
Siang ini, Rangga kembali ke rumah Davian. Ia akan menjemput Tira dan Keyza. Pikiran Rangga berkecamuk. Ia bingung entah harus bagaimana. Ia tak bisa berpikir dengan jernih lagi, ia tak mungkin bisa dengan mudah membawa perempuan yang siap diajak menikah olehnya. Rangga telah sampai si rumah Davian, namun ia tak melihat Tira ataupun Keyza.
Rangga melihat Arini yang sedang duduk di ruang tamu dan membaca majalah. Rangga segera mendekatinya, guna mencari tahu keberadaan Keyza dan Tira.
"Rin, Keyza mana?" tanya Rangga yang kemudian ikut duduk di sofa.
"Lagi berenang sama Sherly, kebetulan dia libur kuliah. Mau jemput ya?" tanya Arini.
"Iya, ya sudah kalau mereka sedang berenang. Biarkan saja dahulu." ucap Rangga.
Wajah Rangga terlihat kusut. Ia terlihat pusing dan kebingungan. Beberapa kali, Rangga menggaruk-garuk kepalanya. Habis sudah ia kalau sampai sore nanti tak membawa wanita pilihannya yang siap diajak menikah. Arini melihat gelagat Rangga. Arini berpikir, sepertinya ada yang aneh pada diri Rangga.
"Kamu kenapa?" tanya Arini.
Rangga menoleh, "Pusing, Rin." jawabnya.
"Kenapa? Cerita aja sama aku, siapa tahu bisa lebih enakan kalau sudah diceritakan." ucap Arini.
"Kalau pun diceritakan, kamu tak bisa membantu." jawab Rangga datar.
"Baiklah, terserah. Aku tak akan ikut campur." Arini masa bodoh.
"Aku harus segera menikah." ucap Rangga mengagetkan Arini.
"Segera? Tapi, kenapa?" tanya Arini.
"Hal yang sama, seperti yang Kakek lakukan pada Davian untuk menikahi kamu." ucap Rangga.
Mata Arini membulat, "Sungguh? Lalu, calonnya? Kamu belum punya?"
"Ya, tentu saja. Siapa yang wanita yang aku suka selain kamu? Aku belum jatuh cinta lagi. Persis, seperti kisah Davian. Aku bukan tipe laki-laki yang mudah jatuh dimana-mana." tegas Rangga.
"Lalu, Kamu mau gimana bang?" tanya Arini.
"Tuh, kan. Kamu tak akan bisa membantuku. Ujung-ujungnya, kamu malah bertanya juga." Rangga menghela nafas.
"Ya sudah, masa sih gak ada satupun wanita yang membuat Bang Rangga tergerak hatinya? Selain aku loh ya!" Arini melotot.
"Ada, sih....." Rangga terdiam lagi.
"Nah, itu ada. Kenapa gak ajak nikah aja sekalian? Percaya deh, cinta akan datang dengan sendirinya. Bang Rangga bisa mencontoh aku dan Mas Davian." ucap Arini.
"Waktu itu, kenapa kamu nerima Davian?" tanya Rangga.
"Ya, aku terpaksa. Mas Davian memaksaku untuk menikah dengannya, dengan syarat pernikahan sandiwara saja. Tanpa menyentuh dan tanpa cinta. At least, cinta itu malah datang dengan sendirinya, hingga akhirnya aku dan dia sama-sama gak mau saling melepaskan." jelas Arini.
"Tapi, sepertinya wanita itu keras kepala, dan dingin sekali. Dia tak seperti kamu, yang mau menolong Davian." ucap Rangga.
"Minta tolong saja, memang cinta itu bukan sebuah permainan, tapi dalam keadaan mendesak seperti ini, apa boleh buat? Kalau pun nanti saling cinta, tinggal lanjutkan, kalaupun nanti cinta itu tak pernah ada, tinggal lepaskan tanpa harus saling menyakiti. Coba saja bicara padanya, yakinkan dia. Ku yakin, dia mau membantu Bang Rangga. Sekalipun harus nikah kontrak, kenapa tidak?" jelas Arini.
"Aku ragu, Arini. Apa kamu mau membantuku?" tanya Rangga.
"Bantu apa? Kok aku sih?" Arini tak mengerti.
"Kamu mengenal wanita yang akan aku ajak menikah." ucap Rangga perlahan.
"Aku? Mengenalnya? Siapa?" Arini berpikir.
"Sangat dekat denganmu, Arini..." jawab Rangga.
"Jangan bilang kalau itu TIRA?" Arini mengira-ngira.
__ADS_1
Rangga hanya menganggukkan kepalanya.
"HAH? TIRA?" Arini tak percaya.
"Iya, siapa lagi. Wanita mana yang sekarang dekat denganku selain Tira, Arini?" Rangga meyakinkan.
"Tapi, kenapa harus Tira? Kamu tahu kan betapa sulitnya dia? Betapa dinginnya dia? Please, jangan dia kalau Bang Rangga tak mau sakit hati." ucap Arini.
"Aku sudah tahu itu! Kamu tak perlu memberi tahu aku, Arini. Tapi, aku tak tahu lagi harus bagaimana." Rangga menunduk.
"Tak ada lagi yang lain. Sudahlah, kamu ajak dia bicara dari mata ke hati. Kamu luluh kan hatinya, kamu yakinkan dirinya, bahwa pernikahan ini memang bukan main-main, namun waktu yang mempercepat semuanya. Aku harap, Bang Rangga bisa meyakinkan Tira. Jangan gegabah, bicaralah dari hati, dengan perasaan yang tulus. Aku yakin, dia mampu menerimanya." Arini menjelaskan.
"Aku tak siap, aku takut mendengar penolakannya." Rangga patah semangat.
"Aku yakin, Bang Rangga bisa. Ayo, jangan kalah sebelum mencoba. Bang Rangga dapat semangat dari aku, coba Mas Davian dulu? Dia sama sekali tak bisa menenangkan pikirannya. Permintaannya untuk menikahi aku, didepan seluruh keluarga besarnya, memangnya itu perkara mudah apa? Tapi, dia dengan yakin dan tegas meminta hal itu padaku. Kamu lihat sendiri kan?"
"Aku bingung. Tira bukan kamu, Arini. Memangnya kamu pikir, dia bisa sama sepertimu apa? Bagaimana kalau aku ditolak habis-habisan olehnya?" Rangga sangat tak percaya diri.
Arini terdiam. Beda kepala, beda lagi pemikirannya. Arini sempat bingung, ia pun tak tahu harus menjawab apa. Jika ia jadi Rangga, Arini pun pasti kebingungan. Apalah arti sebuah pernikahan, jika dipaksakan seperti ini. Pasti akan sangat menyedihkan.
"Hai, little Opaaaaaah!" sapa Keyza dari pintu belakang.
Lamunan Rangga tersadar ketika Keyza memanggilnya dengan rambut yang masih basah karena habis berenang. Tira berjalan mengikutinya dari belakang.
"Eh, sayang. Udah renangnya? Opah kecil kesini mau jemput Keyza pulang!" ucap Rangga.
"Ayok, kita pulang. Key udah puas kok main di rumah Aunty-nya. Key juga ditemani aunty kecil, jadi Key seneng banget hari ini." Keyza sumringah.
"Baiklah, siap-siap ya. Kita pulang sekarang."
...***...
Hingga sampai di parkiran apartemen, tak ada suara apapun yang terdengar, baik dari Rangga atau pun Tira. Keyza terlihat ngantuk sekali, Rangga menggendongnya. Mungkin Keyza kelelahan setelah berenang. Tira membawa beberapa perlengkapan mereka.
Hingga sampai akhirnya di apartemen, Keyza sudah terlelap, dan Rangga segera membawanya menuju tempat tidur Keyza. Tira terlihat membawa baju-baju kotor Keyza yang kemarin. Ia terlihat sibuk di kamar mandi, akan mencuci baju-baju milik Keyza dan juga Rangga.
Kesempatan Rangga berbicara pada Tira semakin sulit. Tira terlihat sibuk, entah memang Tira pura-pura sibuk. Rangga semakin tak tahan, ini sudah siang, itu artinya beberapa jam lagi ia harus membawa Tira menuju keluarganya. Namun, sampai saat ini pun Tira tak bisa diajak berbicara sedikitpun.
Hingga akhirnya, Rangga memberanikan diri untuk bertanya pada Tira. Rangga mendekati Tira menuju kamar mandi. Rangga kini berada didekat Tira yang sedang sibuk dengan pakaian kotornya.
"A-ada apa Tuan?" Tira gugup, jantungnya berdebar sangat cepat.
"Biarkanlah pakaian itu. Ada satu hal yang harus aku bicarakan padamu. Duduklah, dan dengarkan aku." pinta Rangga dengan tulus.
Dengan perasaan tak menentu, Tira mengikuti Rangga menuju sofa. Entah apa yang akan Rangga bicarakan padanya, namun sepertinya itu adalah hal penting. Tira meyakinkan dirinya untuk tidak gugup dihadapan Rangga.
"Duduklah," perintah Rangga.
"Baik, Tuan."
Rangga menghela nafas, "Tira, maafkan aku, jika aku lancang padamu. Aku tak tahu, harus berbuat apa diriku ini, aku bingung."
"Maksud Tuan?" Tira masih tak mengerti.
"Aku bingung harus menjelaskannya dari mana. Aku benar-benar tak siap mengatakannya,Tira." Rangga gugup sekali.
"Katakan saja, bagaimana aku bisa tahu apa yang Tuan inginkan, kalau Tuan saja tak mengatakannya padaku." tegas Tira.
"Tapi kumohon, kamu jangan marah padaku, Tira." Rangga menunduk.
"Tentu tidak, Tuan. Katakan saja." Tira terlihat tenang.
__ADS_1
Sekarang kamu bilang tak akan marah. Bagaimana kalau aku sudah mengatakannya, Ra? Mungkinkah kamu masih bisa bilang tak akan marah? Jujur, aku tak siap mengatakannya. Aku masih selalu terngiang-ngiang perasaan kecewamu saat aku memanggilmu sayang dihadapan Melisa. Kamu sangat tak menyukai hal itu. Apa kamu memang tak menyukai aku, sedikitpun, Tira? Ya Tuhan, tolong aku. Bagaimana aku bisa mengatakannya? Batin Rangga.
"Ra," Rangga benar-benar berdebar.
"Ya, Tuan?"
"Tira, maafkan aku." Rangga menghela nafas panjang, ia berusaha mengontrol dirinya.
"Maaf untuk apa Tuan?" Tira mengernyitkan dahinya.
"Karena mencintaimu," Rangga menutup wajahnya.
Mata Tira terbelalak kaget mendengar ucapan Rangga. Ekspresi wajah Tira benar-benar tak bisa dijabarkan dengan baik. Tira tak mengerti arah pembicaraan Rangga kenapa jadi se-serius itu. Tira tak percaya dengan apa yang Rangga ucapkan.
"Maaf, Tuan, mungkin Tuan sedang bercanda." Tira mencoba menampik hal tersebut.
"Tatap aku! Apa sekarang aku terlihat sedang bercanda?" Rangga meyakinkan Tira.
"Maaf, Tuan. Tuan tak pantas mengatakan hal itu pada saya." Tira terus menampik.
"Aku ingin menikahi kamu, Tira." ucap Rangga blak-blakkan.
"Tuan. Cukup!" Tira sudah tak tahan mendengarnya.
"Tira, aku serius!" ucap Rangga.
Jantung Tira berdebar tak beraturan. Ia terbuai dalam perkataan Rangga, namun sebisa mungkin ia harus menghindar dan menolak ucapan omong kosong Rangga padanya.
"Maaf, Tuan. Bukankah sudah saya bilang, untuk tidak menarik saya dalam kehidupan pribadi anda." tegas Tira.
"Aku tidak menarik mu, Tira. Memang kamulah kehidupan pribadiku, makanya aku berani berkata jujur padamu!" Rangga serius.
"Maaf, saya tahu hubungan Tuan dengan Nona Melisa. Saya rasa, Tuan cukup datang pada Nona Melisa, jangan membawa-bawa saya dalam hubungan itu. Saya sangat tak suka diperlakukan seperti itu, Tuan. Maafkan atas kelancangan saya." Tira sedikit meninggikan suaranya.
"TIRA! Dengarkan aku! Semua ini tak ada hubungannya dengan Melisa. Aku memang menyukaimu, untuk itu aku mengatakannya padamu. Kamu pantas menjadi pengganti Melisa. Aku ingin kamu menjadi Ibunya Keyza, untukku." Rangga meyakinkan.
"Semua ini terlalu mendadak, Tuan. Saya mohon, jangan bawa-bawa saya. Kita baru saling mengenal, tak pernah ada kedekatan serius diantara kita, dan kita pun sangat jauh berbeda. Jangan jadikan aku Ibu Keyza, karena Ibu kandungnya masih ada. Jika Tuan ingin Keyza mempunyai Ibu, kembalikan kebahagiaan Keyza yang sesungguhnya dengan Ibu kandungnya. Tuan hanya perlu mencintai Ibu kandung Keyza. Maka kebahagiaan kalian akan sangat sempurna." tegas Tira.
"TIRA, CUKUP." Rangga tak tahan.
"Tuan, saya mohon, saya ingatkan sekali lagi, jangan pernah bawa-bawa saya dalam kehidupan pribadi Tuan. Saya tak ingin ikut campur. Saya hanya bekerja disini, tak lebih dari itu. Kumohon, bebaskan saya, jangan biarkan saya terkekang dalam persoalan seperti ini. Karena, sedikitpun saya tak akan terenyuh dengan perkataan yang Tuan lontarkan." Tira memberanikan diri.
"TIRA!!!"
Rangga mendekat kearah Tira. Rangga menarik tangan Tira, hingga Tira terlentang d sofa. Tira kaget, ia tak menyangka Rangga akan berani padanya. Jantung Tira seakan meledak, ketika Rangga membaringkan dirinya di sofa.
"Tira, aku mencintaimu, bukan Melisa. Percayalah padaku, apa perlu aku buktikan sekarang?" deru nafas Rangga semakin tak teratur.
"Tuan, Aarrgghhh.. Lepas!" Tira meronta.
Rangga mendekatkan bibirnya pada bibir Tira. Rangga mulai memejamkan matanya. Ia mengecup lembut bibir Tira yang manis. Rangga mendiamkan bibirnya dan bibir Tira beradu. Tira tak bisa berbuat apa-apa. Jantungnya tak bisa dikendalikan. Tira benar-benar larut dalam sentuhan Rangga. Perlahan, Tira pun memejamkan matanya. Walaupun Tira selalu menampik setiap ucapan Rangga, tak bisa ia pungkiri, bahwa dirinya merasa hangat ketika Rangga mendekatinya. Hingga akhirnya Rangga melepaskan kecupan hangat itu. Masih terasa hembusan nafas Tira dan Rangga yang saling berpadu.
"Tira percayalah padaku, aku mohon.... Menikahlah denganku, meskipun ini mendadak, dan aku terlihat tak romantis padamu, tapi aku mengatakan ini tulus padamu, aku yakin dengan sepenuh hatiku, ucapan ku tulus padamu..." Rangga memohon.
Tira terdiam. Ia tak bisa menjawab perkataan Rangga. Mulutnya berkata tidak, walaupun sebenarnya hatinya berkata ingin. Tira tak mau memaksakan dirinya, ia tak mau terluka dan sakit hati nantinya.
"Maaf, Tuan....." Tira menunduk.
*Bersambung*
__ADS_1