Terjerat Cinta Sang Pembantu

Terjerat Cinta Sang Pembantu
Masih merenungi kesedihan


__ADS_3

Davian,Tira dan sekretaris Dika telah berada di rumah kembali. Sekretaris Dika membawa koper yang berisi baju-baju Tira. Kamar asisten itu, kini terisi lagi. Kamar bekas Arini yang dulu. Ya, Tira kembali lagi ke rumah ini. Awalnya, Tira memutuskan untuk pulang saja, namun Davian tak mengizinkan Tira untuk berhenti kerja. Apapun alasannya, Davian tetap berkata, masih membutuhkan Tira untuk berada di samping Arini.


Tira sedang merenung di kamarnya. Ia diminta istirahat oleh Davian. Namun, Arini rasanya tak bisa membiarkan Tira seorang diri. Arini berniat keluar dari kamarnya untuk menghibur Tira yang sedang sedih.


"Mau kemana?" tanya Davian.


"Mau ke kamar Tira. Aku mau hibur dia." jawab Arini.


"Ayo, aku antar." Davian pun beranjak dari tidurnya.


"Antar? Antar gimana maksud Mas? Aku cuma mau ke kamar Tira lho, gak pergi kemana-mana." Arini heran.


"Iya, aku antar kamu ke kamar Tira, sayang. Sekarang perutmu sudah semakin membesar, kamu harus aku temani, kemanapun kamu pergi. Bahkan, ke toilet sekalipun!" tegas Davian.


"Apa? Ya ampun Mas, aku ini gak sakit, aku cuma hamil. Wanita hamil itu bukan orang sakit. Aku bisa kok jalan sendiri ke kamar Tira." elak Arini.


"Aku lebih takut karena kamu sedang hamil. Bagaimana kalau terjadi sesuatu sama kamu? Aku harus mengantarmu mulai sekarang. Kehamilan mu sudah memasuki bulan ke sembilan sayang, aku akan selalu siaga, menemani dan menjaga kamu, istriku." Davian melingkarkan tangannya ke pinggang Arini.


"Ih, Mas. Kalau kayak gini aku ngerasa jadi orang sakit. Kamu berlebihan deh."


"Gak ada penolakan. Pokoknya ayo, kita ke kamar Tira. Biar aku yang antar." Davian mempersilahkan Arini keluar dari kamarnya.


davian memapah Arini. Davian sangat takut dengan perut Arini yang buncit, ia takut melihatnya, rasanya jika ia melihat perut Arini yang membesar, itu akan meledak atau jatuh tiba-tiba jika ia tak memegangnya dengan baik. Davian seperti sedang memegang balon, jika terkena beda tajam akan meledak, atau jika jatuh ke lantai, akan meledak juga. Seperti itulah pemikirannya jika melihat perut Arini.


Mama Amel, dua hari kemarin baru pulang ke rumahnya. Ia sedang duduk di sofa dan membaca majalah. Matanya tertuju pada Davian yang sedang memapah Arini. Mama Amel benar-benar kaget, ia melihat seperti Arini akan melahirkan, karena Davian memapahnya seperti itu.


"Ya ampun, Dav. Arini akan melahirkan? Astaga, ayo, kita segera ke rumah sakit." Mama Amel yang sedang duduk segera bangkit dan terkejut.


Davian menatap Mamanya dengan Aneh, "Belum kok, Ma. Kok Mama kaget gitu sih?"


"Ya ampun, Arin, kamu seperti mau melahirkan saja. Mama lihat dari jauh, kamu memapah Arini, Mama kira Arini akan melahirkan. Sampe kaget Mama ini, Dav. Rasanya, jantung udah mau copot." Mama Amel memegang dadanya.


"Duh, maaf sekali membuat Mama khawatir. Ini nih, Mas Davian aneh-aneh aja, Ma. Masa mau ke kamar Tira aja aku harus dipegangi seperti ini." keluh Arini.


"Ya ampun, Davian! Kamu ini, Arini bukan orang sakit. Wanita hamil itu sehat kok, masa kamu pegangin, kalo mau melahirkan, wajar kamu papah seperti itu. Aneh-aneh aja ini anak. Mama kira Arini memang mau melahirkan, sampek bener-bener kaget Mama." Mama Amel geleng-geleng kepala.


"Ma, Dav takut lihat perut Arin yang semakin membesar. Apa Mama gak lihat perutnya? Bagaimana kalau jatuh? Lihatnya aja buat Dav ngeri-ngeri sedep, Ma. Harus pelan-pelan jalannya, biar bayi Dav dalam perut Arin tenang dan nyaman." jawab Davian.


"Ini anak sulung ku, jagoan ku. Kamu ini kenapa lucu sekali? Perut Arini gak akan jatuh begitu saja, memangnya perut Ibu hamil itu balon yang diisi air apa? Yang kalau terlalu berat akan jatuh." Mama Amel tak habis pikir.


"Tuh kan, Mas! Denger apa kata aku, kamu ini berlebihan banget deh!" cecar Arini.


"Ya maaf, sayang. Aku kan gak tahu," ucap Davian.

__ADS_1


"Davian, kamu ini ada-ada aja. Udah, biarkan istrimu jalan sendiri. Banyak jalan itu bagus buat mendekati lahiran. Kamu harus ingat, perut Ibu hamil itu bukan balon, ngerti gak kamu? Wajah sangar, otot kekar, tapi sama perut Ibu hamil takut lihatnya, ampun deh kamu, Nak." ucap Mama Amel.


"Ngerti kok, Ma. Dav ngerti banget. Ya udah, sayang sana pergi sendiri. Hati-hati, kamu gak boleh jalan terlalu cepat, Rin!" perintah Davian.


Arini tertawa mendengar ucapan Ibu mertuanya. Ia pun menganggukkan kepalanya dan segera menuju kamar Tira. Arini penasaran, sedang apas asistennya itu, karen memang hari ini Tira tidak diperbolehkan bekerja, Tira harus istirahat full.


Tok, tok, tok. Arini mengetuk pintu. Tak lama, pintu pun dibuka dan Tira tersenyum melihat Arini. Tira sedikit kaget, untuk apa majikannya harus datang ke kamarnya.


"Nona? Ada yang bisa saya bantu? Maaf, saya belum ke kamar Nona, karena kata Tuan, saya libur bekerja satu hari ini." ucap Tira.


"Harusnya aku yang bertanya, apa yang bisa aku bantu untuk membuat hatimu tak sedih lagi, Ra? Ayo, aku mau masuk kedalam kamarmu." ajak Arini.


Arini duduk di ranjang kecil itu. Ia masih ingat, bahwa dulu ini adalah kamar tidurnya saat masih menjadi pembantu untuk Davian. Tira sedikit tak nyaman, karena Arini harus bersusah payah menuju kamarnya, padahal Arini sedang hamil tua.


"Ada apa, Nona?" tanya Tira.


"Bagaimana perasaanmu sekarang? Apa sudah membaik?" tanya Arini.


"Iya Nona, tadi aku tidur sebentar. Sudah lega, dan aku sudah bisa menerima kepergian Keyza." ucap Tira.


"Aku akan sedikit bercerita padamu, Ra. Apa boleh?" tanya Arini.


"Tentu saja, Nona. Dengan senang hati, saya akan mendengarkannya." balas Tira.


"Dulu, kamar ini adalah milikku. Suamiku, Mas Davian pernah mendobrak pintu kamar ini, entah apa penyebabnya aku tak mengerti. Hingga keesokan harinya, pintu kamar ini telah dibetulkan kembali, aku belum meminta Pak Parjo membetulkannya, tapi pintunya sudah ada yang membetulkan. Apa kamu bisa menebak siapa yang membetulkan engsel pintunya?" tanya Arini.


"No, kamu salah. Yang membenarkan pintu ini adalah Rangga. Dulu, dia terobsesi padaku, dia dan Mas Davian sempat bertengkar karena aku. Tapi, memang Rangga itu seperti itu, Ra. Dia tak bisa mendekati wanita. Dia mendekatiku, tapi membuat aku takut. Dia memang bukan laki-laki yang manis, pantas saja aku takut dan kesal." jelas Arini.


"Benarkah, Nona?" Tira jadi teringat Rangga.


"Ya, dan hal itu telah berlalu. Dia mengaku kalah pada keponakannya, dan dia tak akan menggangguku lagi. Dia memang bodoh kalau harus kubilang, dia payah dalam urusan wanita. Dia tak bisa membuat perasaan wanita senang atau bahagia karena perlakuannya, dia hanya bisa membuat wanita kaget atas perilakunya. Sama seperti hal nya padamu. Saat ia akan mengatakan ingin menikah denganmu. Terkesan memaksakan kehendak bukan? Apa kamu menyadari itu?" tanya Arini.


"Ya, Nona. Memang seperti itu kenyataannya. Dia memang terlihat tidak tulus mengatakannya." tambah Tira.


"Itulah Rangga, Tira. Dia memang tak bisa menyatakan cinta sebagaimana mestinya. Ia terlalu payah untuk urusan hati. Tapi, percayalah, dia tulus mengatakannya. Dia hanya tak mampu mengutarakan isi hati yang mampu meyakinkan kamu." ucap Arini.


"Semua sudah berlalu, Nona. Tak ada lagi yang harus dibicarakan mengenai Tuan Rangga. Semuanya sudah terlambat. Aku hanya merindukan Keyza." ucap Tira sendu.


"Ya, semua telah berlalu. Keyza pasti di asuh oleh baby sitter di sana. Kamu tenanglah, dia pasti bahagia. Tira, bagaimana perasaanmu pada Rangga?" tanya Arini.


"Semuanya terasa menyakitkan jika orangnya telah pergi. Aku tak tahu apa ini cinta atau bukan. Namun, aku baru menyadari bahwa kepergiannya membuat aku merasa kehilangan dan kesepian." tambah Tira.


"Itu karena kamu menolak cinta itu datang. Kamu tak siap, kamu hanya butuh waktu, tapi Rangga terlalu terburu-buru, dan mungkin juga hatimu goyah karena seseorang, bukan begitu?" Arini menebak.

__ADS_1


"Entahlah, Nona. Kenapa perasaan saya begitu berantakan. Ketika Tuan Rangga masih disini, saya tak ingin membalas perasaannya, karena ada yang mengganjal di hati saya. Tapi, setelah ia pergi bersama Keyza, saya begitu kehilangan dan merasa kesepian. Mungkin karena kita terbiasa bersama-sama. Hingga akhirnya aku sendiri ditinggalkan oleh mereka, jadi aku merasa seperti ini." ucap Tira.


"Apa sekretaris Dika yang mengganjal hatimu, Ra? Jujurlah, aku akan menyimpan rahasia mu." Arini meyakinkan Tira.


"Mungkin saja. Dia sempat membuat hatiku goyah, padahal sifatnya tak seperti Tuan Rangga yang baik padaku, tapi entah kenapa perasaanku sangat mengganjal dan tak bisa menerima Tuan Rangga saat itu. Memang mungkin saja, itu karena dia." Tira jujur.


"Pilihan yang berat memang kalau sudah urusan hati, tak bisa dipaksakan. Kamu yang sabar ya, aku yakin, kamu bisa melewati semua ini."


"Ya, Nona. Terima kasih banyak atas pencerahannya, aku merasa tenang karena telah bercerita." Tira tersenyum.


"Bahagia lah, aku yakin kamu akan menemukan kebahagiaanmu jika kamu menjalaninya dengan tulus." ucap Arini.


"Terima kasih, Nona. Mungkin aku sadar, aku terlalu mengabaikan kebaikannya, sehingga aku tak menyadari, bahwa yang dia lakukan padaku ternyata sangat tulus." Tira berkaca-kaca.


"Ya, kamu harus tegar menerima semua ini. Ini pilihanmu, dan ini juga keputusan Rangga. Kamu harus tabah menerimanya. Jika kamu merindukan Keyza, kapan-kapan aku akan mencoba menghubungi Rangga. Agar kamu bisa melihat Keyza." Arini menepuk pundak Tira dengan lembut.


"Makasih Nona. Aku akan senang jika bisa melihatnya lagi, walaupun itu hanya lewat handphone." ucap Tira.


"Arini beranjak, " Ya, aku akan segera menghubungi mereka nanti. Aku ke kamar dulu ya, nanti kita berbicara lagi. Kamu hari ini istirahat saja. Besok saja mulai bekerjanya. Oke?" ucap Arini.


"Ya, Nona. Terima kasih telah meluangkan waktunya untuk saya."


Arini melambaikan tangannya. Ia berlalu meninggalkan Tira seorang diri. Tira jadi teringat Rangga, karena Arini menceritakannya. Tiba-tiba, pikirannya tertuju pada tas nya yang berisi amplop pemberian Rangga untuknya. Ia melihat amplop tersebut, dan membuka isi dari amplop itu.


Ada uang pecahan seratus ribu. Mungkin nominalnya sekitar dua puluh lima jutaan ditambah dengan uang gaji Tira selama satu bulan, Tira bersyukur mendapatkan uang sebanyak itu, padahal ia bekerja bersama Rangga belum lama, baru saja beberapa bulan. Tiba-tiba, didalam uang itu terselip kertas putih yang terlihat ada tulisannya. Tira segera membuka tulisan itu. Tira penasaran, kenapa harus ada secercah tulisan didalam amplop yang berisi uang itu.


Tira membacanya dengan perlahan, ia tersentuh. Tira menangis membaca tulisan demi tulisan itu. Tulisan Rangga yang dibuat khusus untuk Tira. Tulisan yang tulus dari Rangga, mengutarakan isi hatinya untuk Tira. Tira sedih, ia tak bisa menahan air matanya yang jatuh. Ternyata, Rangga tak seperti apa yang ia pikirkan. Ternyata, Rangga sangat memperhatikan dirinya.


Tuan, maafkan aku salah menilai mu. Surat ini membuktikan bahwa kamu memang laki-laki yang baik. Maafkan aku terlalu mengabaikan mu. Kini, semuanya telah berlalu. Aku menyesali semua ini, Tuan. Sungguh, maafkan aku. Maafkan kesalahanku, Tuan Rangga. Batin Tira.


Air matanya terus mengalir membaca paragraf demi paragraf yang Rangga tuliskan untuk Tira. Tiba-tiba, saat air mata itu mengalir dengan derasnya, pintu kamar Tira ada yang mengetuk. Tira kaget, ia pun segera mengusap air matanya yang jatuh. Ia segera beranjak membuka pintu kamarnya.


"Eh, kamu. A-ada apa?" ucap Tira gugup.


"Udah, jangan banyak pikiran, Ra. Kamu hari ini free kerja kan? Gimana kalau kita jalan-jalan? Aku udah izin sama Bos, kalau kita boleh keluar."


Ya, itu adalah sekretaris Dika. Dia ingin menghibur Tira yang kesepian.


"Ehm, eh ta-tapi, aku, Dik, aku gak bisa," Tira berat hati.


"Jangan gitu. Ayo, kita berangkat. Kamu harus lupakan kesedihan mu dengan keceriaan. Yuk, pokoknya aku tunggu di teras depan ya Sekarang! Oke?" Sekretaris Dika berlalu, ia tak ingin mendengar penolakan apapun lagi.


"Eh, tapi, Dik ... " Tira pun pasrah, ia segera mengganti pakaiannya dan menuruti ucapan sekretaris Dika untuk keluar dengannya.

__ADS_1


*Bersambung*


Part of view Rangga di episode selanjutnya ya 🥰


__ADS_2