
Hari pertama Arini berada di rumah sakit.
Arini berjalan-jalan di sekitar rumah sakit menggunakan jas putih ciri khas Dokter. Arini tahu, beberapa staff melihat terus kearahnya, karena mungkin merrka sudah tahu bahwa Arini adalah seorang intel yang menyamar di rumah sakit.
Beberapa jam kemudian, Arini segera keluar dari rumah sakit. Ia harus benar-benar menemui Tira. Sebenarnya, Tira tak menunggu di rumah, ia menunggu di kantin Rumah sakit. Tira tetap memantau Arini dari jauh.
"Nona udah istirahat?" tanya Tira dengan mulut yang masih mengunyah cilok (baso aci khas sunda)
"Udah, ayo kita makan siang." ajak Arini
"Eh, nona aja deh. Saya udah jajan terus dari pagi. Saya kenyang banget soalnya." jawab Tira sambil memegangi perutnya
"Wah, kamu bisa-bisa gendut kalau gini terus tiap hari. Jangan jajan terus dong Ra. Kan kita jadi gak bisa makan siang bareng." ucap Arini
"Hehehee, abisnya jajanannya menggugah selera, harganya murah-murah, tapi tetep enak, Non."
"Ya sudah lah, temani aku makan di warteg ujung sana aja."
"Oke siap, Non."
Arini segera melahap makanannya begitu sampai di warteg. Sudah lama sekali, Arini tak makan di warteg biasa seperti ini. Arini menghabiskan makan siangnya dengan baik, karena dari pagi ia belum makan apa-apa lagi selain sarapan bubur.
Setelah Arini selesai makan, ternyata Davian meneleponnya. Dengan semangat, Arini segera mengangkat telepon Davian.
Davian
[Halo, sayang? Udah makan siang?]
Arini
[Udah, Mas. Baru aja selesai makan. Mas udah makan siang juga?]
Davian
[Udah dong, habis berakting perutku lapar sekali.]
Arini
[Akting apaan, Mas?]
Davian
[Arkan tadi kesini]
Arini
[Hah? Terus gimana?]
Davian
[Gak apa-apa kok, sepertinya dia benar-benar percaya kalau aku telah bercerai. Aku sedikit bisa bernafas.]
Arini
[Aku khawatir, Mas]
Davian
[Tenang saja, Arini-ku. Oh iya, bagaimana hari pertamamu berada di rumah sakit? Apa banyak laki-laki yang menatapmu?]
Arini
[Ya enggak lah, Mas. Lagipula, aku tak memperhatikan sejauh itu.]
Davian
[Kamu jangan genit ya, Arini. Aku cemburu sekali, di sana pasti banyak laki-laki nakal yang mencuri-curi pandang padamu.]
__ADS_1
Arini
[Mas, jangan berlebihan deh, aku gak aneh-aneh disini. Staff dan pekerja disini aneh melihatku, mungkin aku Dokter pertama disini yang kerjanya hanya jalan-jalan saja.]
Davian
[Kamu kan hanya menyamar menjadi dokter bohongan. Aku antisipasi hal itu, agar jika Arkan mengetahui keberadaanmu, dia tetap percaya bahwa kamu memang bekerja di rumah sakit itu.]
Arini
[Iya Mas, aku mengerti hal itu.]
Davian
[Kau bagai sinar matahari yang menerangi hariku, tapi kau tak bisa ku pegang, kau tak bisa ku raih. Dirimu ada, tetapi sangat jauh. Kamu berarti dalam hidupku, walaupun kita jauh]
Arini
[Mas Davian gombal deh.]
Davian
[Maaf dong sayang, aku begini karena rasa cintaku padamu yang terlalu dalam, sehingga aku tak mampu mengontrol perasaanku. Kumohon, kamu mengertilah keadaanku,]
Arini
[Hahaha, gombal lagi kamu, Mas]
Davian
[Sayang, sepertinya aku akan mempercepat waktunya.]
Arini
[Waktu apa, Mas?]
Davian
Arini
[Kenapa Mas? Kenapa harus cepat-cepat? Bukankah Mas bilang membutuhkan waktu setidaknya 5 bulan?]
Davian
[Ada alasan tertentu yang membuat aku khawatir, aku ingin segera kamu di sisiku lagi, aku telah mengurus semuanya, aku akan menghancurkan Arkan lebih dulu.]
Arini
[Baiklah, Mas. Aku percaya padamu. Apapun yang kamu lakukan, kamu harus hati-hati dan fokus ya.]
Davian
[Tentu, sayang. Sepertinya, aku tak bisa menemui mu minggu-minggu ini. Aku harus menyelesaikan semuanya.]
Arini
[Aku mengerti kok, Mas.]
Davian
[Kamu memang mengerti. Tapi, kurasa sweety-mu tak akan mengerti. Dia pasti sedih dan menangis, Arini.]
Arini
[Apa yang Mas bicarakan sih?]
Davian
__ADS_1
[Sejujurnya, juniorku juga sangat sedih, sayang. Dia ingin bertemu denganmu. Dia ingin bermain-main denganmu.]
Arini
[Aaaah, Mas Davi. Ucapan mu mulai membuat aku kesal.]
Davian
[Aku benar-benar telah mabuk akan cintamu, Arini. Apa aku pergi menemui mu saja malam ini? Besok aku kembali lagi ke Jakarta? Jika mengemudikan dengan cepat hanya 9 jam kan? Aku akan pulang ya, malam ini? Eh, apa aku naik helikopter milik Papa saja? Ah, iya. Arini, malam ini aku akan terbang saja, mengunjungimu. Jika membicarakan hal itu, aku sungguh tak tahan, aku ingin segera melahap mu!]
Arini
[Eh, Mas. Kenapa jadi begini sih? Sudah, sudah. Tak perlu seperti itu. Kok malah akan datang kesini sih!]
Davian
[Tak apa, aku akan naik helikopter milik Papaku. Biasanya, aku tak pernah naik helikopter itu, karena aku tak suka suaranya yang berisik. Tapi, karena sekarang demi juniorku, aku rela menemui mu menggunakan helikopter! Ya sudah, tunggu aku sore ini, ya. Aku akan segera bersiap. Aku akan segera datang ke tempatmu.]
Arini
[Ya ampun, Mas. Kenapa malah jadi serius sih? Aku kira, Mas hanya bercanda. Apa Mas Davian gak akan capek?]
Davian
[Enggak. Udah, aku mau siap-siap dulu. Nanti, kita bertemu ya. Uuuuh, kenapa aku bodoh sekali? Kenapa aku tak menggunakan fasilitas milik keluargaku untuk menemui mu? Baiklah, aku akan menghubungi Papaku. Sudah dulu ya sayang. Tunggu aku datang untukmu!]
Arini
[Eh, iya sayang. Baiklah. Hati-hati dijalan.]
Telepon ditutup. Davian meminta sekretaris Dika untuk segera ke ruangannya. Tak membutuhkan waktu lama, sekretaris Dika sudah berada di ruangan Davian.
"Ada apa, Bos?" tanya sekretaris Dika
"Gue lagi seneng banget."
"Kenapa nih?"
"Pekerja di rumah sakit itu pada tunduk sama Arini, karena mereka tahunya Arini itu adalah intel yang menyamar menjadi Dokter." ucap Davian
"Gue udah tahu." jawab sekretaris Dika
"Kok lu tahu sih?" tanya Davian
"Jelas tahu lah, orang gue nanya ke asisten Tira tentang reaksi orang-orang di sana,"ucap sekretaris Dika.
"Wow, lu emang keren deh, Dik. Selalu aja bertanya dan bertindak cepat." ucap Davian.
"Kalau gue gak bertindak cepat, lu pasti kayak cacing kepanasan gak bisa diem dan pengen cepet-cepet pergi menemui Arini. Iya kan?"
"Loh, kok lu tahu sih? Makanya, sebelum hal itu terjadi, gue udah antisipasi. Gue udah memberi perintah sama asisten nona Arini."
"Tapi, kita tetep berangkat ke sana lagi kok!" jawab Davian enteng
"HAH? Maksud Bos?" sekretaris Dika bingung
"Siapkan helikopter pribadi keluargaku, kita terbang ke tempat Arini sekarang!" ucap Davian
"APA? Helikopter? Bukankah Bos paling gak suka jalur udara kalau bukan karena terpaksa?" ucap sekretaris Dika
"Ini juga gue lakukan karena terpaksa, Dik!" jawab Davian
"Terpaksa gimana? Emangnya Nona Arini kenapa?" tanya sekretaris Dika
"Bukan Arini, tapi gue. Kasihan, junior gue ingin bertemu dengan Arini. Gak sanggup gue! Udah, cepet. Beritahu Papaku, dan semua yang berhubungan dengan keberangkatan kita. Dua jam lagi kita berangkat!"
"HAH? Bener-bener lu, Bos!"
__ADS_1
Sekretaris Dika hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kelakuan Tuannya.
*Bersambung*