Terjerat Cinta Sang Pembantu

Terjerat Cinta Sang Pembantu
Mas, tunggu!


__ADS_3

Sekretaris Dika telah selesai bertemu dengan management Rumah sakit. Arini diperbolehkan berpura-pura menjadi bagian dari rumah sakit sesuai harapan sekretaris Dika. Kini, ia akan menemui asisten wanita yang akan menjaga Arini di kampung.


Sekretaris Dika menuju kediaman sang wanita. Ia akan menjelaskan tugas dan persiapan yang harus asisten tersebut laksanakan. Rumahnya lumayan jauh dari Rumah sakit Bakti Medika. Perjalanan menghabiskan waktu hampir 1 jam karena rumah asisten itu di Jakarta utara. Pesisir pantai ancol.


Akhirnya, setelah melalui perjalanan yang melelahkan, sekretaris Dika sampai di kediaman Asisten tersebut. Sekretaris Dika mengetuk pintu rumah dua tingkat itu.


"Selamat siang."


"Siang, cari siapa ya?" tanya seorang Ibu paruh baya


"Apa benar ini rumahnya Tira?"


"Ya, benar. Apa ini utusan dari Raharsya grup ya?" Ibu itu menebak-nebak


"Iya, betul Bu. Perkenalkan, saya sekretaris Dika. Saya yang diutus untuk menjemput saudari Tira."


"Oh, iya Pak sekretaris. Silahkan masuk dulu, keponakan saya sedang bersiap-siap."


"Terima kasih."


Sekretaris Dika sementara menunggu. Ya, Tira-lah yang akan menjadi Asisten Arini di kampung. Tira adalah wanita yang pernah aktif di kegiatan bela diri. Sekretaris Dika menemukannya dari akun sosial media facebook, yang kebetulan ternyata mereka satu pertemanan, hingga akhirnya sekretaris Dika menawarkan pekerjaan ini untuk Tira.


Tira pun keluar dari kamarnya. Ia sudah membawa tas besar, dan jinjingan yang lumayan besar juga. Ia tahu, dirinya pasti takkan bisa pulang ke Jakarta jika sudah berada di kampung.


"Selamat siang, pak." ucap Tira


"Tira ya? Kenalkan, saya sekretaris Dika, yang akan mengatur semua dari mulai persiapan sampai keberangkatan."


"Ya, saya sudah tahu. Tak perlu dijelaskan." jawab Tira


Jutek banget ni orang, pikir sekretaris Dika.


"Baiklah, ada beberapa point yang harus kamu taati. Aku akan menjelaskan."


"Silahkan." jawabnya


Sekilas tentang Tira, Tira memang wanita yang cuek. Ia sedikit tomboy dan tidak suka banyak bicara. Ia memang terlihat jutek kalau belum mengenal seseorang, tapi ia juga bisa menyesuaikan jika orangnya asyik.

__ADS_1


Tira sudah tidak memiliki orang tua. Kedua orang tuanya cerai, dan Ibunya meninggal karena stres akibat perceraian tersebut. Ayah Tira tak dapat diketahui keberadaannya, karena ia sering bersama wanita-wanitanya. Tira sangat membenci akan hal tersebut.


Karena itulah, Tira belajar bela diri. Ia tak ingin menjadi wanita lemah seperti Ibunya. Ia harus kuat, ia tak boleh disakiti oleh siapapun terutama laki-laki. Kini Tira tinggal bersama Paman dan Bibinya di Jakarta. Dahulu, ia tinggal di Bogor, setelah perceraian kedua orang tuanya, dan Ibunya sakit lalu meninggal, Tira diangkat dan diasuh oleh Bibinya, yaitu adik dari Ibunya Tira.


"Sudah jelas?" tanya sekretaris Dika


"Sudah."


"Bisa kita berangkat sekarang?" tanya sekretaris Dika


"Ya." jawab Tira cuek


Ini cewek apa kulkas? Dingin banget! Baru kali ini gue lihat cewe datar kayak gini. Gak ada menarik-menariknya sama sekali. Batin Dika.


"Barang-barang kamu segini?"


"Iya." jawabnya


"Ya sudah, bawa masuk ke bagasi mobil. Aku tunggu sekarang." Sekretaris Dika pergi ke luar rumah Tira dan segera naik ke mobilnya lagi.


Sekretaris sialan, gue kira mau bawain barang-barang gue. Ternyata, lu cuma nanya aja. Batin Tira.


Makanya, jadi orang jangan jutek. Harusnya bisa ramah, ini malah sok jutek gitu. Ya, rasain aja sendiri. Suruh siapa belagu dihadapan gue, dia gak tahu gue siapa. Hemmmm, batin sekretaris Dika.


Akhirnya, sekretaris Dika segera melajukan mobilnya menuju rumah besar Davian. Sekretaris Dika harus bisa menyembunyikan keberadaan Tira agar tak terendus oleh Arkan dan kawan-kawannya.


Sekretaris Dika takut, jika tercium oleh Arkan pasti akan sangat berbahaya. Untuk itu, dirinya harus benar-benar menutup rencana ini dengan cantik.


***


Arini dan Davian sudah berada di supermarket termegah di Jakarta. Davian meminta, Arini membeli semua kebutuhan yang ia inginkan untuk perlengkapannya selama bertugas di kampung.


"Mas, di sana juga pasti ada toko atau minimarket kan? Gak harus ribet-ribet beli disini." ucap Arini


"Disini aja, semua yang mau kamu, pasti ada. Kalau di kampung nanti, gak kan selengkap ini, kamu ambil saja yang kamu mau. Aku bersedia membawanya untuk kamu." jawab Davian


"Makasih, Mas." jawab Arini malu-malu

__ADS_1


Davian mengambil beberapa kebutuhan yang sekiranya akan Arini gunakan di kampung nanti. Davian memilih dan mengambil sendiri, ia tak peduli kalau Arini mengomel jika melihat belanjaannya yang sangat banyak ini.


Davian menuju rak sebuah permen. Ia akan membeli beberapa bungkus permen dan segera dimasukan kedalam trolinya.


"Kita akan berpisah, Dilan-mu ini harus tahu, apa isi hatimu. Aku belikan kamu 10 bungkus permen ini. Dibelakangnya akan ada tulisan-tulisan romantis dan baper. Setiap hari, kamu harus mengirimkan foto permen tulisan ini padaku, sesuai isi hatimu saat ini. Oke?" pinta Davian


"Idih, lebay banget sih Mas! Buat apaan coba? Kenapa harus kayak gini?" tanya Arini


"Gak apa-apa dong, Rin. Semakin kita jauh, kalau kita selalu melakukan hal-hal kecil seperti ini, rasanya hati kita akan selalu dekat. Gimana sih kamu, suami romantis gini malah dibilang lebay." jawab Davian.


"Aku kan nanti kerja, Mas. Di sana aku gak diem aja, jangan terlalu berharap aku sering menghubungimu. Aku pasti sangat sibuk." Arini tertawa.


"Jadi, kamu mau melupakan Dilan-mu ini ketika bekerja, begitu? Sibuk apanya, kamu cuma liburan dan main-main saja!" jelas Davian.


"Bukan melupakan, Mas. Tapi, aku akan membantumu memainkan peran dokter-dokteran." jawab Arini.


"Kamu jangan sampai terlalu serius ketika berada di rumah sakit.. Awas saja, kalau kamu mengabaikan aku karena peran pura-pura itu, akan ku datangkan 10 dokter yang akan menggantikan mu di sana, agar kamu tetap memperhatikan aku." Davian kesal.


"Mas Davian aneh deh. Tenang aja, Mas. Aku juga akan selalu mengabari Mas, kok. Aku akan tetap menjaga hubungan jarak jauh ini. Percaya padaku." jawab Arini


"Kamu di sana hanya berjalan-jalan saja di rumah sakit, seolah-olah kamu adalah dokter mereka. Jangan sampai ada yang curiga. Semua staff di sana akan diberi tahu bahwa kamu adalah seorang intel yang menyamar jadi dokter. Otomatis mereka tak akan berani padamu, walaupun kamu hanya berjalan-jalan saja." jelas Davian.


"Ha? Intel? Lucu sekali. Rasanya aku jadi seperti detektif sungguhan yang menyamar menjadi Dokter." Arini masih bisa tertawa.


"Tapi awas kamu ya! Jangan sampai kamu curi-curi pandang pada laki-laki lain. Apalagi, jika ada laki-laki yang ingin mendekatimu. Kamu harus menghindar. Kalau tidak ..." Davian mengancam Arini.


"Kalau tidak, apa?" tanya Arini.


"Aku akan membunuh laki-laki itu satu persatu!" Davian bercanda.


"Hahaha, ngaco kamu, Mas. Mana berani kamu, becandanya kelewatan." Arini tertawa.


"Pokoknya, kamu harus menjaga cinta dan hatiku yang telah kuberikan sepenuhnya padamu, sayang!" ucap Davian.


"Tentu saja, Mas. Aku akan menjaganya. Mas Davi sudah terpatri di hatiku, tak ada yang lain." Arini tersenyum.


"Ah, tentu saja begitu, karena pesona-ku pasti membuatmu jatuh cinta padaku, bukan begitu?" Davian narsis lagi.

__ADS_1


"Astaga Mas Davian ... Narsisnya itu loh, bikin aku gemes!" Arini geleng-geleng kepala.


*Bersambung*


__ADS_2