Terjerat Cinta Sang Pembantu

Terjerat Cinta Sang Pembantu
Denganmu lagi.


__ADS_3

Acara pertemuan dengan investor asing ditutup dengan memukai oleh Davian. Semua rekan bisnisnya merasa puas dan bangga, bisa bekerja sama dengan Raharsya group. Apalagi, dengan CEO yang benar-benar kompeten serta memiliki kredibilitas yang tinggi.


Para tami sedang makan malam, menikmati jamuan yang disediakan pihak hotel bintang 5 ini. Davian dan Arini mendekati keluarga besarnya. Termasuk, Rangga yang telah berada di sana.


"Dav, Davian cucuku. Duduklah! Aku tahu, bahwa kamu memang kuat, kamu pasti bisa sembuh. Aku ragu dengan kemampuan Rangga, aku takut Rangga tak bisa menarik hati mereka semua. Tapi, akhirnya kamu datang disaat yang tepat Davian." jelas Kakek Surya.


Davian dan Arini ikut duduk di meja keluarga besarnya.


"Pah, jangan terus-terusan membandingkan aku dengan Davian. Perusahaan ku dan dia beda sekali. Perusahaan ku jelas-jelas lebih baik dari dia. Aku hanya kurang pintar berbicara saja!" protes Rangga.


"Sudah, sudah. Pokoknya, kita semua senang, Davian hadir saat waktu yang tepat. Kamu juga jadi tak perlu gugup berbicara didepan banyak orang kan, Ga!" ucap Papa Davian pada Rangga.


"Dav, bagaimana kamu bisa sadar? Kami tak tahu, kami ingin sekali tahu, sayang." ucap Nenek Davian.


"Iya, Dav. Jantung Mama hampir mau copot lihat kamu berdiri di ambang pintu, lalu menghampiri Arini yang sedang melamun." jawab Mama Davian.


"Iya, nih. Istriku malah tak sadar kalau aku datang. Aku kira, dia yang akan menatap aku pertama kali, ternyata dia malah sama sekali tidak menyadari kehadiranku. Dasar kamu ya, bukannya menyambut suamimu, malah diam melamun." Davian mencubit pipi Arini yang cantik.


"Aih, Mas. Sakit tahu! Aku kan tak konsentrasi tadi, aku sedang memikirkan kamu," jawab Arini.


"Sudah, sudah. Ayo, kita makan." ajak Kakek Surya.


Tahukah, bagaimana perasaan Rangga saat ini? Bagaimana suasana hatinya? Rangga benar-benar kacau. Namun, Rangga sadar, dirinya siapa, ia tak mungkin membuat keributan ditengah-tengah acara mewah keponakannya ini.


Setelah selesai makan, mereka semua disuguhi dengan beberapa hiburan, seperti dance, menyanyi, drama singkat, dan masih banyak yang lainnya untuk menghibur semua tamu undangan.


"Pah, apa Papah sudah dengar, tentang kabar istri Arkan?" tanya Papa Davian tiba-tiba.


Semua mata tertuju pada Papa Davian yang mulai membahas nama 'Arkan'.


"Kenapa Meliza?" tanya Kakek Surya.


"Meliza pergi, ia kabur. Tapi, Keyza ditinggalkan begitu saja. Kini, Keyza hanya diasuh oleh baby sitter nya, kasihan sekali nasib anak itu. Aku mendengar dari supirku, karena ia masih saudara dengan pembantu di rumah Arkan." jelas Papa Davian.


"Benarkah? Meliza memang kurang ajar. Berani sekali dia menelantarkan cucuku?" Kakek Surya marah.


"Besok aku harus mengunjungi Meisya." tambah Kakek Surya.


"Iya, Pah. Sepertinya Meisya dan Meliza bertengkar." ucap Papa Davian.


"Dirga, antar aku ke rumah Arkan besok."


"Baik, Pah."


***


Di rumah besar Davian.

__ADS_1


Arini dan Davian sangat bahagia. Mereka bisa bersatu kembali, setelah Davian mengalami koma berminggu-minggu di Rumah sakit. Kini, Arini dan Davian sedang duduk di sofa berdua. Mereka saling berpegangan tangan, melepas rasa rindu yang selama ini tertahan.


"Mas, aku rindu." Arini memberanikan diri memeluk Davian.


"Kenapa kamu jadi agresif begini?" tanya Davian.


"Bagaimana tidak, aku seperti mau mati mendengar mu terkena luka tembak. Apa luka itu sangat menyakitkan, Mas?" tanya Arini.


"Tentu saja. Apa kamu ingin melihat bekas luka tembak itu?" tanya Davian.


"Enggak, aku gak mau lihat. Aku takut nangis lagi." ucap Arini menyandarkan kepalanya di tubuh Davian.


"Sayangku, maafkan aku, aku terluka. Aku tak bisa menjaga diriku, aku mengecewakanmu." ucap Davian.


"Mas, jangan bicara seperti itu. Kamu bisa kembali sadar dan berada di sampingku lagi, itupun sudah membuat aku sangat bahagia, Mas. Aku tak bersedih lagi karena kehilanganmu." ucap Arini.


"Aku tak tahu, Arkan bisa berbuat nekad seperti itu padaku. Kukira, dia sudah tak berani macam-macam lagi, tapi ternyata perkiraan ku salah." jawab Davian.


"Nanti, aku akan menemui Arkan di sel tahanan. Jika fisikku tak bisa membalas melukainya, akan ku balas ia dengan kata-kataku. Aku benar-benar dendam dengan orang picik seperti dia." balas Arini.


"Sudahlah, biarkan hukum yang membalasnya. Aku sudah tak menaruh dendam pada Arkan, karena dia sudah mendapat balasan yang setimpal." jelas Davian.


"Tapi aku benar-benar tak bisa terima kalau suamiku terluka karena ulahnya."


"Biarlah sayang, kita petik saja hikmahnya dari kejadian itu." Davian mengusap rambut Arini.


"Tentu saja ada, kamu jadi semakin perhatian padaku, kamu jadi semakin mesra. Oh, Arini-ku. Aku sangat menyukai perubahan mu saat ini. Kamu tak gengsi dan tak malu-malu lagi menunjukan rasa cintamu padaku." Davian menyentuh halus pipi Arini.


"Hmm, raja gombal mulai merajalela lagi." Arini tertawa kecil.


Tapi, jujur saja Arini, aku sungguh merasa malu padamu."


"Maksud Mas? Malu kenapa?" tanya Arini tak mengerti.


"Malu, karena aku lemah dihadapan mu. Kamu jadi tahu, wajah jelekku.Kamu juga jadi tahu kelemahan ku. Rasanya, aku jadi tak gagah lagi berada di hadapanmu, ketika kamu tahu aku pernah terbaring lemah." jawab Davian.


"Mas, kamu apaan sih! Jangan berkata begitu! Kamu tetap yang paling hebat dan gagah di mataku. Kamu tetap yang terbaik, Mas. Aku bahagia, memiliki suami sepertimu." ucap Arini.


"Ah, kamu hanya menggodaku, agar aku tak malu, iya kan?"


"Tidak, aku sungguh-sungguh. Kamu memang hebat, kamu berhasil menjebloskan Arkan ke penjara. Kamu juga lelaki yang tangguh dan kuat, kamu bisa kembali sehat seperti sedia kala, padahal kamu baru saja sadar. Aku sangat mengagumimu, Mas. Kamu adalah lelaki terhebat yang pernah aku miliki." Arini tersenyum tulus.


"Oh, ya? Berarti memang benar, aura dalam tubuhku ini telah merasuki jiwamu, Arini. Aku memang keren kan? Bisa sembuh dengan cepat! Aku juga lelaki yang kuat kan? Aku tetap terlihat gentle walaupun aku terkena luka tembak. Apa kamu melihat adegan itu, sayang? Apa kamu melihat, saat aku tertembak peluru? Coba katakan padaku, betapa kerennya aku saat itu, kalau dipikir-pikir, saat itu aku seperti sedang bermain film action saja!"


"Astaga, Mas! Sadar kamu! Baru aja dipuji sedikit, langsung keluar sifat narsisnya. Kamu memang laki-laki paling narsis yang pernah aku kenal tahu gak!" pekik Arini.


"Kamu benar, kamu patut bangga dan kagum pada diriku. Aku memang lelaki tampan dan juga hebat. Pantas saja kamu terus memujiku, Arini-ku." Davian mulai di atas angin.

__ADS_1


"Oh, my God. Mas Davi!!!! Sampai kapan si narsis itu akan terus merasuki tubuhmu?"


"Sampai kamu yang pindah merasuki tubuhku. Ayo, rasuki aku sekarang juga! Masuklah kedalam tubuhku, aku sudah tak tahan ingin segera kerasukan cintamu!" Davian asal bicara.


"Cih, apa yang kau bicarakan? Kenapa Mas jadi aneh seperti ini sih setelah sadar dari koma? Aku jadi khawatir." ucap Arini.


"Maksudku, aku ingin kamu masuk kedalam tubuhku, aku ingin kamu menggerayangi tubuhku, aku sudah merindukan hal-hal itu. Sudah lama sekali, bukan? Ayo, kita membuat cinta malam ini."


"Lah, kok jadi ke sana arah pembicaraannya?" Arini tak mengerti.


"Apa kamu tak tahu, tujuanku sadar kembali?"


"Apa memangnya?" tanya Arini


"Memang tujuanku sadar dari koma itu untuk bercinta denganmu. Harus apalagi aku? Memang pada kenyataannya, aku ketagihan melihat kemolekan tubuhmu! Aku telah sadar, dan aku sembuh, tentu saja ingin menjamah kamu, istriku! Apa kamu tak rindu, pada tubuhku ini?" tanya Davian.


"Mas, bukannya aku tak rindu atau apalah seperti yang kamu bilang. Tapi, kamu kan baru saja sembuh, Mas. Tubuh kamu belum benar-benar sehat. Tunggu lah dulu, sabar dulu. Luka pada tubuhmu masih membutuhkan perawatan kan? Kamu tak bisa terlalu lelah melakukan aktifitas. Apalagi, berhubungan denganku. Tentu saja akan menghabiskan tenaga mu!" ucap Arini.


"Jadi, kita tak akan bercinta malam ini? Jadi, mamu tak mau?"


"Bukannya aku tak mau, aku hanya takut kondisi lukamu, karena kamu juga belum benar-benar sembuh." jawab Arini.


"Kalau kamu mau melakukannya, aku mempunyai solusi untuk itu."


Arini mengernyitkan dahinya, "Solusi? Solusi apa maksudmu?"


"Kamu yang bermain, aku yang diam. Kamu yang di atas, aku yang dibawah. Kamu yang bergoyang, aku yang meresapi. Bagaimana, sayang?" Davian tersenyum nakal.


"HAH!! Bualan macam apalagi ini? Kenapa pikiranmu jadi begini setelah pulang dari rumah sakit? Aku sungguh tak mengerti." Arini geleng-geleng kepala.


"Ayolah, sayang. Bukankah kita sudah lama tak bermain-main? Untuk kali ini, kamu saja yang agresif padaku, aku hanya akan diam, melihat kamu bergerak. Bagaimana? Ya? Ya? Mau dong, ya? Arini? Please! Aku sangat menginginkannya."


"Ah, Terserahlah apa katamu!" Arini tak mau pusing.


"Yeayyyy! Akhirnya, aku bisa melihat istriku yang bermain. Ayo, ayo. Sini. Mendekat lah padaku! Uhhh, aku sudah tak sabar menantikannya." Davian kegirangan.


"Dasar laki-laki mesum!!!"




*Bersambung*


Hai.. hai..


Selamat membaca, jangan lupa like dan vote juga ya.. Yang komentar hanya itu-itu saja, padahal yang baca sehari itu ribuan. Ayo, beri dukungan untuk ceritaku ini 🥰😘

__ADS_1


__ADS_2