
Pagi ini, Arini dan Davian akan membantu kepindahan Ibu serta adik-adik Arini. Davian sudah mengerahkan anak buahnya, agar proses pindah semakin cepat. Ditambah lagi, mini market yang diminta Davian juga akan segera diisi.
Sudah banyak mobil-mobil besar yang berjajar didepan rumah baru keluarga Arini. Arini tersenyum senang, ketika melihat bahwa semua ini nyata.
Hidupnya yang dulu serba kekurangan, kini Davian telah merubahnya. Arini benar-benar berterima kasih pada Davian. Semua karena ketulusan Davian.
"Mas, menurutku ini terlalu berlebihan." ucap Arini
"Tidak, menurutku justru ini masih sangat sederhana!" jawab Davian
"Kalau yang begini saja masih sangat sederhana, bagaimana rumahku? Mungkin masuk dalam kategori tak layak ya?" tanya Arini
"Nggak gitu dong, sayang. Maksud aku, memberikan rumah dan mini market seperti ini adalah hal mudah bagiku. Membeli 10 apartemen untukmu pun aku sanggup jika kamu menginginkannya." jawab Davian
"Huh! Mentang-mentang orang kaya, bisa seenaknya aja!" keluh Arini
Arini dan Davian membantu memindahkan beberapa barang ke rumah baru keluarga Arini. Ibu dan adik-adiknya sangat bahagia sekali, bisa merasakan hidup lebih layak dari sebelumnya.
Nadya, tetangga Arini, yang akan membantu mengelola minimarket milik Ibu Arini. Arini meminta Nadya mengelola mini market ini, karena Arini percaya pada Nadya. Di rumahnya, Nadya membuka warung kecil-kecilan. Arini berpikir, bahwa Nadya mampu mengelola warung yang sangat besar.
Davian menyetujuinya, agar Ibu Arini ada temannya. Nadya akan tinggal didalam Mess yang telah disediakan. Nadya pun bersyukur, karena bisa dipercaya untuk mengelola minimarket sebesar ini, walaupun kata Davian minimarket ini sangat kecil dan belum seberapa.
"Mas, makasih."
"Ucapkan rasa terima kasih itu nanti malam." jawab Davian
"Kenapa harus nanti malam?" tanya Arini
"Aku ingin rasa terima kasih yang nikmat!"
"Mas, mulai deh!" keluh Arini
"Kalo nggak mulai, gak akan ada pemanasan Rin." ucap Davian asal
"Pemanasan apa sih? Selalu aja Mas menjurus kearah sana!"
"Kearah mana?" tanya Davian
"Kearah mesum!!!" jawab Arini
"Mesum sama istri sendiri, gak apa-apa dong?" tanya Davian lagi
"Tapi, nggak ditempat umum juga dong Mas!" Arini cemberut
"Abisnya, makin kesini, kamu makin menggoda sayang!"
"Tau ah! Deket-deket sama Mas buat aku pusing. Begituan mulu yang diomongin."
"Suruh siapa bola duniamu itu ngeliatin aku terus! Lagian, kenapa sih kamu? Kenapa harus pakai baju ketat seperti ini? Lekukan tubuhmu jadi bisa dilihat semua orang! Gundukan bola itu, jadi melotot terus kearah ku. Rasanya, aku ingin segera melahapnya, Arini." Davian terus meracau
"MAS DAVIAN! HENTIKAN! DASAR PRIA MESUM."
Arini mengumpati Davian sambil berlalu meninggalkannya, dan Arini pergi membantu Ibunya di dalam rumah baru mereka.
Tiba-tiba, sekretaris Dika menghadap Davian, dengan tatapan tajam yang menohok.
"Bos?"
"Apa?"
"Kita harus pergi."
"Kemana?" tanya Davian
Sekretaris Dika membisikkan pembicaraannya pada Davian. Davian mengangguk, dengan tatapan mata yang tajam. Davian harus segera bertindak sekarang juga.
Davian masuk kedalam, mencari Arini. Arini sepertinya sedang sibuk, namun Davian harus tetap izin padanya. Davian melambaikan tangannya pada Arini.
"Apa, Mas?" Arini berjalan mendekat
__ADS_1
"Sepertinya, aku harus pergi. Apa kamu tak apa-apa disini? Nanti sore, aku jemput ya?" ucap Davian
"Mas mau kemana?" Arini mulai curiga
"Mas mau ketemu sama Clien dulu, mendadak sekali ini. Gak apa-apa kan?" tanya Davian
"Gak apa-apa kok, Mas. Hati-hati dijalan ya, Mas." jawab Arini
"Iya, sayang. Nanti aku akan menjemputmu."
Davian dan sekretaris Dika berlalu. Davian benar-benar serius. Pandangannya tak lagi bermain-main. Davian dan sekretaris Dika sedang menjalankan suatu misi.
***
Davian sampai di sebuah rumah tua yang sangat sepi penghuninya, sekretaris Dika segera mengajak Davian untuk masuk. Rumah tua ini hanya kedok saja, berbeda hal dengan yang ada didalamnya. Didalam rumah itu, terdapat banyak komputer dan mesin. Sehingga, akan memudahkan bagi Davian untuk mencari suatu informasi.
Davian di persilahkan duduk di kursinya. Sekretaris Dika yang memeriksa semuanya. Sekretaris Dika juga yang bertanggung jawab atas semua hal ini.
"Silahkan duduk, Tuan." ucap salah satu pria
Davian duduk dibelakang komputer. Ia memperhatikan dengan jeli. Hidup dan matinya ada ditangan komputer ini.
"Bagaimana?" tanya Davian
"Nona Tasya telah bertemu Arkan, dan dia dijadikan boneka yang perlahan bisa menghancurkan anda."
"Lalu?" tanya Davian lagi
"Target selanjutnya, bukan anda."
"SIAPA?" Davian kaget
"SIAPA?" Sekretaris Dika ikut kaget
"Istri anda, Arini." jawab sang intel
"Menghancurkan anda lebih mudah dengan menghancurkan Arini terlebih dahulu. Karena, Tuan lebih mencinta Arini daripada perusahaan. Bukan begitu?"
"Arkan yang mengatakannya?" tanya Davian
"Benar sekali, Tuan."
Davian bingung. Ia berpikir keras, ia benar-benar tak mengerti kenapa Arkan harus melakukan hal tak masuk akal seperti ini. Apa Arkan benar-benar akan menghancurkan Davian?
"Padahal, jika Arkan menginginkan perusahaan tinggal minta saja padaku! Tak seharusnya ia repot-repot membuatku hancur." jawab Davian
Sekretaris Dika berpikir. Ini tak mungkin dibiarkan, semuanya antara hidup dan mati istri kesayangan Bosnya.
"Bos, target mereka ternyata Arini. Aku tak mungkin membiarkan mereka mencelakai Arini." ucap sekretaris Dika
"Menurutmu, aku harus bagaimana?" tanya Davian
"Bos harus menyelesaikan Arkan sendiri, jangan biarkan Arini yang jadi target mereka." ucap Davian
"Iya, aku tahu. Tapi, bagaimana dengan istriku? Kalau pun istriku kuberikan bodyguard dan sebagainya, ia pasti menolak, Dik. Kenapa Arkan harus segila ini?"
Sekretaris Dika terdiam. Ia berpikir, apa mungkin melakukan hal tersebut? Bagaimana hati Davian dan Arini, jika mereka harus dipisahkan?
"Ada cara, agar Arini tak menjadi korban. Namun, kalian juga harus mengorbankan perasaan kalian masing-masing Bos!" ucap sekretaris Dika
"Apa maksudmu?" tanya Davian
"Arkan dan Aldric pasti akan membuat Arini terluka, karena dia ada hubungannya denganmu. Aku bisa mengantisipasi hal itu. Asalkan...." ucapan Sekretaris Dika tertahan
"Asalkan apa? Jelaskan padaku!" Davian emosi
"Asalkan Bos membuat drama didalam rumah tangga Bos sendiri."
"Jelasin secara rinci. Gue gak ngerti, Dik!"
__ADS_1
"Lu harus membuat Arini jauh dari kehidupan lu untuk sementara. Buat saja perceraian palsu, namun terkesan nyata, dan katakan pada keluarga lu kalo lu udah cerai sama Arini." jelas sekretaris Dika.
"Terus Arini gimana?" tanya Davian lagi.
Sekretaris Dika terdiam. Ia memikirkan apa yang harus Arini lakukan selanjutnya agar terhindar dari incaran Arkan CS.
"Begini saja, Bos ... Bukankah dia pernah menjadi mahasiswa kedokteran? Bagaimana kalau kita buat Arini menyamar sebagai Dokter? Biar saja dia pergi ke pelosok dengan alasan bekerja menjadi Dokter. Tentu saja semua itu bohong. Arini di sana hanya untuk liburan saja. Tapi, kita bekerja sama dengan rumah sakit yang memiliki cabang di tempat terpencil. Agar semua terlihat nyata, dan mereka pun percaya bahwa Arini adalah seorang Dokter. Arini hanya berkedok Dokter saja dengan jubah kedokteran dan tinggal di daerah terpencil, seolah-olah ia sedang melaksanakan tugasnya." ucap sekretaris Dika.
"Gue gak bisa jauh dari Arini, Dik. Jangan gila lo. Kenapa rencana lo sejauh itu!" ucap Davian.
"Bos, ini hanya sementara. Bos bilang saja pada keluarga Bos, kalau Bos dan Arini telah bercerai karena Arini memaksa menjadi dokter. Dan itu tak sejalan dengan paham kalian, bukankah itu masuk akal? Semua ini demi keamanan Nona Arini. Kita tak punya pilihan lain, Bos." ucap sekretaris Dika.
Davian berpikir. Arkan memang picik. Ia bisa menghancurkan apapun yang menjadi milik Davian. Arkan lemah dalam menghancurkan perusahaan Davian, kini targetnya adalah Arini, istri Davian sendiri. Arkan memang pintar, Davian pasti terluka jika terjadi sesuatu pada Arini, karena itulah target berubah menjadi pada diri Arini.
"Gue gak sanggup jauh dari Arini." ujar Davian
"Tuan Davi, Arkan sudah merencanakan sesuatu untuk menculik Nona Arini. Sebelum sempat hal itu terjadi, kita harus segera mengantisipasinya." ucap intel kepercayaan Davian.
"Kamu serius?" tanya Davian.
"Serius, Pak. Saya mendengar hal itu dikatakan Arkan di ruang kerjanya."
"Jadi, gimana Dik?" Davian tak bisa berpikir jernih
"Bos, kita yang akan menghadapi kegilaan Arkan dan kawan-kawannya. Nona Arini, jangan sampai libatkan dia dalam masalah ini. Kita yang harus menghadapinya bersama-sama."
"Gue khawatir sama Arini ..." tanya Davian.
"Kalau Bos menyetujuinya, aku akan bekerja sama dengan pihak Rumah sakit yang memiliki cabang di tempat terpencil, agar mereka bisa menyetujui Nona Arini seolah-olah Nona adalah Dokter mereka. Padahal, Nona hanya formalitas saja di sana. Biarkan dia liburan di kampung yang asri. Selama di sana, Nona akan pura-pura berada di rumah sakit. Tapi, tetap saja dia tak melakukan apa-apa. Kalau Bos setuju, gue bakalan segera menghubungi pihak Rumah sakit yang punya rumah sakit daerah di pelosok." jelas sekretaris Dika.
"Bagaimana aku memberi tahu Arini?" Davian benar-benar tak siap jika Arini harus jauh darinya.
"Kita bicarakan perlahan-lahan padanya. Jangan sekaligus, nanti gue yang atur semuanya. Pokoknya, elu ikutin aja saran gue, Bos. Udah gak ada cara lain lagi selain menjauhkan elu dan Nona Arini." ucap sekretaris Dika
"Tapi, gue gak sanggup jauh dari Arini, Dik!" Davian keberatan
"Bos, tak ada pilihan lain. Pilih Arini terluka, atau Arini tak dilibatkan? Ini hanya sampai kita menjebloskan Arkan ke penjara. Aku dan anak buah ku sedang mengumpulkan bukti kejahatan Arkan. Lambat laun, aku akan menjebloskannya ke penjara, bersama kawan-kawannya." jelas sekretaris Dika
"Kalau mereka tahu, Arini di sembunyikan bagaimana?" tanya Davian
"Kita buat surat resmi, Bos. Kita buat seolah-olah perceraian kalian itu benar terjadi. Dan aku, akan menggunakan Tasya untuk menjadi umpan kita. Aku sudah mengaturnya dengan matang, Bos. Percaya padaku."
"Mungkinkah, ini akan baik-baik saja?"
"Arkan tidak akan tahu kalau ini penyamaran. Kurasa, ia tahu istrimu terpaksa menjadi pembantu, karena kesulitan mencari kerja dan keuangan yang tak stabil, bukan? Dan Arkan tahu, istrimu adalah seorang mahasiswa. Ini bisa direncanakan, Bos! Arkan pasti mengira, istrimu menjadi koas di kampung, karena dia memang mahasiswa kedokteran. Arkan tak tahu, kalau Arini berhenti kuliah. Yang ia tahu, Arini adalah mahasiswa kedokteran. Ia pasti mengira, kalau Arini dan Bos cerai karena Arini memilih jadi Dokter magang di kampung, itu tentu saja masuk akal. Arkan akan menyangka, ini kebetulan yang tak disengaja, ketika ia akan mencelakai Arini, dan ternyata Arini sudah cerai denganmu, bukankah ia pasti tak jadi untuk menyakitinya? Karena menurutku, perceraian itu bukan main-main, dan dia pasti tak menyangka kalau ini bagian dari rencana kita." ucap Davian.
"Kurasa itu masuk akal, Dik."
"Kuatkan hatimu, saat jauh dari Arini. Biarkan dia liburan di sana. Biarkan dia menghabiskan waktunya untuk bersenang-senang. Menjadi Dokter palsu, bukankah mudah? Percayakan semua padaku, aku akan merencanakannya." ucap Dika.
"Aku percaya padamu, Dik!" Davian menepuk pundak Dika.
*Bersambung*
Malam..
Jangan lupa like, vote dan komentarnya juga ya..
Tetap setia dengan ceritanya ya, kalau gak ada konflik, apalah arti sebuah cerita. Semoga kalian selalu setia dengan cerita recehku ini.. makasih ya.
...❤❤❤...
Jangan dikaitkan dengan jadi DOKTER SUNGGUHAN ya. Ini adalah PENYAMARAN dan pura-pura. Davian nyogok pihak Rumah sakit agar mau bantu dia jadikan Arini Dokter pura-pura. Agar Arini bisa menyamar jadi Dokter dan tentu saja harus dilakukan seperti sungguhan agar Arkan percaya. Tapi, Arini gak jadi dokter sebagaimana mestinya, dia cuma memakai baju dokter dan tinggal di kampung.
Saya tahu, profesi Dokter tidak mudah. Banyak proses yang haris dilewati, sekolah dan koas yang harus dilewati. Intinya, jangan dikaitkan dengan jadi Dokter sungguhan, wong ini cuma menyamar saja. Menayamar pun hanya pakaian dan tempatnya saja, tidak melakukan tugas dokter yang sesungguhnya. Jangan di salah artikan. Ini pura-pura. Cuma, dibuat seolah-olah ini nyata. Davian dan Dika sengaja melakukan ini.
Semoga dapat dipahami ya, bagi yang keberatan dan ingin komentar kok bisa jadi dokter, bla bla bla
Please, ini Menyamar. Tapi, bukan berarti jadi DOKTER SUNGGUHAN. menyamar jadi dokter, formalitas berkedok Dokter. Jangan menyangka memeriksa pasien dan dengan mudahnya jadi dokter, ini formalitas dan menyamar. Menyamar pun bukan berarti dia benar-benar jadi dokter dan memeriksa pasien secara sungguhan. Arini TIDAK MENJADI DOKTER DAN TIDAK MEMERIKSA PASIEN. Ia hanya menggunakan pakaian dokter dan berada di tempat kesehatan di sebuah kampung, agar terlihat seperti nyata. Padahal bukan dokter. Please, mohon di mengerti.
__ADS_1