
...🎶Andaikan malam yang sepi dapat bicara,...
...mungkin aku tak kan kesepian...
...penantian ku ini hanya untukmu...
...setiap saat berdoa untukmu,...
...kesetiaan yang kumiliki tak pernah memudar,...
...Cintaku ini untuk dirimu...
...Ibarat sungai yang kering tiada air....
...Menanti hujan turun dari langit,...
...Kerinduanku pada dirimu,...
...Tak pernah berakhir, walau berjuta godaan menggangu🎶...
Malam ini, adalah malam yang sendu untuk seorang Arini. Malam yang sepi, sendiri. Tak ia kira, ia akan terluka seperti ini. Arini tak menyangka, kepergian Davian akan sangat menyayat hatinya.
Lelaki itu memang masih baru masuk kedalam hatinya. Tapi kenapa? Rasanya meninggalkan Davian harus sesakit ini? Malam ini, ia menatap langit-langit rumahnya, berharap akan dengan mudahnya memejamkan mata, agar ia tak terus mengingat Davian yang kini entah dimana keberadaannya.
...***...
Davian masih dalam perjalanan. Ia memejamkan mata, dirinya sangat lelah dan kesepian. Ia harus bekerja esok hari, karena itu sepanjang perjalanan ia habiskan untuk istirahat.
Sekretaris Dika melajukan mobil dengan sedikit lebih cepat, karen hari pun sudah larut. Takut terjadi sesuatu yang tak diharapkan.
Akhirnya, Davian dan Sekretaris Dika telah sampai di rumah besar Davian. Mereka sampai sekitar pukul 6 pagi. Ada waktu sekitar dua jam untuk Davian beristirahat.
Namun, pagi ini Davian sulit sekali memejamkan mata lagi. Ia teringat akan Arini, istrinya. Biasanya, setiap pagi Arini membangunkannya dan sudah menyiapkan sarapan untuknya. Kali ini, Davian hanya seorang diri merenung di kamarnya yang besar.
Davian segera membuka handphone nya. Terlihat beberapa pesan masuk dan panggilan tak terjawab dari Arini. Davian terlalu lelah untuk membuka handphone selama di perjalanan. Baru kali ini ia sempat membuka handphone nya.
Davian menelepon Arini. Ia sudah sangat merindukan Arini. Tak lama, Arini pun mengangkat teleponnya.
[Halo, Mas. Kemana aja sih? Kenapa gak ngabarin aku? Semalaman aku nungguin kabar kamu tahu! Apa kamu gak tahu, kalau aku khawatir sama kamu! Kenapa kamu malah santai aja gak ada kabar sampai sekarang? Kamu tuh ngeselin tau gak!]
Sapaan Arini di teleponnya. Membuat Davian ingin tertawa, bagaimana tidak? Arini jadi bawel ketika jauh dari Davian. Biasanya, Arini selalu tenang dan kalem.
[Pagi, sayangku. Maaf, jangan marah dong? Mas semalem capek banget tahu, sampe ketiduran terus! Mas gak buka handphone sama sekali.]
__ADS_1
[Mas udah lupain aku ya?]
[Loh enggak gitu dong sayang. Mas gak mungkin lupain kamu, Aku hanya terlalu lelah.]
[Yasudah, maaf. Aku khawatir banget sama Mas!]
[Kamu lagi apa? Sudah siap berangkat ke Rumah sakit?]
[Aku habis sarapan sama Tira, mungkin jam 7 aku baru berangkat.]
[Yaudah, hati-hati ya sayang.]
[Mas, udah sarapan belum?]
[Belum, aku gak nafsu makan.]
[Loh, loh! Mas Davian kok gitu sih? Apa kamu mau sakit? Kenapa sarapan aja gak nafsu? Kamu gimana sih, cepet sarapan! Jangan mentang-mentang aku jauh ya Mas, Mas jadi seenaknya aja gak sarapan!!!]
[Ya ampun, Arini-ku! Kenapa kami jadi bawel sekali? Kenapa kamu jadi berisik ketika kita jauh? Biasanya kamu selalu cuek sama aku, gak pernah kayak gini. Aku jadi makin rindu sama kamu.]
Davian terkekeh. Ia senang sekali dengan perubahan Arini yang kini lebih perhatian padanya. Tak biasanya, Arini seperti ini. Mungkin, inilah hikmahnya hubungan jarak jauh, pasangan kita jadi lebih perhatian pada kita. Xixi
[Abisnya Mas ngeyel. Cepet sarapan. Foto ketika Mas sedang sarapan! Biar aku percaya. Oke?]
[Aku begini karena aku sayang sama kamu, Mas!]
[Iya, iya sayang. Ya sudah, aku sarapan dulu.]
[Iya, Mas. Aku juga mau berangkat ke Rumah sakit sekarang] Arini akan menutup teleponnya
[Eh, eh Rin! Tunggu dulu.] Davian menahan Arini
[Apaan Mas?]
[Ada hal yang aku lupakan ternyata!]
[Apa itu, Mas?]
[Aku tak sempat melihat Rumah sakit tempat kamu menyamar, dan aku lupa untuk menulis peringatan 'Dilarang mendekati wanita ini, ia sudah bersuami' Kenapa aku harus lupa ya?]
[Ya ampun, Mas. Masih aja inget akan hal aneh itu. Gak apa-apa, Mas. Gak akan terjadi apa-apa. Ini tuh bukan Rumah sakit besar, disini tuh kayak klinik biasa, layaknya puskesmas besar, otomatis orang-orang atau pasiennya tak sebanyak di kota. Aku cuma diem aja kok nanti, Mas. Jangan berlebihan deh!]
[Minggu depan aku datang, aku akan beri peringatan bagi orang-orang yang berani mendekati istriku. Kamu harus galak dan tegas ya sayang. Jangan mudah di rayu dan di goda. Karena kecantikan kamu akan mengalihkan mata-mata buaya nakal.]
__ADS_1
[Mas Davian nyebelin banget sih! Jangan ngaco deh. Udah ah, aku berangkat dulu, nanti aku kesiangan.]
[Iya, iya, istriku yang cantik. Kalau kita ketemu nanti, jangan lupa obati hatiku yang sakit karena dilanda rindu, ya?] Davian gombal
[Hahaha, apaan sih Mas. Lucu deh! Yasudah, aku akan berangkat. Bye, Mas. Jangan lupa sarapan, hati-hati berangkat kerjanya. Jaga mata jaga hati, jangan banyak ngobrol sama karyawan wanita, fokus sama kerjaan, jangan caper-caper, jangan jelalatan, terus kabari aku sesibuk apapun kamu, jangan lupa foto diri kamu setiap akan melakukan sesuatu, biar aku percaya. Okay?]
Arini-ku, kamu jadi posesif sekali saat kita jauh. Sungguh kamu memang wanita yang menggoda, Batin Davian.
[Iya, iya sayang. Kamu juga. Jangan genit, ya! aku akan memotret diriku kapanpun ketika aku akan melakukan sesuatu. Biar kamu gak penasaran. I love u, my wife. Have a nice day, ya.]
[Love u too, Mas. Nice day, too.]
Telepon pun ditutup. Davian akan mandi dahulu sebelum sarapan. Muncul lagi ide gila pada dirinya untuk mengerjai Arini. Davian membuka bajunya setengah badan. Tak lupa, Davian memotret dirinya yang sedang telanjang dada, dengan berbagai macam gaya.
Setelah selesai berfoto, Davian mengirimkannya pada Arini. Foto-foto nyeleneh tanpa busana. Davian mengirimnya dengan caption,
📩Arini-ku, lihatlah foto ini. Aku sedang telanjang dada. Aku akan mandi, lihat kan? Kamu percaya kan aku akan mandi? Apa aku harus membuka celanaku juga, agar kamu lebih percaya?
Di sana, Arini langsung membuka handphonenya kembali, Arini pun tercengang kaget melihat sang suami berfoto seperti itu. Arini benar-benar tak habis pikir, jika Davian berani berfoto seperti ini.
Arini segera membalas pesan Davian dengan kesal dan emosi.
📩AKU GAK TERTARIK YA, MAS! GAK GITU JUGA KALI, MAKSUD AKU BUKAN FOTO AKAN MANDI. FOTO KETIKA KAMU MELAKUKAN AKTIFITAS DI KANTOR, DAN PERGI KEMANA GITU!
Davian terkekeh membaca pesan dari Arini. Ia tahu, istrinya pasti emosi saat ini. Davian segera membalas lagi pesan Arini.
📩Hahahaha, maafkan Aku, Arini-ku! Iya, iya. Aku becanda kok, siapa tahu kamu lagi kangen sama tubuhku yang sixpact ini. Bye, sayang. Aku mandi dulu.
📩Ngeres aja kamu! Iya, udah sana. Bye, aku off dulu.
Davian pun menyimpan kembali handphone nya. Ternyata, jauh dari Arini membuatnya semakin jatuh cinta dengan istrinya itu. Ia jadi semangat lagi, meskipun jauh, tapi rasanya tetap saja dekat.
Mungkin, Davian harus berterima kasih pada ilmuwan penemu telepon, yaitu Alexander Graham Bell. Berkat dirinya, hubungan Davian dan Arini walaupun jauh, tetap terasa semakin dekat.
Eh, yang nemuin handphone Android siapa ya? Kan gak mungin Alexander Graham Bell, dia hanya penemu telepon kabel jaman dulu. Lah, pokoknya, siapapun penemu handphone canggih ini, gue ucapkan terima kasih! Udah ah, mandi dulu. Pembaca, jangan ngintip gue mandi ya. Cukup Arini aja yang tahu isi tubuh gue. Kalian jangan. Batin Davian.
*Bersambung*
pagiiiiii..
guys, jangan sedih-sedih dulu ya, senang-senang dulu aja. siap-siap, banyak bawang bertebaran nanti 😁
ingat, setelah membaca, jgn lupa like dan komentar juga ❤
__ADS_1