
Arini sudah berada di rumahnya. Mita dan Alif kaget, Arini datang lagi bersama Tuan Davian. Alif sangat senang, karena Davian datang membawa beberapa makanan untuknya.
Sengaja, Davian membungkus beberapa makanan ketika mereka tadi makan siang. Davian teringan pada kedua adik Arini yang senang sekali dengan ayam.
"Kakak ada apa pulang? Ini kan hari sabtu, bukan minggu." ucap Mita
"Ka, kakak mau ketemu Ibu, Mit. Ibu belum pulang ya?" tanya Arini gugup
"Tadi Ibu pulang sebentar, bawa gula halus, lalu pergi lagi. Katanya, Ibu mu jualan di depan SD, karena hari ini ada yang ekskul." ucap Mita
"Oh begitu, ya sudah.. Kakak jemput Ibu dulu kalu gitu. Kamu temani Tuan Dav, eh Kak Davian dulu ya."
Arini gugup, benar-benar gugup. Perasaannya tak menentu.
"Tuan, tunggu disini sebentar. Aku akan menjemput Ibu disekolah." ucap Arini
"Dika yang antar, naik mobil saja." perintah Davian
"Tak usah, Tuan. Jaraknya dekat kok, hanya 1 km dari sini."
"Itu lumayan jauh. Sudah, jangan membantah. Dik, lu antar Arini jemput Ibunya." perintah Davian
"Siap, Bos." jawab Dika.
"Rin, Ayo!" ucap Dika lagi
"Eh, iya." Arini benar-benar tak fokus
Didalam mobil, Arini terdiam. Entah harus bagaimana berkata pada Ibunya. Arini bingung, Arini takut Ibunya marah. Sekretaris Dika sesekali menatap Arini, Dika tahu, Arini pasti bingung sekali. Apalagi, dihadapkan dengan persoalan pernikahan yang begitu rumit.
Sesampainya di sekolah, Arini mencari Ibunya. Sekretaris Dika tak ikut turun, ia hanya menunggu didalam mobil.
Ibunya belum terlihat, entah disebelah mana Ibu Arini berjualan. Ketika Arini sedang berjalan mencari Ibunya disekitar halaman sekolah, seseorang mengagetkannya.
"Arini, kebetulan banget bisa bertemu kamu disini." ternyata itu adalah Mas Adit, lelaki yang menyukai Arini
Arini tersentak kaget, Arini tak berpikir akan bertemu dengan Mas Adit disini.
"Eh, Mas Adit. Masih di sekolah? Arin kira sudah pulang." Arini gugup
"Belum, ada murid ku yang ikut ekskul pramuka. Ini kan hari sabtu. Oh iya, kamu lagi ngapain disini? Memangnya kamu gak kerja?" tanya Mas Adit lagi
"Aku mencari Ibu, ada sesuatu yang penting." jawab Arini sambil matanya mencari-cari sang Ibu
"Ibumu ada di belakang, di kantor ruang guru. Banyak guru yang membeli dagangan Ibumu."
__ADS_1
"Baiklah, terima kasih Mas. Aku akan segera ke sana."
Arini akan berlalu, tetapi Mas Adit menahannya. Mas Adit memegang tangan Arini.
"Mas?" Arini tak suka Mas Adit memegang tangannya
"Oh, iya. Maaf Arini, aku refleks." jawab Mas Adit
"Iya, gak apa-apa kok."
"Kenapa buru-buru? Aku mau ngobrol sama kamu." ucap Mas Adit
"Sekarang aku sibuk, Mas. Gak ada waktu. Lain kali saja ya?" Arini menolak dengan halus
"Rin, jangan menghindari ku terus. Kamu belum menjawab perkataan ku waktu itu."
"Mas Adit, nanti kita pastikan akan bertemu, Mas Adit telepon aku saja ya nanti, aku akan mengosongkan jadwalku. Hari ini, aku benar-benar sibuk. Maafkan aku, ya." Arini melambaikan tangannya kemudian segera berlalu
Arini, kenapa kamu selalu cuek padaku? Apa aku memang tak ada sedikitpun di hatimu? Harus bagaimana aku, agar kamu mau menerima ku apa adanya. Arini, aku mencintaimu, kenapa kamu tak pernah menganggap cintaku ini? Gumam Mas Adit dalam hati.
Arini berlari, ia tak mau lebih lama berbicara dengan Mas Adit, karena ada Tuan Davian yang menunggunya. Benar saja, Ibu Arini sedang melayani pembeli. Arini menunggunya sampai selesai.
"Buk, apa dagangannya sudah habis?" tanya Arini
"Arin, kenapa kamu bisa ada disini? Kamu nggak kerja, Nak? Apa kamu dipecat?" Ibu Arini khawatir
"Nggak kok, Bu! Arini kesini mau ajak Ibu pulang. Ada hal penting yang ingin Arini bicarakan pada Ibu." ucap Arini
"Apa itu Rin? Kenapa terdengar aneh dan mendadak seperti ini?" Ibu Arini heran
"Ibuk pulang saja dulu, nanti juga Ibu tahu sendiri. Ayo, kita pulang." ajak Arini
"Baiklah, yasudah ayo." Ibu Arini membawa dagangannya
Mas Adit melihat Arini dan Ibunya berjalan keluar gerbang sekolah. Dirinya tahu, Arini tak pernah menganggapnya, Arini memang terlalu cuek pada Mas Adit.
Kenapa Arini naik mobil mewah itu? Kenapa Arini membawa Ibunya masuk kedalam mobil itu? Sebenarnya, ada apa ini? Kenapa aku khawatir terjadi sesuatu pada mereka. Aku harus mengikuti Arini sekarang juga. Batin Mas Adit.
"Pak Adit, kenapa melamun? Ayo, bantu anak-anak mengikat bambu sekarang." ajak salah satu pembina pramuka
"Eh, iya Pak. Baik, Maaf saya kurang fokus."
Mas Adit terpaksa membantu anak-anak mengikat bambu, ia tak bisa melihat Arini sekarang. Sebenarnya, Adit penasaran, tetapi ia tak bisa pergi, tanggung jawabnya disekolah ini sangat penting.
Ibu Arini kaget, Arini membawanya naik mobil. Apalagi, didepannya ada supir. Ibu Arini ingin bertanya pada Arini, namun Arini mengisyaratkan agar Ibunya tetap diam. Untungnya, Ibu Arini mengerti.
__ADS_1
Ibu Arini kaget, Alif sedang bermain-main kecil dengan seseorang yang tak ia kenal. Lelaki itu, sangat tampan, memakai setelan jas yang rapi.
"Selamat siang, Bu." sapa Davian
"Iya, selamat siang. Dengan siapa ya?" tanya Ibu Arini
"Duduklah, Bu. Ada hal serius yang ingin saya bicarakan." ucap Davian sopan
Arini dan Ibunya duduk didepan Davian, sekretaris Dika berdiri di pinggi Tuannya. Davian menarik nafas panjang, Davian pun gugup. Namun, Davian harus berani.
"Saya, Davian. Saya adalah majikan Arini." ucap Davian
"Tuan Davian, ada hal apa Tuan Davian kemari?“ Ibu Arini kaget
"Jangan panggil saya Tuan, Bu. Panggil saja saya Davian." jawab Davian
"Baiklah, Nak Davian. Maafkan Ibu. Kesalahan apa yang Arini buat, hingga Nak Davian harus sampai datang ke rumah gubuk Ibu?"
"Tidak, Bu. Arini tidak melakukan kesalahan. Davian kesini, ingin meminta izin pada Ibu." ucap Davian
Tangan Arini mulai gemetar. Arini takut dengan respon Ibunya. Arini berkali-kali memejamkan matanya, Arini sungguh takut.
"Izin? Izin apa maksud Nak Davian? Oh iya, Ibu lupa belum mengucapkan terima kasih pada nak Davian, berkat Nak Davian, hutang mendiang Ayah Arini sudah lunas. Terima kasih banyak, Nak. Ibu sangat berterima kasih sekali." ucap Ibu Davian
"Oh, itu tak masalah Bu. Davian hanya ingin membantu Arini, Davian ingin mengurangi beban Arini." jawab Davian
"Baiklah kalau begitu, barusan Nak Davian ingin meminta izin apa pada Ibu? Katakan saja, jangan sungkan."
DEG. Kembali lagi pada fokus pembicaraan, Arini benar-benar tak siap mendengar respon Ibunya. Davian pun terlihat gugup, namun Davian tak se gugup Arini. Davian mencoba tenang, meskipun dirinya bergetar.
"Buk, saya minta izin.." ucapan Davian gugup
"Izin apa Nak? Katakan saja!" ucap Ibu Arini
"Davian minta izin akan menikahi Arini..."
Mata Ibu Arini terbelalak. Tak menyangka ucapan menikah keluar dari mulut Davian. Ibunya tak pernah menyangka sedikitpun Davian akan mengatakan hal ini padanya.
"Bagaimana, Bu? Apa Ibu akan merestui Davian dan Arini?" tanya Davian
Ibu masih diam, tak bergeming. Ibu tak tahu harus menjawab apa.
*Bersambung*
Halo say.. Apa kalian penasaran akan kelanjutannya? Beri dukungan like dan komentarnya ya! Kalau komentarnya banyak, aku lanjutkan siang ini juga❤
__ADS_1