Terjerat Cinta Sang Pembantu

Terjerat Cinta Sang Pembantu
Harus bagaimana aku?


__ADS_3

Keesokan harinya.


"Arrgghh, kepalaku sakit sekali." Melisa mencoba membuka kedua matanya,


Melisa melihat sekitar. Ia tak tahu dirinya berada dimana. Tempat yang ia tak kenal, Melisa melihat disekelilingnya mencari tahu dirinya sedang berada dimana.


"Dimana ini? Rumah siapa? Mungkinkah ini rumah Bang Rangga?" Melisa beranjak duduk, kemudian mengingat-ingat kejadian semalam.


Ia ingat, penyakit asma-nya kambuh lagi. Dadanya amat sesak, ia kesulitan bernafas. Saat itu, ia mencoba akan mengambil obat didalam tas nya, agar sesak di dadanya segera menghilang. Namun ketika itu, Melisa tak sadarkan diri. Dan, ketika ia terbangun, ia sudah terbaring di ranjang ini.


Tiba-tiba, Rangga masuk kedalam kamar. Ia membawa air putih dan bubur instan untuk Melisa sarapan. Rangga tak menyangka, ternyata Melisa sudah masuk bangun.


"Kamu sudah bangun, ini sarapan mu." ucap Rangga.


"Buat apa Bang Rangga sok baik kayak gini sama aku? Apa mau mu sebenarnya hah?" tanya Melisa.


"Aku gak bermaksud apa-apa. Aku hanya ingin menolong mu. Karena kamu sakit, sudah sewajarnya aku merawat mu." jawab Rangga.


"Tapi, terima kasih. Aku sudah baikan, aku sudah sembuh. Bang Rangga tak usah sok baik begini sama aku." Melisa tak suka.


"Terserah kamu, Mel. Silahkan habiskan sarapan mu, dan minum obatmu. Baru kamu boleh pergi." tegas Rangga.


Melisa terpaksa memakan sarapan yang dibuatkan oleh Rangga. Rangga duduk di kursi. Ia terus memperhatikan Melisa yang sedang sarapan. Rangga kasihan pada Melisa, tapi ia tak bisa berbuat apa-apa lagi, selain mengasihaninya seperti ini.


Beberapa menit berlalu, Melisa pun telah selesai sarapan. Ia segera minum obat yang diberikan Rangga. Melisa tahu, ini adalah obat asma yang mahal, ia pernah menanyakannya di apotek. Karena ia tak mampu membelinya, ia jadi membeli obat generic yang biasa saja.


"Aku baru tahu, kamu punya penyakit asma bawaan." jelas Rangga.


"Iya, penyakit turunan yang diturunkan oleh mendiang Bapakku," jawab Melisa.


"Arkan tahu penyakitmu?" tanya Rangga.


"Dia tahu, tapi dulu penyakit ku tak seperti ini, akhir-akhir ini asmanya sering kambuh kalau aku terlalu lelah dan banyak pikiran." ucap Melisa.


Kasihan kamu, Mel. Batin Rangga.


"Kamu sudah bercerai dengan Arkan?" tanya Rangga tiba-tiba.


"Sudah, aku menggugatnya sendiri. Aku mengurusnya setelah aku pergi meninggalkan rumah dan juga meninggalkan Keyza." ucap Melisa sendu.


"Jangan banyak pikiran, Mel. Hiduplah sebagaimana mestinya, kamu berhak bahagia, dan mengulang kisah kelam hidupmu." ucap Rangga.

__ADS_1


"Terima kasih, Bang. Izinkan saya menggunakan kamar kecilmu. Aku harus segera bekerja." ujar Melisa berlalu, dan masuk ke kamar kecil.


Melisa, wanita yang malang. Apa aku harus menikahi mu? Agar hidup kalian bahagia? Tapi, jika aku menikahi Melisa, aku jelas tak bahagia. Aku bingung dengan hatiku. Kenapa ada perasaan sedih jika aku memikirkan wanita lain? Kenapa otak dan hatiku selalu saja terpaku pada Tira? Kenapa harus Tira? Apa spesialnya dia? Kenapa bayangannya selalu saja memenuhi otakku? Tira, mungkin aku tertarik padamu. Aku tak mungkin menikahi Melisa, karena aku tak mencintainya. Tapi, jika aku mencintai baby-sitter ku sendiri, apa mungkin itu terjadi? Apa Tira memiliki perasaan padaku? Batin Rangga.


Melisa keluar dari kamar mandi dan telah rapi, meskipun masih menggunakan pakaiannya semalam. Rangga mengajak Melisa ke ruang tamu, Rangga harus segera kembali menjemput Keyza dan Tira, selepas kepergian Melisa.


"Apa kamu butuh uang?" tanya Rangga.


"Tidak, terima kasih." jawabnya.


"Ini obatmu untuk satu bulan. Dokter pribadiku yang menyarankannya. Jika penyakitmu kambuh, minum saja obat ini. Buang obat lama-mu." jelas Rangga.


"Terima kasih banyak, Bang. Aku pergi," Melisa berlalu.


"Hati-hati dijalan Mel." jelas Rangga.


Langkah Melisa terhenti," Bang, minggu depan ulang tahun Keyza. Tepatnya tanggal 21." Melisa memberi tahu.


"Benarkah? Terima kasih atas informasinya. Aku akan merayakan ulang tahunnya sebagaimana mestinya." jelas Rangga.


"Terima kasih, telah memberikan kebahagiaan untuk Keyza. Sekali lagi, terima kasih, dan maafkan aku yang merepotkan mu, Bang Rangga." Melisa berlalu.


Rangga tak menjawab. Ia membiarkan Melisa berlalu. Rangga lega, akhirnya Ibu dari Keyza itu bisa kembali sehat juga. Kini, ia harus menjemput Keyza dan Tira di rumah Davian. Rangga merasa bersalah, mengajak mereka menginap di rumah Davian, namun ia sendiri malah tidur di apartemennya.


"Apa, Dav?" tanya Rangga lewat telepon.


"Nenek sakit. Datanglah ke rumah utama sekarang." ucap Davian.


"Baiklah. Keyza dan Tira, dimana?" tanya Rangga.


"Dia di rumahku bersama istriku. Cepatlah, Nenek ingin bertemu denganmu." perintah Davian.


"Baik, Dav."


Nenek Davian adalah Ibunya Rangga. Rangga tahu, bahwa Ibunya memang sering sakit-sakitan. Makanya, setiap kesempatan apapun, dia jarang sekali berinteraksi, ia hanya sekedar menemani Kakek Surya saja. Rangga bergegas berangkat menuju rumah keluarga besar kedua orang tuanya itu.


...***...


Rangga sudah sampai di rumah utama. Ia segera masuk dan bergegas menuju kamar Ibunya. Ternyata, Ayahnya dan Kakaknya, yaitu Tuan Dirga, serta Davian sedang duduk di ruang keluarga. Rangga mendekati mereka semua, dan menanyakan kondisi Ibunya.


"Bagaimana kondisi Ibu sekarang?" tanya Rangga.

__ADS_1


"Ibu dehidrasi, ia tak mau makan dan minum, karena pencernaannya sedang bermasalah." jelas Tuan Dirga, kakak Rangga.


"Rangga, karena kamu disini, Ayah ingin memberi tahu kamu sesuatu." ucap Kakek Surya.


Davian dan Papanya sudah tahu mengenai apa yang akan Kakek Surya sampaikan pada Rangga.


"Aku akan langsung saja. Karena sampai saat ini kamu tak juga mengenalkan wanita pada Ayah, sudah Ayah putuskan bahwa Ayah akan menjodohkan mu dengan rekan bisnis dari Kakakmu. Mereka akan memperkuat hubungan dengan perusahaan kita. Ayah harap, kamu bisa bekerja sama." tegas Kakek Surya.


Davian terdiam. Ia tak mau ikut-ikutan masalah Rangga dengan Kakeknya. Karena Davian tahu, Kakeknya selalu saja ingin diantara anak-anak dan cucunya segera menikah. Kakek Surya tak ingin menunggu terlalu lama lagi. Seperti hal yang menimpa Davian, ia harus segera menikah, dan karena terpaksa, akhirnya Davian menikahi Arini. Hal yang sama berlaku pada Rangga. Selain usianya yang cukup mapan untuk menikah, Kakek Surya juga ingin Rangga segera mendapat pendamping hidup.


"Ayah! Aku tak mau dijodohkan. Aku menolak dengan keras jika Ayah memaksa." Rangga tak terima.


"Baiklah. Bawa calon mu sore ini bertemu denganku!" tantang Kakek Surya.


"AYAH! Apa maksudmu?" Rangga tak mengerti.


"Kamu bilang tidak ingin dijodohkan. Kalau begitu, segera bawa calon mu untuk bertemu denganku. Apa itu sangat sulit bagimu? Contoh keponakanmu, aku pun mendesak dia menikah, bukan? Kamu harusnya malu! Umur sudah kepala tiga, masih saja sendiri. Aku tak mau tahu, cepat atau lambat, sore ini bawa wanita mu untuk bertemu denganku. Jika tidak, berarti aku putuskan, kamu menyetujui perjodohan yang akan aku laksanakan!" tegas Kakek Surya.


"Ayah! Kenapa Ayah egois sekali sih? Kenapa tak membiarkan aku sesuka hatiku? Menikah itu bukan perkara mudah, Ayah. Kenapa kamu menyebalkan sekali?" Rangga amat kesal.


"Silahkan temui Ibumu di kamarnya. Dan jangan lupakan pesanku padamu." Kakek Surya berlalu meninggalkan mereka bertiga di ruang tamu.


Papa Davian mengerti perasaan Rangga. Namun, ia pun bingung harus bagaimana. Karena, perintah Kakek Surya tak bisa ditolak, sekali beliau sudah berkata, maka perkataan itu benar adanya.


"Kak, kenapa Kakak tak mencegah Ayah sih?" tanya Rangga.


"Mau bagaimana lagi aku? Semua sudah perintahnya. Makanya, serius lah pada wanita. Dan segera nikahi dia, agar Ayah dan Ibu bahagia. Ibu pun sakit karena memikirkan kamu, Ga! Ayah terlalu berisik berbicara mengenai kamu yang masih sendiri. Sehingga membuat Ibu kesal, hingga akhirnya ia jatuh sakit." tegas Papa Davian.


"Ga, kenapa gak lu ajak nikah aja si Tira? Dia ian yang deket sama lu, dia juga selalu melayani elu. Apa salahnya lu coba jatuh cinta sama dia? Mencari wanita disaat-saat mendadak seperti ini itu sangat sulit, Ga. Tapi yakinlah, cinta akan tumbuh disaat yang tepat!" tegas Davian.


"Jadi, menurut lu, gue harus ikut-ikutan elu gitu, Dav? Gue harus ikut juga terjerat cinta sang pembantu versi Rangga dan Tira? Begitu?" tanya Rangga.


"Tentu saja. Memangnya apa yang salah?" Davian mendelik kan matanya.


"Gak ada yang salah. Toh, lu sama Arini juga kini hidup bahagia. Tapi, yang jadi pertanyaan gue, apa Tira mau sama gue? Secara, dia cuek banget Dav." Rangga menggaruk-garukan kepalanya.


"Itu urusan elu. Mana gue paham. Pokoknya, selamat berpusing-pusing ria. Gue udah kelar lewati fase itu. Selamat berpikir, dan membawa wanita sore ini ke hadapan Kakek. Ayo, Pah. Kita ke perusahaan!" ajak Davian.


"Rangga jangan kecewakan Kakek. kamu harus dewasa, tunjukkan bahwa kamu adalah laki-laki. Jangan sampai membuat Ibu tambah sakit karena memikirkan kamu!" tegas Tuan Dirga.


Davian dan Papanya berlalu. Mereka berangkat menuju perusahaan. Rangga terduduk merenung sendiri di ruang keluarga. Ia sangat bingung dan tak mengerti, harus bagaimana ia sekarang? Bagaimana bisa dia membawa wanita yang siap diajak menikah?

__ADS_1


*Bersambung*


__ADS_2