Terjerat Cinta Sang Pembantu

Terjerat Cinta Sang Pembantu
Calandra series 10-Putus


__ADS_3

Selamat membaca ...


Sebelum membaca, like dulu ya guys, biar gak lupa ❤❤❤


Sore harinya, setelah Nisha mengajar Livia les, Nisha pulang ke rumahnya. Ia segera membersihkan dirinya dan istirahat. Hari yang melelahkan sekaligus menjengkelkan, karena Calandra yang merusak hari Nisha. Saat Nisha sedang bermain game di ponselnya, Elang menelepon. Nisha bahagia sekali, dan ia segera mengangkat telepon dari pria yang dirindukannya.


"Halo, yang. Apa kabar? Kamu udah gak sibuk kan?" suara riang Nisha terdengar di ponsel Elang.


"Kamu dimana? Bisa kita ketemu?" tanya Elang.


"Aku di rumah. Mau ketemu dimana?" tanya Nisha.


"Di Cafe roofpark aja, aku tunggu di sana petang ini." ucap Elang datar.


"Kamu gak akan jemput aku? Biasanya kamu selalu jemput, Lang." Nisha sedikit kecewa.


"Kan deket rumah kamu, gak terlalu jauh juga. Pokoknya aku tunggu jam tujuh nanti. Ada sesuatu yang harus aku bicarakan sama kamu. Ini serius, ini soal kelanjutan hubungan kita. Kuharap, kamu datang." tegas Elang.


"Baiklah, aku akan datang."


Sambungan telepon pun terputus. Nisha berpikir keras, ia merasa bahwa Elang akan serius dalam hubungannya. Karena Nisha mendengar kata-kata kelanjutan hubungan mereka. Nisha pun jadi semakin yakin, kalau Elang akan mengenalkan Nisha pada kedua orang tuanya.


Aku harus tampil cantik dan menawan. Mungkin saja, Elang akan memberikan surprise padaku, makanya ia tak mau menjemput ku. Ah, betapa bahagianya hatiku. Aku beruntung memiliki Elang dalam hidupku. Hanya dia laki-laki yang mengerti dan menyayangi aku. Batin Nisha.


Ia pun segera memakai pakaian yang menurutnya pas dan cantik. Nisha harus tampil cantik malam ini. Penampilannya harus memukai dan spesial khusus untuk Elang. Setelah dirasa selesai, ia memesan ojek online untuk membawanya menuju cafe yang Elang janjikan.


Sesampainya di cafe, Nisha melihat-melihat, ternyata Elang sudah duduk menunggunya. Dengan rapi dan anggun, Nisha berjalan menuju meja tempat Elang berada. Nisha terus tersenyum pada sang kekasih. Walaupun Elang terlihat biasa saja, dan pakaiannya pun sepertinya masih pakaian saat ia kuliah.


"Selamat malam, kekasihku ... " Nisha tersenyum pada Elang, lalu duduk.


"Malam, Nish. Silahkan, pesan dulu." ucap Elang datar.


"Baiklah,"


Nisha merasa ada yang aneh pada Elang. Nisha heran, makan malamnya tiba-tiba tak se-romantis biasanya. Sedih, kesal, itu yang Nisha rasakan saat ini. Apalagi, mendapat perlakuan dingin dari Elang. Nisha berpikir, mungkinkah Elang marah padanya? Tapi, apa kesalahan Nisha? Nisha tak tahu apa-apa.

__ADS_1


Makan malam pun selesai. Nisha menatap Elang dengan seksama. Elang selalu saja menghindar ketika Nisha menatapnya. Nisha bingung, apa yang terjadi, Nisha ingin Elang jujur padanya.


"Ada apa sih?" tanya Nisha yang mulai kesal.


"Aku mau ngomong sesuatu sama kamu." ujar Elang.


"Ngomong apa?" tanya Nisha.


"Sebelumnya, maafin aku." Elang sedikit menunduk.


"Minta maaf untuk apa?" tanya Nisha.


"Sepertinya, kita harus menyelesaikan hubungan ini. Aku minta maaf sekali." ucap Elang hati-hati.


"Menyelesaikan? Menyelesaikan apa maksudmu?" Nisha mengernyitkan dahinya.


"Aku ingin kita akhiri hubungan ini, aku ingin kita putus." ucap Elang dengan suara perlahan.


DEG. Jantung Nisha berdetak tak beraturan. Tubuhnya bergetar, ia merasa lemas mendengar apa yang diucapkan oleh Elang. Nisha tak pernah menyangka, Elang akan mengatakan hal ini padanya. Nisha kira, Elang adalah laki-laki yang paling tulus dan tak mungkin akan menyakiti hatinya seperti ini.


"Kenapa?" air mata Nisha tiba-tiba jatuh tak tertahan.


"Maafkan aku," Elang mencoba memegang tangan Nisha.


"Jangan pegang aku, dan cukup jelaskan kenapa!" Nisha menguatkan dirinya untuk berbicara dengan nada tinggi pada Elang.


"Aku tak bisa meneruskan cinta ini, karena orang tuaku tak merestui mu. Sungguh, maafkan aku ... " Elang berbohong.


"Kamu berbohong, kan? Aku tak pernah sekalipun bertemu dengan kedua orang tuamu! Mereka tidak mengenalku, mereka tak mungkin semudah itu mengatakan bahwa mereka tak menyetujui ku! Aku tahu, kamu berbohong, Elang!" Nisha marah.


"Nisha, ada alasan kenapa aku sampai saat ini belum pernah mengajakmu bertemu dengan orang tuaku. Kamu tahu, kenapa? Karena mereka sudah tahu tentang hidupmu, mereka sudah tahu, kamu tak punya keluarga, dan tak punya siapapun. Bunda dan Ayahku tak ingin, menerima wanita yang tak jelas asal-usulnya. Kumohon, kamu mengertilah dan maafkan aku. Aku tak bermaksud menyakitimu, tapi inilah kenyataannya." Elang menunduk.


Sakit, pedih, kecewa, itulah yang Nisha rasakan saat ini. Haruskah Nisha percaya pada perkataan Elang? Apakah Elang berbohong padanya? Hati Nisha berkecamuk penuh amarah dan pertanyaan yang ingin ia lontarkan pada Elang. Namun, hatinya terlalu lemas untuk berbicara.


Menerima kenyataan pahit diputuskan oleh sang kekasih, karena asal-usul keluarga yang tak jelas. Bukankah itu masuk akal? Ya, itu masuk akal, dan Nisha mempercayai ucapan Elang. Tapi, apa tak ada perjuangan Elang untuk mempertahankan Nisha? Dan meyakinkan kedua orang tua Elang, bahwa Nisha adalah gadis baik-baik, walaupun asal-usul keluarganya tak jelas.

__ADS_1


"Apa tak ada niatanmu untuk memperjuangkan aku?" tanya Nisha sambil terisak.


"Maafkan aku, bukan aku tak mampu perjuangkan kamu, Nish. Orang tuaku terlalu keras dan sulit untuk ditaklukkan." Elang terus menunduk, ia tak berani menatap wajah Nisha.


"Baiklah, jika itu alasannya, aku bisa menerima semua ini. Semoga kamu bahagia, semoga kamu bisa menemukan wanita yang lebih baik daripada aku. Maafkan aku, wanita tak sempurna yang tak jelas asal-usul keluarganya. Silahkan pergi, dan tinggalkan aku sendiri." Nisha menguatkan dirinya.


"Tidak, aku akan mengantarmu pulang. Aku tak mungkin membiarkan kamu pulang sendiri." ucap Elang.


"DIAM! JANGAN SOK MANIS, ELANG! AKU SUDAH TAK INGIN MELIHAT WAJAHMU LAGI. PERGILAH, DAN JANGAN SIKSA AKU DENGAN PERPISAHAN INI. PERGILAH, PERGI SEKARANG JUGA. PERGI KAMU!!!!!“ Nisha berteriak pada Elang.


Elang bingung, Nisha begitu marah padanya. Tapi, dalam keadaan begini, Elang tak mungkin berhasil merayu Nisha. Elang memutuskan untuk pamit pada Nisha, karena sepertinya Nisha sudah marah besar padanya.


"Baiklah, aku akan pergi. Terima kasih atas semua cintamu. Semoga kamu selalu sehat dan bahagia. Aku akan berusaha meyakinkan kedua orang tuaku untuk meyakinkan mereka, bahwa kamu adalah wanita yang paling baik untuk hidupku." Elang beralasan lagi.


"Pergi, dan jangan banyak bicara. Sekarang!" bentak Nisha.


Elang berdiri, dan akan berlalu. "Aku akan pergi, sambil membayar makanan kita. Terima kasih, maafkan aku, dan selamat malam, Nisha."


Nisha tak menjawab begitu Elang berlalu. Ia hanya sedih dan meratapi nasibnya yang sungguh memilukan. Diputuskan oleh pasangan karena dianggap sebagai wanita yang tak jelas asal-usulnya. Haruskah Nisha menyalahkan takdir yang harus memisahkannya dengan kedua orang tuanya?


Nisha berjalan pelan disekitar trotoar. Ia tak peduli, pada hujan yang mulai turun membasahi bumi. Ia sengaja menerobos gemericik hujan, berjalan disaat hujan turun dengan derasnya, agar tak ada seseorang pun yang tahu, bahwa ia sedang menangis. Menangis disaat hujan turun, adalah hal yang menenangkan. Tak akan ada orang yang khawatir akan mengalirnya air mata itu.


Nisha terus berjalan dalam rintik hujan yang deras. Ia tak peduli pada kondisi tubuhnya yang mulai kedinginan karena hujan yang deras dan angin malam yang berhembus menemani turunnya hujan. Tubuhnya mulai lesu, jalannya pun mulai sempoyongan tak beraturan.


Sudah setengah jam lebih Nisha berjalan dalam derasnya air hujan. Pikirannya kosong, ia tak bisa berfikir jernih, padahal tubuhnya sudah mulai melemah dan tak sanggup untuk terus berjalan. Hingga kepala Nisha mulai pusing dan berat, ia menghentikan langkahnya, dan memegangi kepalanya yang berat.


~Jika rintik hujan tak mampu menghapus sedihku, maka aku berharap, esok hari, cahaya sang mentari akan membawa mimpi baru.~


Bruggghh ...


Tubuh Nisha tersungkur jatuh di trotoar yang sudah sepi. Suatu kebetulan yang tak dipungkiri, sebuah mobil mewah segera berhenti tepat di posisi Nisha terjatuh, karena melihat seseorang yang tubuhnya jatuh ke trotoar. Dua orang itu keluar dari mobil dengan khawatir, mereka tak peduli menerobos hujan yang deras, karena melihat kondisi Nisha yang mengkhawatirkan. Tanpa basa-basi, salah seorang dari mereka segera membawa Nisha masuk kedalam mobilnya.


Semoga Nisha baik-baik saja ....


*Bersambung*

__ADS_1


__ADS_2