Terjerat Cinta Sang Pembantu

Terjerat Cinta Sang Pembantu
Season 2. Babak baru.


__ADS_3

Davian dan Arini tengah menemukan kebahagiaannya, namun berbanding terbalik dengan Tante Meisya dan cucunya. Semenjak kejadian Arkan ditangkap, dan Meliza kabur, Keyza harus tinggal bersama sang nenek.


Kini, tersiar kabar bahwa Tante Meisya sedang terbaring di Rumah sakit. Arini mendengar kabar itu, namun Davian melarang Arini menjenguknya. Sudah hampir tiga bulan, Meliza tak kembali ke rumah Arkan. Meliza bak ditelan bumi, dan keluarga Arkan pun tak ingin mencari tahu keberadaannya.


Keyza, si anak malang yang hanya diasuh oleh sang baby sitter. Ia menjadi korban kemalangan dari perilaku orang tuanya. Arkan yang terlalu serakah akan harta, sehingga menyebabkan Meliza pergi meninggalkannya, dan Keyza-lah putri semata wayangnya yang kini jadi korban.


"Apa kita harus menjenguk Meisya di Rumah sakit, Ma?" tanya Papa Davian.


"Di rumah ada Davian, dia pasti tak mengizinkan kita menjenguk tantenya. Tahu sendiri kan, dia sudah tak mau lagi berhubungan dengan keluarga Arkan." ucap Mama Davian.


"Tapi, Meisya tak ada yang menunggunya. Papa dan Mama tadi hanya menengoknya sebentar, lalu pulang lagi, karena mereka pun sedang dalam kondisi yang tak sehat." ucap Papa Davian.


"Ya sudah, kita berangkat berdua saja, jangan ajak anak-anak. Kita menengok sebentar saja, kalau Davian tahu, dia pasti marah."


"Ya sudah, ayo kita berangkat."


Papa dan Mama Davian akhirnya berangkat menuju Rumah sakit, untuk menjenguk Tante Meisya, yang merupakan adik dari Papa Davian.


***


Hari ini adalah hari libur. Davian ingin berada di rumah, ia ingin selalu bersama Arini, sang istri.


"Sayang, acara resepsi kita, mau diadakan kapan?" tanya Davian tiba-tiba.


"Sepertinya, lebih cepat lebih baik, Mas. Aku sudah tak sabar, ingin menggunakan gaun pengantin yang cantik."


"Apa kamu mengandung bayi perempuan, sayang?" tanya Davian.


"Mana aku tahu, Mas. Kehamilanku kan masih berusia dua bulan, janinnya belum terlihat jenis kelaminnya, dong! Gimana sih kamu?" protes Arini.

__ADS_1


"Aneh aja, kamu biasanya tak mau berfoya-foya, atau melakukan sesuatu yang berlebihan. Kenapa sekarang istriku malah ingin menggunakan gaun pengantin? Apa anak kita kemungkinan besar adalah perempuan? Kalau benar begitu, anak kita pasti sangat cantik seperti kamu, Ibunya." puji Davian.


"Kalau anakku cowok, tapi kenapa aku gak mau anakku mirip kamu ya Mas?" tanya Arini.


"Kenapa gak mau mirip aku? Aku kan bapaknya!" jawab Davian.


"Rasanya, aku ingin anakku tampan seperti James Jirayu, aktor Thailand yang sedang naik daun itu. Wajahnya tampan dan sangat cool sekali Mas. Aku benar-benar mengaguminya. Apalagi, aktingnya dia dalam drama itu benar-benar totalitas banget deh! Wah, aku sih fans Jirayu garis keras! Semoga nanti anakku akan mirip dengannya." ucap Arini berapi-api.


"Loh, loh? Siapa itu? Katamu siapa? Dirayu? Apa sih? Rayu, rayu! Awas ya Arini, kalau sampai nanti anakku lahir mirip dengan si rayu itu, aku akan membuat karirnya hancur! Aku akan membuat dia tak terkenal lagi, camkan itu! Seenaknya saja anakku harus mirip dengannya. Memangnya siapa yang membuat? Memangnya, siapa yang berusaha? Jelas-jelas, aku yang telah berusaha keras! Gampang sekali kamu bicara, jika anakku akan mirip dengan si rayu itu." Davian jealous.


"Loh, wajar dong Mas! Aku kan mengidolakan dia, apa salahnya coba?" Arini membela diri.


"Jelas-jelas kamu itu salah! Kenapa kamu gak mengidolakan wajah tampan ini saja? Wajah ini pun sangat tampan bukan? Banyak sekali karyawan ku yang tertarik padaku! Coba tatap aku, apa bedanya aku dengan si rayu itu? Aku tampan, aku gagah, aku manis, aku juga punya roti sobek di dadaku! Kurang apa lagi aku? Kamu tak perlu mengidolakan artis si rayu itu, cukup idolakan saja aku, aku juga pantas jika disejajarkan dengan artis-artis itu! Biar anakku mirip dengan Papanya," Davian over pede.


"Ih, Mas Davi keras kepala! Masa gak mau ngalah sama aku! Dasar menyebalkan!" Arini cemberut.


"Abisnya kamu nakal. Masa anakku harus mirip orang lain sih? Nanti kalo orang keheranan gimana? Anaknya si Davian kok kayak bukan anaknya sih? Gimana coba itu? Bahaya banget kan, Rin!" Davian tak terima.


"Sekali tidak tetap tidak! Aku tak mau keturunanku mirip dengan orang lain. Ia harus mirip denganku, ia tak boleh mirip dengan orang lain! Awas saja jika itu sampai terjadi. Aku tak akan memaafkan mu, Arini." ancam Davian.


"Terserah kau saja, Mas. Aku sudah lelah berdebat dengan kepala batu sepertimu!" umpat Arini.


"Apa maksudmu aku kepala batu?" tanya Davian.


"Tahu batu kan? Batu itu keras kan? Persis seperti kamu, keras kepala!!!" balas Arini.


"Memangnya, kamu pikir, kamu tak keras kepala apa? Jika kamu menganggap ku kepala batu, maka aku menganggap mu, kepala... Kepala... Kepala apa ya?" Davian berpikir.


"Kepala pundak lutut kaki, lutut kaki! Kepala, pundak lutut kaki, lutut kaki! Hahahahha! Mas kalah dari aku! Udah deh, gak usah debat sama aku, Mas gak bakalan menang, aku yang akan menang dan selalu menang. That's Right?" Arini merasa hebat.

__ADS_1


"Terserah kamu deh sayang! Aku mengalah, karena saat ini kamu sedang hamil. Aku telah menurunkan ego dan gengsi ku di hadapanmu. Aku lelaki yang gentle kan? Kamu patut bangga padaku!"


"Dih, pede sekali kamu Mas!" ucap Arini.


"Harus dong! Tentu saja! Bukan Davian namanya, jika aku tak percaya diri, kapanpun dan dimana pun, aura ketampanan ku akan selalu terpampang nyata, sayang!" Davian mengangkat kerah lehernya.


"Mas, please deh! Anakku gak mau punya Papa lebay kayak gitu." Arini tertawa.


"Anakku sayang, ini itu bukan lebay, tapi kharismatik namanya! Papa ini punya level ketampanan yang sangat tinggi, otomatis semua yang ada pada diri Papa itu pasti jadi sorotan. Wajar kalau Papa berbangga diri, papa bukan lebay, tapi Papa bangga pada ketampanan ini. Semoga, nanti kamu kecipratan tampan dari Papa ya, Nak." Davian terkekeh.


"Jangan baby, kamu mirip James Jirayu aja, biar Mama makin jatuh cinta sama kamu nantinya!" Arini menjulurkan lidahnya pada Davian.


"Jangan dengarkan Mama-mu ya, Nak. Mama-mu itu hanya gengsi menerima kenyataan kalau Papamu ini sangat tampan. Biarkan saja, Nak. Padahal, Papa tahu, Mama-mu itu sangat tergila-gila pada Papa. Dia hanya terlalu malu untuk menyadarinya." Davian mengelus-elus dan mencium perut Arini.


"Ih, Papa-mu benar-benar sudah geer stadium 4 deh! Percaya dirinya terlalu tinggi."


Arini dan Davian terus berdebat, hingga handphone Arini berdering. Mama Davian memanggilnya. Arini segera mengangkat telepon dari mertuanya itu.


"Halo, Ma, ada apa?"


"............“..


"APA? Baik, Ma. Arin sama Mas Davian akan segera ke sana." jawab Arini sambil mematikan teleponnya.


...Ada apa dengan Tante Meisya? Apakah dia baik-baik saja?...


*Bersambung*


Selamat malam..

__ADS_1


Selamat membaca season 2 ya..


Semoga betah membaca sampai akhir 😍


__ADS_2