Terjerat Cinta Sang Pembantu

Terjerat Cinta Sang Pembantu
Masih di Private Island.


__ADS_3

Mereka menghabiskan waktu bersama. Canda tawa, riang gembira memenuhi suasana hangat di pulau bidadari. Tiga pasangan yang menemui jalan cintanya masing-masing. Hidup bahagia dengan cinta yang bersemi didalam jiwa.


Arini dan Davian sedang berjalan di pesisir pantai. Davian memegang tangan Arini dan sesekali mencium tangan Arini dengan hangat. Berjalan-jalan ketika senja mulai tiba.


"Arini, apa kamu bahagia hidup bersamaku?" tanya Davian tiba-tiba.


"Tentu saja aku bahagia, Mas." jawab Arini.


Davian mengusap rambut Arini yang terkena angin pantai, "Benarkah? Apa kamu sangat mencintaiku?"


"Tentu saja, Mas. Tentu saja aku sangat mencintaimu. Kenapa sih? Kok aneh ngomongnya." jawab Arini.


"Aku takut kehilanganmu, Arini. Aku takut, suatu saat kamu berpaling dariku." ucap Davian.


"Ya gak mungkin lah, Mas. Aku gak kayak gitu. Aku sayang sama kamu. Malah, aku yang harusnya ragu sama kamu. Aku sempat berpikir, gak mungkin orang kaya sepertimu mau sama pembantu kayak aku. Aku masih gak nyangka aja. Kukira semua ini mimpi, kukira mempunya Calandra, hanya bagian dari mimpi indahku. Ternyata, aku tidak mimpi. Semua ini nyata, semua ini benar adanya. Walaupun terkadang hatiku ragu padamu. Masih tak menyangka, laki-laki kaya sepertimu mau menikahi aku." ucap Arini.


Langkah Davian terhenti. Ia tergelitik dengan ucapan Arini. Ia melihat Arini dan membalikkan tubuhnya menghadap Arini. Davian tersenyum sambil mengelus-elus pipi Arini. Kemudian, tangannya memegang kedua lengan Arini.


"Sayang, aku sudah sering mengatakannya padamu. Aku tak memandangmu dari semua itu. Aku tertarik padamu karena keberanian mu padaku. Kamu wanita pertama yang mengalihkan perhatianku dari Tasya. Kamu juga wanita yang membuat isi kepalaku penuh, karena aku selalu saja memikirkan kamu. Bahkan, ketika aku marah dan kesal, karena kamu terus saja membantah ucapanku, yang aku pikirkan adalah kamu! Walau saat itu, ego masih mengelilingi hatiku, sehingga aku malu masih malu mengungkapkan perasaanku." ucap Davian.


"Aku tak menyangka, jika aku kini menjadi seorang istri Davian Raharsya dan juga menjadi Ibu dari anakmu. Aku merasa bahwa semua ini hanya mimpi dan akan kembali pada kehidupan asalku ketika aku bangun nanti." ucap Arini.


Davian menyentil kening Arini, hingga membuat Arini mengaduh kesakitan. Davian sengaja, "Sakit gak?"


Arini memegangi keningnya, "Auwh, kamu tega banget sih, Mas! Sakit tahu. Sembarangan aja maen sentil kening orang!"


"Makanya, kamu jangan selalu mengira bahwa ini mimpi. Kamu wanita yang cerdas dan cantik. Aku tertarik padamu karena kita selalu bertemu dan berinteraksi setiap harinya. Tentu saja aku tak salah memilih, karena kamu adalah wanita yang sempurna. Walaupun pada awalnya profesimu hanyalah sebagai pembantu di rumahku. Tapi, ternyata kamu sangat spesial, Arini. Kamu ibarat model yang menyamar menjadi pembantu di rumahku, tahu gak! Jadi, aku merasa bahwa kamu memang bidadari yang dikirim Tuhan khusus untukku." Davian memeluk Arini.


Arini membalas pelukan Davian, "Makasih, Mas."


"Makasih untuk apa? Kebaikan ku padamu sangat banyak sayang, tentu saja tak cukup hanya sekali mengucapkan terima kasih padaku!" Davian mulai narsis lagi.


"Mulai deh!" Arini sedikit kesal.


"Bercanda sayang ... Ayo, makasih untuk apa? Aku ingin dengar rasa terima kasihmu yang tulus padaku!" Davian mencubit lembut pipi Arini.


Arini menatap Davian, "Makasih, Mas. Aku sangat berterima kasih, karena Mas Davian gak pernah memandang statusku sebagai pembantu. Mas Davian gak pernah malu menikah dengan pembantu seperti aku. Aku ternyata sangat beruntung, bisa menjadi istri dari laki-laki hebat sepertimu. Aku sangat bahagia, tenyata kenyataan ini sangat indah. Bahagia aku hidup bersamamu, Mas. Aku akan mencintaimu, selamanya."


"Auw, Aw, Aduh ..." Davian memegangi dadanya.


Davian menyentuh dadanya seperti kesakitan. Davian menunduk karena memegangi dadanya. Arini khawatir, melihat Davian berperilaku seperti itu. Arini memegangi punggung Davian dan bertanya pada sang suami, apa penyebab Davian seperti itu. Padahal, sebelumnya Davian sehat dan tidak terlihat sakit.


"Ya ampun, Mas. Kamu kenapa? Dada-mu sakit? Kamu sakit, Mas? Mas Davi, jangan buat aku khawatir! Bilang sama aku, Mas Davi kenapa? Mas? Cerita sama aku!" Arini terlihat sangat khawatir.


Davian kembali menegakkan tubuhnya, "Aku jadi teringat momen ketika Arkan menembakku dengan pelurunya."


"Ha? Apa sih kamu? Aku lagi ngomong serius, kamu malah inget hal itu. Aku kira kamu sakit beneran tahu!" sungut Arini kesal.


"Aku juga serius. Barusan, hatiku tertembak lagi. Aku tak sanggup mendengar ucapanmu, sayang. Aku benar-benar terkena tembakan cintamu, hingga dada-ku bergetar, dan aku benar-benar lemas dibuatnya. Ucapanmu sungguh tepat sasaran, Arini-ku. Tepat mengenai hatiku yang sedang jatuh cinta karenamu." Davian mulai mengeluarkan jurusnya.


Arini menjewer kuping Davian, "Kamu ini, ya! Aku itu serius tahu! Aku takut kamu kenapa-napa, Mas. Aku bener-bener kaget loh! Tega banget sih bikin orang jantungan!" Arini kesal.

__ADS_1


"Tapi, itu memang benar, Arini-ku sayang. Rasanya aku ditembak oleh cintamu. Ucapan kamu menusuk-nusuk hatiku. Aarrgghhh, rasanya aku ingin melayang mendengar kamu menyanjungku." Davian tersenyum nakal.


"Ah, nyesel aku udah ngomong gitu sama kamu! Responnya suka beda, malesin banget deh." Arini cemberut.


"Eh, kamu kok ngambek sih sayang ..." Davian memegang tangan Arini.


Tiba-tiba, Sekretaris Dika dan Nadya datang menghampiri Arini yang sedang memarahi Davian. Sekretaris Dika mendengar Davian yang menggombal merayu Arini, pura-pura sakit dada.


"Nona, Nona lihat sendiri bukan? Betapa bucinnya suami Nona. Dia itu kadar bucinya udah overdosis. Kayaknya, Nona harus mengobati si Bos, sebelum terlambat, dan sebelum dia mulai ..." sekretaris Dika terkekeh.


"Mulai apa? Diem lu curut. Ikut campur aja! Lu harus tahu, Ini adalah salah satu bukti, bahwa gue sangat-sangat mencintai Arini. Ini adalah tanda bukti keseriusan cinta gue sama istri gue!" Davian membela diri.


"Alah, itu sih lebay sama bucin, Bos!" sekretaris Dika tertawa puas.


"Heh, ssstttt! Udah, udah. Kalian selalu aja kayak tom and jerry." Arini kesal.


"Bang Dika, udah dong. Arin lagi ngambek tuh!" Nadya memperingatkan.


Davian melingkarkan tangannya di pinggang Arini, "Sayang, kamu marah sama aku? Maaf dong, aku kan becanda, sayang."


"Aku tuh lagi serius, Mas. Kamu malah dibuat becanda. Aku kira kamu kenapa, tahunya memang bikin nyebelin aja!" Arini cemberut.


"Udah dong, udah. Kamu jangan marah sayang. Aku minta maaf ya, maaf banget istriku ..." Davian merayu Arini.


"Aku gak mau!" Arini memalingkan wajahnya.


Sekretaris Dika tertawa dari belakang, "Mampus lu, Bos."


"Eh, ngapa lu jadi nyalahin gue, Bos?"


Arini terdiam. Ia teringat, jika kini telah mempunyai anak, dan ia masih ingin mengejar cita-citanya. Apakah mungkin, dengan cara seperti ini akan berhasil?


"Mas, aku mau maafin kamu! Tapi, ada syaratnya ..." ucap Arini tiba-tiba.


"Apa syaratnya, sayang?" tanya Davian antusias.


"Karena aku telah melahirkan Calandra, dan aku telah menjadi seorang Ibu, izinkan aku untuk sekolah kedokteran lagi." ucap Arini.


Davian berubah menjadi serius, "Apa? Kamu mau melanjutkan cita-cita itu? Bukankah kamu sudah menjadi Dokter sekarang?"


"Belum! Waktu itu kan cuma pura-pura aja, Mas!" Arini mengerlingkan matanya.


"Bukan waktu itu! Tapi, sekarang! Kamu udah jadi Dokter, kok." jawab Davian.


"Heh, apa maksudmu? Dokter apa?" Arini tak mengerti.


"Iya, Dokter ... Dokter cinta di hatiku! Eaaaaaaa," Davian malah tertawa.


Arini cemberut lagi, "Ih, tuh kan! Mas Davian nyebelin. Aku lagi serius, selalu aja dibecandain."


"Sayang, jangan terlalu serius. Slow aja, santai darling ..." Davian mengusap rambut Arini.

__ADS_1


"Jadi gimana? Boleh gak aku kembali menekuni sekolahku untuk melakukan profesi mulia itu?" tanya Arini serius.


"Pintar kamu ya. Kamu ngambek, aku rayu. Udah di rayu, malah ngambil kesempatan dalam kesempitan lagi. Aku gak akan beri kamu jawaban saat ini. Akan ku fikirkan nanti, yang jelas, jika kamu mau merayuku agar aku menyetujuinya, kamu harus memberikan servis istimewa mu untukku! Setuju, sayang?" ucap Davian ke telinga Arini.


"HAH? Ish, nyebelin banget sih!" Arini kesal dan menggerutu.


Sekretaris Dika dan Nadya hanya tertawa mendengar obrolan Davian dan Arini. Mereka sangat heran dengan Davian yang tak pernah bisa serius menanggapi sesuatu hal.


...🌸🌸🌸...


Keesokan harinya.


Rangga dan Davian sedang duduk di depan private pool penginapan mereka, karena mereka akan berenang di sini. Tak lama, sekretaris Dika datang dengan lesu dan wajah yang terlihat sangat lelah.


"Dik, kenapa kamu?" tanya Rangga.


"Gak apa-apa, Tuan." jawab sekretaris Dika lemas.


"Eh, apa jangan-jangan, elu lesu kayak gini gara-gara semalem elu tempur sama di Nadya pake tisu yang gue kasih ya?" tebak Davian.


"Ini semua gara-gara elu sih, Bos. Sialan lu emang!" sekretaris Dika menggerutu pada Davian.


"Eh, kok gue sih. Kenapa emang lu?" Davian tak terima di salahkan.


"Dik, kamu pake itu?" Rangga mulai tak kuasa menahan tawanya.


"Iya lah, gue pake itu. Sumpah ya, gue cape banget. Udah cape, tapi belum juga keluar. Sampe Nadya nangis-nangis minta udahan. Emang gila lu, Bos. Tanpa begitu juga gue bisa lama, eh ditambah pake gituan ya gue makin lama, Bos. Menyesatkan emang lu." Sekretaris Dika menyalahkan Davian.


"Dik, tapi enak kan?" goda Rangga.


"Ah, enak apanya Tuan. Cape banget!" jawab sekretaris Dika.


"Hahahahha, yang udah lembur ampe begitu banget lu. Gak apa-apa, biar lu puas dan biar cepet jadi kalo mainnya lama." Davian tertawa puas.


"Eh, tau lu ah. Gue tahu, kenapa elu ngasih tuh tisu buat gue. Padahal, tanpa tisu pun gue bisa lama, Bos! Itu sih elunya aja yang gampangan!" cerca sekretaris Dika.


"Apaan yang lu tahu?" tanya Davian.


"Elu kan gampang keluar, iya kan? Cuma sepuluh menit aja lu udah keluar, otomatis elu pakai tuh tisu biar makin lama. Hahahhah, ketahuan lu." sekretaris Dika merasa puas.


"What? Lu cuma sepuluh menit, Dav?" Rangga ikut tertawa.


"Eh, si curut nih emang ya. Sepuluh menit itu pas pertama gue lakuin sama Arini. Seterusnya gue lama kok. Gue kasih tisu itu iseng aja, karena itu stok gue dulu!" Davian membela diri.


"Aaaah, alesan aja lu. Sepuluh menit tetep aja sepuluh menit. Pake ngeles segala lagi." sekretaris Dika ingin puas.


"Sialan lu, Dik. Gue bales nanti lu!" Davian merasa harga dirinya dicabik-cabik oleh sekretarisnya sendiri. Rangga yang mendengarnya tak muasa menahan tawa, karena Davian dan Dika sudah seperti kakak adik yang tak pernah akur.


*Bersambung*


Man teman ...

__ADS_1


Sebentar lagi, Calandra series nya ya. Lanjutan kisahnya tentang anak Arini dan Davian. Waktu itu gak jadi, karena masih ada bahasan dikit-dikit tentang Arini dan Davian.. β€πŸ€—


__ADS_2