Terjerat Cinta Sang Pembantu

Terjerat Cinta Sang Pembantu
Kopi bersamamu


__ADS_3

Keesokan harinya, di apartemen Rangga.


Malam telah menyelimuti. Hawa dingin merasuk sukma. Malam ini benar-benar dingin. Untungnya, Keyza telah tidur dan pekerjaan Tira pun selesai. Tira sudah berada di kamarnya, karena tak ada lagi pekerjaan yang bisa ia lakukan.


Tok, Tok, Tok,


Kamar Tira diketuk. Tira kesal, itu pasti Rangga. Sebenarnya, Tira tak mau lagi berurusan dengan Rangga setelah Keyza tidur, namun apa boleh buat jika Tuannya mengetuk pintu dan meminta dirinya untuk keluar. Tira segera beranjak bangun, dan membuka pintu.


"Iya Tuan, ada apa?" tanya Tira.


"Kamu sudah tidur?" tanyanya.


"Belum, Tuan." jawab Tira.


"Bisakah kamu buatkan aku kopi?" tanya Rangga.


"Baik, Tuan. Saya akan segera membuatkannya." Tira tersenyum ramah.


Rangga pun membalas senyuman Tira. Rangga segera kembali ke ruang keluarga dan menyalakan televisi. Tira segera menuju ke dapur, dan membuatkan kopi untuk Rangga. Tiba-tiba, Rangga datang kembali ke dapur.


"Ada apa lagi, Tuan?" tanya Tira.


"Buatlah dua, temani aku minum kopi. Rasanya, tak enak jika menikmati kopi sendirian. Apa kamu suka kopi juga?" tanya Rangga.


"Saya suka. Baiklah, saya akan membuat untuk diri saya juga." jawab Tira.


"Baik," Rangga kembali berlalu.

__ADS_1


Tira membawa nampan yang berisi dua cangkir kopi, ia duduk di samping Rangga, karena Rangga yang menyuruhnya untuk duduk. Rasanya, malam ini benar-benar sangat dingin, sehingga memutuskan untuk minum kopi bersama adalah pilihan yang tepat, dan untungnya Tira pun tak menolak.


"Santai lah, jangan merasa asing. Anggap saja aku saudaramu," ucap Rangga.


"Baik, Tuan."


Rangga menyeruput kopinya. Sambil merasakan sensasi kopi yang wangi, ia mulai bercerita untuk mengisi kekosongan dimalam ini.


"Dulu, ketika aku masih kecil, aku bukanlah orang yang spesial. Aku hanya anak bungsu, yang dianggap paling kecil dan tak bisa apa-apa. Tapi, Kak Dirga, dia mempunyai anak laki-laki, yang tak lain adalah Davian, Davian adalah kebanggaan keluarga sejak lahir. Dia cucu pertama, yang akan mengubah dunia. Ayahku sangat menyayanginya. Ayah sangat menyukai Davian, kadang aku merasa iri akan hal itu." ucap Rangga.


"Apa ada alasan khusus, Tuan Surya begitu menyayangi Tuan Davian?" tanya Tira.


"Tidak ada. Ayah hanya lebih antusias pada cucu pertamanya. Dan ketika Arkan lahir, Ayahku sama sekali tak peduli pada cucu keduanya. Ia hanya memperhatikan Davian, dan selalu mengutamakan Davian dalam hal apapun. Aku merasa iri, tapi aku tahu batasan, karena menurutku Davian pantas mendapatkannya. Dari kecil, ia sudah menjadi kebanggaan. Ketika sudah besar, ia pun dapat memimpin perusahaan dengan baik, dan itulah yang membuatku iri, sehingga aku memutuskan untuk membuat perusahaan di luar negeri. Aku tak tertarik dengan perusahaan keluarga, aku lebih suka merintis sendiri, berharap Ayah juga melihat kerja kerasku." jelas Rangga.


"Mungkin, itu alasan Tuan Arkan mencelakai Tuan Davian, begitu?" tanya Tira.


"Iya, Arkan sangat berambisi ingin mendapatkan perusahaan. Arkan memang iri pada Davian, sama sepertiku. Tapi, aku masih mempunyai akal sehat untuk tidak melakukan hal gila yang Arkan lakukan, walaupun aku sempat khilaf, Tir." ucap Rangga.


"Aku menyukai Arini, saat kutahu dia bekerja di rumah Davian. Aku kira, Davian tak menyukai Arini. Saat itu, aku mendekatinya. Ternyata, Davian lagi-lagi menghalangi aku untuk mendapatkan Arini. Hingga akhirnya mereka melakukan pernikahan, walaupun awalnya sandiwara saja, aku benar-benar cemburu pada saat itu. Keponakanku selalu saja bisa mendapatkan yang aku inginkan. Davian selalu bisa mengalahkan aku. Itu yang membuat aku kehabisan akal pada saat itu." ucap Rangga.


"Memang, apa yang Tuan lakukan?" Tira menerka-nerka.


"Aku hampir saja kehilangan akal sehatku, dengan memaksa Arini, saking aku kesalnya pada saat itu. Padahal, tak ada maksud lain, aku hanya ingin mengajaknya pergi keluar, tapi dia menolak dan membuat aku marah. Hampir saja aku mencelakainya, untung saja Davian tiba tepat waktu, dan aku pun menyesal melakukan itu. Arini membenciku, karena dia mengira aku akan berbuat jahat padanya. Kini, aku sadar, aku memang lebih Tua dari Davian, namun aku tak bisa menandinginya." ucap Rangga sambil minum kopinya lagi.


Tira menjelaskan dengan seksama. Ternyata, menjadi Rangga ditengah-tengah orang yang sempurna seperti Davian, rasanya sangat sulit. Pribadi Rangga tak ada apa-apanya didalam keluarga itu, karena terkalahkan oleh kemampuan dan kehebatan Davian. Tira mencoba mengerti sikap Rangga saat ini, Rangga memang butuh teman untuk bicara.


"Syukurlah, Tuan tidak sampai melakukannya. Namun, rasa iri sebagai manusiawi itu wajar menurut saya. Tuan tak bisa menandinginya, namun Tuan bisa mengimbanginya." jelas Davian.

__ADS_1


"Terima kasih, Tira. Kamu telah menemani aku malam ini. Aku hanya sedang bingung dan kesepian." ucap Rangga.


"Sama-sama, Tuan. Jangan sungkan, aku akan mendengarkannya." Tira tersenyum.


"Tadi aku bertemu Ayah," ucap Rangga terpotong.


"Lalu, apa yang Tuan Surya katakan?" Tira menyimak.


"Umurku sudah hampir kepala tiga. Ayah memintaku segera menikah. Ayah sudah tua, ia tak mau menungguku terlalu lama. Aku bingung, karena aku tak pandai mendekati wanita. Sempat aku menyukai Arini, tapi ternyata itu hanya obsesi-ku saja. Lagi-lagi, Ayah membandingkan aku dengan Davian, yang telah menikah dan sebentar lagi akan mempunyai anak. Sungguh, kesal aku pada Ayahku. Rasanya, ingin segera membuktikan bahwa aku pun bisa menikah dan bisa membuatnya bangga padaku." ucap Rangga.


"Ya ampun, ternyata menikah jadi hal yang sensitif juga ya, memang sulit Tuan. Tapi, Tuan adalah orang kaya, orang terpandang, tak sulit bagi Tuan untuk menemukan seorang wanita. Bukan begitu?"


"Menikah bukan perkara mudah, Tira. Aku pun malas memikirkannya. Ayah terlalu keras, sehingga membuat aku kesal. Entahlah, rasanya aku ingin tinggal di Swiss saja, menjauh dari keluargaku, dan hidup tenang di sana walaupun dengan kesendirian. Tapi, kini aku tak bisa. Ada Keyza yang mengharapkan kehadiranku. Makanya, aku tak bisa lama-lama mengurus bisnisku di sana. Aku selalu saja ingin segera pulang dan bertemu dengan Keyza." ucap Rangga.


"Tentu saja, Keyza selalu ingin bersama Tuan. Tuan adalah orang yang baik dan juga hangat. Dia sangat menyayangi Tuan Rangga. Tuan Rangga hadir ditengah-tengah keterpurukan Keyza. Disaat hatinya hancur, karena ditinggalkan kedua orang tuanya, disitulah Tuan datang seperti malaikat baginya." Tira tersenyum.


"Iya, aku sudah sangat menyayangi Keyza. Dia sudah ku anggap sebagai anak sendiri." jelas Rangga.


"Tuan, maaf kalau saya lancang. Bukankah kemarin Tuan bertemu dengan Ibunya Keyza?" tanya Tira.


"Iya, dia bekerja di restoran pizza kemarin. Memangnya kenapa?"


Tira menggigit bibirnya, "Mohon maaf sebelumnya, saya dengar Tuan Arkan akan membusuk di penjara selamanya. Tentunya, tak akan ada kesempatan baginya untuk kembali pada keluarganya. Kehidupan Ibunya Keyza pun hancur karena hal itu. Mengapa Tuan tak mencoba saja untuk dekat dengan Ibunya Keyza? Toh, Keyza sekarang hidup bersama Tuan, dan Tuan sudah menganggap Keyza sebagai anak Tuan Rangga sendiri, bukan? Kalau kalian bersatu, bukankah kehidupan Keyza akan jauh lebih sempurna?" saran Tira.


Mata Rangga membulat. Ia heran dengan ucapan Tira. Kenapa Tira bisa mengucapkannya dengan mudah. Kenapa mendengar Tira menyarankan hal seperti itu, membuat Rangga kesal? Rangga tak sedikitpun menyukai Melisa. Ada perasaan aneh ketika Tira mengucapkan hal itu. Tira yang melihat ekspresi Rangga, jadi merasa bersalah karena ucapannya.


"Maafkan saya, Tuan." Tira merasa bersalah.

__ADS_1


Rangga tetap terdiam. Ia tak memberikan reaksi apapun. Ia hanya diam, ia sedang berpikir keras. Hatinya berkecamuk penuh kebingungan. Entah apa yang akan dia lakukan nantinya, ketika sang Ayah meminta ia segera menikah.


*Bersambung*


__ADS_2