
Pagi ini, rumah sangat ramai. keluarga besar Davian mulai sibuk mempersiapkan acara yang Davian inginkan. Sebentar lagi, Davian akan menggelar pesta pernikahannya dengan Arini.
Hadiah untuk istri tercinta, yang selama ini selalu menemaninya. Cinta yang terjadi karena ketidaksengajaan.
Hari ini, Rangga berada di rumah besar Davian. Rangga memang sibuk dengan perusahaannya, tapi karena lusa adalah hari bahagia Arini dan Davian, Rangga dipaksa oleh Ayahnya, Kakek Surya, untuk datang dan turut menghadiri resepsi Arini dan Davian.
"Keyza!" sapa Rangga.
"Hai, little opah! Aku rindu padamu." Keyza tersenyum gemas.
"Kamu bahagia tinggal disini Key?" tanya Rangga.
"Aku bahagia opa kecil, tapi aku juga sedih." ucap Key menatap Rangga.
"Sini, duduklah bersamaku. Kamu sedih kenapa Key?" tanya Rangga.
"Aku kangen Mommy sama Daddy-ku, kenapa ya mereka pergi?"
Rangga terbesit hatinya ketika mendengar ucapan Keyza.
"Kan sudah ada Onty Arini dan Om Davian yang jagain kamu." Rangga mengalihkan pembicaraan.
"Aku memang senang sama Onty Arin, dia baik dan perhatian. Tapi, aku lebih senang kalau Mommy-ku yang perhatian padaku. Mommy kemana sih Opa kecil? Onty Arin bilangnya sibuk-sibuk terus! Tapi, masa Mommy lupa sama aku ya?" Keyza terlihat sedih.
"Apa kamu benar-benar ingin bertemu Mommy-mu? Bagaimana dengan Daddy-mu, sayang?" tanya Rangga.
"Daddy sudah meninggal bukan?" ucap Keyza polos.
"Hey! Kata siapa itu? Kenapa kamu bilang begitu!" ucap Rangga.
Rangga kaget, kenapa Keyza dengan mengucapkan bahwa Arkan telah meninggal. Pasti dia mengira itu benar terjadi. Keyza tak tahu, bahwa Arkan membusuk di penjara.
"Kata Mommy, waktu itu mommy nangis semalaman, dia bilang Daddy udah meninggal. Key juga ikut nangis waktu itu. Tahu-tahu, pagi harinya Mommy pergi. Kata Nanny, Mommy ada urusan. Tapi sampai sekarang, mommy gak pulang-pulang Opah kecil. Key sangat sedih sekali."
Anak kecil ini, kasihan sekali dia. Dasar Arkan, sudah punya anak dan istri yang baik, dia malah membuat malapetaka bagi keluarganya sendiri. Akhirnya, semuanya berantakan, dan dia tak bisa lagi menata kembali keluarganya. Menetap di penjara dengan waktu yang lama, atau bahkan seumur hidup, akankah dia sanggup? Batin Rangga.
"Keyza, kamu yang sabar ya. Kamu masih punya kita semua. Kamu harus tegar, kamu anak yang baik dan cantik, jangan sedih, masih banyak orang yang peduli sama kamu termasuk Opa kecil-mu ini." Rangga tersenyum.
"Iya, opa kecil. Aku bahagia kok. Aku hanya ingin ketemu mommy lagi. Aku sangat merindukan mommy. Apa aku bisa bertemu Mommy lagi?" tanya Keyza dengan tatapan penuh pengharapan.
"Apa kamu benar-benar ingin bertemu dengan Mommy-mu, Key?" tanya Rangga.
"Tentu saja, Opa kecil. Key sangat ingin bertemu dengan Mommy. Key benar-benar merindukannya." jawab Keyza.
Apa aku harus menemukanmu Meliza? Dulu, aku pernah melihatmu di club. Apakah kamu masih di sana? Aku harus mencari keberadaan mu agar anakmu tak sedih seperti ini. Batin Rangga.
__ADS_1
"Baiklah, Opa kecil akan segera menemukan Mommy, dan membawanya agar kembali pada Keyza. Oke?" Rangga mengacungkan jempolnya.
Keyza pun ikut-ikutan mengacungkan jempolnya, "Oke Opa kecil. Terima kasih, Opa sangat baik." ucap Keyza.
Tak lama setelah perbincangan itu, Arini dan Tira datang menghampiri Keyza. Arini yang melihat Rangga, seperti biasa, menampakkan rasa tidak sukanya pada Om-nya Davian itu.
"Key sayang, makan siang yuk sama Kakak Tira." ajak Tira.
"Yuk, Kakak. Key memang sudah lapar dari tadi." jawab Key.
"Nona, Tuan, saya permisi dulu membawa Keyza untuk makan siang." ucap Tira sopan.
"Silahkan, sayang. Makan yang banyak ya Key." ucap Arini.
Arini menatap Rangga dalam diam. Ia akan kembali ke kamarnya, namun Rangga menahannya.
"Kamu kenapa sih? Kayaknya benci banget sama aku!" ucap Rangga.
"Enggak kok, Tuan Rangga yang terhormat."
"Panggil Rangga saja! Kamu sudah menjadi bagian dari keluarga kita!" ucap Rangga.
"Baiklah. Ada apa?" tanya Arini.
"Maafkan aku jika selalu membuatmu kesal. Aku sudah menyesal, Arini. Jangan dingin terus seperti ini. Aku tak akan menggangu mu lagi." jelas Rangga.
"Kamu jangan judes-judes, Rin! Apa kamu mau, nanti anakmu mirip sama aku? Kalau Davian lihat nanti, dia bisa marah besar! Makanya yang baik-baik dong sama aku. Aku gak akan ganggu kalian lagi, beneran deh." ucap Rangga.
"Itu hanya mitos. Gak ngaruh!" Arini membalas.
"Buktikan saja nanti, kalau kamu terlalu membenci aku ketika hamil, anakmu pasti akan mirip denganku."
"Amit-amit jabang bayi, jangan sampe yah nak, jangan sampe." Arini mengelus-elus perutnya yang masih rata.
"Keyza dijagain sama itu?" menunjuk Tira dari kejauhan.
"Iya, Tira namanya."
"Kasihan Keyza. Dia ingin sekali bertemu Meliza."
"Kita gak tahu Meliza dimana, Kakek Surya juga sudah tak mau kalau Meliza kembali ke keluarga kita. Sudahlah, tak perlu lagi mencarinya." kata Arini.
"Tapi, dia tetap butuh sosok seorang Ibu, Arini. Kita gak bisa biarkan Keyza menderita seperti itu. Walaupun dia terlihat ceria dan tetap tegar, tapi dia bilang padaku, kalau dia sangat merindukan Ibunya. Aku harus bagaimana? Aku tak tega padanya. Aku akan mencoba mencari Meliza untuknya." ucap Rangga.
"Rangga, kamu akan membuat Ayahmu murka. Kamu tak tahu, karena kamu tak berada disini, dia sudah bilang pada kita semua, anggap saja Arkan dan Meliza sudah mati, karena Tante Meisya pun telah tiada. Mereka bukan lagi anggota keluarga kita."
__ADS_1
"Aku harus bicara pada Ayah, kasihan Keyza. Anak sekecil itu harus mengalami kisah seperti ini. Jauh dari Ibu dan Ayahnya." ucap Rangga.
Davian melihat Rangga dan Arini sedang berbincang. Davian terlihat cemburu, ia tak suka kalau Arini dekat-dekat lagi dengan Rangga. Davian segera menghampiri Arini yang terlihat berbincang serius dengan Rangga.
"Kamu tak bosan mengganggu istriku? Apa mau mu?" Davian sedikit emosi.
"Aku tak mengganggunya! Tenanglah, Dav. Aku hanya berbicara tentang Keyza padanya." jelas Rangga.
"Iya, Mas. Ternyata, Keyza bercerita pada Rangga, mengenai kerinduannya pada Ibunya. Keyza tak berani bercerita padaku, karena mungkin dia takut aku sedih tak dianggap olehnya. Aku bisa mengerti, anak sekecil itu pasti menginginkan kasih sayang yang utuh dari Ibunya. Kamu tak perlu marah pada Rangga, dia hanya bercerita tentang Keyza padaku." jelas Arini.
"Lalu, apa mau mu?" tanya Davian pada Rangga.
"Aku akan mencari Meliza agar Keyza bahagia. Aku kasihan pada gadis kecil itu." jawab Rangga.
"Ibunya tak menyayanginya. Untuk apa kamu mencarinya." jawab Davian simpel.
"Tak mungkin. Seorang Ibu mana yang sanggup meninggalkan anaknya. Meliza hanya terpaksa, Dav." tambah Rangga.
"Kamu antusias sekali. Kalau kamu menemukan Meliza, apa kamu akan menikahinya, Rangga? Apa kamu diperbolehkan, menikah dengan keponakanmu?" ucapan Davian membuat mata Rangga melotot.
"Apa maksudmu berkata seperti itu!" Rangga tak mengerti.
"Apalagi? Kamu peduli pada mereka, Arkan juga akan membusuk dipenjara selamanya. Kalau Meliza kembali, apa yang akan kamu lakukan? Meliza bukan siapa-siapa bagi keluarga kita, ia hanya punya keterikatan pada Keyza. Kurasa, kamu bisa menikahinya kalau kamu menemukannya. Kalau itu terjadi, aku tak akan membencimu lagi, Ga! Aku bahkan akan mendukungmu." Davian tersenyum sinis.
"Davian! Sembarangan sekali kamu bicara!" Rangga tak terima.
"Tapi, Rangga. Suamiku benar, kalau agama memperbolehkan kamu menikah dengan Meliza, nikahi saja dia, mungkin kamu bisa menjadi pengganti Arkan." ucap Arini.
"Ah, sudahlah. Kalian tak beres. Percuma saja aku meminta saran padamu! Pokoknya, ku ucapkan, selamat berbahagia untuk kalian, dua keponakanku. Davian, tolong jaga Arini! Kalau sampai kamu menyakitinya, jangan salahkan aku lagi, jika aku merebutnya kembali darimu." ucap Rangga.
"Terimakasih banyak, tapi jangan mimpi. Aku tak akan pernah menyakitinya!" jawab Davian sambil mencium kening istrinya.
"Cih, cium-cium didepan umum!" Rangga mendelik.
"Cari istri lu, jangan bisanya ngambil punya gue aja!" sindir Davian.
"Lu kira gampang cari istri. Lu kira, cari istri itu kayak beli baju di mall? Pilih, pilih, kalo yang cocok ambil, gitu? Gak ada cewe yang mau dipilih-pilih kayak baju!!!" Rangga kesal.
"Ya cari dong! Lu udah kepala tiga. Apa lu mau jadi bujang lapuk Ga?" Davian tertawa lagi.
"Sialan lu kalo ngomong gak pernah di filter." ucap Rangga.
"Hey, readers! Adakah yang mau dipilih oleh Rangga, untuk menjadi istrinya?"..
wkwkwkkw
__ADS_1
*Bersambung*