
POV RENA ...
Aku sedang menunggu Om Adi di pinggir rumahnya. Aku berharap, aku bisa bertemu dengannya. Aku harus menjelaskan perihal kandunganku padanya. Walau bagaimanapun, ini adalah darah dagingnya. Aku tak mungkin, membiarkan anak ini tak tahu Ayah kandungnya. Semoga saja, Om Adi mau mempertimbangkannya, agar ia mau menikahi aku.
Dua jam lamanya aku disini, tapi tak ada tanda-tanda Om Adi keluar dari rumahnya, atau pun mobil masuk kedalam rumahnya. Aku hubungi berkali-kali, tapi nomorku diblokir olehnya. Aku tak tahu, kenapa Om Adi menghindari ku. Padahal, dia ingin punya anak, bukan? Kenapa dia harus menghindar dariku setelah dia menanam benihnya di tubuhku?
Tak lama selang aku melamun, sebuah mobil sedan putih keluar dari gerbang. Aku melihat, sepertinya itu Om Adi. Kebetulan sekali, Om Adi terlihat sendiri. Aku pun segera berlari menuju mobil yang baru keluar dari gerbang itu, sepertinya, Om Adi tahu kalau itu aku, ia mencoba kabur dariku, tapi aku memberi pesan isyarat padanya, kalau dia mencoba kabur, aku akan masuk kedalam rumahnya. Om Adi memberi isyarat pada satpamnya, mungkin agar satpam itu tutup mulut.
Om Adi kaget, ia ketakutan. Om Adi pun terpaksa membuka pintu mobilnya dan membiarkan aku masuk kedalam mobil. Setelah aku masuk, dengan cepat Om Adi melajukan mobilnya. Mungkin, Om Adi takut ketahuan oleh istrinya. Aku tersenyum senang melihat Om Adi kini ada di sampingku. Aku harus segera memberi tahu kabar bahagia ini padanya.
"Ngapain kamu ada di rumahku, ha? Kalau istriku lihat, bagaimana? Bukankah sudah aku bilang, kamu jangan menggangguku lagi! Uang tiga ratus juta yang aku berikan padamu, adalah kompensasi untukmu, agar kamu tak menghubungiku lagi." tegas Om Adi.
"Om, aku punya kabar baik untuk Om. Asal Om tahu, ternyata Om memang tidak mandul, tapi memang istri Om yang mandul." Aku mengeluarkan testpack dari dalam tasku, "Ini, ini adalah bukti kalau Om tidak mandul. Aku hamil, Om. Aku hamil anakmu!" Aku menyerahkan bukti testpack-ku pada Om Adi.
Seketika, mobil Om Adi berhenti mendadak. Om Adi kaget, ia mengerem mobilnya sekaligus. Untung ini masih di jalan perumahan yang sepi, bukan di jalan raya. Aku kaget bukan main, karena tubuhku hampir kena bagian depan mobil Om Adi. Om Adi menatapku, lalu ia segera meminggirkan mobilnya. Aku tahu, mungkin ia shock mendengar kabar yang aku bawa.
"Apa maksudmu? Tak mungkin kalau itu anakku! Sudah kubilang, bukan? Kalau aku tak akan menemui mu lagi. Uang tiga ratus juta itu untuk tanggung jawabku. Itu berarti, aku tak akan bertanggung jawab atas janin itu! Dan kamu, aku tak sedikitpun percaya bahwa itu adalah janinku! Wanita nakal seperti kamu, pasti pernah tidur dengan siapa saja!" bentak Om Adi.
"Om, dengarkan aku. Bukankah Om sendiri yang mengambil kesucian ku? Asal Om tahu, aku hanya tidur dengan Om saja. Aku pernah memiliki kekasih, tapi dia hanya mengambil keuntungan dariku, untuk mendekatimu. Semua aku berikan untukmu, bahkan sampai kesucian ku sekalipun. Ini anakmu, Om. Dia ingin hidup, dia tak bisa aku gugurkan. Aku telah minum pil dan ramuan untuk mencegah janin berkembang, tapi janin Om begitu kuat. Mungkin ia memang ingin hidup, Om. Tahukah Om? Selama hidup, Om belum pernah mempunyai anak, bukan? Inilah anak yang kau inginkan, meskipun bukan anak dari istri Om sendiri." Aku meyakinkan Om Adi, agar ia berpikir.
Kulihat Om Adi terdiam. Sepertinya ia sedang berpikir. Aku yakin, ucapan ku ini mampu menggetarkan hatinya. Aku Rena, aku adalah wanita yang pintar berbicara. Aku yakin, Om Adi pasti berpikir keras. Biarlah, aku dibuang oleh keluargaku, tapi Ayah dari janin ini, tak boleh membuang ku. Setidaknya, aku harus mengambil setengah dari hartanya agar aku dan anaknya bisa hidup bahagia.
"Gugurkan saja janin itu! Aku hanya ingin anak dari istriku sendiri." tegas Om Adi.
"Aku tak mau aborsi, Om. Kalau meminum ramuan dan pil, aku mau. Silahkan, lakukan apapun terhadap janin mu ini. Tapi, aku tak mau kalau aku harus aborsi. Apa kau yakin ingin mengugurkan janin ini? Ini adalah keturunanmu, Om. Janin ini kelak akan menemani hari-hari dan masa tuamu! Apa kamu tak pernah berpikir demikian, Om?" Aku terus merayu Ok Adi.
__ADS_1
Om Adi sepertinya kebingungan. Kurasa, dia memang tak tahu harus bagaimana. Padahal, lebih baik ceraikan saja istrinya dan nikahi aku. Percuma saja, memiliki istri yang mandul tak bisa memberikan keturunan padanya. Tapi, aku tak berani mengatakan itu padanya, bisa mati aku kalau berkata begitu. Karena aku tahu, Om Adi sangat mencintai istrinya.
"Om, kumohon, ini adalah anakmu. Kau tak mungkin membiarkannya begitu saja. Aku rela, jadi istri muda demi anak kita, Om."
"Aku tak sudi. Aku tak mau menyakiti hati istriku. Kamu butuh uang berapa? Menghilang lah dari hidupku, dan menikahlah dengan orang lain. Aku akan memberikan sebagian hartaku jika memang kamu bisa membuktikan bahwa dia adalah anakku!" tegas Om Adi.
"Om, apa Om tak bisa menikahi aku? Aku berharap Om mau menikahi ku. Kumohon, Om ..."
"Hentikan, jangan merengek padaku. Aku sudah berjanji, aku tak akan menyakiti istriku. Pergilah, dan menikahlah dengan orang lain. Aku janji, akan bertanggung jawab untuk anak itu asal kamu bisa memberikan aku bukti nyata bahwa itu benar anakku."
Aku pun mengangguk. Sulit untukku bisa meyakinkan hati Om Adi. Aku tahu, ini sulit untuknya. Biarlah, aku akan mencoba option kedua. Aku pastikan aku bisa menikah dengan Elang. Karena, tujuan awalku mendekati Elang adalah untuk hal ini. Aku sudah menduganya, kalau aku akan hamil, dan Om Adi tak mungkin bertanggung jawab.
Elang salah satu penyelamat hidupku. Kalau saja dulu aku dan dia jadi melakukan malam panas itu, pasti Elang akan merasa bahwa ini adalah anaknya. Namun, bagaimana aku meyakinkan Elang? Karena Elang paham betul, kalau aku dan dia sebenarnya belum pernah melakukan hubungan panas itu.
POV Rena selesai.
...πΈπΈπΈ...
Calandra, Livia dan Nisha sedang berjalan-jalan bersama. Livia ingin membeli buku matematika di book store, namun ia ingin Nisha yang mengantarkannya. Hal itu menjadi kesempatan untuk Andra, agar bisa mengantar mereka berdua. Andra senang sekali, rasanya ia seperti mempunyai kekasih yang begitu menyayangi adiknya.
Livia sibuk mencari-cari buku yang ia inginkan. Nisha pun sesekali melihat-lihat buku untuk materi mata kuliahnya. Calandra bukannya menemani Livia, ia malah lebih tertarik mendekati Nisha.
"Bu guru, kalau ada buku yang kamu suka, ambil aja. Biar aku yang bayar." Andra tersenyum pada Nisha.
"Ah, iya. Gak apa-apa kok. Aku cuma lihat-lihat aja. Kenapa kamu disini? Bukannya kamu membantu Livia memilih bukunya?" tanya Nisha.
__ADS_1
"Dia ingin memilih bukunya sendiri. Biarkan saja dia, masih bisa kulihat juga. Aku lebih tertarik ada disini, nemenin kamu, Nish." Calandra tak henti-hentinya senyum pada Nisha.
Nisha tak menjawab ucapan Calandra. Nisha harus sadar, dirinya siapa. Ia tak boleh dengan mudah percaya dengan apa kata laki-laki. Karena, Elang yang begitu manis pun bisa membodohi nya. Apalagi, Calandra, yang notabene orang kaya dan banyak wanita yang menyukainya. Nisha harus berpikir seribu kali jika ingin dekat dengan Andra.
Toko buku tempat Nisha dan Livia membeli buku, berhadapan dengan dengan gerai ponsel mewah di Mall ini. Pandangan Nisha tak sengaja tertuju pada laki-laki paruh baya yang terlihat masih gagah, sedang memilih-milih ponsel. Seketika, air mata Nisha terjatuh, mengingat bahwa ia memang merindukan sosok laki-laki itu.
Papa Adi ... Aku merindukan mu. Aku rindu kalian, apa kalian bahagia tanpa aku? Mama, dimana dia? Kenapa aku tak melihatnya? Air mata Nisha menetes lagi, membuat Calandra khawatir padanya.
"Nish, Nisha ... kamu kenapa? Kamu sakit?" tanya Andra.
Nisha menggeleng, "Itu, Papa-ku, Papa Adi ...."
Calandra melihat pandangan mata Nisha. Ia pun melihat gerai ponsel, seorang lelaki paruh baya sedang melihat-lihat ponsel. Andra mengerti, bahwa laki-laki itu adalah orang tua angkat Nisha. Andra jadi merasa bersalah lagi, ketika mengingat hal ini.
"Maafkan aku, Nish. Semua ini gara-gara aku," Calandra menunduk.
Nisha mengusap air matanya, "Ah, maaf. Tidak, tidak. Aku hanya merindukannya. Aku tak bermaksud mengingat itu lagi. Lupakan saja, aku tak mau dia melihatku, aku tak ingin mengingat kejadian itu lagi. Ayo, kita kedalam mencari Livia." ajak Nisha.
"Aku jadi tak enak padamu. Baiklah, ayo." Andra mengikuti Nisha.
Nisha dan Calandra tak melihat, bahwa Ayah angkatnya sedang bersama seorang wanita, dan wanita itu tak lain tak bukan adalah Rena, teman Nisha yang saat itu Elang perintahkan, agar Rena menemani Nisha di hari pertamanya kuliah. Saat Nisha menatap Ayah angkatnya, kebetulan Rena sedang di toilet, dan ketika Nisha memalingkan wajahnya lalu kedalam toko buku, Rena pun datang dan tersenyum senang pada lelaki yang saat ini akan membelikannya ponsel keluaran terbaru.
Setelah ini, aku akan menemui Elang dan keluarganya. Aku pastikan, apapun yang aku inginkan, bisa aku dapatkan. Batin Rena puas.
*Bersambung*
__ADS_1