
Dua Minggu kemudian.
Arini dan Davian sibuk akan menggelar resepsi pernikahan mereka. Suasana rumah ini terlihat berbeda, karena ada Keyza yang hadir di tengah-tengah mereka.
"Aunty, Key mau jalan-jalan. Key belum pernah jalan-jalan aunty." rengek Keyza pada Arini.
"Keyza sayang, Aunty gak boleh bepergian jauh-jauh sama Om, karena aunty sedang sibuk, akan menggelar resepsi pernikahan Om dan Aunty. Kalau Key mau pergi, bisa ajak Kak Tira aja, nanny pasti mau." ucap Arini.
"Ya sudah, Key mau jalan-jalan Onty."
"Baik, sayang. Nanti Onty panggil Kak Tira, ya."
Arini memanggil Tira untuk mengajak Keyza pergi, karena Arini tak boleh bepergian oleh Davian. Tira menyanggupi permintaan Keyza dan Tira terpaksa diantar oleh sekretaris Dika.
"Saya kan bisa nyetir mobil sendiri, Nona." Tira keberatan.
"Tira, kamu wanita, kamu gak boleh mengemudi, kamu belum punya SIM lho." ucap Arini.
"Waktu itu kita berdua satu mobil, Non. Bahkan, dengan jarak yang begitu jauh." ucap Tira.
"Itu kepepet Tira. Jangan disamain kayak sekarang. Udah deh, berdamai aja dengan sekretaris Dika, dia juga gak begitu menyebalkan menurutku." tambah Arini.
"Begitu sangat menyebalkan, Nona. Please, pakailah supir yang lain saja kalau gitu? Ya? Ya?" Tira terus membujuk Arini.
"No, Tira. Asisten pribadi keluarga kita itu Dika, dia yang bertanggung jawab atas semuanya. Sudah, pergi sekarang, Dika sudah menunggu di sana." ucap Arini.
"Ba-baik, Nona." Tira pasrah.
"Yeayyyy, jalan-jalan sama Kak Tira." ucap Keyza.
Mereka pun berlalu. Arini bersantai dengan handphonenya. Ia sendirian karena Davian sekarang sedang mengunjungi rekan Bisnis bersama Papanya.
Tiba-tiba, handphone Arini berbunyi, Davin memanggilnya.
[Halo, sayang?]
[Ya, Mas?]
[Lagi apa Arini-ku?]
[Lagi rebahan aja, nungguin Mas pulang.]
[Aku pulang sore, sayang. Emang mau apa sih, gak sabaran banget pengen cepet-cepet kakanda pulang?]
[Yaelah, apaan kakanda. Aku mau Mas bawain kepiting rebus, ya ya..]
[Disini mana ada restoran seafood, yang.]
[Cari dong, Mas]
[Akan kucari walaupun aku harus menyelami lautan, sayang]
[Hahaha, ngakak deh, awas ya kalau gak nemu aku ngambek.]
[Kalau nemu, aku minta sesuatu sama kamu, oke?]
[Sesuatu, apaan?]
[Sweety-mu! Sudah dua bulan ini aku tak bertemu dengannya. Dokter juga sudah mengizinkan, bukan? Asalkan aku bermainnya pelan. Iya kan?]
[Bawa dulu aja kepitingnya, Mas! Jangan banyak maunya deh!]
__ADS_1
[Dasar licik kamu,]
[Licik apa?]
[Kamu banyak maunya, aku cuma satu keinginanku, tapi kamu malah bilang aku banyak maunya.]
[Iya deh iya, Mas berisik kalau udah ngomongin gituan, gak ada berhentinya!]
[Makanya kamu harus nurutin kemauan aku.]
[Iya, aku turutin.]
[Aku akan pulang malam, kamu tunggu di rumah ya sayang, I love you..]
[I love you too, Mas-ku.]
Arini mematikan teleponnya. Arini ingin sekali makan kepiting rebus yang dagingnya benar-benar kenyal dan gurih, rasanya kepiting itu sudah berada didalam pandangannya saking Arini sangat menginginkannya.
***
Tira dan sekretaris Dika terlihat saling cuek dan tak saling menyapa. Keyza sangat heran, dia jadi tak menikmati permainannya.
"Kak Tira, sama Kak Dika kok diem-dieman sih, kalian lagi marahan ya?" ucap Keyza polos.
"Enggak kok sayang, Kakak gak marahan." ucap Tira.
"Kakak bohong. Itu Kak Dika wajahnya ditekuk gitu, marah ya sama Kakak? Kata Bu guru, marahan itu gak baik lho, Kakak sama Kak Dika harus baikan. Gini ya, tangan kalian harus bersalaman, tak boleh saling diem-dieman seperti itu, karena Allah gak suka."
Keyza menyatukan tangan Dika dan Tira bersamaan. Tira kaget, begitupun juga Dika. Mereka langsung spontan melepaskan tangannya masing-masing.
"Nah, kan udah baikan, jangan musuhan lagi ya, gak baik lho!" Keyza tersenyum riang.
"Keyza anak manis, anak baik, Kak Dika gak marahan sama dia, Kak Dika hanya gak mau ngomong sama es batu, abisnya dingin banget sayang, gak nyaman ngobrolnya." ucap sekretaris Dika.
Tira tak habis pikir, Dika akan berkata seperti itu pada anak sekecil Keyza. Mata Tira melotot kearah Dika, namun Dika terlihat acuh tak acuh.
"Sayang, maksud sekretaris Dika itu, dia kesal sama Kak Tira, dia minta Kak Tira buatkan jus untuknya, dia pengen pake es batu, eh ternyata Kak Tira gak buatkan jusnya, karena kita kan harus jalan-jalan. Dia marah dan ngambek, malu-maluin banget kan ya? Dia sampe gak nanya, sampe ngediemin Kakak lho, udah persis kayak anak kecil aja dia itu. Kamu lebih hebat daripada sekretaris Dika!" Tira membelokkan ucapan sekretaris Dika.
"Oh, begitu, ya. Jadi, Kak Dika sama Kak Tira gak saling sapa, karena Kak Dika marah sama Kakak, gara-gara gak dibuatkan jus? Pantesan aja Kak Dika ngomong-ngomong es batu terus, itu ya maksudnya. Ya sudah kak, kita beli jus disini saja, kebetulan Key juga haus! Ayo, kita beli jus. Yuk Kak Dika, jangan marah lagi, sekarang kan kita bakalan beli jus pake es batu." ucap Keyza.
"Mampus kamu! Makanya, jangan bicara perumpamaan sama anak kecil. Dia gak akan ngerti! Parah banget deh!" bisik Tira pada Dika.
"Emang kamu kayak es batu, kok. Males banget ngomong sama es batu, dinginnya kebangetan!" Dika berjalan menuju Keyza.
"Bener-bener deh, dia laki-laki paling menyebalkan. Kenapa ya, aku gak bisa bersahabat sama dia? Kenapa tingkahnya selalu membuat aku kesal?" pikir Tira.
***
Davian pulang lebih cepat dari yang diperkirakan. Pukul lima sore, dirinya sudah berada di rumah. Ia segera naik ke lantai atas, untuk segera menemui istrinya. Davian mengetuk pintu, ternyata Arini sedang menonton televisi.
"Loh, sayang. Kamu kok udah pulang? Katanya malam pulangnya?" tanya Arini.
"Aku gak bisa menahan rasa rindu yang membuncah ini. Rindu yang kurasakan, tak bisa ku biarkan terlalu lama, karena ia terus menggerogoti hati dan pikiranku, Arini. Karena itu, aku harus segera pulang untuk menuntaskan hasrat rinduku ini padamu. Sudah lama sekali, aku tak semanis madu padamu, iya kan? Aku juga yakin, kamu pasti merindukan manisnya diriku ini." Davian cengengesan.
Arini mendekati Davian. Ia heran, dengan tingkah suaminya yang mendadak seperti seorang pujangga. Arini memegang-megang tubuh Davian, dari kening hingga tangannya.
"Mas? Kamu kenapa? Lidahmu gak keseleo kan?" Arini sedikit khawatir.
"Tentu tidak, sayang. Semua ini karena aku punya hadiah untukmu. Ini dia, aku belikan spesial untukmu malam ini." Davian tersenyum.
"Apa ini?" Arini akan membukanya.
__ADS_1
"Jangan sekarang, yang. Nanti saja. Karena hadiah inilah tingkat kerinduanku padamu meningkat. Kita makan dulu kepiting rebus nya, nanti baru kamu buka hadiahnya. Ya?" pinta Davian.
"Baiklah, Mas. Aku malah jadi penasaran, isinya apa, kamu buat aku penasaran deh!" kata Arini.
"Bukan sesuatu yang mahal, tapi sesuatu yang spesial. Udah, nanti aja bahas nya. Aku lapar, mau makan sekarang sayang." jawab Davian.
"Baiklah, Mas."
***
Malam pun tiba, Davian telah menyerahkan hadiahnya pada Arini. Davian sudah meminta, agar Arini memakai hadiah pemberiannya. Awalnya, Arini sangat sumringah dan bahagia, Arini kira Davian memberikannya baju mahal atau tas mahal, tapi ternyata...
"Mas!!!!! Aku gak mau pakai ini!!!!" teriak Arini di ruang ganti.
"Sayang, pakai saja. Itu adalah magnet untuk kita malam ini. Tarikannya pasti sangat dahsyat, sayang!"
"Enggak mau! Aku malu!" Arini tetap menolak.
"Siapa yang akan melihat kamu, sayang? Semua orang tak akan ada yang berani masuk ke kamar kita, jika sudah malam seperti ini." jawab Davian.
"Aku malu sama kamu! Pokoknya, aku gak mau pakai kayak begini. Enggak mau ya, Mas." Arini kekeh.
"Arini, aku sudah melihat tubuh polos mu, kenapa kamu harus malu memakai itu? Itu lebih terhormat ketimbang kamu tak memakai busana. Ayolah, Arini. Pakai sekarang. Demi aku, suamimu. Aku susah payah memilihkannya untukmu, masa kamu membiarkannya begitu saja sih!" ucap Davian.
"MAS! Kamu ini benar-benar ya!"
"Pakai saja, kamu sudah berjanji akan menuruti kemauanku kan? Jangan menolak, ayo pakai dan segera keluar! Aku tak sabar ingin melihatnya."
Beberapa menit, Arini tak keluar. Hingga akhirnya Davian menggedor-gedor pintu ruang ganti, saking kesalnya pada Arini yang tak mau juga membuka pintu.
"Sayang, cepet keluar dong! Aku penasaran banget ini."
"Ah, bawel deh! Tunggu sebentar kenapa,"
Perlahan, Arini membuka pintu ruang ganti. Ia malu, dan tak mau keluar, tapi Davian menariknya dengan lembut, hingga akhirnya, Arini keluar dari ruang ganti menggunakan lingerie yang super seksi serta menggoda, dengan model masa kini, yang memperlihatkan belahan dan lekukan tibuh Arini yang jelas terlihat benar-benar seksi.
"Tubuhmu, indah sekali, Arini. Kamu tetap seksi walaupun kamu sedang hamil. Inilah yang sejak tadi aku impi-impikan. Aku ingin melihat kamu menggunakan hadiah yang aku pilih."
"Sekretaris Dika kan gak ada, siapa yang memilihkan lingerie ini? Kamu mana tahu selera wanita yang seperti ini. Apa kamu bertanya pada pelayan toko lagi?" tanya Arini.
"Kali ini tidak, sayang."
"Jadi, kamu memilih lingerie ini sendiri?" tanya Arini lagi.
"Tidak juga, sayang."
"Lalu? Siapa yang memilihkan?"
"Papa, Papaku memilihkan lingerie seperti lingerie yang ia berikan pada Mama ketika malam pertama dulu. Menurutnya, ini akan menambah keseksian seorang wanita. Benar saja, kamu sangat-sangat seksi, Arini. Papa juga membelikannya untuk Mama, kok. Jadi, malam ini kamu dan Mama menggunakan pakaian yang sama, tapi tetap beda model."
"MAS DAVIAN! KENAPA KAMU BUAT AKU MALU, HAH? Apa kamu tak punya rasa malu pada Papamu sendiri?" Arini benar-benar kesal.
"Papa justru yang menyarankan aku untuk membeli lingerie ini. Karena Papa yang pertama berniat membelikan untuk Mama, aku jadi ikut-ikutan deh! Hehehe."
"Ya ampun, Mas Davi. Aku benar-benar malu kalau bertemu Papa nanti." Arini mengigit bibirnya.
"Engga dong sayang, Papa juga ngerti, kita sedang dalam masa hangat dan penuh gairah. Ayolah, kamu sudah buat joni-ku terbangun. Papa benar, baju kurang bahan ini memang benar-benar jitu. Aku bak singa yang akan menerkam mangsanya dengan gagah! Are you ready, Arini?" Davian mencium bibir Arini.
"NO!"
Davian tak mendengarkan jawaban Arini. Ia memangku Arini menuju ranjangnya. Seperti biasa, Davian melakukan sesi pemanasan sebelum mulai berolahraga.
__ADS_1
*Bersambung*