
Sebelum membaca, tinggalkan like ya.. Makasih❤😘
Kediaman sekretaris Dika, dua jam sebelum kejadian di rumah Orang tua angkat Nisha ...
Malam yang dingin terasa semakin mencekam, ketika tatapan tajam sekretaris Dika menatap Rena tanpa berkedip. Rena memenuhi janjinya untuk datang ke rumah sekretaris Dika. Elang teramat kesal padanya, ingin rasanya Elang segera memukul Rena saat itu juga.
"Terima kasih sudah datang." ucap sekretaris Dika.
"Maafkan saya, Om ... Elang, kumohon, lihat aku ..." Rena terus merayu.
"Dasar wanita gila! Sudah kubilang aku tak pernah tidur denganmu! Bagaimana kamu bisa hamil anakku, ha? Itu tidak mungkin! Dasar biadab!" Elang kesal.
"Elang ... jangan seperti itu. Kenapa kamu tega tak mengakuinya, ha? Kumohon, jangan seperti ini. Terima aku, karena aku sedang mengandung anakmu!" Rena terus memohon.
"Persetan denganmu, Rena! Picik sekali otak dan pikiranmu. Kini, aku baru sadar kalau kamu ini hanya memanfaatkan aku. Aku tahu, maksudmu mendekatiku. Ternyata, kamu ingin aku mengakui kalau itu anakku, begitu? Untung saja, Ayahku datang dan menyelamatkan aku, sehingga aku yakin, kalau aku memang tak pernah meniduri kamu sekalipun." tegas Elang.
"Kamu mabuk saat meniduri aku, Elang! Kamu pasti lupa dan tak akan mengingatnya. Tapi, a-aku begitu jelas mengingat semua itu, Elang! Jangan begitu, karena aku tak berbohong. Aku ingat betul, apa yang kita lakukan! Kumohon, percayalah! Aku tak punya siapa-siapa lagi, Elang. Tolong kasihanilah aku, dan bayi kita." Rena terus memohon.
"Persetan dengan ucapan mu, Rena! Aku tak akan bisa mempercayainya sedikitpun. Dasar gadis gila! Ayah, untuk apa kau suruh dia datang kemari, ha? Apa kau memang mempercayai dia? Apa kau lebih percaya gadis gila ini daripada anakmu sendiri? Sungguh, aku berani sumpah Ayah, aku tak pernah melakukan itu! Dia hamil dengan orang lain! Dia hanya berbohong, Ayah!" tegas Elang meyakinkan sekretaris Dika.
Sekretaris Dika menyeringai, "Kalian, diam lah! Biarkan aku yang berbicara kali ini."
Sekretaris Dika menatap Rena dan juga Elang. Ia tahu, Rena ketakutan, tapi ia memaksakan diri. Gelagatnya sudah terlihat, bahwa ia memang takut, dan ia sudah pasrah. Sekretaris Dika tahu, bahwa Rena tak punya bukti yang kuat. Berbekal testpack yang ia bawa, ia yakin kalau Elang lah yang telah menidurinya.
"Kamu yakin, Rena?" tanya sekretaris Dika.
"Yakin, Om. Rena tak mungkin bohong. Elang melakukannya saat ia sedang mabuk. Om pasti takkan percaya, tapi Rena yang mengalaminya sendiri, Om. Kumohon, kasihanilah Rena, dan percaya pada Rena, bahwa ini adalah cucu Om sendiri." tegas Rena.
Sekretaris Dika hanya tersenyum, "Seyakin itukah kamu? Tapi, kenapa aku ragu dengan semua ucapan mu, ya? Kurasa, ada hal yang kamu sembunyikan dariku. Jujurlah, kalau kamu berani jujur, aku akan membantumu dan menyelesaikan semuanya." ucap Sekretaris Dika.
Rena kaget, karena sekretaris Dika tak mempercayainya. Ia harus tetap terlihat bersedih dan meyakinkan mereka, "Maksud Om Dika apa? Aku sudah jujur, tak ada yang aku sembunyikan dari kalian. Aku hanya ingin kalian percaya, kalau aku memang hamil oleh Elang! Namun, pada saat itu Elang dalam kondisi mabuk, Om. Percayalah pada Rena, sungguh ... Ini adalah janin Elang, Om. Tega kah kalian pada janin yang tak berdosa ini? Haruskah aku gugurkan saja janin ini, ha? Agar kalian semua puas!" Rena mulai pura-pura berlinang air mata, agar bisa meyakinkan Elang dan sekretaris Dika.
Sekretaris Dika menyeringai, "Begitu kah, Rena? Aku sudah bilang berulang kali padamu, kalau kau jujur, aku akan membantumu! Kalau kau mau terang-terangan menjelaskannya padaku, aku akan membuat anakmu kembali pada orang yang tepat!" jelas sekretaris Dika.
"Om, maksud Om apa? Benar, Om ... Elang adalah orangnya! Elang orang yang tepat, karena dia adalah Ayah dari janin yang sedang aku kandung!" Rena terus meyakinkan sekretaris Dika.
"Cukup. Baiklah, mungkin harus aku yang menjelaskannya, agar kamu lebih mengerti. Pertemuan pertama di Mall Citra, karena dia tak sengaja menyenggol mu. Permintaan maaf yang berujung bertukar nomor telepon, hingga sering bertemu. Kedua, Cafe nicole's, tempat kencan pertama. Uang sebesar 5 juta dan tas branded limited edition yang jadi buktinya. Bermula dari saling merangkul, hingga berpelukan. Malam itu pun terjadi, kedekatannya semakin panas. Lelaki paruh baya itu meminta jatah lebih. Dengan mudahnya kamu menyetujuinya. Uang pertama dari hasil menjal4ng, mendapat sekitar 30 juta. " sekretaris Dika menghentikan perkataannya.
Elang pun kaget, karena sang Ayah mengetahui semua itu dengan begitu detail. Rena apalagi, wajahnya begitu pucat dan wajahnya terlihat sangat kaget. Rena tak menyangka, bahwa sekretaris Dika bisa menebak semua itu. Lidahnya serasa kaku, tak bisa berkata-kata.
"Om ... Ke-kenapa?" Rena benar-benar kaget.
"Ayah, Ayah tahu semuanya?" Elang merasa tenang karena penjelasan sekretaris Dika.
"Setelah malam itu, kamu selalu diajaknya pergi. Ke puncak, ke Surabaya, ke Pulau seribu, ke Bali, bahkan ke Malaysia dan Singapore pun kamu pernah ikut dengannya. Setiap malam sabtu, dia mengajakmu check in di hotel. Hotel Aira, Hotel Biru, Hotel galaxy, Hotel delima, semuanya pernah dijadikan tempat untuk menuntaskan hasrat lelaki itu. Kurasa, kamu kaget sekali mendengarnya. Apa kamu merasa?" ledek sekretaris Dika.
"Om Dika, Om, a-aku, aku ... Om, maafkan aku." Rena begitu kaget, dan bingung karena semua yang telah ia rencanakan sepertinya tak mempan untuk membuat sekretaris Dika percaya.
__ADS_1
"Aku bukan orang bodoh yang bisa kamu bodohi dan kamu bohongi. Kau pikir, aku akan percaya kalau anakku telah menghamili mu? Sebelum aku percaya, aku harus membuktikan kebenarannya terlebih dahulu. Ternyata, anak yang berada didalam perutmu itu adalah anak lelaki paruh baya yang memberimu banyak uang! Seharusnya, kalau kamu ingin mengelabui aku, cari tahu dulu siapa aku. Kau kira, aku siapa? Main mu kurang jauh kalau kau tak tahu apa pekerjaanku! Tak sulit bagiku untuk menemukan semua bukti akurat itu, wahai sugar baby Om Adi ..." sindir sekretaris Dika.
"Om tapi, aku ..." Rena kebingungan karena ia begitu malu, telah membohongi Elang dan sekretaris Dika.
"Jujurlah padaku! Benarkan bahwa dia yang menghamili mu?" sekretaris Dika mengeluarkan ponselnya dan merekam Rena.
"I-iya, Om. Maafkan aku membohongimu." Rena menunduk.
"Siapa namanya? Katakan dengan jelas!" tegas sekretaris Dika.
"Ta-tapi ... Aku, tak mungkin," Rena sadar dirinya sedang direkam.
"KATAKAN!" bentak sekretaris Dika.
"Tak perlu lagi kau berdalih, Rena. Aku sudah muak mendengarnya. Minta maaf lah pada anakku, karena kamu telah membuatnya tergoda, hingga dia akan dijadikan kambing hitam dalam semua permainanmu. Jika kamu bersedia bekerja sama denganku, maka kamu pasti akan mendapat pengakuan dari lelaki yang telah menghamili mu." tegas sekretaris Dika.
Rena ketakutan karena sekretaris Dika membentaknya. Ia tak berani menatap wajah itu, ia pun menghela nafas, "A-aku dihamili oleh ... I-ini, ini adalah anaknya ... Om, Om Adi." Rena pun menunduk lesu.
Akhirnya, Rena pun meminta maaf pada Elang dan sekretaris Dika. Rena bersimpuh di kaki keduanya. Rena merasa malu, karena perbuatan bohongnya secepat itu diketahui oleh sekretaris Dika. Rena malu, ia menangis dihadapan Elang dan sekretaris Dika. Elang lega, karena Rena kini telah mengaku. Hanya satu, yang harus ia selesaikan, yaitu urusannya dengan Nisha. Elang malu, Elang ingin meminta maaf secara langsung pada Nisha.
Setelah ucapan maaf itu, sekretaris Dika memberi tahu Rena, bahwa Rena harus mengikuti semua perintahnya. Rena harus bisa diajak kerja sama agar anak yang ia kandung bisa mendapat pengakuan dari Ayahnya. Sekretaris Dika pun segera membawa Rena pergi. Sesuai perintah Davian, akhirnya mereka pun berangkat menuju rumah orang tua angkat Nisha.
...🌸🌸🌸...
RENA?
Wajah Rena terlihat menyedihkan, dan ia pun pura-pura terlihat kaget ketika menatap Adi. Sekretaris Dika sudah menekan Rena, agar Rena mengikuti semua keinginannya. Nisha dan Andra tak mengetahui tentang hal ini. Sepertinya, akan berbondong-bondong pertanyaan dilontarkan Nisha dan Andra ketika mereka telah sampai di rumah nanti.
Hingga selesai lah pertemuan itu, Nisha Andra, Davian dan sekretaris Dika pun pamit pulang. Tinggal lah Rena bersama dengan majikan baru, sekaligus Ayah dari anak yang ia kandung itu. Bu Ani begitu respect pada Rena, karena Bu Ani memang merindukan sosok gadis yang sama seperti Nisha.
Malam semakin larut, Adi melihat istrinya tengah tidur. Malam ini, ia begitu gelisah. Ia tak bisa tidur, ia terus teringat pada Rena yang malah ada didalam rumahnya. Rena seharusnya pergi menjauh dan jangan muncul lagi dihadapannya. Tapi nyatanya, Rena malah mendekatkan diri menjadi pembantu di rumahnya.
Adi pun perlahan-lahan, keluar dari kamarnya. Ia mengendap-endap menuju kamar pembantu. Adi pun mengirim pesan pada Rena, berharap Rena akan membuka pintu kamarnya. Karena Adi takut, pintu kamarnya dikunci oleh Rena. Tak lama, Rena pun membalas pesan yang dikirimkan oleh sugar daddy-nya itu.
Pintunya tak dikunci, Om Adi. Masuklah ...
Begitulah pesan balasan dari Rena. Perlahan-lahan, Adi membuka pintu kamar Rena, dan melihat ke kiri dan kanan, memastikan tak ada siapapun yang melihatnya. Adi pun masuk, dan segera mengunci pintu kamar Rena. Ia pun memasukan kunci itu dalam saku piyamanya, agar Rena tak bisa kabur dari dirinya. Ia melihat Rena sedang duduk di atas ranjangnya dengan menggunakan baju tidur yang seksi.
"Om Adi ..." Rena terlihat senang.
"Sialan kamu, Rena! Ngapain kamu ada di rumah ini. Kenapa kamu bisa bersama sekretaris itu hah? Kamu menjebak ku? Jadi, sekretaris sialan itu sugar daddy-mu sekarang?" Adi begitu kesal dan emosi.
"Om, duduklah dulu. Rena bisa jelaskan semuanya." Rena meminta Adi untuk duduk.
"Rena memang pernah bekerja di rumah sekretaris itu. Rena memang meminta pekerjaan agar pak sekretaris memberikan pekerjaan pada Rena. Ternyata, secepat kilat, dia bilang kalau ada lowongan jadi pembantu. Aku sungguh bahagia. Tapi, setelah sampai rumahmu, aku baru sadar, kalau ini adalah rumah dari Ayah yang memiliki janin ini." ucap Rena berkaca-kaca.
"RENA! Berisik kamu! Gimana kalau ada yang dengar!" tegas Adi.
__ADS_1
"Om, jangan marah-marah. Mungkin saja ini memang takdir bahwa kita memang harus bersatu. Aku senang, karena bayi ku akhirnya bisa dekat dengan Ayahnya. Jangan kasar sama aku, Om. Kasihan bayi kita." Rena mengelus-elus perutnya.
"RENA! Mulutmu! Diam kamu!" Adi kesal.
Rena tak menjawab ucapan Adi. Ia malah mendekati Adi yang sedang kesal padanya. Rena mencium Adi, kemudian memeluknya. Pedang Adi yang sejak tadi layu, kini tengah tegak berdiri karena perbuatan Rena yang merayunya. Adi mudah terlena oleh Rena. Godaan gadis itu benar-benar membuat Adi tak tahan.
"Om Adi, apa kamu tak merindukan aku?" goda Rena.
"Tidak! Lepas!" Adi pura-pura.
"Om Adi, aku merindukanmu. Jahat sekali kamu, Om." Rena semakin agresif. Ia naik ke pangkuan Adi, dan ia pun duduk di paha Adi, dengan tangan yang melingkar di leher lelaki paruh baya itu.
"Rena, kamu jangan memancingku!" Adi sudah mulai tak kuasa menahan hasrat kejantanannya.
"Aku merindukan semua tentang dirimu, Om Adi." Rena membisikkan sesuatu di telinga Adi.
Adi semakin tak kuasa menahan godaan Rena yang membuatnya tegang. Secepat kilat, Adi membaringkan tubuh Rena, dan Adi berada di atas tubuh gadis itu. Adi sepertinya akan melakukan hal yang sudah biasa mereka lakukan. Adi mencium Rena dengan ganas dan mulai bermain-main dengan tubuh Rena.
Permainan itu semakin gila, ketika Adi memegang buah dada milik Rena, dan satu tangannya bermain-main didalam gawang Rena. Karena hal itu, Rena refleks melenguh dan mendesah kenikmatan. Beberapa menit kemudian, Bik Min keluar dari kamarnya karena ingin buang air kecil. Hingga suara desahan itu terdengar oleh Bik Min, ketika ia melewati kamar Rena.
Ya Tuhan, suara apa itu? Kenapa terdengar seperti suara orang yang sedang melakukan hubungan suami istri? Bukankah ini kamarnya Neng Rena pembantu baru itu? Tapi, kenapa didalam kamarnya terdengar suara desahan seperti ini? Ah, aku jadi curiga. Batin Bik Min.
Karena tak percaya, Bik Min pun pelan-pelan mendekatkan tubuhnya ke dekat pintu, lalu ia menempelkan telinganya. Dari situlah, suara desahan dan ocehan penuh kenikmatan itu jelas terdengar.
"Aaaahhh, Om Adi ... Ah, terus Om, Mmpppphhhh." desahan itu terdengar oleh Bik Min.
"Sayang, aku merindukanmu. Sudah lama kita tak begini. Ternyata, ada baiknya kamu menjadi pembantu di rumahku. Aku jadi bisa kapan saja meminta ini. Aahhhh, punyamu sempit lagi, gadis cantik, mmpphhh," suara Adi pun terdengar jelas di telinga Bik Min.
Ya ampun, Astagfirullah, astagfirullah ... aku tak sangka, sungguh aku tak percaya mendengar ini semua. Ya Allah, aku harus piye? Tak mungkin aku diam saja jika mereka berzinah seperti itu. Haruskah aku laporkan itu pada Nyonya? Tapi, bagaimana dengan perasaan Nyonya nanti? Kurasa, kalau tidan ketahuan secepatnya, mereka pasti akan terus melakukan lagi dan lagi. Ah, aku harus memberi tahu Nyonya perihal perbuatannya kali ini. Ini sudah benar-benar diluar batas. Batin Bik Min.
Wanita tua itupun segera bergegas menuju kamar majikannya. Ia ragu mengetuk pintu, karena takut Bu Ani terganggu. Tapi, ternyata pintu kamarnya terbuka sedikit. Mungkin, bekas Adi keluar dari kamarnya tadi, lupa untuk menutup pintunya lagi. Bik Min pun mendekati Majikannya yang sedang terlelap, Bik Min memaksa Bu Ani untuk bangun, ia terus membangunkannya, hingga Bu Ani pun tersadar, dan ia membuka matanya perlahan-lahan.
"Ya Ampun, Bik Min ... ada apa? Kenapa bisa masuk kamar saya?" Bu Ani kaget.
"Maafkan saya yang lancang, Nyonya. Nyonya harus melihat sesuatu sekarang juga. Ini sangat darurat, dan Nyonya harus pergi melihatnya." ucap Bik Min.
Bu Ani kemudian bangun dan duduk di ranjangnya, ia celingukan karena melihat suaminya tak ada di sampingnya.
"Loh, Mas Adi ke mana? Kok dia gak ada?" Bu Ani tampak heran.
"Justru itu, Nyonya ... Ayo, Nyonya harus segera melihat kejadian ini. Ayo, ikutin Bibik, Nyah." Bik Min memaksa Bu Ani untuk bangkit dari tidurnya.
Bik Min dan Bu Ani pun berjalan menuju kamar Rena, kamar yang dimaksud oleh Bik Min bahwa di sana sedang terjadi sesuatu yang sangat menjijikan.
*Bersambung*
Edit \= Pak Adi jadi 47 tahun ya, dan Bu Ani 42 tahun.
__ADS_1