Terjerat Cinta Sang Pembantu

Terjerat Cinta Sang Pembantu
Malam hangat


__ADS_3

Arini membeku. Tak ada lagi ucapan yang bisa ia lontarkan pada suami sandiwaranya itu. Davian menatap Arini dengan seksama. Ia tak berkedip sedikitpun. Davian terus memperhatikan Arini, membuat Arini tak nyaman dengan tatapan misterius Davian.


"Tuan, jangan menatapku terus." wajah Arini benar-benar merah padam


"Lu tegang banget!" ucap Davian


"Abisnya, Tuan ngeliatin aku kayak gitu banget! Biasa aja ngeliatnya, gak usah gitu juga." balas Arini


"Lu kayaknya belum jawab ucapan gue, Rin."


"Ucapan yang mana?" tanya Arini


"Udahlah, males. Lupain aja." Davian beranjak dari ranjangnya, mengambil sebuah foto masa lalunya.


Lalu, ia kembali lagi ke ranjang. Ia bersandar pada divan ranjangnya, mengajak Arini untuk ikut juga bersandar bersama Davian.


"A-ada apa Tuan? Kenapa Tuan meminta saya bersandar?" tanya Arini


"Gak usah ketakutan kayak gitu. Gue cuma mau liatin ke elu foto masa kecil gue." jawab Davian


"Oh, iya-iya Tuan." Arini segera menggeser posisinya berada di samping Davian


Perlahan-lahan, Davian membuka halaman demi halaman. Beberapa foto yang sudah usang, mungkin sudah dua puluh tahun yang lalu. Arini melihat dan memperhatikan foto yang ada didalam album tersebut.


"Tuan, siapa ini? Lucu sekali?" tanya Arini seraya menunjuk foto di album tersebut


"Lu gak tahu ini siapa?" tanya Davian


"Nggak, kok aku gak kenal ya? Apa ini Tuan?" tanya Arini


"Iya, itu gue. Waktu usia gue 5 tahun." jawab Davian


"Whoaaa, kenapa ganteng sekali Tuan saat kecil? Lucu, imut dan menggemaskan! Hehe" tanya Arini polos


"Jadi, gue sekarang nggak ganteng gitu? Nggak lucu? Gak imut? Dan nggak menggemaskan juga? Iya?" Davian kesal


Haishhhh.. Kenapa lagi ini orang satu? Bukannya berterima kasih sama gue karena udah dipuji. Malah balas yang enggak-enggak! Dasar mahluk planet menyebalkan. Maunya apa sih dia? Kenapa ribet sekali hidupnya! Gumam Arini dalam hati.


"Bukan seperti itu Tuan, kita kan sekarang sedang bahas foto masa kecil Tuan. Lalu, yang ku bahas tentunya foto ini dong? Kenapa Tuan malah ngebahas yang sekarang? Omongannya kemana-mana lagi, Huh!" Arini mengeluhkan Davian


"Ya sudah, gue bahas gue yang sekarang ini aja. Sekarang, gue gimana? Ganteng nggak?" tanya Davian


Ya Tuhan, ini mahluk tata surya, kenapa lagi jadi seperti ini? Kali ini, gue rasa dia kemasukan setan narsis. Pengen banget dikatain ganteng sama gue. Memang ganteng sih, wajahnya memang menggoda. Kalau senyum, dia ini manis sekali, entah pakai gula berapa puluh kilo, pokoknya manis banget deh! Saking manisnya, kayaknya gue bakal kena diabetes kalau menatap dia terlalu lama! ASTOGE.. GUE NGOMONG APA BARUSAN? Umpat Arini dalam hati.


Arini menatap Davian, ia terpesona dengan ketampanan majikannya itu. Tanpa sadar, hatinya berkata yang mencengangkan. Ia lupa, ia tersadar dengan ucapan yang dikatakan oleh hatinya. Pikiran Arini serasa menolak hatinya yang berkata Davian ganteng. Arini mengelak habis-habisan dalam hatinya.


"Tuan memang ganteng kok, baik saat masih kecil, maupun saat dewasa. PUAS?" ucap Arini


"Lu gak ikhlas bilang gue ganteng. Pake bilang puas segala."


"Abisnya, udah tahu Tuan memang ganteng, masih aja nanya! Semua orang juga tahu, Tuan Davian Raharsya itu memang ganteng. Banyak yang tergila-gila sama ketampanan Tuan!" ucap Arini

__ADS_1


"Lu tahu darimana? Berarti, lu juga ngakuin dong kalau gue ganteng?" tanya Arini


"Saya punya temen, Salsa namanya. Dulu, dia satu kuliahan sama Tuan. Saya bilang aja, saya kerja di tempat Tuan. Lalu, dia cerita deh siapa Tuan itu, dan bla bla bla! Aku jadi tahu sekarang" jelas Arini


"Tak dapat dipungkiri, gue memang terkenal, kapanpun dan di manapun!" Davian sombong


"IYA, IYA! Tuan memang terkenal."


Nih orang emang lagi kemasukan setan narsis! Bener-bener deh! Umpat Arini dalam hati.


"Nih, lihat lagi foto-foto gue." ucap Davian


Davian membuka kembali album-album fotonya. Davian memperlihatkan pada Arini foto-foto keluarganya. Arini melihat dengan antusias foto keluarga besar Davian.


Mereka bersandar pada divan ranjang, duduk berdampingan dengan kaki yang diselimuti selimut hangat Davian. Posisi mereka seperti suami istri yang sedang bermanja-manjaan di ranjang.


"Nih, lu lihat. Ini siapa?" tanya Davian


"Sepertinya ini Tuan Rangga. Bener gak?" tanya Arini


Davian menatap tajam kearah Arini. Terlihat pancaran kekesalan pada wajah Davian.


"Kenapa?" Arini tak suka dengan pandangan Davian


"Kenapa lu langsung tahu kalau itu Rangga? Tapi ke gue, lu malah nanya memangnya ini siapa? Seberapa kenal kah elu sama si Rangga?" Davian terlihat tak suka


Hellooooo, OMG! Ini makhluk asing, dari planet mana sih? Manusia dari planet bumi nggak mungkin se-menyebalkan ini. Maunya apa coba? Jelas-jelas wajahnya masih baby face, jadi gue nggak ngenalin wajah dia. Hadeuh, susah emang kalau ngomong sama manusia dari zaman neolitikum! Rasanya, batu banget! Keras kepala. Umpat Arini lagi dalam hati


Davian tersenyum girang mendengar ucapan Arini. Tak menyangka, ucapan lucu keluar dari bibir tipisnya Arini.


"Jadi, gue emang lucu ya Rin?"


"Iya, Tuan. Tuan lucu sekali. Unchhhh, gumuuushh banget deh aku."


Arini mencubit pipi Davian sambil menggeleng-gelengkan kepala Davian. Arini kesal, namun tak bisa berbuat apa-apa.


"Lu, kenapa nafsu banget nyubit pipi gue? Gemes ya, pengen nyium?" Davian tertawa


"HAH? Kenapa selalu di sangkut pautkan dengan ciuman sih? Aku hanya gemazzzz pada Tuanku yang lucu dan imut ini. Uuuuu!" Arini benar-benar tak habis pikir


"Lu kayaknya tertarik sama bibir gue. Ya kan? Makanya lu nyubit-nyubit pipi gue biar bisa deketan sama bibir gue ini."


"Ya Tuhan! Tidak begitu maksudku. Ya sudah, aku tak mau melihat album foto lagi. Serba salah terus lah jadinya, malesin!" Arini kesal


"Berani banget lu bilang malesin ke gue!"


"Bodo amat!"


"Rin, jangan marah-marah. Lu tahu gak, kita ini udah sepasang suami istri. Kalau lu marah-marah begini, gue bisa tertarik sama lu. Bisa-bisa malam ini lu kehilangan mahkota lu! Apa lu mau?" Davian terkekeh


Arini benar-benar shock mendengar kata "kehilangan mahkota" yang dilontarkan Davian padanya. Menikah dengan Davian, tak pernah terpikirkan oleh Arini bahwa mereka akan melakukan hubungan suami istri.

__ADS_1


Baik secara fisik dan mental, Arini tak siap, bahkan tak sanggup jika harus melakukan hubungan itu. Dan Davian, terus saja berbicara yang menjurus pada hal-hal seperti itu. Membuat Arini semakin tak nyaman, Arini takut.


"Tuan, jangan macam-macam! Aku tak akan tinggal diam kalau Tuan berani-beraninya menyentuhku!" ucap Arini melakukan perlawanan


"Emangnya lu mau apa kalau gue ngapa-ngapain lu?" Davian menahan tawa


"Ehm, a-aku, itu aku, oh ya! Aku akan laporkan Tuan pada pihak kepolisian kalau Tuan sudah melakukan perbuatan senonoh terhadapku. Itu termasuk perbuatan asusila! Tuan pasti akan dijerat dengan pasal-pasal yang berlipat. Tuan tidak takut HAH?" Arini benar-benar ketakutan


Arini benar-benar ketakutan. Arini takut, Davian akan berbuat macam-macam padanya. Hal yang belum pernah Arini alami seumur hidupnya. Dan Arini, tak ingin kehilangan kesuciannya sebelum ia berhasil menggapai cita-citanya. Sejak dulu, ia selalu berkata begitu.


"Siapa yang berani menjerat gue dengan pasal-pasal? Emangnya gue melakukan tindakan asusila? Emangnya, kalau gue meniduri istri gue sendiri, gue melakukan perbuatan senonoh? Mana ada, ngaco lu!"


"Ta-tapi, aku benar-benar tak siap Tuan! Kumohon, jangan lakukan itu. Aku tak sanggup. Tuan, aku mohon. Jangan.. Aku takut!" Arini menunduk, menutup wajahnya dengan jari-jemarinya yang lentik.


Davian sangat mengerti perasaan Arini. Davian pun tak mungkin tega melakukan hal itu pada Arini. Cinta mereka belum seutuhnya, Davian takut terjadi hal-hal yang tak diinginkan antara dirinya dan Arini. Davian tak boleh gegabah merenggut masa depan Arini begitu saja.


Davian harus bisa menahannya, ia harus sabar menanti, waktu yang tepat untuk mereka bersatu. Davian menatap pekat Arini. Ia mulai melakukan sesuatu yang tak terduga. Arini mulai kaget dan ketakutan. Davian memeluk Arini, seperti seseorang yang akan melakukan hubungan badan.


"Tuan, Tuan! Aku mohon! Aku belum siap, jangan Tuan."


Davian terus memeluk Arini. Badannya mendekati Arini. Nafasnya berderu di wajah Arini. Arini benar-benar ketakutan. Ia memegang erat sprei dan selimut Davian. Ia tak menyangka Davian akan seperti ini.


Arini terus berdoa, semoga Davian cepat sadar dari perbuatannya.


"Tuan, akhh! Jangan. Lepasin aku! Sakit! Jangan sekarang, aku mohon!" Arini menangis, ia benar-benar ketakutan


Davian melihat Arini yang menangis ketakutan. Davian tahu, Arini memang wanita yang masih polos dan suci. Davian tak tega mengerjainya terus-terusan.


Maafkan aku, aku hanya ingin melihat ekspresi mu. Aku juga tahu batasan ku. Aku tak berani menyentuh bagian sensitif mu selain bibir dan tubuh luar mu. Dan, kamu menangis? Wanita pembangkang yang suka membantahku, menangis karena takut aku tiduri? Sungguh, wanita yang menarik. Aku jadi ingin menantikan hari itu bersamamu, Arin! Gumam Davian dalam hati.


"Tuan! Cukup!" Arini terus menangis


"Kenapa nangis?" tanya Davian


"Aku gak mau, aku belum siap! Aku mohon, berbaik hatilah padaku. Mengertilah ketidaksiapan ku! Kumohon." ucap Arini


Davian tersenyum, ia membangunkan tubuh Arini. Arini dan dirinya duduk lagi, lalu Davian menyenderkan tubuh Arini pada dada bidangnya Davian. Hangat, perasaan hangat yang mereka rasakan. Namun, Davian dan Arini sama-sama malu dengan perasaan mereka.


Davian mengusap-usap rambut Arini yang menempel ke dadanya. Mata Arini mendongak keatas, melihat Davian yang tingkahnya benar-benar aneh. Mesra sekali, Davian dan Arini berpelukan, beberapa kali rambut Arini dicium Davian perlahan.


"Aku tidak akan berbuat seperti itu. Aku memegang erat janjiku padamu! Kamu tak perlu takut. Hanya seperti ini saja, sudah cukup untukku! Ayo, tidurlah dipelukan ku. Aku ingin malam ini tidur dengan kehangatan. Tetaplah di sampingku, jangan memalingkan pandanganmu padaku."


"Tuan.." Arini berkaca-kaca


*Bersambung*


Halo gais.. ini udah banyak loh ya 😁 Aku nulis 1500 kata nih, biasanya cuma seribu wkwk


Makasih.. atas dukungannya, dan gak sabar menanti cerita Davian dan Arini. Ini baru pemanasan ya, belum menuju konflik nih. wkwk


Jangan lupa LIKE DAN KOMENTAR ya sayang😘 kalau berkenan vote, aku ucapkan terima kasih 😘

__ADS_1


__ADS_2