangan 🤣🤣🤣
__ADS_1
Beri jawaban kalian di komentar ya, jawaban paling seru dan gokil.
jangan lupa like dan vote nya 😘